Chapter 4
Aku bersama Bella duduk di ruang utama. Menggelar meja lipat, meletakkan berbagai makanan di atasnya. Ini semua adalah masakan Bella. Ya, sekarang dia adalah pacarku sih. Deklarasi perjanjian kami yang resmi berpacaran, itu baru saja terjadi. Benar-benar tadi, belum ada satu jam sejak itu.
Makanan hangat yang masih beruap, aromanya harum dan menggugah. Ini jauh lebih baik dari mie instan atau makanan kaleng. Tidak bisa dibandingkan malah. Ini benar-benar spesial. Kapan ya, terakhir kalinya ketika aku memakan masakan orang lain. Terlebih lagi, masakan yang dibuatkan khusus untukku. Aku sudah lupa. Saat di rumah, ibuku kerjanya hanya bertengkar dengan ayah. Selebihnya, dia di luar rumah. Ayah juga sama saja. Jadi ya, mungkin saja, ini pertama kalinya bagiku.
Aku terlalu lama termenung. Bella sudah menunggu dan merasa tidak enak. Dia bertanya sambil menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.
“Ada apa? Kau tidak makan? Jangan-jangan, kau tidak suka ya?” Dia nampak panik.
“Ehm, tidak. A-aku hanya memikirkan beberapa hal. Baunya sangat nikmat, bo-boleh aku makan?” Tetap saja aku merasa tidak enak untuk memakannya. Sungkan, malu, dan tidak terbiasa. Semua perasaan itu membuat mulutku terasa berat. Tidak bisa lepas ekspresi dan makan dengan santai.
“Ha? Tentu saja! Memangnya untuk siapa aku masak semua ini. Makan sampai kenyang! Kalau sisa, aku akan menyita ponselmu.”
Tidak, memangnya kau ibuku apa? Tapi ya, setidaknya, aku akan makan ini. Aromanya enak, lalu rasanya pasti ….
“E-enak. Ka-kau cukup pandai, kurasa.” Aku tidak bisa memuji dia sepenuhnya. Ini masakan yang hebat. Tidak, mungkin ini masakan standar. Tapi cita rasa seperti ini, aku baru mencobanya. Seorang anak yang biasanya hanya makan mie instan atau makanan kaleng. Terkadang aku makan nasi padang sih. Tapi kali ini, aku memakan masakan yang dibuatkan khusus untukku. Ini membuatku tersentuh.
“Apaan, kau nampak berat memujiku ya? Terserah, yang penting itu enak, ‘kan?” Makan siang enak, ditemani gadis cantik seperti dia. Aku tidak pernah membayangkannya, bisa ada di posisi seperti ini.
“Terima kasih.”
“Ha? Oh, sama-sama. Jangan sungkan seperti itu, ya? Kau pacarku sekarang. Mulai saat ini, kita harus akrab,” katanya tersenyum sambil bersandar ke meja lipat.
Itu mengandung serangan untuk jantung. Senyum manis seperti itu tidak baik untuk jantung. Kalau berdegup terlalu kencang, jantungku bisa berhenti berfungsi, ‘kan!
“A-ah, aku akan mencobanya. Agar bisa lebih akrab denganmu.” Abaikan saja untuk saat ini. Lebih baik, aku habiskan makanan enak ini dulu. Baru lanjut bicara.
“Ah aku lupa! Kau makan siang saat masih pakai seragam. Itu tidak boleh loh. Sekarang, lepas pakaiannya. Ganti dengan baju rumah.”
“Ha? Ha!!! M-maksudnya. Aku harus melepaskan pakaian ini, di depanmu, sekarang?” Mana bisa begitulah! Itu memalukan dan tidak senonoh, ‘kan!
“Memang mau di mana lagi? Kamarnya cuma satu. Lagian, tidak perlu malu begitu. Kau pakai baju dalam, ‘kan? Padahal mulai sekarang kita tinggal serumah. Tapi kenapa masih malu-malu begitu.”
Aku pakai sih, kaos hitam untuk pakaian dalam. Celana pendek juga. Tapi tetap saja aku tidak biasa! Tunggu, bukan itu masalahnya!!! Tinggal serumah??? Apa maksudnya?
“Ti-tinggal serumah? Apa maksudnya? Kau tidak serius, ‘kan? Soal ini.” Ini harus dipastikan. Aku tidak salah dengar. Dia bilang begitu. Tinggal serumah antara laki-laki dan gadis muda yang berpacaran. Ini bisa jadi masalah!!!
“Tidak, mana mungkin juga bisa begitu. Aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius dengan candaan, ya?” Meski dia bilang itu hanya candaan, perkataannya sangat serius tadi. Selain itu ekspresinya sekarang, dia seperti meledekku.
Tapi untungnya, itu hanya candaan. Kupikir dia akan benar-benar tinggal di sini, sih. Tapi itu sepertinya bagus juga. Kalau dia tinggal di sini.
“Kenapa? Wajahmu nampak kecewa.” Bella bertanya sambil mendekatkan wajahnya ke arahku. Itu tidak baik untuk jantung. Wajahmu terlalu dekat!
“Ti-tidak! Lagian, ke-kecewa karena apa? Haha. Tolong jauhkan wajahmu, itu terlalu dekat dengan wajahku.” Aku sedikit mundur dan memalingkan wajah. Terlalu dekat jika aku balas tatapannya. Entah aku masih bisa bernafas atau tidak jika melihat wajahnya sedekat ini.
“Tapi, hanya dalam jarak ini aku bisa mencium wangi pacarku,” katanya dengan nada bicara seksi. Bisakah kau berkata dengan normal? Kumohon jangan buat jantungku berhenti lebih cepat. Aku masih ingin hidup saat ini.
JELAS SEKALI DIA SEDANG MENGGODAKU!
“To-tolong jangan menggodaku. A-aku sedang ingin makan sekarang.” Aku langsung memenuhi mulutku dengan makanan. Mengabaikan godaan yang sedang Bella lancarkan, tapi perhatianku tidak bisa pindah seutuhnya. Aku masih penasaran, aku ingin melihat wajahnya dari sini. Karena itu aku sedikit melirik. Bella kembali duduk seperti biasa. Dia menjauhkan wajahnya dari wajahku, kemudian berkata.
“Ahaha maaf. Habisnya ekspresi pacarku imut sih. Aku jadi ingin melihatnya dari dekat.” Kenapa sejak tadi dia memanggilku dengan sebutan pacar? Tidak bisa panggil nama saja? Seperti biasanya, seperti panggilan normal.
“Pa-panggil Akihiko saja. Te-terlalu memalukan. Kau memanggilku dengan sebutan pacar sejak tadi.”
“Habisnya ‘kan. Kupikir, kita akan punya panggilan sayang. Sayang sekali karena tidak ada panggilan sayang.”
Tidak! Aku tidak ingin melakukan hal memalukan seperti itu. Kumohon, biarkan aku makan dengan tenang ….
___________
Suasana tenang, kali ini cukup kondusif. Aku sudah menghabiskan makanan di meja. Masakan buatan Bella, itu enak. Tapi aku terlalu malu untuk memujinya. Lalu saat ini, dia sedang membaca novel di meja belajarku. Yah, itu lebih baik daripada dia terus menggodaku. Itu novel tulisanku sih. Tidak mungkin aku beritahukan yang sebenarnya. Bayangkan saja aku beritahu, lalu dia menyebarkannya ke teman sekelas. Kabarnya akan cepat meluas. Hidup dengan popularitas dan suasana ramai, aku kurang suka.
Oh iya ngomong-ngomong, aku masih belum tahu, ‘kan? Kenapa Bella sangat ingin menjadi pacarku? Ini tidak jelas. Kami baru saja bertemu tadi pagi. Lalu siapa sangka, siangnya kami pacaran. Aku juga tidak menduga kalau dia anak pemilik kontrakan. Dia jadi bisa masuk ke tempatku dengan mudah.
“Be-Bella, mungkin terlambat menanyakan ini. Ta-tapi kenapa, kau ingin jadi pacarku? M-maksudku, ini tidak logis, ‘kan! Ini hari pertama kita bertemu. Kita juga belum sehari kenal. Ma-makanya aku penasaran.”
Sepertinya, hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupku, ya. Aku bicara pada orang lain beberapa kali. Aku juga bertanya pada orang lain beberapa kali. Sebelumnya, aku saja tidak pernah bertemu orang lain. Apalagi bicara atau bertanya.
“Aku selalu memperhatikanmu loh,” kata Bella sambil membaca. Meski dia mengatakan itu, fokus matanya menyorot novel yang tengah ia baca.
Ha? Memperhatikanku?
“Kalau tidak salah, kau pindah ke sini saat SMP, ya? Sebagai anak dari pemilik kontrakan ini. Wajar saja aku tahu bukan? Tentang kedatangan dirimu. Ayahku juga membicarakannya berkali-kali. Ada anak laki-laki yang menyewa kontrakan. Dia anak SMP, mana mungkin punya penghasilan. Lalu bagaimana mau bayar sewa? Aku yakin, dia hanya sanggup satu bulan tinggal di sini. Itu kata ayahku.”
Aku yang memperhatikan dirimu sejak dulu, lebih dari siapapun.
[SEORANG GADIS BERNAMA BELLA]