Chapter 1
Aku bangun dari lamunan. Begitulah, aku sering melamun dan memikirkan banyak hal di kepala. Yang terlihat dari luar, aku adalah laki-laki pendiam dan sulit bertutur kata. Tapi di dalam kepala … bahkan aku punya lima kepribadian.
Selain itu … aku harus memulai banyak riset ya??? Yah, kalau demi kehidupan SMA yang cerah. Aku harus semangat!
Atas Nama Masa Muda yang Hanya Datang Satu Kali
________________________________
Suasana kelas, canggung, dan penuh perhatian. Aku berdiri di depan kelas, menghadap barisan meja kursi dan para siswa. Alasannya, saat ini adalah giliran bagiku untuk memperkenalkan diri. Aku tidak bisa berpikir terlalu lama. Aku tidak bisa memanggil pikiran paralel. Aku harus menghadapinya. Aku tidak punya waktu untuk berpikir.
Tapi, ini apa sih. Perkenalan diri itu bagaimana??? Sebentar. Harusnya aku punya waktu ‘kan? Walau hanya sebentar sih. Setidaknya aku punya waktu untuk melakukan demonstrasi di dalam pikiran.
Namaku Akihiko Hayate. M-mohon bantuannya ….
Lah emangnya ini Jepang? Saat ini, aku harus memperkenalkan diri dengan gaya Indonesia. Aku harus memperkenalkan diri sekarang juga. Benar-benar sekarang, sesuai riset selama ini. Selama seminggu terakhir aku telah melakukan banyak riset, eksperimen, dan evaluasi. Termasuk, aku sudah mempelajari banyak hal tentang perkenalan.
Tapi, pengucapannya lebih sulit dari yang kuduga!!! Ini gawat. Posisi check mate! Aku tidak tahu harus melangkah seperti apa. Aku tidak tahu kalimat apa yang harus diucapkan.
“Aku mengaku kalah ….”
“Eh?” Guruku yang menunggu di samping hanya bisa berekspresi bingung.
Kalimat aku kalah, itu keluar begitu saja dari mulutku. Saking alaminya, aku juga tidak sadar ketika mengucap. Membuat Pak Guru dan seisi kelas kebingungan karena kalimat tadi.
Gawat, ekspresi aku sekarang bagaimana? Wajahku pasti berantakan. Lagian, kenapa aku bisa keceplosan begitu. Lihat, pandangan mereka mengerikan. Mereka menatapku, itu mengintimidasi.
[Padahal itu hanya tatapan bingung.]
Aku harus menyelesaikannya. Bagaimanapun juga boleh. Paksakan dirimu. Ini masih level satu untuk meraih kehidupan normal masa SMA!
“A-aku … na-namaku. Akihiko Hayate. Bisa panggil Akihiko, atau Hiko. Te-terima kasih.” Aku membungkukkan badan sambil berterima kasih.
BENARKAH BEGITU??? GA-GAWAT. Aku lupa menyebutkan usia dan alamat rumah. Eh, karena mereka adalah teman sekelas. Pasti umurnya sepantaran. Mereka juga bisa mengira itu. Lupa memberitahukan umur, itu bukan masalah. Sekarang masalahnya adalah alamat. Aku lupa! Apa yang aku baca di internet. Saat perkenalan, alamat itu dibutuhkan. Itu berguna jika mereka akan kerja kelompok atau main ke rumahku.
Dengan kata lain karena aku lupa memberitahukan alamat rumah. Aku telah memblokade diri agar orang lain tidak berkunjung.
Eh, tidak juga. Kalau hanya alamat. Diberitahu menyusul juga tidak masalah, ‘kan? Maksudku, ketika dibutuhkan atau ditanya, aku pasti akan menjawabnya.
Tapi memangnya, bakal ada yang tanya??? Enggak mungkin. Aku pusing. Memikirkan banyak hal membuatku pusing dan lemas.
Guruku yang berdiri di samping terlihat khawatir. Dia melihat wajahku pucat dan lemas. Apa yang guruku pikirkan, mungkin aku tidak enak badan. Tapi aku, hanya stress karena gagal dalam perkenalan.
“A-Akihiko, kau baik? Mau Bapak antar ke UKS?”
Aku berterima kasih atas perhatian Bapak … aku tidak sakit sih. Tapi aku gugup luar biasa. Mungkin, aku bisa menenangkan diri di UKS.
“To-tolong bantuannya Pak. Saya kurang hafal denah sekolah ini.”
“Tentu, ayo ikuti Bapak.”
________
Aku akhirnya berpindah … tidak, ini sebenarnya aku lari. Aku sedang lari dari masalah. Memperkenalkan diri adalah masalah. Itu masalah besar. Lalu karena tidak mampu menghadapinya, aku lari.
Yah, tidak apa mungkin. Karena ini hari pertama, seharusnya tidak ada pelajaran. Aku bisa berbaring di kasur dan santai untuk sementara.
LAH MANA BISA BEGITU???
Daripada santai, seharusnya aku atur ulang rencana ‘kan! Aku harus atur bagaimana selanjutnya agar aku dikenal. Karena kalau begini. Kalau perkenalanku gagal. Aku bisa gagal dalam lingkungan pertemanan di kelas. Ayo berpikir, ayo berpikir, ayo berpikir!
Percuma … otakku tidak bisa memikirkan apapun soal ini. Apapun itu jika memiliki kaitan dengan sosial. Aku tidak bisa. Tubuhku mati. Aku tidak berguna. Lebih baik aku santai saja. Menenangkan diri juga perlu, ‘kan.
[Sifat mudah menyerah sudah merasuk.]
Pintu UKS terbuka, aku bisa mendengar decitan pintu itu. Suara ketika pintu kayu terbuka, unik dan membuat panik. Decitan pintu terdengar sekali lagi. Seseorang kembali menutup pintu UKS setelah membukanya. Seseorang datang. Aku bisa mendengar langkahnya meski pelan. Apakah dia guru? Mungkinkah, kebohonganku di kelas sudah terungkap???
Kalau begitu ini gawat. Aku akan langsung dicap pembohong di hari pertama. Apapun itu kumohon. Keberuntungan apapun akan aku terima. Kumohon, Tuhan. Berkati aku di hari pertama sekolah.
Seseorang yang datang menampakkan diri. Dia mengintip dari balik tirai hijau yang menutupi kasurku. Seorang perempuan. Cantik, lekuk tubuhnya bagus. Rambutnya hitam dan panjang sampai punggung. Dia juga mengenakan seragam yang sama denganku. Pasti dia siswi sekolah ini.
Tapi kenapa? Ada apa? Sampai mendatangiku ke UKS. Tidak mungkin kalau tanpa tujuan, ‘kan?
Tunggu, aku ingat. Dia adalah Bella. Aku melihat dia saat perkenalan diri di kelas. Yah, karena aku duduk di kursi paling belakang. Di ujung kanan pula. Perkenalanku paling terakhir. Tidak ada siapapun yang memperkenalkan diri setelah aku. BERARTI KITA SEKELAS? Aku sekelas dengan Bishōjo seperti dia???
[Bishōjo adalah bahasa Jepang dari gadis cantik.]
Kembali ke topik. Kenapa dia ke sini? HEI JANGAN HANYA BERPIKIR. AYO TANYAKAN LANGSUNG.
“E-eh. A-ada apa?” Aku memaksakan diri untuk bertanya, meski itu berat dan menyiksa.
“Aku diperintahkan Pak Guru untuk menemanimu. Apakah, boleh?” Gadis itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Seperti menebar pesonanya khusus untukku.
DIA SANGAT CANTIK! SUARANYA JUGA MERDU. PAK GURU ANEH, SIH. Kalau dia ingin meminta seseorang agar menemaniku, seharusnya lelaki, ‘kan??? Tapi kenapa perempuan???
Seorang laki-laki yang sedang pubertas. Satu ruangan di tempat tertutup dengan perempuan cantik. Ini sangat melatih mental! Aku harus menahan diri agar tidak tampak memalukan.
“Ada apa? Tidak boleh, ya?” Perempuan itu nampak kecewa, gawat!!! Aku tidak boleh membuat rasa simpatinya sia-sia.
“Bo-boleh. Te-terima kasih.” Aku membolehkan. Tidak ada alasan untuk menolaknya juga sih ….
Sekarang, dia duduk di kasur yang sama denganku. Kasur tempat aku berbaring. Hei, apakah tidak ada kursi atau semacamnya? Aku sangat dekat dengannya saat ini! Bicara dengan sesama jenis saja sudah gugup luar biasa. Apalagi sama lawan jenis!
“Bagaimana? Apakah kau merasa pusing? Mau aku buatkan teh?”
K-kenapa ini!? Dia sangat perhatian padaku. Terlebih lagi dia cantik. U-ukuran, da-dadanya, juga besar! Lah apa yang kupikirkan! Tidak baik untuk kesan pertama. Jangan begini, aku.
“Ti-tidak perlu kok. Aku hanya perlu istirahat saja. Berbaring sebentar juga cukup.” Aku menolaknya!!! Padahal ini kesempatan bagiku. Kesempatan bagus untuk minum teh buatan gadis cantik. Itu kesempatan langka, ‘kan?
“Oh, aku mengerti. Kalau begitu … rambutmu, mau aku usap? Kau pusing, ‘kan?”
“H-hah, u-usap, rambut?”
“Iya. Tidak mau, ya?” DIA NAMPAK KECEWA LAGI! Apakah dia sangat ingin mengusap rambutku?
Ha, sebentar. Untuk apa dia menawari itu. Meskipun dia berpikir kalau aku sedang pusing. Usap rambut, memangnya ada efek yang efisien? Tapi, aku akui itu menenangkan. Aku ingin, sangat ingin diusap-usap oleh gadis ini.
Cukup! Pikiranku yang seperti ini, terlihat seperti orang mesum, ‘kan! Aku harus memberikan citra yang baik. Ini demi kesan pertama. Demi masa SMA yang normal!
“Su-sudahlah. Tidak perlu, aku hanya perlu berbaring sebentar saja.” Aku menolak tawaran dia lagi. Tapi, sebenarnya aku mau. Hanya saja aku terlalu malu. Aku tidak cukup berani untuk menerima tawarannya. Itu memalukan.
“Hmmm … sayang sekali. Apa ada yang bisa kulakukan? Tidak bagus jika aku hanya diam di sini. Aku diperintahkan untuk menemanimu sih. Setidaknya, aku harus melakukan sesuatu untuk membantumu.”
Y-ya … meski dia bilang begitu. Aku hanya perlu bantuan jika aku memiliki masalah. Bahkan kenapa aku bisa di UKS, itu karena aku lari dari masalah. Tunggu, aku punya masalah. Aku bermasalah dalam pertemanan. Jika dia ingin membantuku. Jika dia ingin melakukan sesuatu untukku. Ha-harusnya, ini kesempatan bagus, ‘kan? Coba aku pastikan.
“E-em … na-namamu Bella, ‘kan? Ma-maukah kau, jadi temanku?” AKU MEMAKSAKAN DIRIKU AGAR BERTANYA. Aku telah melakukan langkah besar dalam hidupku. Bagaimanapun akhirnya, setidaknya, aku sudah berusaha.
“Tidak mau,” jawab Bella singkat. Ekspresinya sedikit ketus dan membuang wajah. Tapi, saat dia membuang muka. Saat dia menghadap tembok dan berekspresi ketus untukku. Dia berkata dengan keyakinan.
“Tidak mau, kalau jadi temanmu. Tapi, kalau jadi pacarmu. Aku mau.”
.
.
.
Ha? Jadi, pacarku?