[Sudut Pandang Elizabeth]
Aku adalah anak yang terlahir dari kesalahan. Lahir dari hasil perselingkuhan antara ayahku dan juga ibuku. Menurut cerita ayahku, ibuku meninggal saat melahirkan aku. Dia masih terlalu muda untuk hamil dan melahirkan. Karena itu dia wafat.
Ternyata, di hari yang sama ketika ibuku wafat, istri sah ayahku juga melahirkan. Anak yang lahir dari istri sah ayahku, dia adalah Aqila. Sementara anak yang lahir dari perselingkuhan ayahku, dia adalah aku, Elizabeth Christina Maria.
__________________
Ibuku adalah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. Dia bekerja sebagai pelayan di kediaman ayahku. Ayahku mencintainya, hingga mereka melakukan hubungan terlarang secara rahasia.
Saat ibuku mulai hamil, ayahku memindahkan ibuku agar bekerja di kediamannya yang lain. Ayah memang punya banyak wastu mewah. Agar setiap wastu terawat dengan baik, ayah mempekerjakan pelayan di setiap wastu. Itu demi investasinya juga.
Akibat tindakan itu, perselingkuhan mereka aman. Tidak ada siapapun yang tahu kecuali mereka berdua. Kehamilan ibuku terjaga rahasianya. Hingga hari baginya untuk melahirkan sudah tiba.
Siapa sangka, Tuhan membuat ayahku tersandung batu dari perbuatannya. Saat istri sahnya hendak melahirkan. Di saat yang sama, selingkuhannya juga akan melahirkan. Tentu saja dia panik dalam keadaan seperti itu.
Seorang suami harus mendampingi istrinya saat melahirkan. Tapi ayahku harus mendampingi siapa? Keduanya akan melahirkan dalam waktu yang sama. Tentu saja untuk menutupi perselingkuhannya, ayahku lebih memilih istri sahnya untuk didampingi. Sementara selingkuhannya, ia serahkan ke petugas rumah sakit.
Momen melahirkan berlalu. Aqila lahir dengan selamat termasuk ibunya. Mengetahui kondisi mereka baik-baik saja, ayahku beralih perhatian. Ayahku kini melihat kondisi selingkuhannya dan aku yang baru lahir. Aku lahir dengan sehat. Tapi ibuku, dia wafat karena terlalu muda untuk melahirkan.
Di situlah, Tuhan menagih bayaran dari apa yang telah ayahku perbuat. Ketika selingkuhannya mati, maka aku akan diurus oleh siapa? Jika aku dibawa ke dalam keluarganya, namanya yang terhormat akan jatuh serendah-rendahnya. Jika ia membuang aku sebagai anaknya, dia juga tidak tega. Ini adalah anak dari selingkuhannya yang ia cintai. Dasar, aku baru sadar kalau ayahku terlalu serakah.
Padahal, jika dia membuang aku sejak awal, hidupnya akan baik-baik saja. Keluarganya tidak akan hancur. Namanya tidak akan jatuh. Aku juga akan mati, jadi itu tidak masalah. Tapi, ayahku malah membawaku pada keluarganya.
Sudah jelas kalau istri sahnya bertanya-tanya. Anak siapa itu? Kenapa kau menggendongnya? Tidak banyak kebingungan lagi, istri sahnya, dalam keadaannya yang masih payah pasca melahirkan. Dia mencari tahu fakta tentangku di rumah sakit. Aib perselingkuhan ayahku terbongkar. Istri sahnya marah dan menuntut cerai. Mereka bercerai, keluarganya hancur, namanya terhina.
Mantan istrinya pergi dari wastu mewah bersama Aqila. Hidup berdua di tempat sederhana dengan susah payah. Meski ayahku menawarkan nafkah menjanjikan setiap bulannya, mantan istrinya itu tidak sudi menerima. Mungkin saja karena kehidupannya yang sulit dan penuh derita. Rasa benci terhadap ayahku, itu semua diturunkan pada Aqila. Karena itu Aqila sangat membenciku dan ayahku. Bahkan, alasannya masuk ke sekolah yang sama denganku. Tujuannya adalah untuk mempermalukan diriku. Bisa dibilang, Aqila juga putri kepala sekolah. Tapi Aqila tidak mau menerima sebutan itu.
Kembali ke masa lalu. Ayahku tidak sanggup merawat bayi seorang diri. Dia kesusahan dalam hari-harinya untuk merawat diriku. Karena itu dia membantu keluarga miskin. Seorang janda miskin dengan dua anak perempuan. Ayahku mengizinkan mereka tinggal di wastu mewah dengan jaminan nafkah setiap bulannya. Sebagai bayarannya, janda miskin itu harus merawatku dengan baik seperti anaknya sendiri.
Tentu saja dia menerima tawaran itu. Diberikan padanya satu wastu mewah. Termasuk nafkah yang dijanjikan setiap bulannya. Sementara ayahku tinggal di wastu lain, aku dirawat oleh janda miskin itu. Dua anak perempuan yang dibawa janda itu, mereka adalah Lusi (akhirnya menjadi Lucy) dan Michelle (akhirnya menjadi Chloe).
Sebagai bentuk terima kasih pada kebaikan ayahku. Sang ibu memerintahkan kedua anaknya agar selalu melayaniku dengan baik. Karena itu Lucy dan Chloe, mereka berperan sebagai pelayan di rumahku. Mereka yang selalu merawat dan menemaniku sejak kecil. Meski sebenarnya, aku lebih berharap kalau mereka menganggap diriku sebagai teman. Hubungan antara tuan dan pelayan, ada sekat besar di antara keduanya. Aku masih merasa kesepian.
Aku menjalani hari-hari bersama mereka sejak kecil. Bagiku, mereka adalah sosok keluarga sejati. Aku tidak pernah melihat ibuku kecuali lewat foto. Ayahku juga tinggal di tempat yang berbeda. Definisi keluarga bagiku, adalah mereka bertiga. Hanya mereka bertiga.
Aku masuk SD, Aqila juga masuk ke tempat yang sama denganku. Dia selalu berusaha bagaimanapun caranya. Yang penting, dia harus satu kelas denganku. Berhasil satu kelas denganku. Aqila selalu menghasut teman-teman agar memusuhiku. Hasutannya adalah yang terbaik. Berkat hasutan itu, aku tidak memiliki teman sampai SMA.
Saat hendak masuk SMA, aku menyadari sesuatu. Semua ini adalah akibat dari tindakan ayahku yang tidak disiplin. Ayahku tidak disiplin dalam menjaga istri sahnya. Itu merusak rumah tangganya, membunuh ibuku, dan membuat aku lahir. Itu adalah akibat dari bentuk perilaku ayahku yang tidak disiplin.
Karena itu aku ingin disiplin. Aku ingin mendisiplinkan semua orang. Asal semua orang disiplin, kesalahan ini tidak akan terjadi. Semuanya berawal dari disiplin. Jika semua orang disiplin, kehidupan akan baik-baik saja dan tidak akan ada konflik yang terjadi.
Aku akhirnya memutuskan. Aku akan jadi ketua komite kedisiplinan. Ketua komite dari SMA dengan tingkat disiplin tinggi, SMA Apollo. Untungnya sistem pemilihan tidak dinilai berdasarkan suara. Semuanya dinilai berdasarkan dedikasi dan bakat. Karena itu aku mendaftarkan diri, berusaha sekuat tenaga untuk meraih posisi itu.
Meski itu membuat diriku semakin dibenci. Aku tidak peduli. Asal aku bisa mendisiplinkan banyak orang. Mungkin saja. Tidak akan ada anak yang terlahir dari kesalahan. Tidak akan ada anak yang bernasib sama sepertiku.
Aku tidak tahu definisi keluarga sejati mulai dari ibu dan ayah yang harmonis. Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki saudara, menjaga saudara, dan konflik antar saudara. Aku tidak tahu rasanya berteman dengan lega. Karena Aqila, semua orang yang dekat denganku, mereka selalu berakhir benci denganku. Aku selalu kesepian.
Belum lagi tindakanku yang suka mendisiplinkan orang. Tidak semua orang suka dipaksa disiplin. Kebanyakan orang ingin bertindak semau mereka. Tapi, jika itu dibiarkan. Mereka akan terjerumus. Mereka akan semakin tenggelam. Karena itu meski harus tegas. Meski harus dibenci. Meski harus bersikap keras. Aku harus mendisiplinkan mereka.
Tidak ada orang yang mendukungku. Selain Lucy dan Chloe, mereka semua tidak suka denganku. Lalu, disaat aku merasa sendirian, kau mendeklarasikannya. Kau mendeklarasikan dukungan terhadapku secara frontal. Itu pertama kalinya bagiku. Pertama kalinya aku melihat orang lain mendukungku secara terang-terangan. Aku senang, aku tidak pernah senang seperti ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa diakui.
Hei, Akihiko. Boleh aku bertanya satu hal padamu?
.
.
.
.
.
Bolehkah aku mengawasi dirimu lebih lama lagi?