Who Should I Date? Chapter 2

Chapter 2

“Ha? Jadi pacarku?”

Bingung, gugup, meledak. Aku memang bermasalah sejak awal. Aku tidak bisa memperkenalkan diri dengan lancar di kelas. Kemudian aku berpura-pura sakit agar bisa berbaring di UKS. Saat di UKS, gadis cantik luar biasa datang dan menawarkan bantuan. Ketika kupikir bantuan apa yang cocok untukku. Mungkin, jika dia mau menjadi temanku. Itu akan sangat membantu. Karena sejak awal, masalah yang menggangguku, adalah masalah pertemanan. Tapi dia menolak. Dia menolak untuk menjadi temanku. Gadis ini, dia lebih rela jika dirinya menjadi pacarku.

“Ya, jadikan aku pacarmu. Dengan begitu aku, akan mengisi hari-harimu yang sepi. Aku akan membuat hari-harimu menjadi menyenangkan. Aku juga bisa membantumu dalam berbagai masalah. Karena itu, jadikan aku pacarmu.”

“Me-meski dibilang begitu … pacaran harus atas dasar suka sama suka, loh. Me-memangnya. Ka-kau, suka? Denganku.”

“Suka!”

Dia menjawabnya dengan keyakinan … raut wajahnya juga serius. Tapi, ini pertama kalinya bagi kami bertemu. Meskipun aku pernah dengar. Tentang cinta pada pandangan pertama. Ini terlalu cepat, ‘kan?

“Bagaimana? Apakah kau mau jadi pacarku?” Gadis ini masih mengusahakannya … dia tampak tidak ingin menyerah. Aku harus apa? Aku tidak mempersiapkan apapun soal ini. Aku hanya melakukan riset soal perkenalan. Tidak mencari tahu soal pernyataan cinta atau cara menolaknya. Apakah aku tolak saja? Lagipula, masalah utamaku adalah teman. Aku butuh teman. Bukan pacar. Jadi sepertinya, lebih baik jika aku tolak.

“Tidak. Lagian, aku sudah baik-baik saja. Aku akan kembali ke kelas.”

Beranjak bangun, merapikan kasur, lalu keluar dari UKS. Meninggalkan gadis bernama Bella begitu saja. Sebenarnya, aku hanya sedang lari. Kedua kalinya di hari pertama sekolah, aku lari dari masalah. Yah, mungkin perkenalannya sudah selesai. Aku harus cari kesempatan lain untuk mendapatkan teman.

Aku tiba di kelas. Langsung pergi ke bagian belakang, menuju tempat duduk yang posisinya di ujung kanan. Kursi paling belakang dan paling pojok … entah kenapa aku memilih kursi ini.

“Akihiko!” Suara teriakan memanggil. Itu adalah suara gadis. Suara merdu dan cantik yang sudah aku dengar sebelumnya. Be-Bella!?

Seisi kelas diam, padahal awalnya bising. Guru tidak ada di kelas sih. Mungkin sekarang jam bebas. Tapi, perhatian seisi kelas, sekarang ini tertuju padaku!!! Apa mau gadis itu sih!?

Aku menoleh, sebagai isyarat kalau aku menanggapi panggilannya. Tapi meski menoleh, aku tidak mengatakan apapun. Hanya melihatnya dan menunggu apa yang ia ingin ucapkan.

“Apakah kau serius tidak mau? Apakah kau tidak mau jadi pacarku!? Kenapa!” Dia mengatakan itu dengan lantang!!!

Hei! Seisi kelas dengar loh! Lihat, mereka pada saling berbisik sekarang. Untung tidak ada wali kelas atau guru. Tapi ini lebih parah!!! Seisi kelas membicarakan aku saat ini.

Eh … pernyataan cinta???

Jadi saat Bella izin menemani Akihiko, dia menembaknya … romantis sekali ….

Aaaa aku malu sendiri!!!

Terima saja, Akihiko!

Kurang lebih, itu adalah suara bisik-bisik yang aku dengar. Terlalu banyak suara gumam dan bisik, aku tidak bisa dengar semuanya. Tapi mengenai topik, sudah pasti! Mereka sedang membicarakan peristiwa ini.

Apa yang harus aku lakukan??? Aku harus apa??? Gawat, otakku benar-benar kaku. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Tolak saja? Iya! Sudah tentu aku tolak kalau begini situasinya.

“Tidak! Padahal sudah kubilang tidak di UKS.”

Tertolak!!!

Jangan menyerah, Bella!

Akihiko keren … aku ingin menembaknya juga nanti.

Suara gumam bisik terdengar lagi.

Mendengar kalimat yang berarti penolakan. Membuat Bella semakin menjadi hingga berkata, “Tapi kenapa!? Aku serius ingin berpacaran denganmu!” Gadis itu masih mengusahakannya.

Dia tidak tahu kapan harus menyerah!!! Sekarang aku harus bagaimana? Hei, apa tidak ada guru yang akan masuk! Aku harus mengalami pergantian suasana. Satu-satunya yang bisa melakukan itu, hanyalah seorang guru. Tapi dari situasinya. Mengingat ini hari pertama sekolah. Guru tidak akan datang!!!

Abaikan saja lah … sebentar lagi juga lelah. Lebih baik aku duduk dan membaca buku. Aku duduk di kursi, mengambil novel di dalam tas, kemudian membacanya. Aku akan lupakan semua ini untuk sementara.

[Mengabaikan orang lain saat bicara adalah penyebab dia tidak punya teman sejak dulu]

Sementara Bella bergumam sendiri saat melihat tindakanku. “Aku diabaikan ….” Tapi dia tidak menyerah. Dia malah mendeklarasikan hal yang lebih berbahaya. Parahnya lagi, dengan suara lantang.

“Tidak apa! Abaikan saja aku untuk saat ini! Aku pastikan, hari ini juga, kau akan jadi pacarku!” katanya lantang, kemudian pergi dari kelas.

Mungkin dia haus, pasti saat ini ke kantin. Untung saja hari ini masih bebas sih. Sekarang, lupakan itu semua dan baca buku. Kembali segarkan pikiranmu dengan membaca buku, Akihiko. Seperti yang biasa kau lakukan.

BAGH!

Seseorang menepuk pundak. Itu seperti sapaan untuk memanggilku yang tengah membaca buku. Aku menoleh ke arahnya. Dia yang datang, saat ini langsung merangkul diriku. Seperti mengakrabkan diri denganku.

“Kau sudah dapat pacar di hari pertama sekolah tuh!!! Keren gila! Ajarkan aku juga dong, supaya bisa dikejar cewek seperti tadi,” katanya sambil merangkul diriku.

Laki-laki, kulitnya putih, wajahnya relatif tampan. Soal tinggi badan, aku masih unggul sih. Mengingat sesuatu sebentar … kemudian aku ingat. Dia adalah Akarsana. Bisa dipanggil Karsa. Aku bisa tahu karena dia sudah memperkenalkan diri sih, saat momen perkenalan. Untung saja aku perkenalan paling terakhir … aku jadi bisa menyimak perkenalan yang lain.

“E-eh … itu merepotkan sih, bagiku.” Masih terlalu canggung. Padahal ini pertama kalinya bagi kami bicara. Tapi kenapa dia bisa lepas seperti itu? Aku iri, dengan dia yang bisa mengakrabkan diri dengan cepat.

“Hei, padahal Bella cantik. Tapi kenapa kau menolak dia? Kalau aku sih … langsung aku terima! Pacar cantik begitu siapa yang enggak mau, ‘kan!” Dia mulai membicarakan banyak hal. Melepas tangannya dari posisi merangkul. Dia beranjak duduk ke kursi di depanku. Tempat duduknya memang di depanku. Dekat, mungkin ini sesuatu yang bagus.

Tunggu, sesuatu yang bagus? Ini kesempatan bagus, ‘kan? Ada orang yang menyapaku. Dia juga membuka topik pembicaraan. Momen ini, bisa jadi kesempatan bagiku untuk mendapatkan teman! Aku harus merespon pembicaraan ini. Dialog ini tidak boleh berhenti. Jika kehabisan topik, maka aku akan kalah.

“Y-yah, aku tolak dia. Ha-habisnya aneh, ‘kan? Ini hari pertama sekolah. Kami juga baru kenal. Tapi dia, langsung menyatakan rasa suka begitu saja. Ku-kuakui, dia cantik sih. Tapi ini terlalu … tergesa-gesa, mungkin?”

“Aku mengerti sih … tapi, lihat dirimu! Kau itu tampan. Badannya juga tinggi, kau makan apa setiap hari? Otot lenganmu, kelihatannya juga terlatih. Setidaknya, meski kau kurus, ini bukan tubuh yang dimiliki seorang pemalas. Kau sangat cocok dengannya! Meski aku iri, tapi ya, aku tidak akan menang jika harus bersaing denganmu.”

He … dia membandingkan dirinya sendiri denganku. Lagian, ternyata, di pandangan orang, aku ini seperti itu? Yah, aku tidak kaget sih. Kalau masalah kesehatan tubuh. Setidaknya, aku membiasakan diri untuk push up, sit up, pull up, minimal 20 kali sebelum tidur. Kebiasaan itu sudah berjalan sejak aku SMP kelas dua.

Sejak SD bahkan SMP, sudah ratusan kali aku menerima surat cinta. Tapi ya, bukan di hari pertama sekolah!!! Apaan, dia langsung menyatakan cinta di hari pertama sekolah. Apakah ada sesuatu, ya? Seperti, dia kalah dalam pertandingan. Kemudian dipaksa untuk menyatakan cinta padaku. Dengan kata lain, pura-pura? Kemungkinan itu juga bisa sih ….

“Akihiko, kenapa? Ada sesuatu?” Karsa bertanya, dia memanggil diriku yang melamun. Ah, ini kebiasaan buruk aku, ya? Aku bisa dengan mudah tenggelam dalam pikiran. Aku bisa dengan mudah melamun dan melupakan suasana sekitar. Ini kebiasaan buruk ‘kan … aku harus mengurangi kebiasaan ini.

“A-ah, tidak. A-aku hanya berpikir. Di-dia bilang, akan membuatku jadi pacarnya hari ini juga. Aku jadi sedikit panik … apa yang akan dia lakukan, ya?”

“Oh, kau memikirkan Bella!? Sudah kuduga kau pasti akan menerimanya. Gas! Sebagai teman, aku mendukungmu!” katanya sambil memberi ibu jari. Dia sangat antusias ketika membicarakan ini.

Tunggu, sebagai teman? Aku tidak salah dengar? Tidak, aku mendengarnya. Aku dengar ketika dia bilang. Sebagai teman, aku mendukungmu. Ini, serius? Boleh aku anggap teman nih? H-he ….

Ini tidak seperti yang direncanakan.
Ini, berjalan cukup lancar.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai