Biar aku jelaskan sedikit, mengenai keadaan runyam dan rumit yang aku alami sekarang. Pagi ini, aku dan Bella berangkat sekolah bersama. Entah kenapa Bella ini sangat lengket denganku. Dia jalan bersamaku hingga bahu kami saling bersentuhan. Kemudian, perlakuan kami yang seperti itu, dinilai tidak senonoh oleh Elizabeth. Elizabeth adalah ketua komite kedisiplinan di sekolah ini. Sekaligus, dia adalah putri kepala sekolah dari SMA ini. Hal itu juga menjelaskan kenapa kami bisa di ruangan kepala sekolah sekarang.
Lalu, di saat paling runyam ketika suasana memanas, seseorang datang dan memperumit masalah. Dia adalah Baragasaki. Gadis kelas dua yang menyandang gelar pilar matematika. Entah apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Tapi sepertinya, ini tidak akan baik. Yah, beginilah, kehidupan SMA yang sudah kupikirkan sematang-matangnya, malah berakhir seperti ini.
.
.
.
Baragasaki menutup pintunya kembali. Tidak bagus jika mempertontonkan kejadian di dalam pada siswa yang lalu lalang. Dia kemudian duduk di kursi tunggal. Berhadapan denganku dan juga Bella yang menahan emosi sebisa mungkin. Baragasaki melontarkan pertanyaan. Tentu saja, pertanyaan itu ia tujukan pada Elizabeth yang duduk di kursi kepala sekolah.
“Jadi, memangnya apa yang mereka lakukan? Aku bisa melihat wajah cabul dari laki-laki ini sih.”
Maaf saja tapi aku tidak cabul! Malah, Bella itu lebih tidak senonoh daripada aku loh! Lupakan, untuk sekarang, Elizabeth akan menjawab apa?
“Sebenarnya, aku menugaskan salah satu pelayan untuk mengawasi mereka kemarin. Chloe, jelaskan saja. Aku sedang malas bicara saat ini.” Itu adalah jawaban yang Elizabeth katakan.
Ini dia. Setelah Lucy yang angkat suara. Sekarang adalah kesempatan pelayannya yang lain. Dia adalah Chloe. Satu dari dua pelayan yang selalu mengikuti Elizabeth, kemanapun ia pergi. Chloe mulai menjelaskan tentang apa yang ia ketahui.
“Sesuai perintah Nona Eliza, saya mengawasi dua orang ini sejak kemarin. Nona Eliza mengatakan kalau dia melihat tindakan tidak senonoh. Kemarin pagi, Nona Eliza hendak pergi ke kamar mandi. Saat sedang berjalan, ia secara tidak sengaja melihat Akihiko masuk ke ruang UKS. Lalu saat Nona keluar dari kamar mandi dan hendak kembali, dia melihat Bella masuk ke ruang UKS juga. Karena waktunya yang hanya memiliki jeda sebentar, Nona Eliza curiga. Mana mungkin Akihiko secepat itu keluar dari UKS? Pasti, mereka berdua di ruang UKS saat ini. Itu adalah yang Nona Elizabeth pikirkan.”
“Aku mengerti keadaannya. Berarti, pasangan anak kelas satu ini, mereka melakukan tindakan mesum di UKS?” Baragasaki memastikannya dengan pertanyaan. Dia bertanya pada Chloe yang masih berdiri dan menjelaskan. Kemudian, Chloe menjawab.
“Tidak, ini belum berakhir di situ. Akihiko keluar dari UKS, Bella juga mengikutinya yang hendak pergi ke kelas. Kemudian, Nona Eliza mengikuti mereka hingga tiba di kelas. Sampai, Nona Eliza mendengar deklarasi Bella yang lantang. Bella mengatakan kalau dia akan menjadikan Akihiko sebagai pacarnya hari ini juga. Itu membuat Nona curiga dan cemas. Apa yang akan Bella berikan sehingga Akihiko menjadikan dirinya sebagai pacar? Nona khawatir kalau Bella akan menyerahkan tubuhnya. Karena gelisah memikirkan mereka, Nona Eliza memerintahkan saya agar mengawasi mereka. Ya ampun, kalian seharusnya berterima kasih atas kepedulian Nona.” Itu adalah penjelasan panjang yang Chloe jabarkan.
Tapi dari penjelasannya, sepertinya, ini belum berakhir. Hanya saja, dari semua informasi yang Chloe jabarkan, itu sudah cukup. Malah, lebih dari cukup untuk menuntut kami sebagai terdakwa. Sekarang masalahnya, kalau Chloe melanjutkan ceritanya, kami akan semakin terpojok. Meski aku tidak tahu, yang mana dari semua tindakanku yang salah? Kemarin saja, aku tidak melakukan apapun. Kalau ini adalah kesalahan yang aku perbuat secara tidak sengaja. Bagaimana caranya membuat pembelaan?
“Chloe, lanjutkan ceritanya.” Elizabeth memberi perintah karena jedanya sudah cukup lama. Tidak bagus membuang waktu, karena itu ia menyegerakan semuanya.
“Baik, Nona Eliza,” jawab Chloe lembut sambil membungkukkan tubuhnya, memberi hormat dan rasa sedia kepada tuannya. Lalu kembali menegakkan tubuhnya, Chloe melanjutkan penjelasan.
“Sesuai perintah. Saya mengikuti Bella saat perjalanan pulang. Saya lebih curiga pada Bella yang pulang dengan tergesa-gesa daripada Akihiko. Akihiko, dia malah belanja makanan tidak sehat dalam jumlah banyak. Awalnya, saya pikir, kediaman yang Bella masuki adalah tempat tinggalnya. Saya menunggu sekitar setengah jam. Tidak ada apapun yang terjadi di sana. Lalu saat saya pikir tidak ada masalah. Saya berniat kembali pada Nona. Tapi, saya melihat Akihiko datang. Dia masuk ke tempat yang sama, tempat di mana Bella sudah masuk ke sana lebih dulu.”
SUDAH KUDUGA DI SITU MASALAHNYA! Gawat! Ternyata, tuntutan Elizabeth bukan tentang kami yang berangkat sekolah bersama dengan mesra. Tapi, tuntutannya adalah tentang kami yang masuk ke kontrakan yang sama!
Tapi kalau tidak salah, aku membiarkan pintunya tetap terbuka! Mungkin ini, bisa jadi titik balik untuk melakukan pembelaan.
“Ta-tapi, kami tidak melakukan apapun di dalam! Bahkan, a-aku membiarkan pintunya tetap terbuka. Apakah kau tidak melihatnya???” Itu adalah hal terkuat yang bisa aku katakan. Entah berpengaruh atau tidak, tapi, Bella langsung menimpali pembelaan dariku.
“Itu benar! Kami tidak melakukan apapun. Aku hanya membuatkan makan siang untuknya. Se-sesekali aku menggodanya sih. Tapi, Akihiko itu sangat lugu. Wajah malunya nampak sangat imut dan lucu. M-maksudku, i-itu wajar, ‘kan??? Kalau aku ketagihan untuk menggodanya.”
Oi oi oi, apa yang sedang kau katakan? Itu seperti menggali kuburan untuk kita sendiri! Juga, aku sedikit kesal dengan pernyataan tadi. Meski sekarang bukan saat yang pas untuk marah. Tapi, kau tidak ada pembelaan lain? Itu sama sekali tidak berbobot!
Elizabeth berkata, “tuh ‘kan dengar sendiri. Dia ini sangat senang ketika menggoda pacarnya. Kurasa itu cukup menjelaskan. Yah, meski bukti terkuatnya, ada pada foto sih …
Chloe, tunjukkan pada mereka.” Kalimatnya ditutup dengan perintah.
Chloe mengambil ponsel dari sakunya. Dia tampak melakukan sesuatu dengan ponsel itu. kemudian, ia memperlihatkan layar ponselnya. Menghadapkan layar ponsel yang ia pegang pada seisi ruangan. Yang terlihat, adalah sebuah foto. Foto yang menjadi bukti konkret dan sah untuk mengajukan tuntutan.
Gambar yang diabadikan adalah momen ketika Bella mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Itu memang sangat dekat, seperti posisi orang yang hampir berciuman. Padahal aku sedang berniat untuk makan saat itu! Ini semua salah Bella!!!
“Itu hanya godaannya! Ka-kami tidak melakukan apapun.” Aku spontan melakukan penentangan. Gawat, ini semakin runyam. Posisiku di hari kedua masa SMA, semakin berbahaya.
“Ah yang benar? Apakah itu sesuai dengan yang kau lihat? Chloe.” Elizabeth memastikan kesaksian dariku pada Chloe. Wajahnya nampak tidak percaya. Bahkan, ia sama sekali tidak ingin percaya. Saat ini, Elizabeth hanya memandang kami sebagai siswa bersalah yang tertangkap basah melakukan hal mesum.
Sesuai pertanyaan tuannya, Chloe menjawab, “saya tidak tahu kejadian setelahnya. Setelah mengabadikan gambar ini, saya lekas pergi dan kembali pada Nona Eliza.”
KAU TERLALU CEPAT PERGI!!! Kenapa tidak melihat kami sedikit lebih lama!? Jika kau menyelidiki hal ini lebih lama, nasibku bisa berubah loh!
Mendengar jawaban Chloe, Elizabeth berkata, “sudah diputuskan. Meski kalian memang tidak melakukan apa-apa pada kenyataannya. Tapi kalian sudah melampaui batas. Posisi kalian yang seperti itu sangat erotis. Minimal, itu akan menimbulkan pemikiran kotor pada Akihiko. Insting laki-laki itu tidak pernah berbohong loh. Aku paham sih, setelah memacari 73 siswa laki-laki yang bermasalah seperti kalian.”
Be-benarkah??? 73 orang bermasalah telah mengalami pengawasan yang sama oleh gadis ini. Aku tidak bisa menganggapnya sepele. Selama pengawasan, kira-kira apa yang terjadi?
Baragasaki, dia ikut menimpali kesimpulan yang Eliza katakan. “Dari foto ini aku juga bisa menilai. Jika dibiarkan seperti ini, kalian akan semakin terjerumus. Parahnya, ini akan lebih mirip seperti, pergaulan bebas,” ucap Baragasaki dingin. Itu adalah bentuk penilaiannya dari sudut pandang pilar. Jika sudah begini, maka status kami sudah dipastikan.
Aku juga mengerti, soal apa yang ingin mereka sampaikan. Maksud mereka, tindakan kami yang terlalu dekat seperti kemarin, itu bisa membuat kami terjerumus. Aku mengakuinya sih. Bella itu memang cantik. Bisa dibilang, aku cukup senang berpacaran dengannya. Dia juga suka menggodaku dengan beberapa hal tidak senonoh. Aku paham resikonya. Aku adalah laki-laki remaja dalam masa pubertas. Apa yang terjadi kemarin, itu memang sebuah kesalahan. Meski aku hanya memakan masakan Bella. Meski Bella hanya membaca novel yang aku tulis. Tapi, laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan, parahnya lagi hanya berdua, itu adalah kesalahan.
Bella juga sadar, dia tidak bisa mengelak lagi. Dia tidak bisa menentang tuntutan ini. Tapi, ada satu hal yang masih mengganggu. Jika sekedar diawasi, mungkin, Bella masih terima. Sambil menahan emosi dan panas di kepalanya, Bella bertanya, “kenapa statusnya harus menjadi pacar Akihiko?”
“Itu pertanyaan mudah. Pacar adalah hubungan mengikat. Singkatnya. Kita tidak tahu Akihiko punya berapa pacar di luar sana. Tugasku sebagai pengawas, adalah memutuskan hubungan Akihiko dengan semua pacar itu. Eh bukan memutuskan sih. Jika masa pengawasan sudah selesai, Akihiko bebas menjelaskan apapun pada para pacarnya. Tentu saja, jika para pacarnya masih punya kepercayaan, Akihiko tidak akan apa-apa. Intinya, tugasku, adalah merusak seluruh hubungan Akihiko yang tidak senonoh. Aku juga akan mengawasi segala tindakan dan aktivitasnya. Ini adalah keputusan. Pacaran denganku, atau cari sekolah lain!”
MOHON MAAF! Tapi Bella adalah satu-satunya pacar yang aku punya.