Who Should I Date? Chapter 6

Chapter 6


Setelah mendengar ceritanya kemarin, kupikir … Bella itu hampir sama denganku, ya? Karena aturan yang orang tuanya buat, dia jadi bermasalah dalam pertemanan. Tapi ya, setidaknya, dia masih punya teman di sekolah. Tidak sepertiku yang benar-benar sendirian dari SD dan SMP. Bahkan kehidupanku sekarang di SMA, masih belum sesuai harapan. Kupikir bisa punya teman dengan normal, siapa sangka malah jadi punya pacar.

Hela nafas, meratapi nasibku yang sepertinya berat dan panjang. Lagi, aku punya gambaran untuk keadaan saat ini. Tidak baik, apa yang menggambarkan diriku sekarang. Itu adalah tidak baik. Kalau dijadikan satu kata, memalukan. Begini kurang lebih. Saat ini, aku berangkat sekolah bersama. Tentu saja dengan Bella. Dia sudah menunggu di depan kontrakan pagi-pagi sekali. Karena alasannya yang mengatakan kalau aku adalah teman sekelas, orang tua Bella mengizinkannya, untuk bergaul denganku.

Kembali ke topik. Bella ini benar-benar menempel! Dia sangat lengket denganku sejak pagi. Bahkan bahu kami, sampai rapat saat ini. Ekspresi senyum lepas seperti itu, aku iri … andai aku bisa senyum lepas seperti itu juga. Bukan masalah aku keberatan atau apa. Tapi ini jadi pusat pehatian loh. Orang-orang melihat kita dengan berbagai macam tatapan dan ekspresi. Apakah Bella ini masih punya malu? Kupikir tidak sih. Dia berani masuk ke tempat tinggal orang lain tanpa izin. Sampai membaca novel milik tuan rumah itu pula. Yah, meski begini, aku cukup mengerti. Tentang dirinya yang kesepian dan ingin mengenalku sejak dulu.

Aku bersama Bella, kini melewati gerbang sekolah. Beberapa daun yang gugur, itu memenuhi jalan hingga nampak kotor. Ada petugas yang membersihkan daun kering itu dengan sapu lidi. Ini memang suara yang khas. Suara orang menyapu daun kering di pagi hari. Itu adalah suara yang menenangkan.

Langkah kami terhenti. Bukan tanpa alasan, tapi ada beberapa siswi yang menghadang. Dari rasa angin dan suasananya yang berat. Aku bisa menilai, ini akan jadi konflik. Siswi dengan rambut pirang yang lurus dan panjang, dia nampak berbahaya. Ekspresinya seram, tapi itu kelihatan tegas. Ada dua siswi yang mengawal dirinya di belakang. Seperti asisten, mereka mengikuti langkah gadis berambut pirang itu sejak tadi. Sorot mata tajam itu, tidak salah lagi untukku. Aku dilihat, dengan tatapan mengintimidasi. Aku tidak kuat, lebih baik alihkan pandangan. Kemudian, gadis berambut pirang berkata.

“Aku tidak bisa membiarkannya. Perbuatan tidak senonoh kalian, aku tidak bisa membiarkannya!” teriaknya lantang hingga menarik perhatian orang-orang. Siswa-siswi yang lalu-lalang di pagi hari, mereka berhenti. Seperti menonton peristiwa ini dari tempat mereka masing-masing. Suasana mendadak gaduh dipenuhi bisik-bisik kecil.

Ini adalah kehidupan masa SMA. Hari kedua bagiku yang beru menjalaninya sejak kemarin. Hari-hari yang kupikir, bisa mengalir dengan tenang dan sesuai rencana. Tapi, kenapa aku bisa berakhir seperti ini?

_______________

Gadis cantik serba putih, dia duduk di kelas dan mendengar banyak hal pagi itu. Warna putih mewakili penampilannya. Mulai dari rambutnya yang dikepang samping. Rambut itu panjang, bahkan kepangan rambutnya sampai menyentuh perut saking panjangnya. Kulitnya putih bersih, kaos kaki putih, dan sepatu putih. Juga, karena ini hari Selasa. Dia mengenakan seragam putih abu-abu. Semakin mendominasi penampilannya yang serba putih itu.

Gadis itu tidak membuka matanya. Dia membawa tongkat tunanetra yang ia pegang dengan kedua tangannya. Ya, dia adalah gadis albino yang buta. Dia tidak bisa melihat. Meski penderita albino disarankan untuk tidak ke sekolah. Dia tetap bertekad untuk sekolah. Datang sekolah saat matahari belum terbit sepenuhnya. Kemudian pulang, menunggu matahari tenggelam sepenuhnya. Karena, sinar matahari adalah musuh alami bagi penderita albino. Itu adalah caranya, bagi gadis penderita albino agar tetap bisa bersekolah.

Namun, meski dia penderita albino dan seorang tunanetra. Orang-orang nampak hormat padanya. Dia seperti dihormati akan sesuatu. Ban lengan yang ia kenakan, itu seperti harga dirinya. Ia kenakan dengan bangga dan perasaan senang. Pilar biologi, itulah yang tertulis di ban lengannya.

“Nisa, tolong bukakan jendelanya,” perintah gadis serba putih itu pada wanita yang duduk di depannya. Wanita yang dipanggil Nisa bergegas membukakan jendela untuknya sambil menjawab, “segera saya lakukan, Nona Nasya.”

Jendela terbuka, angin pagi yang sejuk dibiarkan masuk ke dalam kelas. Membuat Nisa merasa sejuk hingga mengekspresikannya dengan berkata, “udara di kelas memang cukup panas sih ….”

Tapi, gadis serba putih yang dipanggil Nasya, dia merespon kalimat itu. Dia berkata dengan mempertahankan posisi matanya yang terpejam. Membalas ekspresi Nisa dengan kalimat.

“Aku tidak peduli dengan udara. Aku hanya peduli dengan suara. Sepertinya, tuan putri kita berulah lagi pagi ini.”

“He? Suara apa?” Nisa coba untuk menajamkan pendengarannya. Dia ingin mendengar apa yang sedang Nasya dengar. Tapi dia tidak mendengar apapun. Mungkin, karena Nasya adalah tunanetra. Itu membuat indranya yang lain bekerja lebih. Lalu hal itu, terjadi pada pendengarannya. Nasya bisa mendengar lebih baik daripada orang normal. Itu adalah bayaran atas penglihatannya yang telah diambil Tuhan.

_______________

“Aku ulangi. Hentikan perbuatan tidak senonoh kalian di lingkungan sekolah!” Kalimat tegas itu terulang untukku. Sejak tadi, aku juga mendengar bisik-bisik. Tidak jelas sih, karena ini di ruangan terbuka. Aku tidak bisa mendengar bisik-bisik mereka dengan jelas. Tapi, aku bisa dengar sesuatu. Kata tuan putri. Sejak tadi, aku mendengar kata tuan putri di awal kalimat mereka yang berbisik.

“Ti-tidak senonoh? A-ah … aku paham, maaf. Aku tidak akan ulangi ini lagi.”

Aku sadar. Itu adalah peringatannya untukku dan Bella yang terlalu dekat. Mungkin sekolah ini melarang tindakan seperti tadi. Sudah kuduga akan jadi masalah … kuharap ini tidak diperpanjang.

Sambil mengucapkan kalimat minta maaf, aku menjauhkan bahu dari Bella. Membuat jarak sekitar dua jengkal, kupikir itu sudah jarak standar jika pergi bersama saat berangkat sekolah. Bella juga mengerti dengan situasinya. Dia tidak akan berbuat bodoh di situasi ini. Dia memaklumi diriku yang membuat jarak dengannya. Tapi, ini tidak sampai pada peringatan.

“Ikuti aku,” kata gadis berambut pirang yang disebut-sebut sebagai tuan putri sejak tadi. Dia berbalik arah, berjalan lebih dulu mendahului kami. Sementara dua siswi yang berstatus sebagai asistennya. Mereka menuntun kami agar berjalan mengikuti gadis itu.

Entah kemana, tapi ini. Suasana ini, seperti suasana ketika aku sedang diarak, ‘kan!!! Sepanjang perjalanan, semua orang memperhatikan kami tuh! Entah apa yang mereka pikirkan saat melihat kami. Tapi dari pandangan mereka, ini bukan hal baik. Aku juga merasa begitu. Di hari kedua aku sekolah. Aku sudah diterpa masalah seberat ini? Inilah akibatnya jika tidak memperhatikan masalah kecil.

Ruang kepala sekolah, kami tiba di ruang sakral ini. Gi-gila … aku langsung dibawa ke ruang kepala sekolah. Ini akan jadi masalah besar sepertinya.

Salah satu asisten gadis berambut pirang, dia membukakan pintu. Membiarkan tuannya masuk, beserta kami, dua tahanan yang menjadi sumber masalah pagi ini. Meski aku tidak menimbulkan masalah besar sih. Pintu itu ditutup kembali. Kami berlima duduk di dalam ruang kepala sekolah. Kemudian, gadis berambut pirang. Dia duduk di kursi utama. Kursi yang berhadapan dengan meja kerja. Kursi empuk yang menjadi pusat ruangan. Sembari duduk, dia mulai membuka pembicaraan.

“Akihiko Hayate. Sebagai tuan putri, aku akan menjelaskan hukuman untukmu. Pertama, kau harus ditangguhkan dengan pacarmu selama satu minggu. Kemudian selama kurun waktu itu, aku akan mengawasi kalian berdua. Tentu saja, statusku selama mengawasi kalian. Aku akan berstatus sebagai pacarnya Akihiko.”

Ha? Aku kurang mengerti situasinya. Tapi ini, lumayan merepotkan ….

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai