Who Should I Date? Chapter 10


Ponsel berdering, membuat getaran pemanggil pada sang pemilik hingga menggeledah saku pakaiannya. Setelah tahu seseorang menghubungi dirinya lewat ponsel, dia agak ragu untuk menjawab. Tapi jika diabaikan, dia tahu bagaimana masalah akan mengikat dirinya nanti. Mendekatkan ponsel itu pada telinganya, dia mulai bicara.

“Ada apa, Ayah?” Gadis berambut pirang menanyakan maksud dari panggilan sang ayah. Tidak biasanya, dia menelepon. Jika sampai seperti ini, sesuatu sedang terjadi, pasti.

“Elizabeth, bagaimana sekolahmu?” Suara sang ayah terdengar serak karena tersampaikan melalui telepon. Tapi meski begitu, tidak bisa disangkal kalau ini adalah ayahnya yang bicara.

“Tidak perlu basa-basi. Katakan saja ada apa. Aku cukup sibuk saat ini.” Tidak mau mengakrabkan diri dengan sang ayah. Tidak mau berbicara dengan ayahnya terlalu lama. Gadis yang dipanggil Elizabeth merasa tidak nyaman dalam keadaan ini. Dia ingin segera menutup teleponnya.

“Sebaiknya kurangi sifat tidak ramah itu. Penilaian orang akan sangat buruk loh, terutama saat pelantikan nanti.” Ayahnya bicara normal. Tanpa memikirkan dan sedikitpun paham, tentang apa yang anaknya rasakan dari kalimat itu. Mendadak, Elizabeth berkeringat gelisah. Dia dilanda perasaan tidak enak dan tidak nyaman dalam dadanya.

Sang ayah mulai menjelaskan maksud dari panggilannya. Membuat Elizabeth semakin gelisah dan takut menghadapi hari-hari esok. Setidaknya sampai urusan ini selesai, Elizabeth tidak bisa tenang.

“Kalau begitu sampai nanti, aku akan telepon lagi.” Kalimat penutup dari sang ayah, tanda bahwa percakapan ini cukup.

Pembicaraan selesai, Elizabeth meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku. Kemudian berjalan keluar dari gang sepi, mendatangi dua adik kelas yang saat ini berada dalam masa pengawasannya.

“Kalian, sudah cukup istirahatnya. Ayo lanjutkan perjalanan,” kata Elizabeth tegas pada dua adik kelasnya itu.

“Meski dibilang istirahat, yang minta berhenti itu kau, ‘kan? Habisnya ada orang yang menelepon sih. Makanya kau suruh kami berhenti dan tunggu di sini.”

Itu adalah jawaban ketus yang keluar dari mulut salah satu adik kelasnya, Bella. Sementara adik kelasnya yang lain, Akihiko, dia hanya diam. Tidak menyambut kedatangan Elizabeth dengan ramah, tidak menyambut dengan ketus juga seperti yang Bella lakukan. Seperti, tidak ada bedanya apakah Elizabeth ada, atau tidak ada.

_______________________

“Kalian, sudah cukup istirahatnya. Ayo lanjutkan perjalanan.” Elizabeth kembali … dia minta kami berhenti untuk mengangkat telepon tadi. Tapi sepertinya, itu sudah selesai. Kami akan melanjutkan perjalanan. Lah perjalanan???

Oiya, sejak tadi, Elizabeth belum menjawab pertanyaan dariku. “Hei Elizabeth, ke-kenapa kau ingin ikut ke kontrakan ku?”

“Sudah jelas bukan? Untuk mengawasi kalian setidaknya sampai satu minggu ke depan. Jangan mengeluh, aku juga sudah melakukan persiapan untuk menginap.”

“He … kau sudah siap sekali ya … LAH MENGINAP??? TA-TAPI, ini bercanda, ‘kan?” Aku tidak bisa berekspresi apa-apa selain terkejut. Menginap??? Apakah dia serius soal ini?

“Tenang saja. Chloe dan Lucy akan menyusul sebagai pengawal. Tidak bagus juga jika hanya kita berdua di dalam ruangan. Kau itu laki-laki sih, sampah.”

Aku tidak yakin apakah kata sampah itu benar-benar diperlukan atau tidak. Tapi sepertinya, itu tidak dibutuhkan. Harga diriku sudah tidak ada saat ini.

_________________

“Jadi, ini benar-benar tempat tinggalnya, ya? Kupikir kau hanya membual, siapa sangka kau berkata jujur.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Elizabeth saat tiba di tempatku. Kontrakan sempit yang hanya memiliki satu kamar utama, kalimat barusan adalah gagasannya atas tempat ini.

“Hebat juga kau bisa berkata begitu, setidaknya pada tuan rumah tempat ini. Kau cukup ramah sepertinya.” Yah, entah kenapa aku merasa kesal. Mungkin rasa kesal ini alasannya. Alasan kenapa aku bisa bicara lancar dengannya.

“Aku masih bisa lebih ramah dari ini, asal kau tahu. Aku juga terkejut sekaligus penasaran. Anak SMA yang tinggal sendiri tanpa orang tua dan tanpa penghasilan. Aku bingung cara kotor apa yang kau lakukan untuk mendapatkan uang. Yah, apapun itu, sepertinya tidak akan bertahan lama. Hidup dengan uang kotor hanya akan menggerogoti daging tubuhmu sendiri.”

Jadi ini yang dimaksud bahwa dia bisa lebih ramah lagi??? Kalimat itu benar-benar menyakiti hatiku loh, tuan putri.

Lagian, kesannya, aku seperti orang yang bertahan hidup dengan cara kotor. Meski aku sangat ingin mengatakan tentang penghasilan yang aku dapat dari menulis novel. Aku tidak bisa mengatakannya. Setidaknya, penghinaan ini masih lebih baik daripada identitas diriku yang terkuak.

“Jadi tuan putri, sekarang bagaimana? Hanya ada satu kamar utama loh. Tentu saja aku tidur di kasur tunggal. Sementara kau dan para pelayan, berarti tidur di bawah.” Aku hanya akan membahas ini. Masalah posisi ketika tidur nanti malam, kurasa itu penting. Masalahnya, aku itu cowok sendiri!

“Tidak perlu khawatir. Chloe dan Lucy akan membawakan kasur lipat untukku. Kasur untuk mereka berdua juga sudah disiapkan. Siapa juga, yang mau tidur satu kasur dengan laki-laki mesum tidak senonoh sepertimu.”

Rasanya, aku sudah mulai terbiasa nih. Tidak ada satupun kalimat pedas yang keluar dari mulutmu cukup kuat untuk membuatku kesal. Sepertinya aku sudah kebal dengan ocehan gadis ini.

“Yah, terserah mau sebut aku apa. Aku akan mandi. Giliranmu tentu saja setelahku ya. Jadi, jangan mengintip.”

Elizabeth mendengus sambil membuang muka. Meski itu lelucon yang aku coba sampaikan, sepertinya, itu tidak berpengaruh apa-apa. Malah, aku menyadari sesuatu. Orang seperti diriku, mana bisa membuat lelucon!? Aku bodoh karena mencoba.

Sejak awal, memang tidak ada kesempatan. Elizabeth yang angkuh dan keras kepala. Kupikir, dia bisa menjadi temanku. Tapi ya, mengingat bagaimana hubungan dan jarak kasta melapisi kami, aku sadar itu mustahil.

_________________

Tubuhku segar, tubuhku bersih, aku baru saja selesai mandi. Keluar dari kamar mandi dengan celana pendek, tentu saja telanjang atas. Sambil menggantung handuk di belakang leher, aku berjalan ke kamar utama, santai, benar-benar tingkah laku yang seperti biasa.

Aku lupa!!! Aku lupa kalau ada Elizabeth di kamar utama. Ba-bagaimana aku bisa lupa??? Padahal aku sedang dalam masa pengawasan.

“Ma-maaf! Aku benar-benar lupa kalau kau ada di sini!” Aku membungkukkan badan, mencium lantai, menghadap Elizabeth yang duduk di kasur tunggal. Mengharapkan maaf dengan merendahkan diri.

BRAK!!!

Pintu terbuka, meski gebrakan itu tidak diperlukan sih. Bukankah suara gebrakan seperti itu bisa menarik perhatian tetangga??? Siapa sih?

“Akihi ….” Suara itu berniat memanggilku. Aku kenal, itu adalah suara Bella. Dia datang menggebrak pintu. Kemudian melihat diriku yang telanjang dada dalam keadaan sujud kepada Elizabeth. HAA??? INI SUPER BAHAYA, ‘KAN???

“Memangnya kau ada urusan di tempat ini? Bukankah kau dalam masa penangguhan?” tanya Elizabeth dingin dan mengintimidasi.

“A-Akihiko, a-apakah kau ini, selingkuh? Tidak, maksudku. Kau dalam keadaan sujud dan merendahkan diri seperti itu. Apakah kau, seorang masokis?” tanya Bella bingung, syok, dan lemas. Mengira bahwa aku memiliki kecenderungan aneh seperti penderita masokis.

Apakah keadaan ini bisa lebih buruk lagi?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai