“Yah, begitulah masa laluku. Itu juga alasan kenapa aku berterima kasih atas dukungan darimu. Ma-maaf, kayaknya aku kebanyakan bicara, ya?”
Cerita Elizabeth selesai. Aku jadi tahu sebagian besar tentangnya. Tentang alasannya menjadi ketua komite. Tentang alasannya yang memuja kedisiplinan. Tentang alasan kenapa orang-orang menyebut dirinya sebagai gadis kotor. Itu semua sudah terjawab.
Juga, satu hal penting yang aku ketahui. Elizabeth itu kesepian. Selain Lucy dan Chloe, kupikir, dia tidak memiliki teman. Karena itu mungkin saja. Jika aku memintanya agar berteman denganku. Apakah dia mau? Apakah dia akan senang? Itu juga akan membantu permasalahan kompleks milikku dalam berteman. Setidaknya, aku harus berusaha.
“E-Elizabeth ….”
Berat! Meski aku baru memanggil namanya saja untuk sekarang. Itu sudah membuatku gugup! Tapi aku tidak bisa mundur. Elizabeth sudah memasang ekspresi bertanya hingga kepalanya dimiringkan. Akan aneh jika aku bilang tidak jadi.
Tenang … bahkan aku bisa mengatakannya pada Bella di hari pertama sekolah. Aku bisa mengajak Bella berteman di UKS meski itu sulit. Meski akhirnya … dia malah menjadi pacarku sih. Bisa dibilang, Elizabeth adalah usahaku yang kedua untuk mendapat teman.
“Hm?” Elizabeth menunggu kelanjutan dari panggilanku barusan. Dia memantulkan ujung telunjuknya ke meja. Membuat suara ketuk yang sedikit mengganggu pikiran.
“Ba-bagaimana bilangnya, ya … ka-kalau kau berteman denganku. Apakah kau mau, ya? Haha ….”
Aku yakin, itu adalah ajakan paling buruk untuk berteman. Benar-benar parah … aku sampai kesusahan dalam membangun relasi pertemanan. Meski begitu aku mengharapkan kehidupan SMA yang ideal dan cerah. Mana bisa sih … mengetahui kenyataan ini membuatku sedikit sedih.
“Teman?” Elizabeth mengulang kata teman dengan nada tanya. Seperti terkejut, tertegun, dan terbuai. Wajahnya mengekspresikan senang hingga berbinar. Itu ekspresi senang?
BRAK!
Dia menggebrak meja hingga makanannya berguncang. Wajahnya tersenyum lebar dan kelewat senang. Dia berkata dengan keras, “A-ayo berteman!”
“Ha?” Jelas saja aku bingung bukan? Ekspresi senang yang dikeluarkan, itu berlebihan. Sedikit dilebih-lebihkan atau dia memang senang!? Tapi itu kelewatan. Seisi kedai memperhatikan kita loh!
Menyadari kalau perbuatannya barusan tidak sopan. Elizabeth coba untuk menenangkan diri. Dia batuk-batuk kecil, kembali duduk dengan normal setelahnya. Wajahnya malu, tapi dia pikir harus tetap tegar. Tenangkan diri dan pikirkan soal arogansi. Maka harga dirimu akan aman. Begitulah yang dipikirkan Elizabeth.
Merasa dirinya sudah tenang, Elizabeth bicara lagi. “Yah, kalau kau sampai mengemis seperti itu. Aku dengan terpaksa akan jadi temanmu,” katanya dengan ekspresi ketus sambil melipat tangan di dada.
Sudah terlambat untuk jual mahal!
Tunggu, kalimatnya barusan. Bisa aku tarik kesimpulan kalau dia bersedia? Apakah dia benar-benar bersedia untuk jadi temanku?
Kalau iya, maka hari ini, aku mendapatkan satu teman lagi. Elizabeth yang ketus dan selalu merendahkan diriku sebelumnya. Kini dia menjadi temanku! Sebuah pencapaian besar di kehidupan masa SMA-ku yang penuh kesialan.
Jangan puas dulu. Masih ada level selanjutnya. Aku harus menuntaskan semuanya agar ini sesuai dengan perhitungan. Tahap selanjutnya, aku harus mencari topik. Jika pembicaraan ini selesai maka pertemuan juga selesai. Minimal, setelah berhasil membangun relasi dengan satu orang. Aku harus membicarakan satu topik. Ini penting baginya untuk menilai diriku. Apakah aku dinilai menyenangkan. Apakah aku dinilai membosankan. Itu semua tergantung topik pertama yang aku bicarakan.
Tapi topik apa??? Ayo pikirkan. Cuaca senja memang bagus. Tapi itu kurang pas. Jika ingin bicarakan cuaca, harusnya di awal pertemuan. Kalau sudah di sini, mungkin, aku harus menilai penampilannya. Seperti, aku baru menyadari sesuatu soal penampilannya hari ini.
Oh! Aku tahu.
“Elizabeth, ibu kandungmu itu … bukan warga pribumi, ‘kan? Pantas saja rambutmu pirang.”
Apa yang kukatakan sih!?
“Ah iya, kenapa?” tanya Elizabeth sambil menyelipkan rambut pirangnya ke belakang telinga.
Aku hanya menjawab dengan senyum yang dipaksakan, “Itu terlihat cantik.” Sesingkat itu jawabanku. Tapi suasananya berubah. Suasana anginnya menjadi dingin. Elizabeth terdiam.
Elizabeth menunduk dan menahan nafas. Jantungnya berdebar keras hingga sesak. Membuat wajahnya menjadi merah karena suasana mendebarkan itu. Sambil berkata pelan, “Bodoh.” Elizabeth mengambil tas miliknya dan lari secepat mungkin, dia keluar dari kedai. Meninggalkanku sendirian bersama semua struk bayaran yang ditagih.
Sementara aku yang tidak mengerti hanya berekspresi, “Hah?” Tidak mengejar Elizabeth karena larinya sangat cepat. Selain itu aku menyadari sesuatu. Elizabeth kabur. Lantas, siapa yang akan membayar semua makanan manis itu?
Pada akhirnya, aku jadi mentraktir Elizabeth di pertemuan kali ini.
_______________________
Elizabeth sampai ke rumah dengan tergesa-gesa. Wajahnya menunjukkan perasaan tidak nyaman sekaligus gelisah. Dia melewati pekarangan wastu, kemudian memasuki pintu utama tanpa melepas sepatu.
Lucy dan Chloe menyambut kedatangan Elizabeth dari balik pintu. Mereka sudah lengkap berseragam pelayan dengan nuansa hitam putih. Elizabeth mengabaikan mereka, langsung bergegas naik tangga dan pergi ke kamar. Menutup pintu kamarnya dengan tenaga, setelahnya, dia merebahkan dirinya di atas kasur empuk.
“Itu terlihat cantik.”
Suara dan wajah senyum itu masih terbayang. Elizabeth semakin gelisah hingga dirinya berguling-guling di atas kasur.
Bodoh bodoh bodoh bodoh bodoh!!!
Terus menghina pemilik suara itu dengan sebutan bodoh. Elizabeth berguling-guling sambil membatin kesal pada Akihiko. Tapi Elizabeth tahu. Ini sedikit berbeda dengan perasaan kesal. Rasanya memang gelisah dan tidak nyaman. Meski begitu, kalimat Akihiko di kedai, itu membuatnya senang.
Lucy dan Chloe menyusul Elizabeth hingga ke kamar. Khawatir tentang apa yang terjadi pada tuannya. Lucy bertanya, “Nona Elizabeth, apakah sesuatu terjadi?”
“Aku tidak apa-apa! Abaikan saja aku untuk saat ini!” jawab Elizabeth kesal dengan teriakan. Dia menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. Entah bersembunyi dari apa, dia hanya bingung. Bagaimana caranya menghadapi perasaan ini? Itulah yang ia permasalahkan.
Chloe nampak menyadari sesuatu. Dia menutupi bibirnya dengan tangan sambil berbisik, “Jangan-jangan.” Matanya terbuka lebar mulutnya menganga. Kalau Nona Elizabeth yang super kikuk sampai jatuh cinta, apa yang akan terjadi? Itu adalah pertanyaan yang muncul di pikiran Chloe saat ini.
Chloe kemudian berkata lagi. “Tidak mungkin, ‘kan? Maksudku, tidak mungkin ada laki-laki yang memuji rambut pirang Nona dengan senyum dipaksakan. Lalu Nona menjadi senang dan langsung pergi dengan malu-malu. Kemudian jatuh cinta padanya karena pujian singkat itu. Itu semua tidak mungkin, ‘kan?”
“Kau lebih mirip cenayang daripada pelayan!” teriak Elizabeth kesal karena semuanya telah terbaca.
“Kalau begitu Nona, apakah tebakan Chloe barusan adalah benar?” Kali ini Lucy yang bertanya. Dia memastikan kalau itu memang benar, mungkin saja ada solusi yang bisa diusulkan.
“Se-sebagian kecilnya benar sih. Ta-tapi aku tidak, jatuh cinta! Benar! Mana mungkin aku jatuh cinta dengan orang sepertinya, mustahil haha.” Elizabeth sudah tidak bisa menjawab dengan benar. Berbohong membuat jantungnya semakin berdebar. Berdebar membuat perasaannya semakin gugup. Gugup membuat perkataannya menjadi gagap. Itu semua bisa terbaca dengan mudah kalau dia sedang berbohong.
Saking jujurnya, Nona Elizabeth tidak pandai berbohong. Itulah yang dua pelayannya pikirkan. Tapi, kejujuran itulah yang membuat Elizabeth memiliki poin lebih soal daya tarik. Dia yang polos dan jujur dalam berekspresi. Sangat sulit menemukan gadis sepertinya saat ini.
Lucy kemudian tersenyum ramah sekaligus lega. Sambil mempertahankan senyum itu, dia berkata pada tuannya. “Kelihatannya hari ini, anda cukup bersenang-senang ya, Nona.”
Ketika Gadis Jatuh Cinta