Kedai santai, suasananya sangat pas untuk bicara. Aku juga tidak tahu, tentang apa yang ingin Elizabeth sampaikan. Yang pasti, ini tentang pengawasanku yang akan habis besok. Duduk di kursi empuk, tepat di samping jendela kaca. Aku dan Elizabeth duduk berhadapan. Meja kosong dan kotak tisu menengahi.
“Kau ingin pesan sesuatu? Karena aku yang mengajakmu hari ini, aku akan traktir. Silakan pesan sesuatu,” kata Elizabeth sambil menggeser buku menu ke arahku.
“Ti-tidak perlu traktir … kebetulan, aku juga lapar sih. Tapi aku akan bayar sendiri.”
Apa-apaan! Sikap ketus dan kalimatnya yang selalu kasar. Itu semua hilang ke mana!? Bicaranya yang sopan dan malu-malu seperti itu. Itu terlihat sangat canggung. Suasananya jadi berat. Bukan berarti aku suka dihina. Tapi kalau suasananya berat seperti ini, aku tidak kuat menghadapinya.
Mendengar penolakan dariku, Elizabeth bertanya lagi. “Benar nih? Tapi aku jadi tidak enak kalau kau malah bayar sendiri. Seharusnya, kau tidak perlu jajan jika tidak aku ajak ke sini, ‘kan?”
Cukup! Dirimu yang menawarkan traktiran seperti itu. Itu membuatku kehilangan sebagian harga diri loh. Eh, aku tidak tahu bagian mana dari harga diriku yang hilang sih. Hanya saja, ini tidak pas. Seharusnya aku sebagai laki-laki mentraktir perempuan. Bukan malah ditraktir oleh perempuan.
“Ja-jangan dipikirkan. Aku akan bayar sendiri. Ehm … mungkin ayam geprek saja. Aku pesan ayam geprek dan air putih.” Aku sudah menentukan pesanan.
“Eh? Air putih? Tidak mau minuman dingin?” tanya Bella sambil melihat buku menu.
“Ah … kupikir tidak sehat jika makan berat bersama minuman dingin. Lagipula, obat haus terbaik adalah air putih.” Itu hanya pengalihan. Sebenarnya, aku tidak kuat minum minuman dingin meski hanya sedikit. Minum air dingin seteguk, maka aku akan flu parah sampai demam.
” Membosankan ….” Itu adalah respon yang keluar dari mulut Elizabeth. Mendengar penjelasan barusan, apakah itu membuatnya bosan?
“Mungkin aku pesan nugget pisang dan waffle keju. Lalu minumnya … jus alpukat saja deh.” Elizabeth juga sudah menentukan pesanan. Dia melambaikan tangan, memanggil pelayan agar pesanan kami segera disiapkan.
Benar-benar … apakah sesuatu terjadi? Atau Elizabeth sedang amnesia mungkin. Seseorang memukul kepalanya? Serius! Ini bukan Elizabeth yang kukenal. Caranya bicara caranya bertingkah, semuanya berbeda!
___________________
Sambil menyantap makanan yang terhidang, aku memaksakan diri untuk bertanya. Agak aneh sih, tapi semakin aneh kalau aku hanya diam.
“E-Elizabeth, jadi … ada yang ingin kau bicarakan? Kau bilang ingin katakan sesuatu tentang pengawasanku sih. Ada apa?” tanyaku sedikit gugup. Serius, membuka topik bukanlah hal yang bisa kulakukan. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak akan ada yang bicara jika tidak dimulai.
“A-ah! Iya … te-tentang pengawasan. Aku lupa haha. Makanan ini enak banget sih!”
Terus kenapa kau sampai gagap begitu? Seperti gadis yang ingin menyatakan perasaan cintanya. Wajahmu terlihat seperti itu saat ini!
Tunggu, gadis yang ingin menyatakan perasaan cinta!? Kalau aku buat asumsi seperti itu saat ini. Semuanya akan sedikit masuk akal dan terhubung.
[AKIHIKO MODE ANALIS AKTIF]
Pertama, apakah Elizabeth sengaja menungguku di depan gerbang? Dia menyuruh dua pelayannya agar pulang duluan. Dengan begitu dia bisa punya waktu berdua denganku.
Lalu dari tindakannya. Dia sudah mencari tahu tentang jadwal klub voli. Sengaja menunggu hari di mana Bella ada jadwal pertemuan. Hari sempurna di mana aku hanya sendirian dan tidak ada Bella. Dia sudah merencanakan itu.
Selain itu sejak awal. Bagaimana dia menahan langkahku agar tidak menjauh. Wajahnya yang malu-malu dan cara bicaranya yang gugup. Apakah dia malu karena ingin menyatakan perasaannya padaku?
Kalau dipikir-pikir … kebijakannya untuk berstatus sebagai pacarku selama pengawasan. Itu juga cukup aneh. Lalu dia yang menginap di rumahku selama lima hari berturut-turut. Itu lebih tidak wajar.
Apakah memang begitu kebenarannya???
“A-anu ….” Aku memberi isyarat. Semacam perilaku kode kalau aku menunggu penjelasannya. Sementara Elizabeth hanya malu dan nampak berat untuk bicara.
Suasananya memang merujuk ke arah pernyataan!!! Aku harus menyiapkan jawaban? Tidak, jangan terlalu percaya diri dulu. Masih ada kemungkinan lain.
“Be-begini. Se-sebenarnya. Aku ha-hanya … berbohong. Soal … aku ingin membicarakan masalah pengawasan di tempat ini.”
TUH KAN SUDAH KUDUGA! Dia berbohong soal itu. Yang berarti saat ini, kita tidak akan membahas soal masalah pengawasan. Lalu apa? Jika melihat dari atmosfer dan suasana canggungnya. Ini mengarah ke pernyataan cinta!
“Ja-jadi, kau mau bahas … apa?” tanyaku dengan suara pelan. Sambil menggaruk pipi canggung, aku melihat ke luar kaca. Tidak sanggup jika kami harus saling tatap. Aku tidak siap untuk itu.
“A-aku … hanya ingin berterima kasih,” kata Elizabeth sambil memantulkan ujung telunjuknya. Dia terlihat tidak sanggup juga. Apakah dia memaksakan diri untuk melawan rasa canggung dan malu? Benar-benar mengerikan ….
Tapi, “Berterima kasih? Soal apa?” Aku malah balik bertanya. Serius, berterima kasih soal apa? Aku juga tidak tahu tentang apa yang sudah aku lakukan. Jangan-jangan, dia ingin mengucapkan terima kasih karena telah diberi tumpangan selama lima hari. Tapi dia tidak menumpang sih.
“Ka-kau bilang mendukungku, ‘kan? Me-mendengar itu, aku, sangat … senang! Karena itu terima kasih. Terima kasih karena sudah memperlihatkan dukunganmu, Akihiko.”
Dukungan?
Aku Mendukungnya!
Ah … teriakan itu ya. Aku dapat masalah berat karena teriakan itu sih. Mulai dari penilaian dewan sebagai tindakan tidak sopan. Sampai kemunculan Mirika dengan proposal rumitnya.
“Bu-bukan masalah. Habisnya aku sedikit kesal sih. Ba-bagaimana bilangnya, ya. Kau itu sangat berdedikasi dalam menjalankan tugas. Kau juga tulus menjaga kedisiplinan. Tapi meski sudah melakukan semua itu, kau malah dicap sebagai wanita kotor. Itu sangat tidak adil, hingga membuatku kesal.”
“Akihiko ….”
Elizabeth tertegun hingga matanya berbinar terang. Matanya berkaca-kaca, bergetar, hampir ingin menangis. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi apa tidak masalah? Dia berpikir kalau dirinya bercerita pada Akihiko, maka penilaian Akihiko akan berubah.
Dia melihat kilasan masa lalunya. Masa lalu yang sepi dan suram. Masa lalu yang gelap dan hancur. Masa lalu yang merusak dan membuang. Dia ingin menceritakan semua itu. Dia ingin meluapkan semua itu.
Elizabeth membatin, dalam hatinya yang kecil dan keras. “Apakah aku boleh menceritakan ini?” pikirnya. Selain pada Lucy dan Chloe, apakah tidak apa-apa? Kalau membicarakan ini.
Meski begitu, perasaan Elizabeth sudah tidak bisa dipendam. Dia ingin meluapkannya. Dia ingin menceritakannya. Membuat dia membuka mulutnya dan bersuara.
“Aku adalah anak yang lahir dari hubungan terlarang. Aku adalah anak haram. Aku adalah kesalahan. Aku adalah perusak. Aku adalah gadis kotor. Meski begitu, gadis kotor seperti diriku ini. Sangat memuja kedisiplinan,” kata Elizabeth dihias senyum kecil bermandikan cahaya. Pertama kalinya, setelah diawasi oleh dirinya selama lima hari. Ini pertama kalinya dia tersenyum untukku.
MASA SMA DAN KEDISIPLINAN