Who Should I Date? Chapter 24

“Ikut dengan kami? Aku tidak ingat pernah mengundang orang sepertimu, kurasa. Baik itu kakakku atau tuanku, aku tidak ingat, sama sekali.” Chloe menghentikan langkah. Sadar kalau Mirika mengikutinya secara egois, Chloe enggan melanjutkan perjalanan. Jelas kalau aku dan Bella juga berhenti. Bahkan kami tidak tahu arah untuk pergi ke wastu Elizabeth.

“Kalau begitu aku punya tawaran. Aku, Mirika yang maha tahu. Ingin membangun relasi dengan ketua komite. Mengingat aku adalah kandidat dari pilar biologi. Aku ingin membangun relasi dengan kakak kelas sebanyak-banyaknya. Itu tidak masalah?”

Barusan, dia bilang maha tahu? He … benar juga, setelah aku pikir-pikir. Kenapa dia bisa tahu namaku saat itu? Saat itu ketika acara pelantikan. Aku dan dirinya baru pertama kali bertemu. Tapi dengan pasti dan yakin. Dia menyebut namaku secara lengkap dan itu benar. Ada maksud tertentu ketika dia menyebut dirinya maha tahu? Maksudku, ini bukan dunia fantasi dengan keterampilan khusus  atau dia adalah Tuhan. Dia adalah manusia biasa dan tinggal di bumi, sama seperti kami. Ketika dia menyebut dirinya maha tahu, ada sesuatu di balik itu, aku yakin.

“Hmph, maaf saja. Tapi keadaan tuanku sedang tidak baik-baik saja saat ini. Juga, mungkin kau akan sedikit kecewa dengan pelayanan kami yang tidak ramah meski kami adalah pelayan. Hanya saja, kalau kau tetap bersikeras ingin membangun relasi. Saya tidak bisa menghalangi.”

Bagi fraksi Elizabeth dalam lingkungan komite. Membangun relasi adalah hal penting. Mengingat kalau orang yang mendukung mereka sangat minim. Mereka butuh relasi meski itu hanya satu atau dua orang. Satu-satunya alasan kenapa mereka masih bertahan sampai saat ini. Adalah Elizabeth yang terampil dan telaten dalam bertugas. Tidak ada sistem voting dalam pemilihan. Pemilihan ketua komite atau pilar, semuanya murni dari bakat dan keterampilan. Karena itu Elizabeth bisa bertahan meski tanpa dukungan.

Mirika menepuk tangan satu kali. Memamerkan senyum ramah yang tidak pas, dia berkata, “Tidak apa kok tenang saja. Aku butuh relasi, bukan keramahan dari kalian. Kalau masalah ramah sih … aku tidak pernah diperlakukan dengan ramah sejak dulu. Karena itu aku tidak peduli.”

“Saya tidak peduli soal singgungan Anda mengenai masa lalu. Segera bergegas karena waktu kita tidak banyak.” Chloe berjalan mengepalai kami, menuju wastu Elizabeth di mana sesuatu telah menunggu di sana. Aku yakin, ini tidak akan baik.

_____________________

“Mohon tunggu sebentar. Saya akan membukakan gerbang,” ucap Chloe dengan nada bicaranya yang khas karena cepat. Dia membukakan gerbang besar dan membiarkan pekarangan terlihat dari luar. Tidak ada respon selain. “Wow! Bangunan besar itu adalah rumah?” Begitulah respon dari orang yang tinggal di kontrakan satu kamar sepertiku.


Itu adalah pekarangan yang hijau dan luas, entah bisa menampung berapa puluh mobil di dalamnya. Sementara di ujung pekarangan, sejajar dengan gerbang yang kami masuki, ada bangunan megah dan besar bak istana. Aku baru sadar, Elizabeth memang keturunan orang kaya tujuh turunan. Aku pikir dia hanya orang kaya biasa yang tidak sekaya ini.

Tapi, coba lihat. Wastu besar dan megah itu. Ada berapa kamar di dalamnya? Bandingkan dengan kontrakan satu kamar yang aku tempati setiap hari. Mungkin hanya sebesar kamar mandi di wastu ini.

“Ikuti saya, saya akan mengantar kalian ke ruang tamu.” Chloe memberi instruksi agar kami tidak terperangah dengan hal lain. Jika tidak diarahkan atau dibiarkan bebas, mungkin kami, akan lama berdiam untuk menikmati kemegahan.

_________


Seorang gadis dengan pakaian pelayan menyambut kami di dalam wastu. Jelas sekali kalau dia adalah Lucy. Mengenakan seragam pelayan dengan nuansa hitam putih. Dia memang cocok menjadi pelayan di kediaman ini. Aura yang selalu Lucy perlihatkan adalah kalau dia bertanggung jawab atas wastu ini. Seperti kepala pelayan di kediaman besar, itulah aura yang Lucy pancarkan.

“Silakan duduk di sini,” katanya sambil membungkukkan badan dengan hormat. Kembali bangun dari posisi hormat. Lucy melirik sedikit ke arahku, kemudian dia mendengus kesal. Benar-benar perlakuan khusus untukku. Membuatku berpikir dalam hati. “Salahku apa?” Meski aku baru datang dan tidak melakukan apa-apa. Dia memberi perlakuan dingin khusus untukku. Hanya untukku. Andai saja itu perlakuan khusus yang bisa membuatku senang.

Ruang tamu dan beberapa sofa ditengahi meja. Kami duduk dalam satu ruangan dengan teh hangat dan kue kering. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas kediaman ini, Lucy membuka topik. “Kita bisa kesampingkan dulu masalah relasi. Untuk sekarang, yang terpenting adalah Nona Elizabeth.” Setelah pembukaan itu, Lucy meneguk teh sebagai jeda.

Oi yang benar saja. Ini semua benar-benar salahku? Yah, sebelum menjalar ke banyak hal lain. Setidaknya akan aku selesaikan. Aku mengangkat tangan perlahan. Sambil bergumam sedikit. “Anu ….” Membuat perhatian mereka teralih padaku.

Lucy melipat tangannya di dada, diikuti menyilang kaki, dia kemudian bertanya, “Ada sesuatu yang ingin kau katakan?” Nada bicara dingin dan sinis. Ditambah perilaku yang tergambar dari posisinya saat duduk. Apakah dia ini benar-benar pelayan???

“A-aku hanya ingin memastikan saja. Ini semua, bukan salahku, ‘kan?”

Pertanyaan barusan membuat suasana hening. Tidak ada tanggapan selain tatapan yang tidak bisa dimengerti. Chloe mendengus pelan, diikuti oleh komentarnya yang pedas seperti biasa. “Hmph, pembelaan diri yang payah.”

“Aku setuju, hmph.” sautan Lucy ditutup dengan dirinya yang mendengus. Mereka memang suka mendengus? Tapi mereka hanya mengatakan, “Hmph!” untukku. Gestur seperti itu tidak pernah diperlihatkan pada orang lain! Aku ini lambang diskriminasi atau apa?

“Jadi memang salahku ya.” Aku sudah tidak bisa menyangkal. Sepertinya dalam situasi ini. Aku melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Pada akhirnya Elizabeth merasa terganggu dan jadi seperti ini. Itu juga menjelaskan kenapa dia menghindar dariku belakangan ini.

“Langsung saja, kau harus membicarakan ini empat mata dengan Nona. Aku akan mengantarmu ke kamarnya, sementara yang lain bisa menunggu,” jelas Chloe tentang apa yang harus aku lakukan saat ini.


Seperti tidak terima, Bella mengatakan hal yang sifatnya mengeluh. “Terus aku ke sini buat apa?” Dia bertanya tentang kegunaan dirinya meski itu terdengar seperti keluhan.

Atas pertanyaan Bella, Chloe menjawab, “Tidak ada.” Lalu disambung dengan Lucy yang mengatakan, “Lagipula, yang saya minta untuk datang hanya Akihiko seorang. Nona Bella atau Nona Mirika hanya masalah tambahan.”

Meski sedikit geram saat mendengarnya, Bella dan Mirika masih menahan diri. Hanya menampilkan urat kesal di dahi mereka, tapi hanya sebatas itu. Tidak merespon lebih yang memicu keributan.

“Jadi … a-aku hanya perlu bicara empat mata dengan  Elizabeth dan ini akan selesai, begitu?” tanyaku memastikan meski aku tahu tidak akan semudah itu. Maksudku, aku akan bicara dengan Elizabeth. Elizabeth yang memiliki arogansi tinggi dan otoriter dalam keputusannya. Semua karakter keras itu membuatku heran. Apa yang bisa membuatnya bermasalah?

Lucy beranjak dari posisi duduknya yang kurang pas sebagai pelayan. Kali ini dia berdiri tegap menghadap ke arahku. Benar-benar posisi formal dan postur tubuh seorang pelayan. Sambil merasakan detak jantung dengan telapak tangannya. Lucy berkata dengan formal.

“Bicarakan masalah kalian dan ini akan selesai. Nona Elizabeth bisa dalam bahaya jika terus-terusan begini. Saat sekolah selalu berdiam diri di kelas. Saat di rumah selalu mengurung diri dalam kamar. Aku tidak tahu bagaimana kau melecehkan Nona sampai mentalnya hancur begitu. Tapi tolong kembalikan dia.”

Apakah pujian bernilai sama seperti pelecehan??? Aku tidak mengerti lagi tentang bagaimana cara menghadapi Elizabeth. Aku akan berhati-hati setelah masalah ini selesai.

“Aku hanya perlu bicara.” Berpegang teguh akan hal itu, aku berdiri. Mengikuti  Lucy yang mengarahkan jalan menuju kamar Elizabeth. Yang lainnya menunggu di ruang tamu. Sementara aku menyelesaikan masalah ini dengan repot. Mereka sedang pesta teh perempuan sambil membicarakan banyak hal yang tidak penting.

“Kita sudah sampai.” Lucy menghentikan langkahnya  di tengah lorong wastu yang megah. Menghadap pada satu pintu keemasan yang kalau aku duga. Itu adalah kamar Elizabeth. Melirik sedikit ke belakang, Lucy berkata, “Jangan lakukan hal ceroboh.”

Tuan Putri Kesepian

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai