Sebagai siswa dalam masa pengawasan. Aku dilarang melamar menjadi anggota klub atau ekstrakurikuler. Padahal, aku sudah berniat sejak lama … ingin masuk klub sastra atau seni. Selain itu sepertinya, siswa dalam masa pengawasan memiliki citra yang buruk. Seperti narapidana yang hidup di tengah masyarakat. Benar-benar dikucilkan. Tidak ada yang menerima. Popularitas buruk. Lalu parahnya, semua tindakanku dibatasi agar tidak terlampau.
Entah kenapa, aku merasa. Kalau kehidupan SMA yang aku impi-impikan … itu semua masih jauh dari genggaman. Yah, karena pengawasan cuma satu minggu. Aku tidak perlu khawatir. Aku masih bisa memperbaiki reputasi setelahnya. Lalu untuk menjaga agar reputasi tidak semakin buruk. Aku tidak boleh banyak bertindak. Habiskan waktu senggang di tempat sepi yang tidak banyak dilihat orang.
Kehidupan di sekolah terbatas. Aku tidak bisa melakukan banyak hal yang aku inginkan. Lalu saat di rumah, Elizabeth dan dua pelayannya mengawasi. Aku juga tidak bisa istirahat dengan tenang. Atau menulis novel dengan baik.
Hari-hari ini hanya berlangsung satu minggu. Tidak terasa, aku sudah tiba di hari senin. Bisa dibilang kalau aku telah melewati minggu pertama dunia SMA. Sesuai ketentuan, masa pengawasan akan habis pada hari Selasa. Dengan kata lain, besok!
Aku sedang berangkat sekolah pagi ini. Bersama Bella, Elizabeth, Lucy, dan Chloe, kami jalan beriringan. Sambil berjalan, Elizabeth mengatakan sesuatu dari depan. “Akihiko, kau harus ikut ke pelantikan hari ini.”
“Pe-pelantikan?” Aku hanya bisa memiringkan kepala, membiarkan tanda tanya melayang ke atas. Sementara kedua pelayannya diam, tidak ada perintah untuk bicara.
“Ini berhubungan dengan ban lenganmu itu sih. Besok, masa pengawasannya sudah berakhir. Meski aku benci mengakuinya. Tapi harus aku katakan. Kau bersih dari hal-hal mesum seperti majalah atau video porno. Kau juga tidak punya pacar lain di luar sana. Jadi ya, aku bisa melepas tanggung jawab mengawasi dirimu besok. Juga, statusku sebagai pacarmu akan hilang. Kau dan Bella tidak akan ditangguhkan lagi. Tapi, ban lengan itu beda urusan.”
Kali ini, Elizabeth menoleh ke arahku yang berjalan di belakangnya. Matanya tersorot pada lenganku yang mengenakan sesuatu. Aku sedikit risih, tapi aku sadar. “Ban lengan? Kenapa?” tanyaku bingung. Elizbeth mengembalikan pandangannya ke depan. Berjalan membelakagi, dia kemudian menjawab.
“Meski masa pengawasannya sudah habis. Kau belum diperkenankan untuk melepas ban lengan itu. Kalau kau tanya kenapa, karena itu di luar wewenangku sebagai ketua komite. Lalu siapa yang memiliki wewenang itu? Wewenang untuk menilai dirimu sebagai siswa disiplin dan izin untuk melepas ban lengan?”
“Ja-jangan bilang … maksudnya adalah pilar?”
“Ya. Lima pilar yang mewakili matematika, biologi, fisika, kimia, dan bahasa.”
Suasana angin berubah. Ini adalah pagi yang sejuk meskipun tidak ada angin berhembus. Tapi mendadak, setelah Elizabeth membicarakan lima pilar. Angin pagi berhembus. Membuat suasana sejuk menjadi dingin. Tentu saja, ini hanya kebetulan. Sebuah sugesti mengingatkan kalau mereka berbahaya. Kemudian, sesuatu muncul di pikiranku. Itu adalah ingatan. Ingatan tentang Baragasaki, pilar matematika yang waktu itu pernah bertemu denganku.
Masih ada empat pilar lainnya? Lantas, aku harus melakukan apa? Aku harus menanyakan ini pada Elizabeth selagi bisa. “Lalu, supaya bisa melepas ban lengan ini, aku harus melakukan apa?” Jika masa pengawasan habis, maka kesempatan untuk menanyakan masalah ini, akan sulit didapatkan. Karena itulah, aku bergegas menanyakannya.
“Mudah. Dapatkan stempel dari kelima pilar. Masing-masing pilar memiliki stempel unik untuk memberi izin. Mudahnya, jika pilar memberimu stempel, maka kau sudah diakui sebagai siswa disiplin. Jika kelima pilar sudah memberikan stempel, maka kau bebas untuk melepas ban lengan itu. Begitulah kurang lebih.” Elizabeth menjelaskan semuanya. Kurang lebih, aku mengerti secara garis besar. Tapi entah kenapa, aku merasa ini akan sulit.
“La-lalu, tujuanmu membawaku ke pelantikan, itu untuk apa?” Ini pertanyaan terakhir dariku. Menanggapinya, Elizabeth berhenti jalan. Jelas saja kalau Lucy dan Chloe ikut berhenti. Sementara aku dan Bella, hanya bingung, kenapa mereka berhenti?
Elizabeth menoleh ke arahku, matanya tersorot ke arah belakang. Kemudian berkata dengan ketus, “Sudah jelas bukan? Agar kau melihat kelima pilar secara langsung.” Dia berbalik dan melanjutkan perjalanan. Diikuti Chloe dan Lucy sebagai pelayan.
Sambil kembali berjalan, kali ini Bella bertanya, “Kenapa para pilar … hanya mewakili materi saintek? Maksudku, apakah tidak ada pilar yang mewakili soshum seperti geografi, sosiologi, dan sejenisnya.”
“Ada. Tapi karena Akihiko adalah siswa MIPA, maka yang memiliki wewenang untuk menilainya, mereka adalah pilar yang mewakili saintek. Pilar IPS punya tanggung jawab mereka sendiri. Tapi tetap saja, para pilar dan dewan kedisiplinan, mereka tergabung dalam komite kedisiplinan. Lalu aku adalah ketuanya.” Akhir dari kalimat itu, ditutup dengan semangat hingga Elizabeth merasa bangga. Dia meletakkan tangannya di pinggang, berekspresi mantap dan pose percaya diri.
Dia benar-benar bangga dengan posisinya tuh … tapi ya. Saat Elizabeth dan pelayannya tinggal di rumahku. Rumahku terasa lebih ramai. Eh, berlebihan jika aku menyebutnya rumah. Itu hanya kontrakan sih. Selain itu sepertinya, Elizabeth hanya keras padaku ketika dalam masa pengawasan. Lihat hari ini. Meski setengah-setengah dan terkesan tidak rela. Dia sudah menjadi biasa. Tidak terlalu keras dan omongannya tidak terlalu pedas. Bisa kubilang, dia ini disiplin dan keras dalam menegakkan kebenaran. Aku jadi bisa maklum. Meski aku agak kesal sih ….
“Masalah surat dispensasi dan izin, semuanya sudah Lucy urus. Kau bisa meninggalkan kelas, dan hadir ke pelantikan dengan tenang.” Elizabeth bicara lagi.
Dia ini nampaknya, sudah mengatur semuanya ya … bahkan sampai sejauh ini agar aku bisa tahu tentang pilar. Dia bukan wanita yang buruk sih. Hanya saja, dia memang terlalu keras dan galak. Berbanding terbalik dengan Bella yang baik dan lembut. Meski begitu kalau masalah kecantikan, mereka seri!
“Oh iya, aku belum tahu. Yang ikut hanya Akihiko? Apakah aku tidak ikut?” tanya Bella sambil menggaruk pipi canggung, dia nampak berharap untuk ikut. Tapi tidak bisa menanyakan itu secara langsung. Intinya, dari pertanyaan barusan, dia menyiratkan keinginannya untuk ikut.
Elizabeth menjawab sambil menghela nafas, “Kau tidak ikut. Mengurus satu orang saja sudah sulit, apalagi dua? Masalahnya, acara pelantikan bukanlah prosesi biasa. Hanya siswa berizin yang boleh datang ke aula. Ada beberapa tamu yang diperbolehkan, tapi mereka adalah tamu berpengaruh. Aku sampai susah payah agar Akihiko mendapatkan izin. Jadi maaf, kau tidak bisa ikut.”
Mendengar jawabannya, Bella nampak kecewa. Wajahnya sedikit murung, kurang nyaman untuk diperhatikan. Untuk menghibur Bella, Elizabeth melanjutkan kalimat.
“Lagipula, tanggung jawab ini, dipikul oleh Akihiko sepenuhnya, dia laki-laki sih. Anggap saja Akihiko menghamili dirimu. Maka yang tanggung jawab, adalah Akihiko, ‘kan? Kau pasti langsung paham jika diumpamakan dengan pemikiran dangkal seperti itu.”
Memangnya tidak ada perumpamaan lain??? Kenapa harus mengumpamakan aku yang menghamili Bella? Itu terlalu vulgar! Masih lebih baik jika menggunakan perumpamaan aku menafkahi Bella sebagai suaminya. Itu masih bisa diterima. Tapi ya, itu memang karakternya sih. Komite kedisiplinan memang harus memiliki arogansi dan intimidasi. Kalau tidak, dia tidak akan ditakuti dan disegani.
Jadi sekarang, kupikir, kehidupan SMA yang tenang, itu masih jauh dari genggaman. Aku harus mendapatkan stempel dari kelima pilar untuk melepas ban lengan. Ini sih parah ….
Bagian Tersulit Sudah Mengikat
_________________________