Who Should I Date? Chapter 16


Elizabeth mengadu tatap dengan Aqila. Mereka saling benci dan merasa kesal. Entah untuk apa dan atas dasar apa, mereka tampak seperti musuh bebuyutan.

Aqila, gadis yang menyandang gelar terhormat sebagai pilar kimia. Ciri khas yang membuat penampilannya eksentrik, adalah ikat rambut mawar dan kipas lipat. Ikat rambut mawar berwarna merah, mengikat rambutnya sehingga tidak menghalangi wajah. Sementara bagian belakang rambutnya, terurai begitu saja sampai pinggang. Lagi, dia selalu membawa kipas lipat berwarna merah. Entah untuk alasan apa, kipas itu sudah menyatu dengan karakternya. Membuat dia nampak seperti gadis yang tegas dan misterius.

Tidak, menurutku, semua gadis yang menyandang gelar pilar. Mereka semua misterius. Pilar bahasa dan pilar fisika, mereka sudah menunjukkan idealis mereka masing-masing. Meski kupikir, waktu dan suasananya sangat tidak pas sih.

Lalu sekarang, pilar kimia yaitu Aqila. Dia membuat tindakan provokatif yang mengubah suasana menjadi tegang. Terlalu kasar, sampai menyebut Elizabeth dengan umpama wanita najis. Itu membuatku sedikit kesal.

“Kenapa? Apakah kau merasa bangga hingga tidak sudi meminta maaf? Kelahiran dirimu adalah kesalahan. Hubungan orang tuamu adalah kesalahan. Bahkan, dirimu sendiri adalah kesalahan. Kau tidak layak berdiri di sini hari ini. Itu adalah kesalahan karena kau hadir di ruangan ini.”

Semua hinaan itu membuat Lucy melangkah busung dada. Dia berdiri di depan Elizabeth, menengahi tuannya dengan Aqila yang sedang bertengkar. Kemudian berkata dengan sopan sekaligus tegas. “Maaf, tapi tindakan anda tidak bisa dibiarkan,” kata Lucy tegas, dia menatap mata Aqila yang mengintimidasi.

“Oh, kau anjing yang baik. Sampai membela gadis kotor itu dengan sepenuh hati, aku merasa terharu.” Aqila tidak berhenti. Dia terus menerus melancarkan kalimat provokatif. Membuat Elizabeth kesal, tapi Chloe menjaganya agar tetap tenang. Sementara Chloe menenangkan tuannya, Lucy menengahi pertengkaran tuannya.

Aku sendiri bingung, kenapa Aqila bisa sampai seperti itu? Kenapa dia sangat membenci Elizabeth? Mana kutahu, ini baru minggu kedua aku sekolah.

Merasa waktunya semakin terbuang, Baragasaki angkat suara. “Maaf, tapi kalian bisa lanjutkan itu setelah pelantikan. Sama seperti Priscilla, aku punya pelajaran yang harus dikejar,” katanya ketus sambil melihat Aqila. Dia membenarkan kacamatanya karena mengendur. Memberikan kesan dingin sekaligus tajam.

Bagus Baragasaki! Tindakanmu sebagai pilar matematika, itu membuatku sedikit tenang. Entah untuk alasan apa, aku hanya berharap. Aku berharap agar Elizabeth bisa bebas dari situasi ini.

Sementara gadis yang dipanggil Priscilla, dia mendehem kesal. Menggembungkan pipi sehingga wajahnya terlihat imut. Setelahnya, dia bergumam pelan. “Duh, fisikanya sudah kelewat 10 menit nih ….”

Aqila tidak terima dengan peringatan itu. Dia semakin marah dan merusak suasana. “Kenapa? Memangnya kalian juga sudi? Kalau gadis kotor ini menjadi orang yang mengawasi kedisiplinan di sekolah kita!” Aqila melipat kipasnya, kemudian mengarahkan kipas itu pada Elizabeth. Fungsinya sebagai pengganti jari telunjuk, dia menunjuk Elizabeth dengan kipas.

Tidak ada yang menjawab. Tidak ada satupun orang, yang menanggapi pertanyaan Aqila barusan. Asumsi sementara, mereka kurang berkenan jika Elizabeth memegang jabatan ini. Alasannya karena Elizabeth dianggap sebagai wanita kotor. Tapi kenapa? Apa yang membuat Elizabeth dinilai seperti itu?

Elizabeth sadar. Saat ini, semua orang meragukannya sebagai ketua. Dia sudah tahu tentang itu. Dia sudah paham, jauh sejak dirinya mencalonkan diri sebagai ketua setahun lalu. Saat ini, tidak ada perasaan lain yang menghantuinya selain kecil hati. Dia takut, dia berkeringat.

“Tuh lihat. Tidak ada yang menanggapi loh … sepertinya, tidak ada satupun orang di ruangan ini, yang rela kalau dirimu menjadi ketua!”

“Aku mendukungnya!” Dari tribun atas, sudah membuang pemikiran tentang akal sehat, aku berteriak! Tidak bisa tahan, aku ganti posisi dari duduk ke berdiri. Kemudian meneriakkan dukungan hingga seisi ruangan melihatku. Termasuk para dewan.

Salah satu dewan yang rambutnya sudah memutih, dia bertanya padaku. “Saudara yang berdiri di situ. Apakah kami memberi kesempatan pada tamu untuk bicara?” katanya sambil melihat ke arahku.

“Terlebih lagi, posisi berdiri adalah permintaan izin untuk bicara. Ada yang ingin kau sampaikan?” Salah satu dewan yang lain menimpali.

Ha? Sial, aku terbawa suasana. Aku tidak seharusnya berteriak. Tapi mau bagaimana lagi, ‘kan??? Aku tidak tahan lagi sih. Selain itu, masalahnya adalah sekarang. Seisi ruangan menunggu jawaban dariku nih. Aku harus jawab apa? Meski Elizabeth sudah memperingatkan agar aku tidak cari masalah. Aku malah memperburuk keadaan.

“Saudara, apakah ada yang salah? Kami menunggu jawabanmu. Jika tidak ada jawaban. Maka perilaku barusan adalah bentuk perbuatan tidak sopan.” Menunggu jawaban terlalu lama, dewan pelantikan menegur.

Sial … bicara di depan keramaian seperti ini, memangnya aku bisa??? Lantas kenapa aku berteriak tadi??? Aku telah membuat kesalahan!!!

“Dewan pelantikan yang terhormat. Izinkan saya bicara tentang anak ini.” Seorang gadis yang duduk di sebelahku. Dia berdiri dan angkat suara dengan sopan. Gadis yang tidak lebih tinggi dariku, saat ini berdiri bersampingan denganku. Membuat perbedaan tinggi badan kami terlihat jelas. Rambutnya hitam pendek dengan gaya ikal. Membuat pesona unik dan cerah, itu terpancar dari wajahnya yang bersih.

Gadis ini, mau apa? Lebih tepatnya, siapa dia? Dia bilang ingin mengatakan sesuatu tentangku. Memangnya kami saling kenal?

“Orang itu ….” Elizabeth frustasi hingga menggaruk rambutnya karena kesal. “Padahal sudah aku peringatkan sejak tadi, masih saja berbuat onar.”

Salah satu dewan, menanggapi gadis ikal ini dengan mengatakan, “Bisa kenalkan identitas Saudari sebelum bicara?” Gadis ikal mengangguk dengan sopan, itu tanda kalau dia akan memperkenalkan dirinya secara resmi. Dia kemudian bicara perlahan.

“Nama saya adalah Mirika, siswi kelas satu dari SMA ini, SMA Apollo yang sama-sama kita sayangi. Saya mencalonkan diri sebagai kandidat pilar biologi tahun depan. Saya mohon kerja sama dari kalian.” Semua kalimat yang keluar dari mulutnya, itu dikemas dengan sopan. Seperti, dia benar-benar tahu caranya beradab di ruangan ini.

Calon pilar!? Serius, aku semakin pusing dengan semua ini. Tidak ada yang bisa aku mengerti. Aku harus menanyakan ini pada Elizabeth nanti.

Dewan pelantikan melanjutkannya dengan bertanya, “Jadi, apa yang ingin kau sampaikan terkait anak itu?” Kata ‘anak itu’ sudah jelas merujuk kepadaku. Karena pertanyaan itu, gadis bernama Mirika tersenyum kecil. Dia melirik ke arahku sekilas, memperlihatkan isyarat senyum, kemudian kembali melihat dewan dengan sopan.

“Pria di sampingku bernama Akihiko Hayate. Dia adalah kesatria yang telah mengabdikan dirinya untuk melayaniku sebagai pilar tahun depan. Aku turut bersalah karena lupa mengajarinya tata krama di ruangan ini. Jadi, atas nama marga Sinaga yang terhormat. Saya dan dirinya memohon maaf.”

Aku hanya tertegun dan membeku. Melihat dirinya yang membungkukkan badan untuk meminta maaf dan mewakili diriku. Apakah dia ada motif tersembunyi??? Kalau iya, apa nih?

Sadar kalau aku tidak ikut tunduk, Mirika menekan kepalaku agar ikut membungkuk. Akhirnya, kami berdua membungkukkan badan sebagai posisi minta maaf.

“Kau berhutang padaku nih,” bisik Mirika saat kami berdua menundukkan kepala. Karena posisi kami bersampingan, aku bisa mendengarnya.

“Te-terima kasih … tapi bagaimana aku membayar???” Aku membalas bisikan itu dengan pertanyaan mengiba. Berharap dia tidak membebani diriku dengan hutang budi yang berat.

“Tenang saja! Masalah itu, akan kita bicarakan setelah pelantikan ini selesai, ya!”

Hutang budi dibalas mati.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai