Who Should I Date? Chapter 18


Negosiasi ini berujung pada hal tidak diduga.


“Sudah diputuskan! Akihiko Hayate. Jika kau menjadi pacarku saat ini dan seterusnya. Aku akan membantumu menghadapi lima pilar!” katanya dengan senyum yakin penuh semangat.

Ini lagi? Hela nafas … aku coba untuk menenangkan diri. Kenapa ini terjadi lagi? Bahkan, ini adalah yang ketiga kalinya sejak seorang gadis mendeklarasikan dirinya sebagai pacarku.

Pertama Bella, lalu Elizabeth dengan dalih pengawasan, sekarang Mirika dengan dalih kontrak. Singkatnya, jika aku menyetujui kontrak kerja dengan Mirika. Maka aku akan menjadi pacarnya.

Isi kontraknya adalah, Mirika akan membantuku menghadapi lima pilar, sehingga aku bisa melepas ban lengan ini. Apa yang terjadi jika ban lengan ini lepas? Kalau itu terjadi. Maka aku bisa bebas. Aku yang memuja kehidupan SMA, bisa menikmati kehidupan SMA ini tanpa pantangan.

Selain itu, aku memiliki hutang budi karena gadis ini telah menyelematkanku di aula. Andai saja dia tidak membantuku, aku akan ditimpa masalah yang lebih besar. Semakin jauh dari kehidupan ideal masa SMA. Itu adalah keuntungan yang aku dapatkan dari kontrak ini.

Sekarang mengenai bayarannya, ada dua poin yang diajukan. Untuk membayar hutang budi, aku harus menjadi kesatria miliknya tahun depan. Hanya saja ini tidak pasti terjadi. Kalau Mirika tidak terpilih sebagai pilar, maka kewajiban bagiku untuk menjadi kesatria, itu bisa dilupakan.

Karena bayaran yang tidak pasti seperti itu, Mirika menuntut bayaran kedua. Bayaran itu adalah aku harus menjadi pacarnya saat ini dan seterusnya. Itu adalah bayaran yang harus aku tunaikan jika ingin dia membantuku.

Tapi pacaran? Aku ini sudah punya Bella loh. Bahkan sampai besok, Elizabeth masih berstatus sebagai pacarku. Sekarang dia mengajukan proposal kontrak yang mana isinya. Dia akan membantuku apabila aku menjadi pacarnya.

Meski aku butuh bantuannya untuk menghadapi pilar. Kalau aku harus membayarnya dengan menjadi pacar. Apa yang akan Bella katakan??? Jika itu terjadi maka penilaian Elizabeth soal diriku yang buaya. Itu akan jadi kebenaran.

Jadi kesimpulannya, bagaimana???

KRING!!!!

Mirika berdiri untuk pergi. Dia menepuk-nepuk roknya karena ada sedikit debu yang menempel. Yah, dia agak aneh sih. Duduk di tanah meski disediakan tempat duduk. Ini definisi menyatu dengan alam?

“Akihiko lama nih … tapi tidak masalah. Pikirkan itu sampai tiga hari lagi. Aku akan kembali untuk kelanjutan kontrak ini. Sampai nanti ….”

Mirika pamit. Dia pergi dan kembali ke kelasnya. Ini sudah bel masuk, jam istirahat berakhir. Aku juga harus kembali. Sekarang, apa yang sebaiknya aku lakukan???

_________________

“Akihiko, aku ada pertemuan di klub voli sore ini. Kau bisa pulang sendiri? Perlu aku antar?” tanya Bella khawatir. Dia mendatangi tempat dudukku saat aku sudah bersiap untuk pulang.

Sejak kapan kau bersikap sebagai ibuku? Lagian, aku bukan anak kecil yang butuh diantar!

“A-aku bisa pulang sendiri. Tidak perlu khawatir.” Aku menjawab dengan singkat, langsung bergegas pergi meninggalkannya

Tetap saja! Diperhatikan sampai separah itu, parahnya lagi di depan teman-teman sekelas. Itu membuatku malu tahu. Memangnya Bella tidak merasa malu???

Aku sudah keluar dari pintu kelas. Kini aku memasuki lorong. Lorong panjang dengan jajaran pintu setiap kelas. Banyak siswa lain juga keluar dengan niat untuk pulang. Eh, ada beberapa yang mau hadir ke klub mungkin?

Apalah aku yang dilarang masuk ke klub atau ekstrakurikuler karena ban lengan ini. Sedang memikirkan hal-hal seperti itu, suasana hatiku menjadi buruk.

Jika kau menjadi pacarku saat ini dan seterusnya. Aku akan membantumu menghadapi lima pilar!

Kalimat itu lagi. Aku tahu aku menginginkannya. Aku merasa bantuan darinya, benar-benar aku butuhkan saat ini. Dia datang dan menawarkan bantuan seperti itu padaku. Andai saja bayarannya bukan menjadi pacar. Andai saja aku tidak berpacaran dengan Bella.

Hah?

Tidak, aku adalah orang yang buruk kalau berpikir seperti itu. Aku harus tenangkan diri saja untuk saat ini. Tentang bagaimana aku menggapai kehidupan SMA yang aku idam-idamkan. Tentang bagaimana aku mempertahankan Bella sebagai pacarku. Tentang bagaimana aku menghadapi lima pilar. Tentang bagaimana aku menanggapi Mirika. Setidaknya untuk sekarang, aku sudah tidak terlibat dengan Elizabeth.

Bagus, satu masalah pergi. Tiga masalah datang sekaligus. Kenapa aku yang ingin hidup di SMA secara baik-baik malah ditimpa masalah seperti ini??? Tidak adil!

“Eh, Akihiko?” Suara itu terdengar, tepat ketika aku keluar dari gerbang. Bermandikan cahaya senja yang oranye, gadis berambut pirang itu menyapaku.

“Elizabeth? Ka-kau, belum pulang?” tanyaku gugup karena disapa tiba-tiba.

“Tentu saja aku sedang ingin pulang. Kau sendiri, tidak pulang bersama Bella? Yah, sebenarnya ini masih hari keenam sih. Tapi karena suasana hatiku sedang baik. Kau tidak perlu diawasi untuk malam ini,” jawab Elizabeth sedikit ketus.

“Bella sedang ada pertemuan di klub voli … makanya aku pulang duluan. Oh iya, Lucy dan Chloe? Mereka tidak bersamamu?”

Wajar saja aku bertanya. Melihat dirinya yang setidaknya selalu ditemani oleh salah satu pengawal. Ketika dia jalan sendirian seperti itu, ada apa? Aku yakin orang lain juga berpikir sama.

“A-ah … itu … mereka sedang aku suruh belanja. Jadi mereka pergi duluan bersama supir. A-aku memang minta diberi kesempatan sih. Kesempatan untuk pulang sendiri seperti ini. Kalau tidak pernah seperti ini, aku tidak akan mandiri bukan? Karenanya aku minta kesempatan, untuk pulang sendiri.”

Cara bicaramu yang gugup seperti itu. Membuatmu terlihat seperti sedang berbohong loh. Yah, aku tidak peduli. Kalau memang sesuai dengan perkataannya, maka aku tidak ada urusan dengan Elizabeth.

“Ka-kalau begitu, aku duluan.” Aku langsung mengakhiri percakapan. Mengambil langkah untuk pulang. Tapi tidak disangka, Elizabeth memegang tas di punggungku. Gerakannya seperti menahan, khawatir aku melangkah lebih jauh. Ditahan seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi?

“A-Akihiko. Ka-kau, sedang buru-buru?” tanya Elizabeth malu hingga wajahnya sedikit merah. Dia menyelipkan rambut pirangnya ke belakang telinga. Kemudian memaksakan diri untuk menatapku. Ditatap seperti itu membuatku malu. Aku hanya membuang pandangan, lalu menggaruk hidung karena canggung.

Serius, momen canggung macam apa ini!? Terlebih lagi, gadis ini maunya apa sih??? Padahal dia bilang, malam ini tidak akan mengawasi aku seperti biasa. Kalau begini sih sama saja ….

“Buru-buru? Ti-tidak juga sih. Aku tidak punya hal khusus atau jadwal padat yang menunggu. Apalagi, aku tidak ikut klub manapun saat ini.”

Dari kalimatku barusan. Apakah aku terlihat seperti orang yang mengasihani dirinya sendiri? Pasti! Saking sialnya, aku sampai kasihan dengan diriku sendiri. Tapi ya, memang seperti itu kenyataannya. Aku masih harus berusaha agar tidak berakhir menyedihkan seperti ini.

“Ka-kalau begitu … mau makan sesuatu? Ayo ke kedai. Ada satu hal yang harus aku bicarakan empat mata, denganmu.” Elizabeth melepaskan tangannya yang saat ini sedang menggenggam tas milikku. Dia pikir aku sudah mendengarkan permintaannya. Jadi saat ini, Elizabeth hanya berharap agar aku bersedia ikut dengannya.

“Apakah ini … tentang masalah pengawasan?” tanyaku singkat.

“A-ah! Iya, ini … tentang pengawasan. Haha.” Jawaban Elizabeth diakhiri dengan tawa yang tidak dibutuhkan. 

Kalau hanya itu, kenapa kau sangat gugup sejak tadi!? Yah, kalau ini terkait masalah pengawasan ya mau bagaimana lagi. Tentu saja aku harus ikut bukan. “Baiklah, ayo.” Aku menyanggupi permintaannya.

Seorang Gadis Bernama Elizabeth

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai