Who Should I Date? Chapter 27


Meski secara individu, Elizabeth merasa tidak butuh bantuan orang lain. Tapi secara moral sebagai ketua komite, dia butuh dukungan massa. Karenanya Elizabeth tidak bisa menutup mata jika ada fraksi dari pilar atau kandidat lain yang ingin membangun relasi. Apa yang Mirika tawarkan sebagai keuntungan jika dirinya membangun relasi adalah.

“Aku akan menyiapkan 50 mata-mata yang bisa mengawasi setiap sudut sekolah. Detailnya adalah urusanku jadi kau tidak perlu ambil pusing. Keuntungan mengenai mata-mata, ini tentang jangkauanmu untuk mengawasi kedisiplinan siswa. Aku akan melaporkan setiap tindakan menyimpang sehingga kau bisa menindaklanjuti mereka. Ini juga berguna untuk buku laporan bukan?”

Itu adalah tawaran yang menggiurkan. Meski unsur mata-mata masih perlu dipertanyakan. Tapi, Buku laporan adalah senjata kuat yang diajukan. Buku laporan adalah bentuk pertanggungjawaban bagi Elizabeth selama memegang jabatan. Semakin banyak tindakan yang diambil Elizabeth. Terutama dalam mendisiplinkan siswa. Maka itu akan membuatnya dinilai tinggi. Masa kerjanya tidak sia-sia. Itulah keuntungan yang Elizabeth dapat jika membangun relasi dengan Mirika.

Lalu, mengenai bayaran yang Mirika inginkan. Itu adalah masalah popularitas. Begini, setelah menyerahkan buku laporan, akan ada penilaian. Jika hasil kerja Elizabeth memuaskan, popularitasnya juga akan meningkat. Mudah saja. Apa yang Mirika inginkan sebagai bayaran adalah. “Promosikan aku setelah kau turun jabatan,” kata Mirika sambil menepuk tangan satu kali.

Menurutku, ini sedikit tidak adil. Ini sedikit tidak adil bagi Mirika. Aku yakin Mirika juga sudah paham. Tentang popularitas Elizabeth yang buruk akibat propaganda Aqila. Ya, Aqila selalu gencar melakukan propaganda untuk menjatuhkan Elizabeth. Usahanya sukses membuat Elizabeth tidak mendapat dukungan meski hanya dari satu orang. Aku yakin Mirika paham dengan ini.

Tapi, Mirika tidak mengkhawatirkan itu. Selama Elizabeth menyetujui kontrak dari relasi ini. Menerima bantuan mata-mata untuk mengawasi kedisiplinan sekolah. Maka kinerjanya akan meningkat. Semakin banyak poin yang bisa Elizabeth tulis di buku laporan. Semakin tinggi penilaian.

Kita tidak bisa mengubah fakta kalau popularitas Elizabeth sangat buruk. Tapi setelah dewan komite atau dewan guru melihat buku laporannya. Aku yakin mereka akan puas dengan kinerja Elizabeth. Jika guru atau dewan komite menilai kinerja Elizabeth baik. Maka penilaian itu akan sampai ke adik kelas.

Ya, adik kelas adalah sekelompok orang polos yang tidak mengerti sistem sekolah. Bagusnya lagi, mereka belum sempat dihasut oleh Aqila. Jika mereka langsung diperlihatkan dengan kesan baik Elizabeth saat turun jabatan. Mereka pasti akan menilai baik Elizabeth. Tidak peduli dengan hasutan Aqila karena yang pertama kali mereka lihat, itu adalah hasil kerja Elizabeth setahun ke belakang.

Lalu akhirnya, saat popularitas Elizabeth sudah baik di mata dewan guru, dewan komite, dan adik kelas. Elizabeth akan merekomendasikan Mirika sebagai kandidat pilar biologi. Itulah yang Mirika inginkan.

Meski pada dasarnya, Elizabeth adalah fraksi yang minim dukungan. Setidaknya, hasil kerjanya akan sangat memuaskan jika menerima bantuan Mirika. Penilaian guru atau senior juga akan meningkat. Masalah adik kelas yang polos, pasti akan ikut mendukung, itu kesimpulan dari rencana Mirika.

Yah, meski tidak ada sistem voting dalam pemilihan. Setidaknya secara moral, Mirika memerlukan dukungan. Karena dengan dukungan, semuanya akan menjadi lancar. Dia bisa menjalani hari-hari sebagai pilar tanpa tekanan. Itu sangat bagus menurutku.

He-hebat! Dalam sekali berpikir saja, Mirika sudah membuka jalan yang sangat jauh. Membuka jalan soal masalah dukungan. Membuka jalan soal kelancaran saat dia sudah menjabat. Sejauh apa dia memikirkan semuanya?

Itu adalah poin-poin yang sudah Mirika perhitungkan sejak awal. Dia tidak datang ke sini dengan tangan kosong. Dia sudah mempersiapkan semuanya. Melihatnya, aku jadi berpikir.

Aku harus menghadapi lima pilar untuk bebas. Demi melepas ban lengan pengawasan. Demi pengakuan sebagai siswa disiplin. Aku harus meminta stempel dari kelima pilar. Membayangkan latar belakang mereka, itu sudah membuatku merinding … apakah aku punya kesempatan?

“Aku, Mirika yang maha tahu ….”


Kalimat itu, secara sekilas terdengar di telingaku. Kalimat yang Mirika ucapkan agar Chloe mengizinkannya ikut. Aku mendengarnya berdengung di kepala. Perasaan ini, apakah aku ingin menerima bantuan darinya?

“Sekarang, karena pembicaraan kita soal diplomatik telah selesai. Aku ingin mengajukan topik baru,” kata Mirika sambil menepuk tangannya satu kali. Hubungan diplomatik sudah disetujui termasuk kontraknya dengan Elizabeth. Karena itu ia mengajukan topik lain.

Elizabeth memiringkan kepalanya dan bertanya, “Topik lain?” Sementara Mirika hanya mengiyakan pertanyaan itu. Meneguk teh karena bibirnya kering, kemudian meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. Mirika mulai bicara, “Lebih tepatnya, aku hanya ingin kalian berperan sebagai saksi sih.”

Semuanya termasuk Lucy dan Chloe terkejut. Pasti, di dalam hati, kami memikirkan hal yang sama. “Saksi?” Kurang lebih begitu. Ketika semuanya terkejut, itu adalah tanda kalau pembicaraan ini telah disimak dengan baik. Karena itu Mirika melanjutkan.

Dia melirik ke arahku sekilas, tersenyum kecil, kemudian berkata, “Ini adalah kontrak antara aku dan Akihiko.” Kalimat itu membuat Bella menganga mendengarnya. Dalam keterkejutan itu dia sampai bertanya, “Kontrak!? Sejak kapan? Kontrak apa? Akihiko?” Benar-benar tanggapan yang panik dan tidak tenang.

“Se-sebenarnya ….” Kemudian, aku menjelaskan semuanya pada mereka. Tentang tawaran Mirika, kontraknya, termasuk dirinya yang akan membantuku untuk menghadapi lima pilar. Sejauh ini baik-baik saja. Sampai ketika aku menyinggung soal bayaran. Ketika aku mengatakan kalau aku harus menjadi pacarnya Mirika sebagai bayaran. Semuanya terdiam.

Terutama Bella yang menganga sampai gagap ketika mendengarnya. Meski terbata-bata, dia memaksakan diri untuk bertanya, “Pa-pacar?” Pandangan mata terkejut yang menggambarkan perasaan syok. Itu terlihat jelas di wajah Bella.

Merasa tidak enak dengan Bella. Aku putuskan untuk menjelaskan semuanya. “A-aku juga sempat berpikir. Mungkin saja aku membutuhkan Mirika. Melihat negosiasinya yang sangat rapi dan mantap. Kupikir aku bisa menghadapi lima pilar dengan bantuannya. Tapi ….” Aku memberi jeda sedikit untuk lanjut. Karena, lanjutan kalimat itu sedikit memalukan.

Pelan-pelan, tarik nafas, kemudian aku berkata, “Tapi, aku lebih tidak suka jika harus mengkhianati Bella. Aku merasa, lebih baik mengenakan ban lengan ini sampai lulus daripada harus bermusuhan dengan Bella. Selain itu, bukan berarti aku tidak bisa mengandalkan Bella, ‘kan? Aku masih bisa meminta bantuan padanya, ‘kan? Karena itu aku ingin menolak proposal ini. Itulah jawabanku.”

Aku mengatakan semuanya.

Sementara Bella tidak bisa berkata apa-apa. Hanya memanggil, “Akihiko.” Dia hanya memanggilku sekali entah karena apa. Meski menyebalkan, aku bisa melihat kalau Lucy dan Chloe menahan tawa. Elizabeth juga hanya menanggapinya dengan senyum.

Lalu setelah diam sejenak. Kupikir, Mirika akan berhenti dalam pengajuannya. Tapi, dia malah tersenyum lebar sambil mengeluarkan ponsel. Tatapannya serius dan penuh intimidasi. Berbanding terbalik dengan dirinya yang selalu ramah dihias tepuk tunggal.

“Akihiko, apakah kau serius menyukai gadis itu?” tanya Mirika serius dengan suaranya yang berbeda. Sebelumnya, Mirika selalu ramah dan suaranya halus. Itu adalah suara yang memikat hati laki-laki, begitulah dari sudut pandangku. Tapi sekarang, suara Mirika sangat bulat. Dia seperti mengeluarkan suara berat dari tekanan perut. Apakah ini Mirika ketika serius? Atau Mirika ketika marah? Baik itu aku atau seisi ruangan ini. Kami tidak mengerti tentang apa maksud dari ekspresi Mirika.

Aku harus menjawab pertanyaan itu. Kalau ditanya apakah aku serius suka dengan Bella. Aku akan menjawab, “A-aku mencintainya.” Meski gugup parah sampai menggaruk hidung canggung.

“Benarkah? Apakah perasaan itu masih sama ketika kau melihat ini?” Mirika menunjukkan apa yang terpampang di layar ponselnya. Membuat seisi ruangan ini kaget terkejut bukan main. Terutama Bella yang langsung lemas hingga mukanya pucat.

Ketika mukanya pucat dan lututnya lemas, Bella tergagap-gagap. Saking terkejut dan tertampar, dia tidak bisa bicara lancar. Hanya memanggil, “E-Erik?” Nama itu keluar dari mulutnya.

Terlepas dari Bella. Aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Ketika aku melihat apa yang terpampang di layar ponsel itu. Itu adalah pemandangan yang paling tidak ingin aku lihat. Pemandangan yang bisa merusak perasaanku pada Bella dalam sekejap. Pemandangan yang merobek dadaku kemudian mengoyak hatiku sampai hancur.

Itu adalah, pemandangan Bella dengan laki-laki lain. Parahnya, itu bukan foto biasa antara laki-laki dan perempuan. Aku yakin, nama Erik adalah milik laki-laki dalam foto itu. Laki-laki yang dipanggil Erik, terlihat jelas sedang memasangkan cincin emas pada jemari Bella.

Memasangkan cincin? Itu bukan hal wajar yang dilakukan oleh seorang teman, ‘kan?

Seperti menjawab isi hatiku. Mirika bicara lagi dengan suaranya yang berat. Dia berkata, “Laki-laki ini adalah tunangan pacarmu loh. Namanya Erik. Setelah melihat ini, kau masih yakin dengan perasaanmu?”

Hentikan.

Aku merasa tertekan.

Dadaku sesak, rasanya menyiksa!

“Aku serius,” kata Mirika lagi-lagi dengan intimidasi dari suaranya yang berat. Belum selesai dengan kalimatnya. Dia lanjutkan dengan berkata, “Tidak ada satupun di dunia ini yang bisa menggagalkan rencanaku. Dunia ini berjalan atas nama kebaikan untukku. Kebaikan di dunia ini hanya berjalan untukku seorang. Terakhir, aku adalah kebaikan untuk dunia ini. Mustahil kalian melawan. Jangan besar kepala, manusia!”

WHO SHOULD I DATE?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai