Bella memergoki diriku. Parahnya, suasana ini sangat tidak bagus untuk dilihat. Mantap, momentum kejadiannya benar-benar buruk. Matanya yang terbuka semakin melebar karena kaget dan terkejut. Berbagai pertanyaan dan kesimpulan, semuanya telah mengepul di dalam kepalanya. Bahkan dari katanya barusan, apakah aku terlihat seperti orang masokis? Ma-mana mungkin lah ….
“Be-Bella. I-ini tidak seperti yang ka-kau pikirkan. Aku bisa jelaskan. Jadi coba tenang, dengarkan ceritaku kemudian.” Aku coba membuat kesempatan, berharap bisa meluruskan pemikirannya.
Tapi, Elizabeth malah mendengus dan berkata, “Sebelum menjelaskan sesuatu, kenapa tidak pakai baju dulu? Atau kau memang orang yang suka pamer bentuk tubuh ya? Hmph, padahal tubuhmu tidak sebagus itu.”
Perkataan itu langsung menusuk hatiku loh. Meski aku sudah kebal dengan beberapa hinaan dari tuan putri, tapi sepertinya, kalimat barusan cukup menyakitkan.
“A-ah … be-benar! Aku akan pakai baju dulu. Jadi, bisa tolong keluar sebentar? Hanya ada satu kamar di sini sih”
“Begitu? Aku kasihan pada dirimu yang tinggal di tempat sempit seperti ini.” Entah kenapa, Elizabeth selalu mengembalikan kalimatku seakan-akan aku ini buruk.
“Sebenarnya karena tinggal sendiri, aku tidak merasa kesempitan sih. Rasa kasihan itu tidak dibutuhkan.”
“Baiklah, kalau kau sampai memohon begitu, aku akan keluar. Cepat ganti baju dan jangan berkaca dalam keadaan telanjang.” Elizabeth lekas keluar dari ruangan ini.
“Ha?”
PEMIKIRAN ITU BAHKAN BELUM PERNAH MASUK KE KEPALAKU! Justru, karena kau mengatakan itu, aku jadi memikirkannya untuk pertama kali. Parah … sepertinya aku sudah dipandang sebagai laki-laki mesum olehnya.
“Ka-kalau begitu aku tutup pintunya ya … ma-maaf karena membuat kalian menunggu.”
Aku menutup pintunya dan ganti baju dengan cepat. Khawatir jika terlalu lama, Elizabeth akan berpikir yang tidak-tidak. Setelah mengenakan pakaian, aku membukakan pintu sambil menyambut. “Silakan.” Aku mempersilakan mereka agar masuk ke dalam.
“Cepatnya,” kata Elizabeth terkejut hingga diam sejenak. Wajar sih … sepertinya, hanya 30 detik waktu yang terpakai saat aku pakai baju. Tapi mau bagaimana lagi, ‘kan? Daripada aku semakin dituduh yang tidak-tidak.
“Ja-jadi … soal penjelasannya.” Aku mulai menyinggung masalah tadi. Tapi, Bella mengabaikan. Menenteng plastik putih berisi daging, dia bersenandung masuk ke dalam.
“Akihiko … aku bawa daging ayam nih. Biarkan aku memasaknya di dapurmu ya,” kata Bella sambil bersenandung ke arah dapur. Dia membawa plastik putih, yang pastinya, isinya adalah daging ayam.
“A-ah … te-tentu. Terima kasih.”
Elizabeth hanya melirik sedikit, melihat bagaimana kami bertingkah di dalam kontrakan.
Sementara Bella memasak di dapur, Elizabeth malah sibuk sendiri. Tingkahnya yang menyusuri kolong kasur, dalam lemari, bawah meja, ini seperti penggeledahan???
“A-anu … apa yang kau lakukan?” tanyaku gugup dalam posisi duduk di depan meja belajar. Entah kenapa, aku merasa risih.
“Dilihat juga tahu bukan? Aku sedang menggeledah kamarmu. Barangkali ada barang-barang mesum atau majalah porno yang terselip,” jawab Elizabeth ketus tanpa melihat ke arahku. Dia tetap fokus menggeledah laci meja meski sedang menjawab pertanyaan dariku.
“Sebaiknya hentikan saja … aku tidak pernah menyimpan barang seperti itu sih ….” Dia hanya melakukan hal yang sia-sia. Carilah sampai puas. Jika Elizabeth sampai menemukan barang yang menjadi target penggeledahan, dapat dipastikan itu bukan milikku.
“Hmph! Peringatan itu keluar karena kau panik bukan? Aku tidak akan berhenti mencari. Apalagi setelah mendengar usahamu untuk menghentikanku.”
Bagaimanapun aku bicara, semuanya akan tetap salah ya … yah, kita lihat saja. “Jangan lupa rapikan bekasnya ya. Meski kau menggeledah, aku agak keberatan jika harus merapikan kamarku yang awalnya sudah rapi.”
____________________
[Satu Jam Kemudian]
“Sepertinya, kau cukup lihai dalam menyembunyikan barang ya. Sangat berbakat, setidaknya, itu cukup untuk jadi penyelundup obat terlarang.” Elizabeth tidak menemukan apa-apa. Setelah menggeledah seisi ruangan, usahanya bisa dibilang sia-sia. Tapi, apapun hasilnya, sepertinya dia akan tetap membuatku terlihat salah.
“Aku sudah bilang sejak awal loh … benda-benda seperti itu tidak ada di tempat ini.”
“Kalau begitu, kau menyembunyikannya di tempat lain, pasti. Aku akan menginterogasi masalah itu nanti. Akan aku paksa kau bicara sampai kau berharap mati lebih baik.”
Dia tidak serius, ‘kan? Aku merinding loh … kalimat itu seram meski keluar dari mulut gadis cantik. Perumpamaan interogasi seperti apa yang dia pikirkan?
Dari dapur, Bella bicara cukup lantang. Sambil membawa mangkuk berisi makanan hangat, dia berkata, “Makanannya sudah siap ….”
Mangkuk yang berisi masakannya itu mengeluarkan aroma harum. Aroma rempah dan bumbunya sangat terasa hingga membuatku lapar.
“A-aku akan siapkan nasi dan piringnya.” Mengambil inisiatif, aku bergegas membantunya. Menyiapkan piring dan juga nasi. Menggelar meja lipat di kamar utama. Meletakkan semua makanan di atasnya.
Aku dan Bella sudah duduk lesehan di bawah. Siap untuk menyantap makanan yang tampak lezat ini. Tapi Elizabeth, dia hanya duduk di atas kasur sambil menyilang kaki. Mencoba tidak peduli, tapi dia nampak tertarik.
Aku coba untuk mengajaknya. “Ka-kau juga, ikut makan bersama kami. Lauknya ada banyak nih.”
Merespon ajakan dariku, Elizabeth mendengus, membuang wajah, kemudian berkata, “Tenang saja, aku tidak akan mengurangi jatah makan kalian. Kalian bisa makan dengan tenang tanpa khawatir aku mengganggu.”
Aku ini serius mengajakmu.
Bella juga sudah muak. Dia tidak sabar lagi dengan tingkah laku Elizabeth yang seperti itu. Dia mengambilkan nasi, lengkap beserta lauknya. Kemudian memberikan itu pada Elizabeth yang masih membuang muka.
“Ini! Aku tidak terima jika ada orang yang menolak makanan buatanku,” kata Bella cukup ketus dan kesal.
“I-itu benar … tidak enak jika kami hanya makan berdua padahal ada kau di sini.” Aku masih mencoba untuk meyakinkan Elizabeth.
“Kalau begitu, aku akan keluar selama kalian makan. Jadinya tidak ada yang mengganggu suasana lagi.” Masih mempertahankan arogansinya, Elizabeth tetap menolak. Tapi bagi Bella, kalimat barusan adalah celah.
“Bagus! Pergilah keluar selama kami makan. Selagi kau tidak ada, aku dan Akihiko jadi punya kesempatan untuk berbuat mesum nih,” kata Bella dengan nada bicara yang meledek. Meski yang kupikirkan, habislah riwayatku ….
Karena kalimat Bella barusan, Elizabeth merasa kesal hingga mendecih. Sambil menerima makanan yang Bella berikan, Elizabeth berkata dengan ketus, “Oke, aku akan makan. Setidaknya ini juga bentuk pengawasan. Khawatir kau meletakkan obat kuat atau KB pada masakan ini. Aku jadi harus ikut mencobanya.”
Masih saja berpikir begitu … aku benar-benar dinilai sebagai manusia mesum olehnya nih. Yah, tapi sisi baiknya, dia ikut makan bersama kami. Berpindah dari posisinya yang duduk di atas kasur. Menjadi duduk lesehan bersama kami di bawah. Saling berhadapan dan menyantap makanan yang sama.
“Masakanmu enak juga. Aku sampai bingung. Kenapa kau mau memasakkan makanan untuk laki-laki yang memanfaatkan dirimu ini?” Elizabeth sedang memuji? Tapi kedengarannya tidak begitu.
Sekarang, aku ini terdengar seperti laki-laki yang memanfaatkan kebaikan dari gadis cantik. Semakin buruk kesan diriku dalam pemikiran Elizabeth.
Menanggapi pujian dari Elizabeth yang setengah-setengah, Bella menjawab, “Jangan salah sangka. Aku memasak karena ingin memasak. Aku ingin menyiapkan makanan sehat untuk pacarku sendiri. Hanya sebatas itu.”
Bella … perkataan barusan membuatku terharu nih. Tapi aku, tidak bisa menyampaikan rasa terharu ini. Terlalu memalukan. Aku pendam sendiri saja.
_________________
Pintu kayu diketuk, mengeluarkan suara keras yang memanggilku dari luar. Aku bangun dari posisi duduk di meja belajar, membukakan pintu untuk orang yang mengetuknya.
Dua orang perempuan, cantik dengan seragam pelayan berwarna hitam putih. Membawa dua koper besar, masing-masing dari mereka membawa satu koper.
Kedua pelayan itu membungkukkan badan dan memberi hormat. Dalam posisinya yang masih memberi hormat, mereka berkata dengan kompak dan selaras. “Nona Elizabeth, kami datang sesuai perintah anda.”
Rumahku ramai parah nih.