Who Should I Date? Chapter 13

Lucy menunggu sampai Elizabeth tertidur pulas. Ada beberapa hal yang mengganggu Elizabeth sehingga dia sulit untuk tertidur. Tapi dengan lembut, Lucy berhasil menenangkan tuannya. Lalu setelah tuannya tertidur, dia menunggu saat yang tepat untuk menegurku.

“Jadi sekarang, kau akan tidur begitu saja tanpa bertanggung jawab? Benar-benar sampah. Tidak ada hal baik yang bisa didapatkan dari laki-laki seperti dirimu, hmph!” Setelah semua hinaan dan kalimatnya yang pedas, itu diakhiri dengan dirinya yang mendengus.

“Masih belum ada jawaban? Benar-benar sampah.” Lucy melanjutkan hinaannya karena tidak mendengar jawaban dariku.

“Iya deh iya … kau ingin aku bilang apa???” Posisiku tetap menghadap tembok. Membelakangi mereka berempat yang tidur berjajar dengan kasur lipat di bawah.

“Bukan apa-apa. Aku hanya ingin kau meminta maaf karena sudah menjadi sampah yang menguping pembicaraan dua orang gadis.”

Kalimat sampah tidak berhenti keluar tuh … tapi ya. “Iya … aku minta maaf karena sudah menjadi sampah yang menguping pembicaraan kalian. Sudah puas?”

“Melihat sampah yang menyebut dirinya sebagai sampah. Ini benar-benar membuatku mual. Mana ada manusia rendah yang merendahkan dirinya sendiri.”

Terus aku harus bagaimana woi!? Setelah menuruti semua permintaanmu, aku masih saja dilihat bersalah. “Terserah, aku akan tidur. Se-selamat malam.”

“Kau baru bisa tidur setelah puas menguping, ya. Memang asli sampah. Tapi, malam ini, aku melihat cahaya di mata tuanku. Apapun yang telah kau perbuat pada tuanku, selama itu kebaikan baginya, aku ucapkan terima kasih atas nama tuanku.”

Aku tidak mengerti … pembicaraannya terlalu berat. Apakah pelayan selalu bersikap seperti itu? Entahlah, aku akan tidur saja untuk sekarang. Ini sudah lewat tengah malam.

___________________


“Kak Lucy Kak Lucy, tuan tempat ini sangat pemalas ya. Dia masih tidur pulas meski sekarang sudah terang.”

“Dik Chloe Dik Chloe. Sepertinya, lelaki mesum ini memang pemalas yang lebih buruk daripada sampah.”

Hah? Apa??? Mataku terasa berat. Tapi aku sudah tidak bisa memejamkan mata lagi. Sambil membuka mataku perlahan, aku mendengar suara yang tidak berhenti menghina. Suara dua gadis pelayan yang kompak dan antusias dalam menghinaku.

“Kak Lucy Kak Lucy, lihat. Dia sudah membuka matanya.”

“Dik Chloe Dik Chloe. Sepertinya, dia baru saja terbangun dari mimpi kotornya semalaman.”

Aku sudah bangun jadi tolong hentikan! Apakah tidak ada cara yang lebih bagus untuk membangunkan orang??? Bukankah sebagai pelayan, kalian seharusnya bicara dengan sopan!?

“A-aku sudah bangun … jadi tolong hentikan kalimat kalian yang menghina.”

“Maaf, tapi saya tidak akan menuruti perintah siapapun kecuali perintah Nona,” kata Lucy ketus dengan postur tegap. Postur dan posisi tubuh yang memang menggambarkan pelayan veteran.

“Saya hanya mengabdi pada Nona Elizabeth seorang.” Chloe ikut menimpali kalimat Lucy.

Jadi, sekarang jam berapa? Oh masih jam enam pagi. Aku masih punya waktu untuk bersiap. Dari dapur terdengar suara, “Akihiko … cepat mandi selagi aku siapkan sarapan. Karena kamar mandinya hanya satu, kalian harus mengantri ‘kan.” Itu adalah suara Bella.

Rasanya, aku lebih menganggap Bella sebagai ibu daripada pacar. Tingkahnya sangat keibuan dan aku suka. Selain itu, aku melihat Elizabeth yang duduk di bawah dengan mempertahankan arogansi. Dia melipat tangannya di dada, kemudian berekspresi ketus tidak suka.

“E-Elizabeth, kau mau mandi duluan?” tanyaku sopan karena tidak ingin membuat keributan di pagi hari. Lalu dengan ketus, Elizabeth menjawab, “Baiklah, aku akan mandi. Chloe! Siapkan baju seragamku dan jaga wilayah kamar mandi dari predator yang mesum itu. Lalu Lucy, rapikan bekas tidur kita.” Kalimat ketusnya ditutup perintah kepada para pelayan.

Lucy dan Chloe membungkukkan badan sebagai tanda kesediaan. Mempertahankan posisi bungkuk dan memberi hormat, mereka menjawab dengan kompak. “Akan saya laksanakan, Nona.”

Gila … mereka terlihat seperti pelayan asli. Baik itu dari tingkah lakunya, pekerjaannya, caranya bicara, sikap formalnya. Itu seperti pelayan dari kediaman wastu atau kastil. Aku jadi penasaran. Elizabeth ini dari keluarga yang seperti apa? Kudengar dia ini putri kepala sekolah, ya?

Dari dapur, Bella menampakkan diri dan terlihat kesal. Dia mengenakan baju rumah dan celemek dapur. Wajahnya yang cemberut juga sangat imut. Entah kenapa, dirinya yang mengenakan celemek terlihat sangat cantik.

“Akihiko … daripada melamun, siapkan keperluan sekolahmu sendiri! Aku tahu kau sedang menunggu karena kamar mandinya digunakan Elizabeth. Tapi itu bukan alasan untuk melamun. Waktu terus berjalan lo … setidaknya lakukan sesuatu!”

“A-ah … ba-baiklah.” Aku hanya bisa menjawab dengan kikuk. Serius, dia lebih mirip seperti ibu daripada pacar. Meski sebenarnya, ibu kandungku tidak pernah seperti ini sih. Bahkan saat masih tinggal bersama orang tua, aku bangun tidur sendiri, menyiapkan semuanya sendiri. Kalau diingat-ingat juga … aku tidak pernah melihat ibuku memakai celemek. Yang terbayang ketika mengingat ibu, hanya sosoknya dengan seragam kantor. Hanya itu.

“Masih melamun juga???” Bella menegurku sekali lagi. Kali ini, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sangat dekat, aku sampai bisa merasakan nafasnya.

“Be-Bella, wa-wajahmu … terlalu dekat, loh.” Aku memalingkan wajah. Bahkan saat rumah ini sedang ramai. Berani-beraninya Bella nekat seperti itu! Bahkan, alasan kenapa aku dalam masa pengawasan, ya karena ini!

“Ah, aku harus membalik telurnya.” Bella ingat kalau dia masih memasak. Lekas kembali ke dapur, dia melanjutkan pekerjaannya.

_______________

Jam istirahat di kelas. Tidak ada yang lebih baik daripada bersantai sambil melihat pemandangan. Untungnya, tempatku duduk tepat di samping jendela kaca. Membuatku bisa melihat ke luar, melihat lapangan dan keramaian dari atas.

Sedang asyik menikmati suasana hening, seseorang merangkul pundak. Sambil berkata dengan ramah dan akrab, “Yo Akihiko! Mau ikut ke kantin?” tanya Karsa dengan suaranya yang cepat akrab.

Hebat … dia bisa akrab dengan cepat tanpa merasa gugup atau malu. Andai aku juga bisa seperti dirinya. “A-ah … aku bawa bekal sih. Ta-tapi, mungkin … aku akan beli roti dulu untuk sekarang.” Tidak mungkin aku tolak, ‘kan! Ini kesempatan bagus untuk mempererat hubungan dengan teman pertama.

“Bagus! Ayo ke kantin.”

_________________

Aku jalan beriringan bersama Karsa. Melewati lorong yang ramai dengan siswa dari berbagai kelas. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman. Mereka menatap sesuatu dari tubuhku?

Iya. Sekilas, mereka seperti melihatku dengan tatapan tidak enak. Pandangannya mengarah ke arahku, jelas! Apakah ada yang salah? Atau mengganggu suasana mungkin.

“Oh iya Akihiko. Ban lengan itu, apa ya? Memangnya harus dipakai?” Karsa membuka pembicaraan dengan bertanya.

Ah benar! Perhatian orang-orang, pasti tertuju pada ban lengan ini! Bodohnya aku yang telat menyadari. Orang bodoh macam apa yang memamerkan dirinya sebagai narapidana bersalah? Akulah orangnya.

“A-ah … ini … selama dalam masa pengawasan. Aku tidak boleh melepasnya. Itu kata peraturan,” jawabku sedikit gugup dan malu.

“He??? Kau buat masalah apa sampai diawasi begitu?”

Tidak mungkin aku jawab ‘kan!!! Kalau aku sampai jawab, “Aku ketahuan bermesraan bersama gadis di ruang tertutup, hanya berdua.” Begitu! Pasti dia akan menganggap kalau aku ini orang mesum!

Tidak akan aku jawab. Tapi setidaknya, aku harus memberi jawaban lain. “A-aku merusak fasilitas sekolah, secara tidak sengaja. Aku ini ceroboh ya ….” Apakah dia percaya???

Hampir sampai ke kantin, langkah kami dihentikan. Seorang gadis berseragam batik, sama seperti kami, dia menghalangi jalan. Wajah dingin dan rambutnya yang hitam sampai leher.

“Chloe?” tanyaku memastikan.

Melihat diriku yang tampak kenal, Karsa juga bingung. “Eh, kau kenal dia?” tanyanya sambil menggaruk pipi canggung.

Mendengus sekilas, Chloe mengatakan sesuatu. “Orang bodoh macam apa yang mau memamerkan statusnya sebagai narapidana bersalah? Akihiko adalah orang bodoh macam itu.”

Langsung penghinaan meski ini pertemuan!!! Terlebih lagi, apakah dia cenayang? Dia seperti mengatakan hal yang sama dengan isi pikiranku!

“Aku tidak tahu kau siapa. Tapi sepertinya, kau teman lelaki menyedihkan ini, ya? Kalau begitu cepat lanjutkan perjalanan. Maaf saja, Akihiko tidak boleh melangkah lebih jauh.” Kalimat itu jelas sekali untuk Karsa.

Karsa semakin bingung dengan suasananya. Dia hanya menganga dan berekspresi bingung. Kemudian melontarkan pertanyaan, “Apa yang terjadi?”

“Maaf ya, Karsa. Aku akan menemanimu ke kantin lain kali. Untuk sekarang aku ada urusan. Kita berpisah dulu ya,” kataku sulit dan berat hati.

“Ah, begitu. Aku duluan, ya,” kata Karsa sambil melambai dan lekas pergi.

AKU MEMBUANGNYA!!! Kesempatan untuk mempererat hubungan dengan teman pertama. Aku membuangnya begitu saja! Lihat, Karsa sudah pergi. Andai saja gadis pelayan ini tidak datang.

“Jadi, ada urusan apa?” tanyaku kesal.

“Singkatnya hari ini, aku bertugas mengawasi dirimu di sekolah. Lalu melihatmu yang memamerkan ban lengan itu dengan bangga, aku tidak bisa membiarkannya. Demi nama baik Nona Elizabeth.”

___________________

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai