Who Should I Date? Chapter 26


Faktanya, Elizabeth hanya merasa canggung terhadapku. Itu adalah alasan yang membuat tingkahnya terlihat kontradiktif dengan perkataannya sendiri. Tidak ada niat baginya untuk menjauh dariku. Dia hanya tidak terbiasa. Tapi perilakunya yang seperti itu, hampir saja membuatku salah paham.

Begini, Elizabeth hampir tidak pernah akrab dengan siapapun. Di sekolah, karakter yang selalu ia tunjukkan adalah arogansi dan keangkuhan. Tapi, dua sifat keras itu ia tunjukkan agar memiliki kekuatan untuk mendisiplinkan orang.

Maksudku, jika orang lembek yang ramah memaksa orang lain agar disiplin. Tentu saja itu tidak akan berhasil. Karena itu, orang yang memiliki tugas untuk mendisiplinkan, mereka harus memiliki kekuatan. Minimal, kekuatan untuk mengintimidasi. Kekuatan untuk membuat orang lain takut dengannya.

Satu hal lagi, rambutnya memang cantik parah. Pirang, cerah, dan mengilap. Benar-benar rambut yang dirawat dengan baik. Aku bisa tahu hanya dengan melihatnya.

Sekarang, sudah saatnya untuk keluar. Sekitar 30 menit kami membicarakan banyak hal di sini. Elizabeth benar-benar bicara lepas dan tidak kaku sama sekali. Aku mungkin masih belum terbiasa kalau mengobrol lepas seperti ini. Hanya saja, aku merasa senang.

Elizabeth yang bisa bicara secara lepas di depanku. Adalah bukti kalau dia sudah tidak canggung terhadapku. Aku merasa senang. Tapi ini tidak boleh berlanjut lebih lama. Bisa gawat urusannya jika aku terlalu lama.

Saat suasananya pas dan Elizabeth menyelesaikan satu topik. Aku akan mengajaknya keluar. Mengingat masih ada Mirika yang ingin bertemu dengannya secara langsung. Elizabeth tidak boleh membuatnya menunggu terlalu lama.

[30 menit kemudian]

Parah … dia tidak kehabisan topik sama sekali. 30 menit berlalu sejak aku berniat untuk keluar. Tapi dia selalu meneruskan pembicaraan dan tidak menunjukkan celah untuk berhenti. Benar-benar keterampilan yang mengerikan. Berkat itu juga, aku masih terjebak di ruangan ini sekarang.

Kalau dalam kasta di dunia mengobrol. Elizabeth adalah orang yang tugasnya membuka topik. Lalu Bella, dia cocok jika menjadi orang yang tugasnya menunjukkan seberapa menarik topik dari Elizabeth. Jika menarik maka pembicaraan akan lanjut. Jika tidak menarik maka Bella akan mengajukan topik lain. Lalu, aku adalah orang yang tugasnya menyimak pembicaraan mereka. Benar-benar kasta terendah dalam dunia mengobrol. Hanya saja. Entah kenapa. Aku mengharapkannya. Membayangkan kami bertiga yang duduk bersama dan membicarakan banyak hal. Kupikir itu menyenangkan.

Lah, aku mikirin apa sih?

Saat itu ketika kupikir tidak akan ada celah. Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Pola ketukan tiga kali, kemudian terdengar suara. “Izinkan saya membuka pintunya dari luar.” Begitulah katanya. Kami tahu betul, itu adalah suara Lucy. Kalau dia benar-benar menunggu sampai satu jam di luar, aku merasa bersalah nih.

Mendengar Lucy yang meminta izin. Dari dalam kamar, Elizabeth menjawab, “Silakan, aku tidak menguncinya dari dalam jadi buka saja.” Pintu kamar kemudian dibuka. Terangnya cahaya yang menyinari lorong sampai merambat masuk ke dalam kamar.

Seperti biasa, Lucy membungkukkan badan untuk hormat. Setelah penghormatan, barulah ia mengatakan tujuannya. “Maaf mengganggu waktu Nona. Tapi kita kedatangan tamu lagi. Mereka tengah menunggu di lantai bawah saat ini,” kata Lucy dengan nada bicara yang datar meski bahasanya formal. Aku sampai membatin, “Bisakah kau tunjukkan ekspresi meski hanya sedikit?” Karena yang aku tahu. Baik itu Lucy atau Chloe. Mereka sama sekali tidak ramah meski statusnya adalah pelayan.

Bayangkan. Bagi kami, para kaum lelaki. Kami sangat mengharapkan seorang pelayan yang seluruh kesetiaannya hanya untuk kami. Kami berharap memiliki pelayan yang selalu mengatakan, “Tuan, seluruh jiwa dan raga saya adalah milik Tuan. Silakan lakukan apa saja terhadap saya.” Kurang lebih begitu. Atau saat tiba waktunya makan. Kami berharap mereka memanggil kami dengan suara yang imut sambil berkata, “Majikan, makan malamnya sudah siap.”

Begitulah yang ada di ekspetasi kaum laki-laki jika membicarakan pelayan. Tapi coba lihat mereka. Baik itu Lucy ataupun Chloe. Keduanya adalah pelayan yang dingin, tidak suka basa-basi, tidak senang beramah tamah, meski setia, mereka terlalu blak-blakan. Belum lagi konsistensi mereka yang selalu mengatakan, “Hmph!” Untukku. Rasanya mereka tidak berbakat sebagai pelayan.


Kepentinganku saat ini adalah keluar dari kamar Elizabeth. Sejak tadi aku sudah menunggu celah dari pembicaraannya yang panjang. Untung saja Lucy datang. Berkat itu, kami bisa segera keluar dan berkumpul bersama yang lain. Mendukung pernyataan Lucy demi tujuanku sendiri. Aku berkata, “Itu benar. Sebaiknya kau temui tamu dulu untuk saat ini.”

Aku tidak bisa mengatakan kalau yang datang adalah Bella atau Mirika. Lebih baik membiarkannya tahu sendiri setelah melihat tamu yang dimaksud secara langsung. Saat itu juga aku akan berpura-pura terkejut kalau Mirika dan Bella yang ternyata datang bertamu. Meski sifatnya tidak ramah sama sekali. Harus kuakui, tindakan yang Lucy ambil terbilang cerdas.

Begini. Yang Elizabeth pikirkan. Hanya aku yang berkunjung ke wastu sore ini. Dengan menjalankan rencana Lucy. Di mana skenarionya, jika aku dan Mirika datang di waktu yang berbeda. Maka Elizabeth tidak akan curiga. Kalau saja Lucy bilang, “Masih ada tamu yang menunggu di lantai bawah.” Tentu saja Elizabeth akan bingung.

Elizabeth pasti akan bertanya, “Masih ada tamu?” Karena yang ia tahu. Hanya aku yang berkunjung ke wastunya sore ini. Selain itu dalam skenario ini. Aku harus berpura-pura tidak tahu soal siapa tamu yang datang setelahku. Itu akan membuat tingkah kami terlihat alami. Akhirnya, jika skenario lancar. Kecurigaan Elizabeth yang berpikir kalau ini semua sudah direncanakan. Itu tidak akan terpikirkan.

Elizabeth merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Merapikan pakaian yang terlipat di beberapa bagian. Dia kemudian bertanya, “Tamu? Siapa?” Sementara Lucy menjawab, “Nona Mirika,” katanya serius hingga Elizabeth terkejut.

“Mi-Mirika? Ada perlu apa dia kemari?” Ekspresi lepas dan tenang, itu semua menghilang begitu saja. Elizabeth tampak gelisah untuk sekarang.

Karena khawatir, Lucy menenangkan tuannya dengan berkata, “Dia bilang ingin membangun relasi dengan fraksi Nona. Menurut saya, sebaiknya temui dulu. Apapun yang terjadi, saya akan memihak kepada Nona.”

Itu memberi kesan kalau ini akan berujung pada konflik? Mungkin. Atau kemungkinan lainnya. Elizabeth merasa enggan untuk membangun relasi. Meski dia paham tentang seberapa butuhnya dia mengenai relasi. Dia agak gugup, mungkin?

“E-Elizabeth, akan aku temani.” Aku menawarkan diri untuk menemani. Saking canggungnya kalimat tadi, aku menggaruk hidung meski itu tidak gatal. Wajar bukan? Kesannya itu apa sih? Aku juga tidak paham.

Untuk yang kesekian kalinya. Lucy mendengus seraya berkata, “Kesatria dari Nona Mirika, berani-beraninya menemani Nona Elizabeth.”

“A-ah … tapi aku, tidak bermaksud seperti itu, ya. Hanya menemaninya sebagai teman, mungkin?” Ini kelewat formal! Meski aku tahu kalau kami sudah berteman. Pernyataan yang blak-blakan seperti ini, apakah akan membuatnya risih?

Untuk kedua kalinya, Lucy memperlihatkan senyum tulus. Meski wajahnya tetap datar dan bibirnya sedikit pelit untuk ditarik. Dia tersenyum pelit seraya berkata, “Syukurlah ya, Nona. Saya ikut senang.”

“Ha?” Elizabeth tidak mengerti tentang apa yang Lucy coba sampaikan. Hanya menampilkan gestur bingung tidak mengerti, sementara Lucy juga tidak berniat untuk memperjelas. Dia membalikkan badannya dan keluar dari kamar Elizabeth.

[SAATNYA MENGAIT RELASI?]

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai