Membuka pintu kontrakan yang rapuh, aku memberi salam pada ruang kosong. “Aku pulang … lah aku tinggal sendirian sih.” Kembali menutup pintunya dari dalam. Melepas alas kaki, meletakkan tas di tempatnya, lalu merebahkan punggung di atas kasur. Masih mengenakan seragam, tapi aku tidak perlu khawatir. Besok sudah ganti seragam, jadi tidak perlu takut kalau seragam ini lusuh.
Meregangkan dasi yang mengikat kencang di kerah leher. Kemudian melepas kancing seragam yang paling atas. Aku membiarkan dadaku sedikit terbuka karena gerah.
Enaknya … aku bisa merasakan udara masuk ke dalam seragam yang panas ini. Rasanya, aku mau langsung tidur. Tidak perlu mandi atau makan. Begini saja sudah cukup, ini sejuk. Aku merasa nyaman sampai mengantuk dan berpikir untuk tidur. Tidur sebentar, tidak masalah, ‘kan?
______________________
Harum. Hidungku merespon pada wangi harum yang mengudara. Tak lama setelah aku sadar, suara gadis terdengar. “Akihiko, tidur dengan seragam itu tidak baik loh.” Suara itu terdengar dari dapur. Bella!?
“Se-sejak kapan kau masuk?” Aku bertanya dari atas kasur sementara Bella menjawabnya dari dapur. “Bahkan meski pintunya dikunci, aku ini tetap bisa masuk. Apalagi kalau pintunya tidak dikunci, mudah.”
Tapi aku tidak menanyakan soal kunci loh … aku hanya bertanya sejak kapan kau masuk. Kenapa dia tidak nyambung begitu? Lupakan, selain itu. Bella sedang memasak sesuatu. Aku beranjak bangun dari kasur. Melihat Bella yang sedang memasak di dapur.
Dia menguncir rambut hitamnya agar tidak mengganggu. Kemudian mengenakan celemek supaya bajunya tidak kotor. Sambil tetap mengaduk masakannya, dia menoleh sedikit ke belakang. “Apa? Makanannya belum siap. Lebih baik mandi dulu sana,” kata Bella sambil mempertahankan gerakannya dalam mengaduk sup.
Cantik … aku yang terpesona sampai tidak bisa mengalihkan pandangan. Tapi karena malu, terlebih lagi dia melihatku saat ini, aku membuang muka. Jantungku berdebar … rasanya jadi sesak hingga aku berkeringat.
“Eh, jangan bilang … kau terpesona denganku ya?” tanya Bella dengan nada sedikit menggoda. Meski Bella sedang menggodaku, dia tetap fokus memasak hingga posisinya membelakangi diriku.
“Te-terpesona!? Ma-mana mungkin lah ….”
“Meski aku sudah sengaja berpenampilan cantik di depan pacarku?” Bella bertanya lagi dan itu semakin menekan. Sial … dia sangat pintar dalam memanfaatkan kelemahanku sebagai laki-laki.
Meski gugup dan harus dipaksakan. Kupikir, aku tetap harus memuji penampilannya. Mengingat dia sudah sampai seperti ini hanya untuk membuatku senang. “I-itu, terlihat cantik. Ma-maksudku, kau sangat cantik, mungkin.”
Aku tidak bisa mengatakannya dengan lancar!!! Entah bagaimana ekspresi wajahku barusan. Yang penting, aku sudah coba untuk memuji usahanya. Apakah kata “mungkin” memang diperlukan dalam konteks pujian? Kurasa iya.
“Wajahmu yang malu-malu begitu, imut banget loh. Aku menyukaimu,” kata Bella santai yang mana ucapannya, benar-benar santai. Seperti tidak ada hambatan sedikitpun saat dia mengatakannya. Itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“H-hah! A-aku akan mandi!” Karena tidak bisa bertingkah, lebih baik kalau aku lari dari situasi ini dengan alasan mandi. Aku akan mandi dan menenangkan diri. Jika terus begini maka jantungku bisa berhenti berdetak!
“Akihiko, jangan selingkuh dariku, ya.” Kali ini dia serius. Setelah semua ucapannya yang terdengar meledek dan bercanda. Kali ini Bella serius. Aku bingung sekaligus panik. Hanya balik bertanya, “Selingkuh?” Sambil mengingat kejadian tentang Mirika.
Apakah dia sudah tahu tentang Mirika??? Atau jangan-jangan, Mirika membocorkan masalah itu padanya. Tidak, kurasa itu tidak mungkin. Kalau itu memang terjadi, aku yakin Bella tidak akan diam. Pasti akan ada konflik di antara keduanya.
“Hei, bagaimana … kalau kita buat perjanjian?” Bella membalikkan badannya. Meninggalkan masakan yang sejak tadi selalu ia aduk dengan sabar. Kali ini dia berhadapan denganku. Bella terus melangkah maju sementara aku melangkah mundur. Tidak sadar, aku sudah menabrak tembok. Aku tidak bisa mundur lebih jauh. Sementara Bella semakin maju hingga wajahnya sangat dekat denganku.
“Pe-perjanjian? A-aku tidak paham … selain itu ini terlalu dekat! To-tolong menjauh.” Meski aku memohon agar dia menjauhkan wajahnya dari wajahku. Apakah dia mau? Kurasa tidak. Bella malah menempelkan telapak tangannya, merasakan jantungku yang berdetak kencang saat ini.
“Dalam posisi ini sebentar. Tidak masalah, ‘kan?” katanya sambil mengusap dadaku yang berdetak. Dia mengusapnya halus, sementara aku hanya menahan diri agar tidak mati dalam posisi ini. Ini memalukan!!! Ditambah lagi, aku membuka kancing seragam yang paling atas. Apakah tidak apa kalau situasi ini berlanjut???
Jantungku berdetak kencang, nafasku sesak, tubuhku panas, kulitku berkeringat. Kalau begini terus aku akan mati.
“Jantungmu berdebar-debar?” tanya Bella sambil menatap mataku sedekat mungkin. Terlalu dekat! Aku tidak bisa merespon selain dengan membuang wajah.
Ingin situasi ini cepat berakhir, aku hanya bisa berkata, “Ce-cepat jelaskan saja! Perjanjian apa yang kau maksud?” Mendengar pertanyaan itu, Bella berhenti mengusap dadaku. Dia menunjukkan kelingkingnya yang lentik, kemudian berkata, “Kalau Akihiko dekat dengan gadis lain. Aku akan mencium Akihiko. Kalau aku dekat dengan laki-laki lain, Akihiko akan menciumku. Sepakat?”
“Apa-apaan, perjanjian itu. Ma-mana bisa disepakati.” Hanya itu respon yang bisa kuberikan. Oiya, ada satu hal yang janggal. “Apa maksudnya, aku tidak boleh berteman dengan perempuan?” Aku bertanya karena bingung. Jika benar begitu, maka ini seperti pembatasan. Padahal aku sudah berteman dengan Elizabeth. Tapi kalau sampai dilarang ….
Bella menjawab, “Berteman dan dekat, itu adalah dua hal berbeda. Jika kau sampai terlalu dekat, ada kemungkinan kau selingkuh. Jika kau sampai selingkuh, maka hubungan kita akan berakhir. Karena itu, sebelum kau selingkuh. Mumpung kau masih hanya sebatas dekat. Aku akan mencium dirimu.”
Setelah kalimatnya selesai, Bella mengangkat tumit. Dia berdiri jinjit sehingga tingginya setara denganku. Setelah tinggi kami sama, Bella menempelkan bibirnya yang lembut ke pipi kananku. Tanpa peringatan, tanpa izin, dan tanpa aba-aba. Dia mencium pipi kananku secara tiba-tiba hingga aku tidak bisa menghindar.
Bibirnya yang lembut dan sedikit basah. Itu menempel pada pipi kananku. Setelah 10 detik dalam posisi itu, Bella melepas ciumannya. Wajahnya juga merah karena malu, dia mundur beberapa langkah, menjauh dariku yang berdiri kaku. “I-itu peringatan. Selanjutnya, kalau kau semakin berbahaya, a-aku akan mencium bibirmu,” kata Bella sedikit gagap karena menahan malu.
Bella teringat akan sesuatu. Dia terkejut, kaget, sekaligus panik. Sambil berlari ke arah kompor, dia berteriak, “Aku lupa!”
Dia lupa dengan masakannya tuh …
Tapi ternyata, saat dipikir-pikir lagi. Aku memang suka dengan Bella, ya? Aku usap pipi kananku yang masih lembab. Sambil bertanya-tanya dalam hati. “Apakah aku melakukan hal kotor?”
Aku serius khawatir kalau ini adalah perbuatan yang tidak baik. Aku mengkhawatirkannya, baik itu dengan diriku sendiri. Baik itu mengenai Bella. Kami tidak boleh berlebihan seperti tadi. Maksudku, kita ini masih siswa SMA. Masih terlalu cepat untuk melakukan hal-hal mesra seperti tadi.
Itu sangat mendebarkan sih. Rasanya, aku bisa mati di situasi barusan. Terlebih lagi saat Bella mencium pipiku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Eh itu bukan ciuman sih. Lupakan saja.
Lain kali, saat masanya sudah tepat. Saat aku sudah siap dengan semuanya. Aku akan menyatakan perasaanku secara resmi. Mengajaknya ke hubungan yang lebih serius. Menyerahkan ciuman pertamaku untuknya. Habisnya harus kuakui, kalau aku ternyata. Aku sangat sayang dan menyukainya. Kuharap kau selalu bersamaku, sampai saatnya tiba ketika aku yang akan mengajakmu, Bella.
Pondasi Hubungan Agar Kokoh
[Aksi Pertama Dari Bella]