Chapter 3
Hari pertama sekolah, selesai begitu saja. Dari dulu juga begitu sih … setiap hari pertama, sekolah akan selesai dengan cepat. Bahkan saat ini baru jam 10 pagi. Pulang cepat juga mau apa??? Aku tinggal di rumah sendiri. Main game atau baca buku? Sedang tidak mau. Mungkin belanja saja kah? Persediaan makanan, kalau tidak salah menipis nih. Oke, belanja saja!!!
Oiya mengenai orang tua, mereka sudah lama bercerai. Tepatnya saat aku SMP kelas satu. Masalah apa yang membuat mereka cerai, aku tidak terlalu paham. Tidak tertarik untuk mengerti juga sih. Pokoknya, saat mereka sibuk di pengadilan. Mereka juga membahas, akan ikut siapa aku? Aku anak mereka satu-satunya. Jelas sekali kalau aku diperebutkan. Lalu karena malas dengan mereka, aku mengatakan ini.
“Aku tidak mau bersama keduanya. Aku mau tinggal sendiri.”
Anak SMP yang tidak berpenghasilan, memilih hidup sendiri dan memisahkan dirinya dari orang tua. Yap, itulah aku. Untuk apa juga, ‘kan? Tinggal bersama orang tua yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga. Awalnya memang sulit sih, hanya mengandalkan tabungan. Ayahku memberi uang saku setiap bulan, tapi aku tolak. Aku tidak sudi juga, menggunakan uang dari dia. Kemudian aku menghilang. Memutuskan komunikasi dari mereka.
Sambil menjalani hari-hariku yang sulit, aku menulis novel. Ada platform menulis yang bisa aku unggah secara online. Itu cukup menghibur. Aku menulis apa yang aku pikiran, kemudian aku unggah. Siapa sangka ceritanya bisa ramai, bahkan sampai dipinang penerbit terkenal. Yah, berkat itu juga, aku jadi punya penghasilan. Meski tidak banyak sih. Sekitar sembilan juta per bulan. Tapi sebagai gantinya, aku harus menulis satu novel setiap tiga bulan. Itu adalah ketentuan penerbit.
Aku juga masih bingung, kenapa mereka selalu menunggu cerita dariku? Padahal, penerbit bisa meminang banyak cerita dari penulis lain, ‘kan? Tapi mereka malah membuat kontrak denganku. Isi kontraknya, aku harus menulis satu novel setiap tiga bulan. Meski aku bersyukur, itu tetap saja aneh. Maksudku, novel tulisanku sebagus itu? Semoga saja. Itu sumber penghasilanku satu-satunya ….
Juga, dalam dunia tulisan. Aku tidak menggunakan nama asli. Demi menghindari popularitas, aku menggunakan nama samaran. Bisa bahaya kalau orang tuaku tahu anaknya menulis novel. Bisa saja, mereka mencari ku, ‘kan! Aku tidak mau … berurusan lagi dengan mereka. Oh iya nama samarannya …. Aksen! Itu nama yang aku gunakan dalam dunia penulis. Jadi ya, nama yang tertulis di bagian penulis. Adalah nama Aksen, bukan Akihiko.
.
.
.
Lah kok monolog sendiri lagi? Ini sudah jadi kebiasaan tanpa sadar, ya? Saat melamun, aku memikirkan banyak hal. Tanpa sadar, aku bermonolog sendiri di dalam pikiran. Perasaan ini, sebenarnya aku kesepian. Tapi tenang saja! Hari ini aku sudah dapat teman pertama! Namanya Karsa. Mungkin dengan dia, rencana berteman akan lancar.
Aku sampai. Aku telah tiba di supermarket. Sekarang saatnya belanja bahan makanan. Meski dibilang bahan, mungkin aku akan beli mie instan atau makanan kaleng lagi. Aku tidak bisa memasak sih. Suatu saat kalau libur, aku akan belajar masak. Hidup sehat juga penting, ‘kan? Tidak, itu penting banget malah.
__________
Aku di antara rak tinggi yang penuh dengan barang. Ini adalah bagian dalam supermarket. Sejuk, ramai, dan musik klasik. Aku mengambil beberapa mie instan, memasukkannya ke dalam keranjang. Hanya beberapa rasa yang aku suka sih. Seperti ayam bawang, original, atau kari ayam. Berpindah, aku mengambil makanan kaleng seperti sarden, kornet, dan ayam kaleng.
Karena sudah ada di sini, sekalian belanja apa ya? Alat mandi juga masih banyak. Deterjen? Sepertinya masih ada sih … mungkin segini saja, ya? Aku rasa ini sudah cukup. Sekarang, ayo ke kasir dan pulang. Aku akan beli nasi padang untuk makan siang kali ini.
_________
Aku pulang … ke rumah, eh ini kontrakan sih. Kontrakan yang isinya, hanya terdiri dari tiga ruang. Kamar utama, kamar mandi, dan dapur. Sebagian besar aktivitas, semuanya aku lakukan di ruang utama. Membaca, menulis, belajar, main game, tidur, makan, dan lainnya, semua kulakukan di ruang utama. Tapi ya karena sendirian, aku tidak merasa kesempitan. Ini cukup luas, meski hanya ada satu kamar utama.
Kunci, aku mengambilnya di tas. Kemudian memasukkannya ke lubang kunci, eh? Pintunya tidak terkunci? Ketika aku hendak memutar kuncinya untuk membuka, itu tidak bisa. Pintu ini sudah terbuka. Ada apa? Apakah aku lupa mengunci pintu? Tidak, aku ingat pasti kalau sudah mengunci pintu ini. Kalau begitu, maling? Perampokan? Bahaya!
Aku langsung membukanya dengan keras. Tidak sadar, pintu ini menggebrak tembok hingga menimbulkan suara keras. Orang yang ada di dalamnya kaget, dia terkejut.
Perempuan, rambut hitam panjang, mengenakan seragam yang sama denganku? Cantik! Tunggu, dia ini, Bella? Jelas, aku ingat wajahnya 100%. Dia adalah Bella. Gadis ini adalah Bella. Dia duduk di meja belajar milikku. Nampak sedang membuka buku dan membacanya. Sebentar, itu novel tulisanku! Dia membacanya!!!
Lah, bukan itu masalahnya! Kenapa dia ada di dalam kontrakan ku? Kenapa dia bisa membuka pintu kontrakan ku? Kenapa dia bisa tahu kontrakan ku? Sedang apa dia di sini? Itu adalah masalah sebenarnya!
Ketika aku panik dan memikirkan banyak hal seperti ini. Bella malah menyapa dengan santai. Senyumnya cantik, tapi itu hanya senjata. Dia menjual senyumnya agar aku tidak marah. Itu manjur! Aku hampir luluh saat melihat senyuman manis itu.
“Yo, Akihiko. Numpang baca novel milikmu, ya?” katanya santai, tersenyum, kemudian membaca novel itu lagi. Sebentar, dia belum sadar kalau itu tulisanku. Untung saja aku menggunakan nama samaran.
“Se-sedang apa kau di sini? Ke-kenapa kau bisa tahu tempat tinggal ku?” Meski aku banyak pertanyaan di kepala, hanya itu yang bisa terucap. Semua akan terasa berat ketika aku harus mengucapkan sesuatu.
“Ah, aku anak pemilik kontrakan ini. Jadi aku punya kunci umumnya. Nanti lagi ya, aku sedang baca novel. Ini lagi seru-serunya.”
Memangnya dengan siapa dirimu bicara!!! Aku tuan rumah kontrakan ini loh. Dasar gadis tidak tahu diri. Tapi aku tidak menduganya sih, kalau dia anak kepala kontrakan ini. Aku jadi tidak bisa macam-macam ….
Sebentar, ini wangi. Aku mencium wangi masakan yang sangat harum. Sangat harum, berbumbu, dan menggugah selera. Terlebih lagi, wangi harum ini dari dapurku.
“Kau memasak sesuatu?” Aku bertanya padanya sambil masuk. Tidak lupa, aku membiarkan pintu kontrakan terbuka. Kalau tidak salah di Indonesia, berduaan dengan gadis di ruang tertutup. Itu bisa menimbulkan masalah. Karena itu aku membiarkan pintunya terbuka.
Nasi padang yang aku beli, aku meletakkannya di lantai begitu saja. Kemudian Bella menjawab, “Ah, isi kulkasnya hanya makanan kaleng sih. Rak makanannya, hanya ada mie instan. Jadi aku bawa bahan makanan dari rumah. Kemudian memasaknya di sini. Oiya, aku sedang masak sayur sup ayam. Hanya makanan sederhana sih, habis waktunya sedikit. Lain kali, aku akan masak yang lain.”
Tunggu, mungkinkah dia, sengaja memasak di rumahku?
“K-kau, kenapa melakukan ini?” Antara senang, aku berharap boleh mencicipi masakan itu. Tapi tidak cukup berani untuk meminta. Mudahnya, aku merasa sungkan. Aku canggung, suasana ini asing. Aku tidak terbiasa.
“Sudah kubilang, ‘kan? Aku tidak akan menyerah untuk jadi pacarmu. Bisa dibilang ini kampanye. Kalau aku jadi pacarmu. Aku akan membuatkan sarapan setiap pagi. Aku akan membuatkan bekal setiap hari. Aku juga akan menyiapkan makan malam untuk kita. Yang paling penting, kau tidak akan sendiri lagi. Aku akan hidup bersamamu. Apakah kau tidak menginginkannya? Kehidupan seperti itu.”
.
.
.
Itu menggiurkan.
Aku yang sejak lama hidup sendiri, ingin merasakan kehidupan seperti itu. Aku tidak punya ibu yang membangunkan diriku setiap pagi. Sarapan aku buat sendiri. Tidak pernah membawa bekal. Makan malam sendiri dalam sunyi. Mendengar semua kampanye barusan, itu membuatku tergiur.
Tapi, apa tidak apa? Apakah ini boleh? Aku tidak pernah berpengalaman soal pacar. Jangankan pacar. Berteman saja, aku kesulitan sampai sekarang. Tapi kalau memang seperti ini, aku ingin punya pacar. Jika itu bisa membuat hidupku terbebas dari kesepian. Aku menginginkannya.
“Tidak mau, ya? Yah, aku belum menyerah sih. Aku akan nyatakan perasaanku lagi besok. Tapi untuk sekarang, biarkan aku baca novel ini sampai tamat.” Bella mengatakan itu. Dia sama sekali tidak menyerah. Meski aku menolaknya lagi besok dan lusa. Atau bahkan seterusnya. Apakah dia akan menyerah? Kurasa tidak. Karena itu sudah aku putuskan. Demi kehidupanku yang lebih cerah selanjutnya! Aku akan ….
“Ah berisik. Iya deh, iya! Mulai sekarang kita pacaran. Jadi mulai besok, buatlah hidupku bebas dari kesepian. Jangan biarkan aku sendiri. Jangan biarkan aku kesepian. Aku menantikan kerjasama denganmu loh, Bella. Meski kau adalah pacarku sih, untuk sekarang.”
Aku Mengatakannya!!! Ini kelewatan. Aku tidak boleh begini. Tapi aku benar-benar bablas tadi. Aku tidak tahan lagi, jika harus meneruskan kehidupan yang sepi seperti ini. Kupikir, mencoba itu tidak ada salahnya, ‘kan?
Bella diam sejenak, berdiri, dia meninggalkan novelnya. Menghadap ke arahku, kemudian dia berkata dengan senyum manis. Hei, senyuman seperti itu tidak sehat loh. Maksudku, senyum manis seperti itu, tidak baik untuk jantung.
“Mulai sekarang, aku akan melayani dirimu, pacarku,” kata Bella sambil menyelipkan rambut hitamnya ke belakang telinga. Dia mempesona! Apakah dia sangat mengerti tentang bagaimana terlihat cantik? Kuharap jantungku bisa kuat, untuk melihat senyuman itu setiap hari.
“A-aku tidak butuh pelayanan! Cu-cukup temani aku setiap hari. Itu sudah cukup. Ah sudah, a-aku lapar. Kau masak sesuatu, ‘kan?” Saking malunya saat melihat pesona itu, aku membuang muka. Memalingkan pandangan ke arah tembok. Mengatur nafas agar tidak terlalu sesak karena jantung yang berdegup kencang.
“Padahal malu-malu, tapi kau cukup berani ya.” Kalimat itu ditutup tawa kecil yang menyudutkan. Bella sedang meledekku saat ini. Memalukan, tapi mau bagaimana lagi!? Aku sangat tidak sabar. Memakan masakan yang dibuat khusus untukku. Kapan terakhir kali aku merasakan itu?
Hari itu, aku punya pacar. Namanya Bella.
SEORANG GADIS BERNAMA BELLA