“Atas nama Nona Elizabeth, izinkan saya bertanya tentang satu hal. Apa yang telah Anda lakukan terhadap tuan saya?” Itu adalah pertanyaan yang singkat dan tegas. Tidak banyak basa-basi atau pengantar. Dia mengatakan itu tepat setelah aku membuka bekal.
Jam istirahat, aku ada di dalam kelas. Aku yang baru saja membuka bekal, kini sudah kehilangan nafsu makan akibat ditodong pertanyaan. “Chloe, setidaknya biarkan aku makan bekal dengan tenang.” Peringatan dariku juga tidak mungkin ditanggapi. Mengingat alasan dia datang hanya untuk mencari sumber masalah bagi tuannya. Dia tidak memiliki waktu untuk menunggu sampai bekalku habis. Malah, dia mengatakan kalimat pedas lainnya seperti.
“Oh, Anda ingin makan bekal buatan pacar Anda dengan bahagia sementara tuan saya menjadi aneh akibat perbuatan Anda sendiri. Penilaian saya terhadap Anda memang tetap sampah, tidak akan meningkat meski Anda mendukung Nona walau saya tahu itu hanya menjilat.”
Tidak ada berhentinya … sudah berapa kali aku disebut sampah??? Setidaknya kalau aku tidak tanyakan soal Elizabeth padanya. Dia tidak akan berhenti. Mengingat dia adalah pelayan setia yang menyerahkan segenap jiwa dan raganya untuk Elizabeth. Dia tidak akan berhenti dalam usahanya jika itu demi tuannya. Benar-benar pengabdian yang merepotkan.
“Jadi, kau mau aku mengatakan apa?” Kembali menutup bekalku dengan berat. Aku melontarkan tanya. Sementara Chloe hanya mendengus sambil berkata, “Hmph. Anda sudah sok akrab karena tidak gagap lagi saat bicara dengan kami ya. Jangan lanjutkan salah paham ini dengan berpikir bahwa kau akrab dengan kami.”
Itu karena kalian menginap selama lima hari berturut-turut sih. Meski kau bilang akrab, memangnya kami pernah menunjukkan keakraban? Bahkan sejak dua hari lalu. Elizabeth nampak menjaga jaraknya denganku.
Saat aku berpapasan dengannya di lorong atau perjalanan, dia selalu menghindar dan menjauh. Saat aku coba bertegur sapa meski aku tahu itu sangat sulit bagi introvert akut seperti diriku. Dia mengabaikannya, membuang wajah, mengacuhkan, meninggalkan. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu setelah ingin berteman denganku.
“Kalau soal itu, a-aku … tidak pernah berpikir sudah akrab dengan kalian sih. Mengingat Elizabeth yang selalu menghindari diriku saat aku coba mengakrabkan diri. Aku pikir, hubungan teman juga akan berakhir sampai batas kenalan saja.”
“Baguslah ya, sampah sepertimu bisa memahami posisi betapa kotornya sampah. Tidak layak mengotori tuan saya dengan mendekatinya apalagi menjilatnya.” Perkataan Chloe semakin tidak bisa ditahan. Beberapa siswa di kelas ada yang memperhatikannya dan bertanya-tanya. Siapa dia? Sedang apa di sini? Ada urusan ala dengan Akihiko? Aku bisa mendengar bisik-bisik penasaran mereka.
Bella bangun dari tempat duduknya. Dia mendekati kami yang sedang sedikit panas. Kemudian secara terang-terangan, Bella berkata, “Bisakah jangan ganggu kami setidaknya saat jam makan siang?”
Chloe menoleh. Mengalihkan pandangannya yang dipenuhi intimidasi ke arah Bella. Sementara Bella berdiri protes, tangannya membawa bekal yang hendak ia makan siang ini. Ketika mereka saling tatap, Chloe menanggapi bentuk protes dari Bella.
“Ah, kau pacarnya lelaki sampah ini. Biar aku peringatkan satu hal. Jaga pacarmu agar tidak sampai menggoda gadis lain. Asal kau tahu, dia adalah laki-laki yang suka tebar pesona. Juga, dia sengaja saat membuat gadis lain terpikat dengannya. Entah kau ini mangsanya yang ke berapa. Tapi setidaknya, jaga pacarmu agar tidak merusak idealis tuanku.”
“Apa maksudnya? Tunggu, jangan-jangan kau ini, mengira kalau Akihiko telah menggoda Elizabeth?” Bella bertanya sambil meredam kesal, seperti menahan diri agar tidak termakan emosi.
Sekali lagi Chloe mendengus, memamerkan telapak tangannya yang putih sebagai bentuk arogansi. Mempertahankan arogansi seperti itu, dia berkata lagi. “Bukan mengira, tapi itu sudah dipastikan. Buktinya adalah Nona Elizabeth yang tidak bisa menyangkal tebakan saya du a hari yang lalu.”
“Te-tebakan?” Aku penasaran dengan bagaimana Chloe menebak. Dia kembali melihatku, mengalihkan pandangannya dari Bella. Chloe kemudian menjawab, “Ada laki-laki cabul yang memuji rambut pirang Nona Elizabeth dengan senyum terpaksa. Membuat Nona Elizabeth tersipu malu hingga pergi meninggalkan lelaki cabul itu. Malangnya, dia membiarkan lelaki cabul itu membayar semua hidangan sendiri. Begitulah tebakanku.”
Itu lebih mirip seperti cenayang! Terus, berhenti sebut aku sebagai lelaki cabul. Aku hanya memuji rambutnya lantas kenapa? Itu memang terlihat cantik sih.
“He-hebat … tebakan barusan hampir mirip seperti ramalan.” Aku tidak bisa berkomentar lebih tentang tebakan itu. Satu-satunya hal yang memungkinkan adalah Chloe mengikuti kami kemarin. Kalau begitu, aku hanya perlu meluruskan masalah ini.
“Chloe, apakah kau, mengikuti kami dua hari yang lalu?” Aku bertanya pada Chloe hingga dia menjawab, “Tidak. Saya dan Kak Lucy langsung pulang setelah diperintahkan Nona. Mustahil saya membangkang terhadap perintah Nona.”
Sementara kali ini, Bella naik pitam karena pertanyaan dariku. Dia nampak geram dibungkus pertanyaan. “Mengikuti??? Memangnya pergi ke mana kalian?” Dia menanyakan itu, melihat mataku dengan tatapan intimidasi yang bahkan mempengaruhi mental. Seram.
“A-aku, ma-maksudku kami. Kami hanya ke kedai saat itu. Itupun karena Elizabeth yang meminta. Dia bilang ingin bicarakan sesuatu soal masa pengawasan. Tapi malah berujung dirinya yang mengungkapkan terima kasih untukku.” Aku menjelaskan semuanya tanpa menyembunyikan fakta. Mengingat Chloe adalah cenayang misterius, aku tidak boleh asal bicara. Eh, apa dia benar-benar cenayang?
“Berterima kasih? Tuanku? Atas dasar apa?” tanya Chloe serius dengan nada bicaranya yang seram. Bella ikut menunggu kelanjutannya. Sehingga dengan terpaksa. Aku harus menjawab, “Atas dasar … aku yang memberikan dukungan padanya?”
Chloe diam, dia tidak berkata-kata lagi. Sementara Bella mempertanyakan tentang dukungan apa yang dimaksud? Tapi itu memang jawabanku yang paling jujur.
“Pokoknya, Anda harus datang ke kediaman Nona sore ini. Jika Nona masih bertingkah aneh bahkan setelah bertemu anda. Berarti memang anda penyebabnya.” Kalimat Chloe barusan ditutup dengan dirinya yang membungkukkan badan. Memberi hormat sebelum pergi dari kelasku, dia tetap menjalani etika bahkan ketika marah seperti tadi.
Bella menepuk tangan satu kali, kemudian berkata dihias senyum jahat. “Jadi … karena pertemuan sore ini akan menarik. Sepertinya aku akan ikut.”
Aku tidak akan bisa mengelak saat ini. Melarangnya ikut malah membuatku terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Karena itu aku menjawab, “Te-tentu ….”
Selain masalah runyam yang menimpaku siang ini. Aku menyadari satu hal. Ciuman pipi dari Bella dua hari lalu. Apakah itu karena dia khawatir? Kalau iya maka intuisinya sangat tajam. Meski dia tidak tahu tentang pertemuanku dengan Elizabeth. Tapi dia bisa merasa gelisah akan itu. Meski sebenarnya, pertemuan itu tidak perlu dikhawatirkan sama sekali.
__________________
“Lama sekali. Saking lamanya, saya berpikir akan menjadi seorang nenek sebelum kalian tiba di sini.” Sambutan untukku dan Bella yang baru saja keluar dari gerbang. Tapi, melihatnya sendirian lumayan aneh. Aku memaksakan diri untuk bertanya, “Kau sendirian?”
Chloe mendengus seperti ciri khasnya. Kemudian dia menjawab, “Kalian terlalu lama. Karena itu mereka pergi lebih dulu. Kak Lucy akan menemani Nona karena keadaannya memang mengkhawatirkan. Tenang saja, aku tidak akan kalah meski kalian berdua mencoba membunuhku saat ini.”
“Bagaimana kalau bertiga?” Suara lainnya terdengar. Yang pasti, itu bukan suaraku, Bella, atau Chloe. Itu suara lain yang aku tahu tapi tidak aku sangka, bisa bertemu dengannya di sini. Melihat sosoknya yang berdiri tegap penuh percaya diri. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang, itu pose bangga.
Hanya bisa menganga sekaligus bertanya, “Mirika?” Aku lupa tentang kesepakatan kami. Mirika berjanji akan kembali dalam tiga hari untuk kelanjutan kontrak. Lalu itu adalah hari ini! Bagaimana bisa aku lupa?
Chloe dengan sinis sekaligus dingin. Dia menatap Mirika penuh intimidasi. “Ada perlu apa? Maaf saja tapi kami sedang bergegas,” kata Chloe singkat sambil bergegas pergi untuk pulang.
“Aku akan ikut dengan kalian,” kata Mirika sambil mengikuti langkah Chloe seirama. Jelas sekali kalau tindakannya absurd. Meski aku paham, targetnya saat ini adalah aku. Tapi aku ada urusan mendadak dengan Elizabeth sore ini. Jika dia datang ke tempat yang sama di mana Elizabeth dan Bella berkumpul. Kemudian mendeklarasikan proposal secara terang-terangan kepada mereka.
Ada situasi yang lebih buruk lagi?