Who Should I Date? Chapter 17


Aku yang berteriak saat pelantikan berlangsung. Itu dinilai dewan sebagai perbuatan tidak sopan. Jika aku tidak punya penjelasan terkait teriakan itu. Maka mungkin saja, aku akan terkena masalah.

Lalu saat aku terpojok dan kebingungan. Seorang gadis aneh menyelamatkanku. Namanya Mirika, satu angkatan denganku. Dia meminta maaf mewakili dirinya dan diriku. Mengatakan kalau dia lupa mengajariku tata krama di ruangan ini. Entah kenapa, para dewan bisa percaya dengan mudah. Tidak ada sedikitpun rasa curiga pada Mirika yang jelas-jelas sedang berbohong. Apakah jabatan berpengaruh sampai seperti itu? Tapi ya, untungnya aku selamat.

Itu hal baik dari tindakannya. Lalu buruknya, dia mengatakan kalau aku adalah kesatria miliknya. Dia juga bilang kalau aku akan mengabdi saat dia menjadi pilar tahun depan! Mengabdi … rasanya hidupku bakal terikat nih. Aku harus membicarakan ini nanti.

“Kau harus menjelaskan semuanya, nanti.” Aku memastikan lagi kalau dia, akan menjelaskan semua ini nanti. Mendengarnya, gadis bernama Mirika hanya tersenyum manis. Dia melihatku sambil mengangguk senyum. “Tentu!” jawabnya semangat.

___________________

Elizabeth juga tidak mengerti. Dia hanya diam menggaruk kepala, melihat apa yang terjadi pada Akihiko dari bawah. Tapi setidaknya, teriakan Akihiko barusan. Itu terdengar sangat tulus. Teriakan kalau Akihiko mendukungnya. Ini pertama kalinya bagi Elizabeth. Mendapatkan dukungan selain dari Lucy dan Chloe.

Aqila mendecih kesal, menutupi bibirnya dengan kipas lipat. Dia sudah tidak tertarik lagi dengan tindakan provokatif. Dari belakang, pria tampan yang badannya jangkung berbisik padanya. “Kumohon jangan cari musuh lagi, Nona. Aku yang bakal pusing kalau kau dapat banyak musuh nih.” Dia berbisik pelan seperti merengek.

Menanggapi bisikan itu, Aqila bicara dengan ketus. “Kau tidak berhak komentar, Tristan. Sebagai kesatria milikku, seharusnya kau mendukungku bukan? Jangan hentikan apa yang aku perbuat. Lain kali pasti, aku akan menguak kebusukannya.” Diakhiri mendengus, Aqila berdiri angkuh dan diam.

Tidak lagi mendengar keributan. Kini, gadis serba putih bicara. “Dewan pelantikan yang terhormat, sepertinya, pelantikan ini bisa dilanjutkan.” Suaranya lembut. Kecantikan luar biasa bisa terasa dari setiap kata yang keluar.

Dia adalah gadis serba putih yang bahkan, seluruh rambutnya juga sudah memutih. Rambutnya yang putih itu dikepang ke samping. Sangat panjang, rambut yang dikepang saja sampai sejajar dengan pinggang.

Kulitnya putih bersih, sementara matanya selalu terpejam sejak tadi. Sejak awal, sejak gadis itu memasuki aula, dia tidak pernah membuka matanya. Bahkan dia membawa tongkat tunanetra. Semua orang paham kalau dia adalah orang buta. Lalu di lengannya, terpasang ban lengan kehormatan. Sama seperti pilar lain, hanya saja dia, menyandang gelar sebagai pilar biologi.

Salah satu dewan memberi tanggapan, “Apakah sudah tidak ada yang ingin disampaikan?” Para pilar dan Elizabeth hanya diam. Mereka tidak menjawab, tanda kalau mereka sudah siap untuk dilantik.

“Sepertinya, pelantikan ini sudah bisa kita mulai.” Salah satu dewan bicara lagi. Isyarat kalau acara utama, yaitu pelantikan akan segera dimulai.

_____________________

“Jadi, aku menuntut penjelasan soal masalah tadi.” Aku menagih janjinya. Janji kalau Mirika akan menjelaskan semuanya setelah pelantikan selesai. Saat ini, hanya ada satu hal yang mengusik diriku. Itu adalah kalimat kalau aku akan mengabdi pada orang ini, sebagai kesatria.

Pelantikan sudah selesai. Sekarang adalah jam istirahat. Kami berjanjian di tempat sepi untuk bicara. Dengan ban lengan pengawasan, aku tidak bisa sembarangan mencari tempat. Anggap diriku adalah narapidana yang baru kembali dari penjara. Benar-benar dikucilkan. Yah, karena itu juga. Kehidupan SMA super indah yang aku dambakan. Itu masih harus menunggu. Entah kapan sampai ban lengan ini bisa lepas.

Mirika sekali lagi tersenyum manis. Benar-benar murah senyum. Setelahnya, dia baru menjawab, “Tentu! Tapi sebelumnya, kau sendiri sudah paham bukan? Apa jadinya kalau aku tidak menyelamatkanmu tadi. Terutama kalau mereka sampai tahu tentang ban lengan itu,” respon Mirika cukup jelas dan terarah. Dia melihat ban lengan pengawasan milikku di akhir kalimatnya.

“A-aku paham kok ….”

Itu bisa dinilai sebagai tindakan tidak sopan. Terlebih lagi, kalau mereka sampai sadar dengan ban lengan pengawasan. Aku bisa tertimpa masalah. Ya singkatnya, aku berhutang pada gadis bernama Mirika ini.

“Ta-tapi, jadi kesatria … itu cuma bercanda, ‘kan?”

“Yah, aku tidak memaksa sih. Tapi, namamu saat ini sudah dikenal sebagai kesatria pilar biologi tahun depan. Doakan saja agar aku terpilih. Selain itu, jika kau tidak muncul sebagai kesatria untukku tahun depan. Entah bagaimana pemikiran orang ya … belum lagi para dewan, sudah mencatat kalau kau adalah kesatria untukku. Pikirmu bisa kabur semudah itu?”

Ini yang terburuk … aku semakin dikekang dan diikat. Sekarang, bagaimana caranya agar aku bisa hidup damai? “Kalau begitu, aku mengundurkan diri.” Hanya itu satu-satunya cara.

“Hah! Ja-jangan buru-buru memutuskan. Saat ini, posisimu adalah orang yang berhutang loh … dengan kata lain, kau harus membayarnya. Tapi ya, aku paham kalau ini tidak setara sih. Karenanya, ayo kita bernegosiasi lagi.”

“Jadi, apa yang mau kau tawarkan? Kau bilang ini negosiasi sih.”

“Ban lengan itu,” kata Mirika sambil menunjuk ke arah lenganku. Dia melihat ban lengan yang terpasang kencang, kemudian bertuliskan dalam pengawasan. Aku hanya memasang ekspresi bertanya, membiarkan dia menjelaskannya lagi.

“Aku akan membantumu. Akan aku bantu supaya kau bisa melepas ban lengan itu. Dengan kata lain, aku akan membantumu untuk menghadapi lima pilar. Bagaimana? Bagi dirimu yang memuja kehidupan SMA, ini tawaran yang bagus bukan???”

Menghadapi lima pilar. Mengharapkan stempel dan pengakuan dari mereka kalau aku adalah siswa disiplin. Mengingat mereka saja, itu membuat perasaanku tidak enak. Terutama gadis pilar kimia. Meski aku tidak pernah mengenalnya. Entah kenapa aku, membenci dirinya.

Lalu, ada gadis serba putih yang buta. Kupikir, dia juga misterius dan seram. Bayangkan, gadis buta sepertinya bisa menyandang gelar pilar. Dia pasti memiliki kehebatan sehingga bisa sejajar dengan orang-orang hebat. Aku merasa kalau menghadapi lima pilar, akan sangat sulit dan butuh waktu. Tapi gadis ini, dia ingin membantuku. Dia sudah menyelamatkanku di aula ketika aku bertindak ceroboh. Sekarang, dia menawarkan bantuan padaku. Bantuan yang bisa membuat ban lengan ini lepas.

Kalau kupikir, keberadaan ban lengan ini telah membatasi diriku dari kebebasan. Aku tidak bisa masuk ke klub seni. Aku tidak bisa pergi ke kantin dengan tenang. Aku dinilai sebagai narapidana. Memangnya aku mau terus begini?

Okelah, aku menerima bantuan dari Mirika. Tapi tahun depan, jika dia terpilih menjadi pilar. Aku harus melayaninya sebagai kesatria. Tunggu, dia masih seorang kandidat, ‘kan? Dia belum sepenuhnya, bahkan sama sekali bukan seorang pilar. Ya, dia masih seorang kandidat. Dengan kata lain, kemungkinan aku menjadi kesatria miliknya, bukan 100%. Ada kemungkinan dia gagal. Lalu aku tidak perlu menjadi kesatria. Taruhan ini boleh juga.

Terima kasih kepada pikiran paralel karena telah melancarkan pikiranku sekarang. Jadi, apakah aku terima? Ini mungkin saja kesempatan bagus. Kesempatan untuk menggenggam kehidupan SMA yang damai. Dengan bantuannya sebagai kandidat pilar, mungkin ada kesempatan.

“Eh, sebentar.” Mirika tiba-tiba bicara. Dia seperti menyadari ada sesuatu yang salah. Telunjuknya yang lentik menyentuh dagu. Wajahnya terlihat sedang berpikir keras.

Mirika melanjutkan, “Kayaknya, aku tidak pasti jadi pilar tahun depan deh. Maksudku, aku ini masih kandidat loh. Ada kemungkinan kalau aku gagal, ‘kan!?”

Dia menyadarinya … kenapa isi pikirannya sama persis seperti yang aku pikirkan??? Ini terlalu pas bahkan sampai membuatku kesal.

“Jadi, kau merasa kalau negosiasi ini berat sebelah?” tanyaku.

“Tentu! Coba pikir. Aku sudah menyelamatkanmu di aula saat pelantikan. Lalu menawarkan bantuan untuk menghadapi lima pilar. Sementara yang aku minta, adalah agar kau menjadi kesatria untukku tahun depan. Padahal, aku belum pasti akan menjadi pilar! Aku ini masih kandidat!!!”

Hei kau tidak perlu teriak … orang-orang bisa dengar loh … yah, sepertinya, aku harus melakukan satu hal lagi untuknya. Akan aku tanyakan.

“Jadi, Aku harus melakukan apa supaya negosiasi ini seimbang?”

“Sudah diputuskan! Akihiko Hayate. Jika kau menjadi pacarku saat ini dan seterusnya. Aku akan membantumu menghadapi lima pilar!” katanya dengan senyum yakin penuh semangat.

Kamu butuh pengorbanan untuk bebas.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai