Who Should I Date? Chapter 27


Meski secara individu, Elizabeth merasa tidak butuh bantuan orang lain. Tapi secara moral sebagai ketua komite, dia butuh dukungan massa. Karenanya Elizabeth tidak bisa menutup mata jika ada fraksi dari pilar atau kandidat lain yang ingin membangun relasi. Apa yang Mirika tawarkan sebagai keuntungan jika dirinya membangun relasi adalah.

“Aku akan menyiapkan 50 mata-mata yang bisa mengawasi setiap sudut sekolah. Detailnya adalah urusanku jadi kau tidak perlu ambil pusing. Keuntungan mengenai mata-mata, ini tentang jangkauanmu untuk mengawasi kedisiplinan siswa. Aku akan melaporkan setiap tindakan menyimpang sehingga kau bisa menindaklanjuti mereka. Ini juga berguna untuk buku laporan bukan?”

Itu adalah tawaran yang menggiurkan. Meski unsur mata-mata masih perlu dipertanyakan. Tapi, Buku laporan adalah senjata kuat yang diajukan. Buku laporan adalah bentuk pertanggungjawaban bagi Elizabeth selama memegang jabatan. Semakin banyak tindakan yang diambil Elizabeth. Terutama dalam mendisiplinkan siswa. Maka itu akan membuatnya dinilai tinggi. Masa kerjanya tidak sia-sia. Itulah keuntungan yang Elizabeth dapat jika membangun relasi dengan Mirika.

Lalu, mengenai bayaran yang Mirika inginkan. Itu adalah masalah popularitas. Begini, setelah menyerahkan buku laporan, akan ada penilaian. Jika hasil kerja Elizabeth memuaskan, popularitasnya juga akan meningkat. Mudah saja. Apa yang Mirika inginkan sebagai bayaran adalah. “Promosikan aku setelah kau turun jabatan,” kata Mirika sambil menepuk tangan satu kali.

Menurutku, ini sedikit tidak adil. Ini sedikit tidak adil bagi Mirika. Aku yakin Mirika juga sudah paham. Tentang popularitas Elizabeth yang buruk akibat propaganda Aqila. Ya, Aqila selalu gencar melakukan propaganda untuk menjatuhkan Elizabeth. Usahanya sukses membuat Elizabeth tidak mendapat dukungan meski hanya dari satu orang. Aku yakin Mirika paham dengan ini.

Tapi, Mirika tidak mengkhawatirkan itu. Selama Elizabeth menyetujui kontrak dari relasi ini. Menerima bantuan mata-mata untuk mengawasi kedisiplinan sekolah. Maka kinerjanya akan meningkat. Semakin banyak poin yang bisa Elizabeth tulis di buku laporan. Semakin tinggi penilaian.

Kita tidak bisa mengubah fakta kalau popularitas Elizabeth sangat buruk. Tapi setelah dewan komite atau dewan guru melihat buku laporannya. Aku yakin mereka akan puas dengan kinerja Elizabeth. Jika guru atau dewan komite menilai kinerja Elizabeth baik. Maka penilaian itu akan sampai ke adik kelas.

Ya, adik kelas adalah sekelompok orang polos yang tidak mengerti sistem sekolah. Bagusnya lagi, mereka belum sempat dihasut oleh Aqila. Jika mereka langsung diperlihatkan dengan kesan baik Elizabeth saat turun jabatan. Mereka pasti akan menilai baik Elizabeth. Tidak peduli dengan hasutan Aqila karena yang pertama kali mereka lihat, itu adalah hasil kerja Elizabeth setahun ke belakang.

Lalu akhirnya, saat popularitas Elizabeth sudah baik di mata dewan guru, dewan komite, dan adik kelas. Elizabeth akan merekomendasikan Mirika sebagai kandidat pilar biologi. Itulah yang Mirika inginkan.

Meski pada dasarnya, Elizabeth adalah fraksi yang minim dukungan. Setidaknya, hasil kerjanya akan sangat memuaskan jika menerima bantuan Mirika. Penilaian guru atau senior juga akan meningkat. Masalah adik kelas yang polos, pasti akan ikut mendukung, itu kesimpulan dari rencana Mirika.

Yah, meski tidak ada sistem voting dalam pemilihan. Setidaknya secara moral, Mirika memerlukan dukungan. Karena dengan dukungan, semuanya akan menjadi lancar. Dia bisa menjalani hari-hari sebagai pilar tanpa tekanan. Itu sangat bagus menurutku.

He-hebat! Dalam sekali berpikir saja, Mirika sudah membuka jalan yang sangat jauh. Membuka jalan soal masalah dukungan. Membuka jalan soal kelancaran saat dia sudah menjabat. Sejauh apa dia memikirkan semuanya?

Itu adalah poin-poin yang sudah Mirika perhitungkan sejak awal. Dia tidak datang ke sini dengan tangan kosong. Dia sudah mempersiapkan semuanya. Melihatnya, aku jadi berpikir.

Aku harus menghadapi lima pilar untuk bebas. Demi melepas ban lengan pengawasan. Demi pengakuan sebagai siswa disiplin. Aku harus meminta stempel dari kelima pilar. Membayangkan latar belakang mereka, itu sudah membuatku merinding … apakah aku punya kesempatan?

“Aku, Mirika yang maha tahu ….”


Kalimat itu, secara sekilas terdengar di telingaku. Kalimat yang Mirika ucapkan agar Chloe mengizinkannya ikut. Aku mendengarnya berdengung di kepala. Perasaan ini, apakah aku ingin menerima bantuan darinya?

“Sekarang, karena pembicaraan kita soal diplomatik telah selesai. Aku ingin mengajukan topik baru,” kata Mirika sambil menepuk tangannya satu kali. Hubungan diplomatik sudah disetujui termasuk kontraknya dengan Elizabeth. Karena itu ia mengajukan topik lain.

Elizabeth memiringkan kepalanya dan bertanya, “Topik lain?” Sementara Mirika hanya mengiyakan pertanyaan itu. Meneguk teh karena bibirnya kering, kemudian meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. Mirika mulai bicara, “Lebih tepatnya, aku hanya ingin kalian berperan sebagai saksi sih.”

Semuanya termasuk Lucy dan Chloe terkejut. Pasti, di dalam hati, kami memikirkan hal yang sama. “Saksi?” Kurang lebih begitu. Ketika semuanya terkejut, itu adalah tanda kalau pembicaraan ini telah disimak dengan baik. Karena itu Mirika melanjutkan.

Dia melirik ke arahku sekilas, tersenyum kecil, kemudian berkata, “Ini adalah kontrak antara aku dan Akihiko.” Kalimat itu membuat Bella menganga mendengarnya. Dalam keterkejutan itu dia sampai bertanya, “Kontrak!? Sejak kapan? Kontrak apa? Akihiko?” Benar-benar tanggapan yang panik dan tidak tenang.

“Se-sebenarnya ….” Kemudian, aku menjelaskan semuanya pada mereka. Tentang tawaran Mirika, kontraknya, termasuk dirinya yang akan membantuku untuk menghadapi lima pilar. Sejauh ini baik-baik saja. Sampai ketika aku menyinggung soal bayaran. Ketika aku mengatakan kalau aku harus menjadi pacarnya Mirika sebagai bayaran. Semuanya terdiam.

Terutama Bella yang menganga sampai gagap ketika mendengarnya. Meski terbata-bata, dia memaksakan diri untuk bertanya, “Pa-pacar?” Pandangan mata terkejut yang menggambarkan perasaan syok. Itu terlihat jelas di wajah Bella.

Merasa tidak enak dengan Bella. Aku putuskan untuk menjelaskan semuanya. “A-aku juga sempat berpikir. Mungkin saja aku membutuhkan Mirika. Melihat negosiasinya yang sangat rapi dan mantap. Kupikir aku bisa menghadapi lima pilar dengan bantuannya. Tapi ….” Aku memberi jeda sedikit untuk lanjut. Karena, lanjutan kalimat itu sedikit memalukan.

Pelan-pelan, tarik nafas, kemudian aku berkata, “Tapi, aku lebih tidak suka jika harus mengkhianati Bella. Aku merasa, lebih baik mengenakan ban lengan ini sampai lulus daripada harus bermusuhan dengan Bella. Selain itu, bukan berarti aku tidak bisa mengandalkan Bella, ‘kan? Aku masih bisa meminta bantuan padanya, ‘kan? Karena itu aku ingin menolak proposal ini. Itulah jawabanku.”

Aku mengatakan semuanya.

Sementara Bella tidak bisa berkata apa-apa. Hanya memanggil, “Akihiko.” Dia hanya memanggilku sekali entah karena apa. Meski menyebalkan, aku bisa melihat kalau Lucy dan Chloe menahan tawa. Elizabeth juga hanya menanggapinya dengan senyum.

Lalu setelah diam sejenak. Kupikir, Mirika akan berhenti dalam pengajuannya. Tapi, dia malah tersenyum lebar sambil mengeluarkan ponsel. Tatapannya serius dan penuh intimidasi. Berbanding terbalik dengan dirinya yang selalu ramah dihias tepuk tunggal.

“Akihiko, apakah kau serius menyukai gadis itu?” tanya Mirika serius dengan suaranya yang berbeda. Sebelumnya, Mirika selalu ramah dan suaranya halus. Itu adalah suara yang memikat hati laki-laki, begitulah dari sudut pandangku. Tapi sekarang, suara Mirika sangat bulat. Dia seperti mengeluarkan suara berat dari tekanan perut. Apakah ini Mirika ketika serius? Atau Mirika ketika marah? Baik itu aku atau seisi ruangan ini. Kami tidak mengerti tentang apa maksud dari ekspresi Mirika.

Aku harus menjawab pertanyaan itu. Kalau ditanya apakah aku serius suka dengan Bella. Aku akan menjawab, “A-aku mencintainya.” Meski gugup parah sampai menggaruk hidung canggung.

“Benarkah? Apakah perasaan itu masih sama ketika kau melihat ini?” Mirika menunjukkan apa yang terpampang di layar ponselnya. Membuat seisi ruangan ini kaget terkejut bukan main. Terutama Bella yang langsung lemas hingga mukanya pucat.

Ketika mukanya pucat dan lututnya lemas, Bella tergagap-gagap. Saking terkejut dan tertampar, dia tidak bisa bicara lancar. Hanya memanggil, “E-Erik?” Nama itu keluar dari mulutnya.

Terlepas dari Bella. Aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Ketika aku melihat apa yang terpampang di layar ponsel itu. Itu adalah pemandangan yang paling tidak ingin aku lihat. Pemandangan yang bisa merusak perasaanku pada Bella dalam sekejap. Pemandangan yang merobek dadaku kemudian mengoyak hatiku sampai hancur.

Itu adalah, pemandangan Bella dengan laki-laki lain. Parahnya, itu bukan foto biasa antara laki-laki dan perempuan. Aku yakin, nama Erik adalah milik laki-laki dalam foto itu. Laki-laki yang dipanggil Erik, terlihat jelas sedang memasangkan cincin emas pada jemari Bella.

Memasangkan cincin? Itu bukan hal wajar yang dilakukan oleh seorang teman, ‘kan?

Seperti menjawab isi hatiku. Mirika bicara lagi dengan suaranya yang berat. Dia berkata, “Laki-laki ini adalah tunangan pacarmu loh. Namanya Erik. Setelah melihat ini, kau masih yakin dengan perasaanmu?”

Hentikan.

Aku merasa tertekan.

Dadaku sesak, rasanya menyiksa!

“Aku serius,” kata Mirika lagi-lagi dengan intimidasi dari suaranya yang berat. Belum selesai dengan kalimatnya. Dia lanjutkan dengan berkata, “Tidak ada satupun di dunia ini yang bisa menggagalkan rencanaku. Dunia ini berjalan atas nama kebaikan untukku. Kebaikan di dunia ini hanya berjalan untukku seorang. Terakhir, aku adalah kebaikan untuk dunia ini. Mustahil kalian melawan. Jangan besar kepala, manusia!”

WHO SHOULD I DATE?

Who Should I Date? Chapter 26


Faktanya, Elizabeth hanya merasa canggung terhadapku. Itu adalah alasan yang membuat tingkahnya terlihat kontradiktif dengan perkataannya sendiri. Tidak ada niat baginya untuk menjauh dariku. Dia hanya tidak terbiasa. Tapi perilakunya yang seperti itu, hampir saja membuatku salah paham.

Begini, Elizabeth hampir tidak pernah akrab dengan siapapun. Di sekolah, karakter yang selalu ia tunjukkan adalah arogansi dan keangkuhan. Tapi, dua sifat keras itu ia tunjukkan agar memiliki kekuatan untuk mendisiplinkan orang.

Maksudku, jika orang lembek yang ramah memaksa orang lain agar disiplin. Tentu saja itu tidak akan berhasil. Karena itu, orang yang memiliki tugas untuk mendisiplinkan, mereka harus memiliki kekuatan. Minimal, kekuatan untuk mengintimidasi. Kekuatan untuk membuat orang lain takut dengannya.

Satu hal lagi, rambutnya memang cantik parah. Pirang, cerah, dan mengilap. Benar-benar rambut yang dirawat dengan baik. Aku bisa tahu hanya dengan melihatnya.

Sekarang, sudah saatnya untuk keluar. Sekitar 30 menit kami membicarakan banyak hal di sini. Elizabeth benar-benar bicara lepas dan tidak kaku sama sekali. Aku mungkin masih belum terbiasa kalau mengobrol lepas seperti ini. Hanya saja, aku merasa senang.

Elizabeth yang bisa bicara secara lepas di depanku. Adalah bukti kalau dia sudah tidak canggung terhadapku. Aku merasa senang. Tapi ini tidak boleh berlanjut lebih lama. Bisa gawat urusannya jika aku terlalu lama.

Saat suasananya pas dan Elizabeth menyelesaikan satu topik. Aku akan mengajaknya keluar. Mengingat masih ada Mirika yang ingin bertemu dengannya secara langsung. Elizabeth tidak boleh membuatnya menunggu terlalu lama.

[30 menit kemudian]

Parah … dia tidak kehabisan topik sama sekali. 30 menit berlalu sejak aku berniat untuk keluar. Tapi dia selalu meneruskan pembicaraan dan tidak menunjukkan celah untuk berhenti. Benar-benar keterampilan yang mengerikan. Berkat itu juga, aku masih terjebak di ruangan ini sekarang.

Kalau dalam kasta di dunia mengobrol. Elizabeth adalah orang yang tugasnya membuka topik. Lalu Bella, dia cocok jika menjadi orang yang tugasnya menunjukkan seberapa menarik topik dari Elizabeth. Jika menarik maka pembicaraan akan lanjut. Jika tidak menarik maka Bella akan mengajukan topik lain. Lalu, aku adalah orang yang tugasnya menyimak pembicaraan mereka. Benar-benar kasta terendah dalam dunia mengobrol. Hanya saja. Entah kenapa. Aku mengharapkannya. Membayangkan kami bertiga yang duduk bersama dan membicarakan banyak hal. Kupikir itu menyenangkan.

Lah, aku mikirin apa sih?

Saat itu ketika kupikir tidak akan ada celah. Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Pola ketukan tiga kali, kemudian terdengar suara. “Izinkan saya membuka pintunya dari luar.” Begitulah katanya. Kami tahu betul, itu adalah suara Lucy. Kalau dia benar-benar menunggu sampai satu jam di luar, aku merasa bersalah nih.

Mendengar Lucy yang meminta izin. Dari dalam kamar, Elizabeth menjawab, “Silakan, aku tidak menguncinya dari dalam jadi buka saja.” Pintu kamar kemudian dibuka. Terangnya cahaya yang menyinari lorong sampai merambat masuk ke dalam kamar.

Seperti biasa, Lucy membungkukkan badan untuk hormat. Setelah penghormatan, barulah ia mengatakan tujuannya. “Maaf mengganggu waktu Nona. Tapi kita kedatangan tamu lagi. Mereka tengah menunggu di lantai bawah saat ini,” kata Lucy dengan nada bicara yang datar meski bahasanya formal. Aku sampai membatin, “Bisakah kau tunjukkan ekspresi meski hanya sedikit?” Karena yang aku tahu. Baik itu Lucy atau Chloe. Mereka sama sekali tidak ramah meski statusnya adalah pelayan.

Bayangkan. Bagi kami, para kaum lelaki. Kami sangat mengharapkan seorang pelayan yang seluruh kesetiaannya hanya untuk kami. Kami berharap memiliki pelayan yang selalu mengatakan, “Tuan, seluruh jiwa dan raga saya adalah milik Tuan. Silakan lakukan apa saja terhadap saya.” Kurang lebih begitu. Atau saat tiba waktunya makan. Kami berharap mereka memanggil kami dengan suara yang imut sambil berkata, “Majikan, makan malamnya sudah siap.”

Begitulah yang ada di ekspetasi kaum laki-laki jika membicarakan pelayan. Tapi coba lihat mereka. Baik itu Lucy ataupun Chloe. Keduanya adalah pelayan yang dingin, tidak suka basa-basi, tidak senang beramah tamah, meski setia, mereka terlalu blak-blakan. Belum lagi konsistensi mereka yang selalu mengatakan, “Hmph!” Untukku. Rasanya mereka tidak berbakat sebagai pelayan.


Kepentinganku saat ini adalah keluar dari kamar Elizabeth. Sejak tadi aku sudah menunggu celah dari pembicaraannya yang panjang. Untung saja Lucy datang. Berkat itu, kami bisa segera keluar dan berkumpul bersama yang lain. Mendukung pernyataan Lucy demi tujuanku sendiri. Aku berkata, “Itu benar. Sebaiknya kau temui tamu dulu untuk saat ini.”

Aku tidak bisa mengatakan kalau yang datang adalah Bella atau Mirika. Lebih baik membiarkannya tahu sendiri setelah melihat tamu yang dimaksud secara langsung. Saat itu juga aku akan berpura-pura terkejut kalau Mirika dan Bella yang ternyata datang bertamu. Meski sifatnya tidak ramah sama sekali. Harus kuakui, tindakan yang Lucy ambil terbilang cerdas.

Begini. Yang Elizabeth pikirkan. Hanya aku yang berkunjung ke wastu sore ini. Dengan menjalankan rencana Lucy. Di mana skenarionya, jika aku dan Mirika datang di waktu yang berbeda. Maka Elizabeth tidak akan curiga. Kalau saja Lucy bilang, “Masih ada tamu yang menunggu di lantai bawah.” Tentu saja Elizabeth akan bingung.

Elizabeth pasti akan bertanya, “Masih ada tamu?” Karena yang ia tahu. Hanya aku yang berkunjung ke wastunya sore ini. Selain itu dalam skenario ini. Aku harus berpura-pura tidak tahu soal siapa tamu yang datang setelahku. Itu akan membuat tingkah kami terlihat alami. Akhirnya, jika skenario lancar. Kecurigaan Elizabeth yang berpikir kalau ini semua sudah direncanakan. Itu tidak akan terpikirkan.

Elizabeth merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Merapikan pakaian yang terlipat di beberapa bagian. Dia kemudian bertanya, “Tamu? Siapa?” Sementara Lucy menjawab, “Nona Mirika,” katanya serius hingga Elizabeth terkejut.

“Mi-Mirika? Ada perlu apa dia kemari?” Ekspresi lepas dan tenang, itu semua menghilang begitu saja. Elizabeth tampak gelisah untuk sekarang.

Karena khawatir, Lucy menenangkan tuannya dengan berkata, “Dia bilang ingin membangun relasi dengan fraksi Nona. Menurut saya, sebaiknya temui dulu. Apapun yang terjadi, saya akan memihak kepada Nona.”

Itu memberi kesan kalau ini akan berujung pada konflik? Mungkin. Atau kemungkinan lainnya. Elizabeth merasa enggan untuk membangun relasi. Meski dia paham tentang seberapa butuhnya dia mengenai relasi. Dia agak gugup, mungkin?

“E-Elizabeth, akan aku temani.” Aku menawarkan diri untuk menemani. Saking canggungnya kalimat tadi, aku menggaruk hidung meski itu tidak gatal. Wajar bukan? Kesannya itu apa sih? Aku juga tidak paham.

Untuk yang kesekian kalinya. Lucy mendengus seraya berkata, “Kesatria dari Nona Mirika, berani-beraninya menemani Nona Elizabeth.”

“A-ah … tapi aku, tidak bermaksud seperti itu, ya. Hanya menemaninya sebagai teman, mungkin?” Ini kelewat formal! Meski aku tahu kalau kami sudah berteman. Pernyataan yang blak-blakan seperti ini, apakah akan membuatnya risih?

Untuk kedua kalinya, Lucy memperlihatkan senyum tulus. Meski wajahnya tetap datar dan bibirnya sedikit pelit untuk ditarik. Dia tersenyum pelit seraya berkata, “Syukurlah ya, Nona. Saya ikut senang.”

“Ha?” Elizabeth tidak mengerti tentang apa yang Lucy coba sampaikan. Hanya menampilkan gestur bingung tidak mengerti, sementara Lucy juga tidak berniat untuk memperjelas. Dia membalikkan badannya dan keluar dari kamar Elizabeth.

[SAATNYA MENGAIT RELASI?]

Who Should I Date? Chapter 25


Lucy mengetuk pintu kamar keemasan di hadapannya. Lagaknya seperti seorang pelayan yang memanggil tuannya agar keluar dari kamar. Sambil mengetuk pintu secara berkala. Dia berkata, “Nona Elizabeth, saya mohon bukakan pintunya. Ada hal penting yang harus saya sampaikan.”

Meski begitu tidak ada jawaban. Lucy yang sudah geram karena tidak ditanggapi, dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sambil meraba-raba sakunya, dia bergumam pelan. “Kalau sudah begini tidak ada cara lain.” Selaras dengan selesainya kalimat itu. Sebuah kunci sudah ia genggam dengan bangga.

Aku dengan refleks yang bingung melontarkan tanya, “Kunci?” Sementara Lucy hanya mendengus seperti biasa kemudian menjawab, “Ya. Karena aku adalah kepala pelayan. Aku harus punya kunci serbaguna.”

He … tidak terduga. Dia ini memang benar-benar seorang pelayan rupanya. Memasukkan kunci itu ke lubang pintu dan ternyata sangat pas. Segera Lucy buka kuncinya diikuti pintu yang ia buka.

Dia masuk ke dalam kamar dengan sopan, kemudian memberi hormat dengan bungkuk. “Nona Elizabeth, Akihiko datang untuk menemui anda,” kata Lucy sambil membungkukkan badannya.

Dia memutar balikkan fakta tuh … padahal dia yang mengajakku ke sini secara paksa dan kasar. Bahkan bekalku sampai dingin karena menunda makan. Setelah aku menuruti ajakannya dan pergi ke sini, dia bilang kalau aku datang dengan sukarela untuk bertemu Elizabeth. Benar-benar parah ….

Elizabeth, dirinya saat ini, lebih terlihat seperti penyendiri. Bersembunyi di balik selimut, badannya meringkuk malu. Terutama saat mendengar kalau aku datang. Dia semakin tidak punya niat untuk memunculkan diri.

“Lu-Lucy! Ke-kenapa kau biarkan dia masuk ke kamarku!? U-usir dia!” Lucy berteriak malu tanpa memunculkan dirinya dari selimut.

Melihat tingkah laku tuannya yang canggung. Lucy hanya tersenyum kecil dengan ekspresi meledek. Tapi bersamaan dengan itu, dia menampilkan ekspresi lega karena sesuatu.

“Nona Elizabeth, apa yang sebenarnya terjadi pada Anda?” tanya Lucy sopan, tidak mengindahkan perintah tuannya untuk mengusirku.

“Ti-tidak ada apa-apa! Selain itu, ke-kenapa kau bisa masuk kamarku??? Aku yakin sudah mengunci pintunya tadi!” Masih enggan menampakkan diri, Elizabeth hanya bicara dari balik selimut.

Lucy kini melihatku. Dia menengadahkan tangannya ke arah Elizabeth, kemudian berkata, “Lihat, ini semua adalah hasil perbuatan dirimu. Tidak ada niat tanggung jawab? Setelah merusak kepercayaan diri Nona kau tidak mau bertanggung jawab?”

“Ja-jangan menekan seperti itu dong … terus, apa yang bisa aku lakukan???” Aku serius buntu kalau soal ini. Tidak bisa mengerti tentang bagaimana penyelesaiannya.

“Mudah, bicarakan masalah kalian empat mata sampai selesai. Aku akan menunggu di luar, tidak menguping pembicaraan kalian. Tidak membeberkan soal kau yang berduaan dengan Nona di dalam kamar. Tapi, kalau kau sampai berbuat tidak senonoh pada Nona. Kau akan aku kebiri.”

Melihat candaan Lucy yang tidak lazim, aku memberinya peringatan. “Oi, candaan seperti itu tidak lucu.” Sementara Lucy hanya mengulangi ancamannya dengan berkata, “Serius. Jika kau sampai melecehkan Nona, kau akan aku kebiri.”

“Oi!” Aku berteriak karena merinding sekaligus takut. Sementara Lucy, untuk yang ketiga kalinya dia mengulangi ancaman itu. “Kau akan aku kebiri.”

Jangan mengulanginya dengan nada bicara datar dong … kesannya jadi makin seram.

Lucy melangkah dengan santai keluar kamar. Sebelum menutup pintunya dari luar, dia memberi pesan singkat. “Mulai dari sini, aku serahkan semuanya padamu.” Setelah itu pintunya tertutup.

“Lah aku harus apa jadinya???” Bertanya sendiri di dalam hati meski tahu tidak akan ada jawaban. Selain itu Elizabeth. Karena dia mendengar suara pintu tertutup, dia menampakkan wajahnya sedikit dari dalam selimut.

Yang ia pikirkan, saat ini aku dan Lucy sudah keluar. Karena itu ia mengintip untuk memastikan. Ternyata setelah ia mengintip, masih ada aku di kamarnya. Parahnya lagi, Lucy mengunci ruangan ini dari luar.

Elizabeth yang terlihat panik sangat berbahaya. Aku hanya melambaikan tangan satu kali. Sambil menyapa, “Ha-hai.”

“KELUAR!” teriak Elizabeth kemudian kembali bersembunyi di balik selimut. Aku yang paham dengan keadaannya memberi penjelasan, “Pi-pintunya terkunci dari luar. Mu-mungkin, tidak akan terbuka sampai masalahmu selesai.”

“Aku tidak apa-apa! Ti-tinggalkan saja aku sendiri.” Tidak mengindahkan, yang Elizabeth pikirkan adalah aku harus keluar dari kamarnya saat ini.

“Ka-kalau begitu … hei Elizabeth, kenapa kau menghindar dariku? Ma-maksudku, saat itu, kau bersedia untuk menjadi temanku, ‘kan?” Aku langsung menyinggung hal yang bermasalah bagiku. Kemudian melanjutkan kalimat. “Aku merasa sedih. Ketika aku coba bertegur sapa tapi malah diabaikan. A-apakah aku melakukan kesalahan? Kalau memang iya, aku mohon maaf.”

Elizabeth tampak gelisah, wajahnya menampilkan rasa bersalah. Dia mengintip sedikit dari balik selimut. Kemudian mengatakan sesuatu dengan pelan. “A-Akihiko tidak salah.”

“Ha?” Hanya itu respon yang aku tunjukkan. Ketika dia bilang kalau aku tidak bersalah. Aku merasakan lega sekaligus bingung di saat yang sama. Tapi meski aku tidak salah, kenapa dia selalu menjaga jarak? Itu semua masih belum terjawab. Memaksaku untuk bertanya, “Ka-kalau begitu, kenapa kau seperti menjaga jarak dariku?”

Elizabeth memperlihatkan kepalanya, sementara tubuhnya masih dibungkus selimut karena canggung. Meski pelan, dia kemudian menjawab, “Aku juga tidak tahu.”

Lagi-lagi aku memasang ekspresi tanya. Kenapa dia tidak tahu alasan untuk menjauh dariku? Padahal yang menjauh dariku adalah dia sendiri. Apakah dia seperti dikenakan mantra atau kutukan? Tidak, itu tidak mungkin. Jangan pikirkan hal gila disaat seperti ini. “Bi-bisa kau lanjutkan?”

Mendengar permintaanku, Elizabeth terlihat enggan. Dia menggembungkan pipinya karena kesal. Kemudian mengatur nafasnya agar tenang. Perlahan dan pelan. Elizabeth mulai bicara, “Aku tidak mengerti. Kira-kira apa yang terjadi padaku ya? Aku merasa senang saat menceritakan masa laluku padamu. Rasanya seperti, lega. Aku benar-benar lega. Belum pernah aku menceritakan itu pada orang lain.”

“Ka-kalau dibilang begitu. Aku juga senang saat kau ingin berteman denganku. Kau tahu, aku selalu kesulitan dalam berteman, sejak dulu. Karena itu aku selalu berharap bisa punya teman.” Akhirnya, aku malah jadi ikut curhat tentang diriku sendiri.

“Hei Akihiko. Jangan hanya berdiri di situ. Sini,” kata Elizabeth menepuk-nepuk tempat di sampingnya. Saat ini, dia sedang duduk di kasur. Karena dia menepuk tempat di sampingnya. Apakah aku harus duduk di sampingnya??? Terlebih lagi di kasur yang sama! Kenapa kau bisa mengajak laki-laki luar untuk duduk di kasur yang sama denganmu!?

“Tidak mau, ya?” tanya Elizabeth dengan wajahnya sedikit memelas. Aku yang panik langsung menjawab, “A-ah! Tidak masalah, aku akan ke sana.”

Duduk di kasur yang sama dengan Elizabeth. Terlebih lagi bersampingan, di ruang tutup, hanya berdua! Ini situasi paling canggung bukan??? Maksudku, lihat wajahnya dari samping. Wajahnya nampak merah karena menahan malu, itu membuatku semakin canggung. Selain itu, rambutnya memang asli cantik. Pirang cerah dan panjang. Apakah pujian terhadap rambut bisa bernilai pelecehan?

Elizabeth merasa risih karena aku tatap. Normalnya, jika lawan jenis menatapmu sampai lebih dari lima detik. Ada sesuatu yang membuatnya nyaman untuk terus melihatmu. Elizabeth merasakan itu. Dia merasa risih sampai berkata, “Ja-jangan lihat aku seperti itu, bodoh!” Pipinya menggembung karena kesal, tapi dibarengi rasa malu.

Serius, melihat wajahnya saat ini seperti karunia besar yang berharga. Tapi aku mengindahkan peringatan itu hingga membuang pandangan. Benar-benar perasaan canggung. Terlebih lagi suasananya sangat mendukung. Jantungku berdetak kencang sampai punggungku terasa panas!

Secara pelan dan lembut, Elizabeth menyadarkan kepalanya di bahuku. Membuatku kaget sampai merespon, “Elizabeth?” Sementara dia tidak menjawab dan tetap menikmati bersandar di situ.

“Kau tahu. Sejak sore itu ketika kau mengajakku berteman. Aku sangat senang. Belum pernah ada yang mengajakku berteman seperti itu, sejak lama. Lalu entah kenapa, saat memikirkan dirimu atau membayangkan dirimu. Jantungku berdebar dan kacau. Rasanya gelisah. Tapi di saat yang sama, aku merasa senang. Bahkan aku sampai tidak sanggup untuk melihatmu di sekolah. Karena alasan itu juga, aku akhirnya menghindar. Khawatir diriku tidak terkendali jika bertemu denganmu.”

Elizabeth mulai bicara. Sambil terus bersandar di bahuku, dia membicarakan banyak hal. Aku paham tentang bagaimana perasaannya. Dia yang kesepian sejak kecil, tidak punya orang tua harmonis untuk kembali. Aku tahu rasanya.

Karena itu aku akan memaklumi dirinya dan membiarkan dia bersandar untuk sementara. Sambil berkata, “Mulai sekarang, ayo kita terus berteman.” Aku melihat matanya secara langsung.

Perasaan semangat ketika aku pikir akan mendapatkan teman. Aku tidak bisa menahan diri. Entah ini lancang atau apa. Yang penting, aku harus berteman dengannya, hanya itu. Karena aku rasa, aku mengerti Elizabeth. Elizabeth juga mengerti tentangku. Kami adalah teman yang cocok!

“Aku sangat senang, aku ingin kau di sini lebih lama. Biarkan aku bersandar seperti ini sedikit lebih lama, ya? Biarkan aku menceritakan banyak hal tentangku. Kau mau mendengarkan?” tanya Elizabeth dengan senyum tulus yang belum pernah aku lihat.

Elizabeth memang cantik, perangainya juga baik meski dia keras kalau masalah disiplin. Selalu jujur dengan perasaannya sendiri, menjalani semuanya secara sportif. Itu adalah kepribadian yang suci.

Andai Bella bukan pacarku saat ini. Aku mungkin akan menyukainya. Tidak, aku pasti akan menyukainya. Tapi ya, Bella masih tetap yang nomor satu di hatiku. Mengingat, kalau dia adalah orang pertama yang mewarnai kertas dalam hidupku. Aku tidak bisa berkhianat padanya.

Who Should I Date? Chapter 24

“Ikut dengan kami? Aku tidak ingat pernah mengundang orang sepertimu, kurasa. Baik itu kakakku atau tuanku, aku tidak ingat, sama sekali.” Chloe menghentikan langkah. Sadar kalau Mirika mengikutinya secara egois, Chloe enggan melanjutkan perjalanan. Jelas kalau aku dan Bella juga berhenti. Bahkan kami tidak tahu arah untuk pergi ke wastu Elizabeth.

“Kalau begitu aku punya tawaran. Aku, Mirika yang maha tahu. Ingin membangun relasi dengan ketua komite. Mengingat aku adalah kandidat dari pilar biologi. Aku ingin membangun relasi dengan kakak kelas sebanyak-banyaknya. Itu tidak masalah?”

Barusan, dia bilang maha tahu? He … benar juga, setelah aku pikir-pikir. Kenapa dia bisa tahu namaku saat itu? Saat itu ketika acara pelantikan. Aku dan dirinya baru pertama kali bertemu. Tapi dengan pasti dan yakin. Dia menyebut namaku secara lengkap dan itu benar. Ada maksud tertentu ketika dia menyebut dirinya maha tahu? Maksudku, ini bukan dunia fantasi dengan keterampilan khusus  atau dia adalah Tuhan. Dia adalah manusia biasa dan tinggal di bumi, sama seperti kami. Ketika dia menyebut dirinya maha tahu, ada sesuatu di balik itu, aku yakin.

“Hmph, maaf saja. Tapi keadaan tuanku sedang tidak baik-baik saja saat ini. Juga, mungkin kau akan sedikit kecewa dengan pelayanan kami yang tidak ramah meski kami adalah pelayan. Hanya saja, kalau kau tetap bersikeras ingin membangun relasi. Saya tidak bisa menghalangi.”

Bagi fraksi Elizabeth dalam lingkungan komite. Membangun relasi adalah hal penting. Mengingat kalau orang yang mendukung mereka sangat minim. Mereka butuh relasi meski itu hanya satu atau dua orang. Satu-satunya alasan kenapa mereka masih bertahan sampai saat ini. Adalah Elizabeth yang terampil dan telaten dalam bertugas. Tidak ada sistem voting dalam pemilihan. Pemilihan ketua komite atau pilar, semuanya murni dari bakat dan keterampilan. Karena itu Elizabeth bisa bertahan meski tanpa dukungan.

Mirika menepuk tangan satu kali. Memamerkan senyum ramah yang tidak pas, dia berkata, “Tidak apa kok tenang saja. Aku butuh relasi, bukan keramahan dari kalian. Kalau masalah ramah sih … aku tidak pernah diperlakukan dengan ramah sejak dulu. Karena itu aku tidak peduli.”

“Saya tidak peduli soal singgungan Anda mengenai masa lalu. Segera bergegas karena waktu kita tidak banyak.” Chloe berjalan mengepalai kami, menuju wastu Elizabeth di mana sesuatu telah menunggu di sana. Aku yakin, ini tidak akan baik.

_____________________

“Mohon tunggu sebentar. Saya akan membukakan gerbang,” ucap Chloe dengan nada bicaranya yang khas karena cepat. Dia membukakan gerbang besar dan membiarkan pekarangan terlihat dari luar. Tidak ada respon selain. “Wow! Bangunan besar itu adalah rumah?” Begitulah respon dari orang yang tinggal di kontrakan satu kamar sepertiku.


Itu adalah pekarangan yang hijau dan luas, entah bisa menampung berapa puluh mobil di dalamnya. Sementara di ujung pekarangan, sejajar dengan gerbang yang kami masuki, ada bangunan megah dan besar bak istana. Aku baru sadar, Elizabeth memang keturunan orang kaya tujuh turunan. Aku pikir dia hanya orang kaya biasa yang tidak sekaya ini.

Tapi, coba lihat. Wastu besar dan megah itu. Ada berapa kamar di dalamnya? Bandingkan dengan kontrakan satu kamar yang aku tempati setiap hari. Mungkin hanya sebesar kamar mandi di wastu ini.

“Ikuti saya, saya akan mengantar kalian ke ruang tamu.” Chloe memberi instruksi agar kami tidak terperangah dengan hal lain. Jika tidak diarahkan atau dibiarkan bebas, mungkin kami, akan lama berdiam untuk menikmati kemegahan.

_________


Seorang gadis dengan pakaian pelayan menyambut kami di dalam wastu. Jelas sekali kalau dia adalah Lucy. Mengenakan seragam pelayan dengan nuansa hitam putih. Dia memang cocok menjadi pelayan di kediaman ini. Aura yang selalu Lucy perlihatkan adalah kalau dia bertanggung jawab atas wastu ini. Seperti kepala pelayan di kediaman besar, itulah aura yang Lucy pancarkan.

“Silakan duduk di sini,” katanya sambil membungkukkan badan dengan hormat. Kembali bangun dari posisi hormat. Lucy melirik sedikit ke arahku, kemudian dia mendengus kesal. Benar-benar perlakuan khusus untukku. Membuatku berpikir dalam hati. “Salahku apa?” Meski aku baru datang dan tidak melakukan apa-apa. Dia memberi perlakuan dingin khusus untukku. Hanya untukku. Andai saja itu perlakuan khusus yang bisa membuatku senang.

Ruang tamu dan beberapa sofa ditengahi meja. Kami duduk dalam satu ruangan dengan teh hangat dan kue kering. Sebagai orang yang bertanggung jawab atas kediaman ini, Lucy membuka topik. “Kita bisa kesampingkan dulu masalah relasi. Untuk sekarang, yang terpenting adalah Nona Elizabeth.” Setelah pembukaan itu, Lucy meneguk teh sebagai jeda.

Oi yang benar saja. Ini semua benar-benar salahku? Yah, sebelum menjalar ke banyak hal lain. Setidaknya akan aku selesaikan. Aku mengangkat tangan perlahan. Sambil bergumam sedikit. “Anu ….” Membuat perhatian mereka teralih padaku.

Lucy melipat tangannya di dada, diikuti menyilang kaki, dia kemudian bertanya, “Ada sesuatu yang ingin kau katakan?” Nada bicara dingin dan sinis. Ditambah perilaku yang tergambar dari posisinya saat duduk. Apakah dia ini benar-benar pelayan???

“A-aku hanya ingin memastikan saja. Ini semua, bukan salahku, ‘kan?”

Pertanyaan barusan membuat suasana hening. Tidak ada tanggapan selain tatapan yang tidak bisa dimengerti. Chloe mendengus pelan, diikuti oleh komentarnya yang pedas seperti biasa. “Hmph, pembelaan diri yang payah.”

“Aku setuju, hmph.” sautan Lucy ditutup dengan dirinya yang mendengus. Mereka memang suka mendengus? Tapi mereka hanya mengatakan, “Hmph!” untukku. Gestur seperti itu tidak pernah diperlihatkan pada orang lain! Aku ini lambang diskriminasi atau apa?

“Jadi memang salahku ya.” Aku sudah tidak bisa menyangkal. Sepertinya dalam situasi ini. Aku melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Pada akhirnya Elizabeth merasa terganggu dan jadi seperti ini. Itu juga menjelaskan kenapa dia menghindar dariku belakangan ini.

“Langsung saja, kau harus membicarakan ini empat mata dengan Nona. Aku akan mengantarmu ke kamarnya, sementara yang lain bisa menunggu,” jelas Chloe tentang apa yang harus aku lakukan saat ini.


Seperti tidak terima, Bella mengatakan hal yang sifatnya mengeluh. “Terus aku ke sini buat apa?” Dia bertanya tentang kegunaan dirinya meski itu terdengar seperti keluhan.

Atas pertanyaan Bella, Chloe menjawab, “Tidak ada.” Lalu disambung dengan Lucy yang mengatakan, “Lagipula, yang saya minta untuk datang hanya Akihiko seorang. Nona Bella atau Nona Mirika hanya masalah tambahan.”

Meski sedikit geram saat mendengarnya, Bella dan Mirika masih menahan diri. Hanya menampilkan urat kesal di dahi mereka, tapi hanya sebatas itu. Tidak merespon lebih yang memicu keributan.

“Jadi … a-aku hanya perlu bicara empat mata dengan  Elizabeth dan ini akan selesai, begitu?” tanyaku memastikan meski aku tahu tidak akan semudah itu. Maksudku, aku akan bicara dengan Elizabeth. Elizabeth yang memiliki arogansi tinggi dan otoriter dalam keputusannya. Semua karakter keras itu membuatku heran. Apa yang bisa membuatnya bermasalah?

Lucy beranjak dari posisi duduknya yang kurang pas sebagai pelayan. Kali ini dia berdiri tegap menghadap ke arahku. Benar-benar posisi formal dan postur tubuh seorang pelayan. Sambil merasakan detak jantung dengan telapak tangannya. Lucy berkata dengan formal.

“Bicarakan masalah kalian dan ini akan selesai. Nona Elizabeth bisa dalam bahaya jika terus-terusan begini. Saat sekolah selalu berdiam diri di kelas. Saat di rumah selalu mengurung diri dalam kamar. Aku tidak tahu bagaimana kau melecehkan Nona sampai mentalnya hancur begitu. Tapi tolong kembalikan dia.”

Apakah pujian bernilai sama seperti pelecehan??? Aku tidak mengerti lagi tentang bagaimana cara menghadapi Elizabeth. Aku akan berhati-hati setelah masalah ini selesai.

“Aku hanya perlu bicara.” Berpegang teguh akan hal itu, aku berdiri. Mengikuti  Lucy yang mengarahkan jalan menuju kamar Elizabeth. Yang lainnya menunggu di ruang tamu. Sementara aku menyelesaikan masalah ini dengan repot. Mereka sedang pesta teh perempuan sambil membicarakan banyak hal yang tidak penting.

“Kita sudah sampai.” Lucy menghentikan langkahnya  di tengah lorong wastu yang megah. Menghadap pada satu pintu keemasan yang kalau aku duga. Itu adalah kamar Elizabeth. Melirik sedikit ke belakang, Lucy berkata, “Jangan lakukan hal ceroboh.”

Tuan Putri Kesepian

Who Should I Date? Chapter 23


“Atas nama Nona Elizabeth, izinkan saya bertanya tentang satu hal. Apa yang telah Anda lakukan terhadap tuan saya?” Itu adalah pertanyaan yang singkat dan tegas. Tidak banyak basa-basi atau pengantar. Dia mengatakan itu tepat setelah aku membuka bekal.

Jam istirahat, aku ada di dalam kelas. Aku yang baru saja membuka bekal, kini sudah kehilangan nafsu makan akibat ditodong pertanyaan. “Chloe, setidaknya biarkan aku makan bekal dengan tenang.” Peringatan dariku juga tidak mungkin ditanggapi. Mengingat alasan dia datang hanya untuk mencari sumber masalah bagi tuannya. Dia tidak memiliki waktu untuk menunggu sampai bekalku habis. Malah, dia mengatakan kalimat pedas lainnya seperti.

“Oh, Anda ingin makan bekal buatan pacar Anda dengan bahagia sementara tuan saya menjadi aneh akibat perbuatan Anda sendiri. Penilaian saya terhadap Anda memang tetap sampah, tidak akan meningkat meski Anda mendukung Nona walau saya tahu itu hanya menjilat.”

Tidak ada berhentinya … sudah berapa kali aku disebut sampah??? Setidaknya kalau aku tidak tanyakan soal Elizabeth padanya. Dia tidak akan berhenti. Mengingat dia adalah pelayan setia yang menyerahkan segenap jiwa dan raganya untuk Elizabeth. Dia tidak akan berhenti dalam usahanya jika itu demi tuannya. Benar-benar pengabdian yang merepotkan.

“Jadi, kau mau aku mengatakan apa?” Kembali menutup bekalku dengan berat. Aku melontarkan tanya. Sementara Chloe hanya mendengus sambil berkata, “Hmph. Anda sudah sok akrab karena tidak gagap lagi saat bicara dengan kami ya. Jangan lanjutkan salah paham ini dengan berpikir bahwa kau akrab dengan kami.”

Itu karena kalian menginap selama lima hari berturut-turut sih. Meski kau bilang akrab, memangnya kami pernah menunjukkan keakraban? Bahkan sejak dua hari lalu. Elizabeth nampak menjaga jaraknya denganku.

Saat aku berpapasan dengannya di lorong atau perjalanan, dia selalu menghindar dan menjauh. Saat aku coba bertegur sapa meski aku tahu itu sangat sulit bagi introvert akut seperti diriku. Dia mengabaikannya, membuang wajah, mengacuhkan, meninggalkan. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu setelah ingin berteman denganku.

“Kalau soal itu, a-aku … tidak pernah berpikir sudah akrab dengan kalian sih. Mengingat Elizabeth yang selalu menghindari diriku saat aku coba mengakrabkan diri. Aku pikir, hubungan teman juga akan berakhir sampai batas kenalan saja.”

“Baguslah ya, sampah sepertimu bisa memahami posisi betapa kotornya sampah. Tidak layak mengotori tuan saya dengan mendekatinya apalagi menjilatnya.” Perkataan Chloe semakin tidak bisa ditahan. Beberapa siswa di kelas ada yang memperhatikannya dan bertanya-tanya. Siapa dia? Sedang apa di sini? Ada urusan ala dengan Akihiko? Aku bisa mendengar bisik-bisik penasaran mereka.

Bella bangun dari tempat duduknya. Dia mendekati kami yang sedang sedikit panas. Kemudian secara terang-terangan, Bella berkata, “Bisakah jangan ganggu kami setidaknya saat jam makan siang?”

Chloe menoleh. Mengalihkan pandangannya yang dipenuhi intimidasi ke arah Bella. Sementara Bella berdiri protes, tangannya membawa bekal yang hendak ia makan siang ini. Ketika mereka saling tatap, Chloe menanggapi bentuk protes dari Bella.

“Ah, kau pacarnya lelaki sampah ini. Biar aku peringatkan satu hal. Jaga pacarmu agar tidak sampai menggoda gadis lain. Asal kau tahu, dia adalah laki-laki yang suka tebar pesona. Juga, dia sengaja saat membuat gadis lain terpikat dengannya. Entah kau ini mangsanya yang ke berapa. Tapi setidaknya, jaga pacarmu agar tidak merusak idealis tuanku.”

“Apa maksudnya? Tunggu, jangan-jangan kau ini, mengira kalau Akihiko telah menggoda Elizabeth?” Bella bertanya sambil meredam kesal, seperti menahan diri agar tidak termakan emosi.

Sekali lagi Chloe mendengus, memamerkan telapak tangannya yang putih sebagai bentuk arogansi. Mempertahankan arogansi seperti itu, dia berkata lagi. “Bukan mengira, tapi itu sudah dipastikan. Buktinya adalah Nona Elizabeth yang tidak bisa menyangkal tebakan saya du a hari yang lalu.”

“Te-tebakan?” Aku penasaran dengan bagaimana Chloe menebak. Dia kembali melihatku, mengalihkan pandangannya dari Bella. Chloe kemudian menjawab, “Ada laki-laki cabul yang memuji rambut pirang Nona Elizabeth dengan senyum terpaksa. Membuat Nona Elizabeth tersipu malu hingga pergi meninggalkan lelaki cabul itu. Malangnya, dia membiarkan lelaki cabul itu membayar semua hidangan sendiri. Begitulah tebakanku.”

Itu lebih mirip seperti cenayang! Terus, berhenti sebut aku sebagai lelaki cabul. Aku hanya memuji rambutnya lantas kenapa? Itu memang terlihat cantik sih.

“He-hebat … tebakan barusan hampir mirip seperti ramalan.” Aku tidak bisa berkomentar lebih tentang tebakan itu. Satu-satunya hal yang memungkinkan adalah Chloe mengikuti kami kemarin. Kalau begitu, aku hanya perlu meluruskan masalah ini.

“Chloe, apakah kau, mengikuti kami dua hari yang lalu?” Aku bertanya pada Chloe hingga dia menjawab, “Tidak. Saya dan Kak Lucy langsung pulang setelah diperintahkan Nona. Mustahil saya membangkang terhadap perintah Nona.”

Sementara kali ini, Bella naik pitam karena pertanyaan dariku. Dia nampak geram dibungkus pertanyaan. “Mengikuti??? Memangnya pergi ke mana kalian?” Dia menanyakan itu, melihat mataku dengan tatapan intimidasi yang bahkan mempengaruhi mental. Seram.

“A-aku, ma-maksudku kami. Kami hanya ke kedai saat itu. Itupun karena Elizabeth yang meminta. Dia bilang ingin bicarakan sesuatu soal masa pengawasan. Tapi malah berujung dirinya yang mengungkapkan terima kasih untukku.” Aku menjelaskan semuanya tanpa menyembunyikan fakta. Mengingat Chloe adalah cenayang misterius, aku tidak boleh asal bicara. Eh, apa dia benar-benar cenayang?

“Berterima kasih? Tuanku? Atas dasar apa?” tanya Chloe serius dengan nada bicaranya yang seram. Bella ikut menunggu kelanjutannya. Sehingga dengan terpaksa. Aku harus menjawab, “Atas dasar … aku yang memberikan dukungan padanya?”

Chloe diam, dia tidak berkata-kata lagi. Sementara Bella mempertanyakan tentang dukungan apa yang dimaksud? Tapi itu memang jawabanku yang paling jujur.

“Pokoknya, Anda harus datang ke kediaman Nona sore ini. Jika Nona masih bertingkah aneh bahkan setelah bertemu anda. Berarti memang anda penyebabnya.” Kalimat Chloe barusan ditutup dengan dirinya yang membungkukkan badan. Memberi hormat sebelum pergi dari kelasku, dia tetap menjalani etika bahkan ketika marah seperti tadi.

Bella menepuk tangan satu kali, kemudian berkata dihias senyum jahat. “Jadi … karena pertemuan sore ini akan menarik. Sepertinya aku akan ikut.”

Aku tidak akan bisa mengelak saat ini. Melarangnya ikut malah membuatku terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Karena itu aku menjawab, “Te-tentu ….”

Selain masalah runyam yang menimpaku siang ini. Aku menyadari satu hal. Ciuman pipi dari Bella dua hari lalu. Apakah itu karena dia khawatir? Kalau iya maka intuisinya sangat tajam. Meski dia tidak tahu tentang pertemuanku dengan Elizabeth. Tapi dia bisa merasa gelisah akan itu. Meski sebenarnya, pertemuan itu tidak perlu dikhawatirkan sama sekali.

__________________

“Lama sekali. Saking lamanya, saya berpikir akan menjadi seorang nenek sebelum kalian tiba di sini.” Sambutan untukku dan Bella yang baru saja keluar dari gerbang. Tapi, melihatnya sendirian lumayan aneh. Aku memaksakan diri untuk bertanya, “Kau sendirian?”

Chloe mendengus  seperti ciri khasnya. Kemudian dia menjawab, “Kalian terlalu lama. Karena itu mereka pergi lebih dulu. Kak Lucy akan menemani Nona karena keadaannya memang mengkhawatirkan. Tenang saja, aku tidak akan kalah meski kalian berdua mencoba membunuhku saat ini.”

“Bagaimana kalau bertiga?” Suara lainnya terdengar. Yang pasti, itu bukan suaraku, Bella, atau Chloe. Itu suara lain yang aku tahu tapi tidak aku sangka, bisa bertemu dengannya di sini. Melihat sosoknya yang berdiri tegap penuh percaya diri. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang, itu pose bangga.

Hanya bisa menganga sekaligus bertanya, “Mirika?” Aku lupa tentang kesepakatan kami. Mirika berjanji akan kembali dalam tiga hari untuk kelanjutan kontrak. Lalu itu adalah hari ini! Bagaimana bisa aku lupa?

Chloe dengan sinis sekaligus dingin. Dia menatap Mirika penuh intimidasi. “Ada perlu apa? Maaf saja tapi kami sedang bergegas,” kata Chloe singkat sambil bergegas pergi untuk pulang.

“Aku akan ikut dengan kalian,” kata Mirika sambil mengikuti langkah Chloe seirama. Jelas sekali kalau tindakannya absurd. Meski aku paham, targetnya saat ini adalah aku. Tapi aku ada urusan mendadak dengan Elizabeth sore ini. Jika dia datang ke tempat yang sama di mana Elizabeth dan Bella berkumpul. Kemudian mendeklarasikan proposal secara terang-terangan kepada mereka.

Ada situasi yang lebih buruk lagi?

Who Should I Date? Chapter 22


Membuka pintu kontrakan yang rapuh, aku memberi salam pada ruang kosong. “Aku pulang … lah aku tinggal sendirian sih.” Kembali menutup pintunya dari dalam. Melepas alas kaki, meletakkan tas di tempatnya, lalu merebahkan punggung di atas kasur. Masih mengenakan seragam, tapi aku tidak perlu khawatir. Besok sudah ganti seragam, jadi tidak perlu takut kalau seragam ini lusuh.

Meregangkan dasi yang mengikat kencang di kerah leher. Kemudian melepas kancing seragam yang paling atas. Aku membiarkan dadaku sedikit terbuka karena gerah.

Enaknya … aku bisa merasakan udara masuk ke dalam seragam yang panas ini. Rasanya, aku mau langsung tidur. Tidak perlu mandi atau makan. Begini saja sudah cukup, ini sejuk. Aku merasa nyaman sampai mengantuk dan berpikir untuk tidur. Tidur sebentar, tidak masalah, ‘kan?

______________________

Harum. Hidungku merespon pada wangi harum yang mengudara. Tak lama setelah aku sadar, suara gadis terdengar. “Akihiko, tidur dengan seragam itu tidak baik loh.” Suara itu terdengar dari dapur. Bella!?

“Se-sejak kapan kau masuk?” Aku bertanya dari atas kasur sementara Bella menjawabnya dari dapur. “Bahkan meski pintunya dikunci, aku ini tetap bisa masuk. Apalagi kalau pintunya tidak dikunci, mudah.”

Tapi aku tidak menanyakan soal kunci loh … aku hanya bertanya sejak kapan kau masuk. Kenapa dia tidak nyambung begitu? Lupakan, selain itu. Bella sedang memasak sesuatu. Aku beranjak bangun dari kasur. Melihat Bella yang sedang memasak di dapur.

Dia menguncir rambut hitamnya agar tidak mengganggu. Kemudian mengenakan celemek supaya bajunya tidak  kotor. Sambil tetap mengaduk masakannya, dia menoleh sedikit ke belakang. “Apa? Makanannya belum siap. Lebih baik mandi dulu sana,” kata Bella sambil mempertahankan gerakannya dalam mengaduk sup. 

Cantik … aku yang terpesona sampai tidak bisa mengalihkan pandangan. Tapi karena malu, terlebih lagi dia melihatku saat ini, aku membuang muka. Jantungku berdebar … rasanya jadi sesak hingga aku berkeringat.

“Eh, jangan bilang … kau terpesona denganku ya?” tanya Bella dengan nada sedikit menggoda. Meski Bella sedang menggodaku, dia tetap fokus memasak hingga posisinya membelakangi diriku.

“Te-terpesona!? Ma-mana mungkin lah ….”

“Meski aku sudah sengaja berpenampilan cantik di depan pacarku?” Bella bertanya lagi dan itu semakin menekan. Sial … dia sangat pintar dalam memanfaatkan kelemahanku sebagai laki-laki.

Meski gugup dan harus dipaksakan. Kupikir, aku tetap harus memuji penampilannya. Mengingat dia sudah sampai seperti ini hanya untuk membuatku senang. “I-itu, terlihat cantik. Ma-maksudku, kau sangat cantik, mungkin.”

Aku tidak bisa mengatakannya dengan lancar!!! Entah bagaimana ekspresi wajahku barusan. Yang penting, aku sudah coba untuk memuji usahanya. Apakah kata “mungkin” memang diperlukan dalam konteks pujian? Kurasa iya.

“Wajahmu yang malu-malu begitu, imut banget loh. Aku menyukaimu,” kata Bella santai yang mana ucapannya, benar-benar santai. Seperti tidak ada hambatan sedikitpun saat dia mengatakannya. Itu keluar begitu saja dari mulutnya.

“H-hah! A-aku akan mandi!” Karena tidak bisa bertingkah, lebih baik kalau aku lari dari situasi ini dengan alasan mandi. Aku akan mandi dan menenangkan diri. Jika terus begini maka jantungku bisa berhenti berdetak!

“Akihiko, jangan selingkuh dariku, ya.” Kali ini dia serius. Setelah semua ucapannya yang terdengar meledek dan bercanda. Kali ini Bella serius. Aku bingung sekaligus panik. Hanya balik bertanya, “Selingkuh?” Sambil mengingat kejadian tentang Mirika.

Apakah dia sudah tahu tentang Mirika??? Atau jangan-jangan, Mirika membocorkan masalah itu padanya. Tidak, kurasa itu tidak mungkin. Kalau itu memang terjadi, aku yakin Bella tidak akan diam. Pasti akan ada konflik di antara keduanya.

“Hei, bagaimana … kalau kita buat perjanjian?” Bella membalikkan badannya. Meninggalkan masakan yang sejak tadi selalu ia aduk dengan sabar. Kali ini dia berhadapan denganku. Bella terus melangkah maju sementara aku melangkah mundur. Tidak sadar, aku sudah menabrak tembok. Aku tidak bisa mundur lebih jauh. Sementara Bella semakin maju hingga wajahnya sangat dekat denganku.

“Pe-perjanjian? A-aku tidak paham … selain itu ini terlalu dekat! To-tolong menjauh.” Meski aku memohon agar dia menjauhkan wajahnya dari wajahku. Apakah dia mau? Kurasa tidak. Bella malah menempelkan telapak tangannya, merasakan jantungku yang berdetak kencang saat ini.

“Dalam posisi ini sebentar. Tidak masalah, ‘kan?” katanya sambil mengusap dadaku yang berdetak. Dia mengusapnya halus, sementara aku hanya menahan diri agar tidak mati dalam posisi ini. Ini memalukan!!! Ditambah lagi, aku membuka kancing seragam yang paling atas. Apakah tidak apa kalau situasi ini berlanjut???

Jantungku berdetak kencang, nafasku sesak, tubuhku panas, kulitku berkeringat. Kalau begini terus aku akan mati.

“Jantungmu berdebar-debar?” tanya Bella sambil menatap mataku sedekat mungkin. Terlalu dekat! Aku tidak bisa merespon selain dengan membuang wajah.

Ingin situasi ini cepat berakhir, aku hanya bisa berkata, “Ce-cepat jelaskan saja! Perjanjian apa yang kau maksud?” Mendengar pertanyaan itu, Bella berhenti mengusap dadaku. Dia menunjukkan kelingkingnya yang lentik, kemudian berkata, “Kalau Akihiko dekat dengan gadis lain. Aku akan mencium Akihiko. Kalau aku dekat dengan laki-laki lain, Akihiko akan menciumku. Sepakat?”

“Apa-apaan, perjanjian itu. Ma-mana bisa disepakati.” Hanya itu respon yang bisa kuberikan. Oiya, ada satu hal yang janggal. “Apa maksudnya, aku tidak boleh berteman dengan perempuan?” Aku bertanya karena bingung. Jika benar begitu, maka ini seperti pembatasan. Padahal aku sudah berteman dengan Elizabeth. Tapi kalau sampai dilarang ….

Bella menjawab, “Berteman dan dekat, itu adalah dua hal berbeda. Jika kau sampai terlalu dekat, ada kemungkinan kau selingkuh. Jika kau sampai selingkuh, maka hubungan kita akan berakhir. Karena itu, sebelum kau selingkuh. Mumpung kau masih hanya sebatas dekat. Aku akan mencium dirimu.”

Setelah kalimatnya selesai, Bella mengangkat tumit. Dia berdiri jinjit sehingga tingginya setara denganku. Setelah tinggi kami sama, Bella menempelkan bibirnya yang lembut ke pipi kananku. Tanpa peringatan, tanpa izin, dan tanpa aba-aba. Dia mencium pipi kananku secara tiba-tiba hingga aku tidak bisa menghindar.

Bibirnya yang lembut dan sedikit basah. Itu menempel pada pipi kananku. Setelah 10 detik dalam posisi itu, Bella melepas ciumannya. Wajahnya juga merah karena malu, dia mundur beberapa langkah, menjauh dariku yang berdiri kaku. “I-itu peringatan. Selanjutnya, kalau kau semakin berbahaya, a-aku akan mencium bibirmu,” kata Bella sedikit gagap karena menahan malu.

Bella teringat akan sesuatu. Dia terkejut, kaget, sekaligus panik. Sambil berlari ke arah kompor, dia berteriak, “Aku lupa!”

Dia lupa dengan masakannya tuh …

Tapi ternyata, saat dipikir-pikir lagi. Aku memang suka dengan Bella, ya? Aku usap pipi kananku yang masih lembab. Sambil bertanya-tanya dalam hati. “Apakah aku melakukan hal kotor?”

Aku serius khawatir kalau ini adalah perbuatan yang tidak baik. Aku mengkhawatirkannya, baik itu dengan diriku sendiri. Baik itu mengenai Bella. Kami tidak boleh berlebihan seperti tadi. Maksudku, kita ini masih siswa SMA. Masih terlalu cepat untuk melakukan hal-hal mesra seperti tadi.

Itu sangat mendebarkan sih. Rasanya, aku bisa mati di situasi barusan. Terlebih lagi saat Bella mencium pipiku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku. Eh itu bukan ciuman sih. Lupakan saja.

Lain kali, saat masanya sudah tepat. Saat aku sudah siap dengan semuanya. Aku akan menyatakan perasaanku secara resmi. Mengajaknya ke hubungan yang lebih serius. Menyerahkan ciuman pertamaku untuknya. Habisnya harus kuakui, kalau aku ternyata. Aku sangat sayang dan menyukainya. Kuharap kau selalu bersamaku, sampai saatnya tiba ketika aku yang akan mengajakmu, Bella.

Pondasi Hubungan Agar Kokoh
[Aksi Pertama Dari Bella]

Who Should I Date? Chapter 21


“Yah, begitulah masa laluku. Itu juga alasan kenapa aku berterima kasih atas dukungan darimu. Ma-maaf, kayaknya aku kebanyakan bicara, ya?”

Cerita Elizabeth selesai. Aku jadi tahu sebagian besar tentangnya. Tentang alasannya menjadi ketua komite. Tentang alasannya yang memuja kedisiplinan. Tentang alasan kenapa orang-orang menyebut dirinya sebagai gadis kotor. Itu semua sudah terjawab.

Juga, satu hal penting yang aku ketahui. Elizabeth itu kesepian. Selain Lucy dan Chloe, kupikir, dia tidak memiliki teman. Karena itu mungkin saja. Jika aku memintanya agar berteman denganku. Apakah dia mau? Apakah dia akan senang? Itu juga akan membantu permasalahan kompleks milikku dalam berteman. Setidaknya, aku harus berusaha.

“E-Elizabeth ….”

Berat! Meski aku baru memanggil namanya saja untuk sekarang. Itu sudah membuatku gugup! Tapi aku tidak bisa mundur. Elizabeth sudah memasang ekspresi bertanya hingga kepalanya dimiringkan. Akan aneh jika aku bilang tidak jadi.

Tenang … bahkan aku bisa mengatakannya pada Bella di hari pertama sekolah. Aku bisa mengajak Bella berteman di UKS meski itu sulit. Meski akhirnya … dia malah menjadi pacarku sih. Bisa dibilang, Elizabeth adalah usahaku yang kedua untuk mendapat teman.

“Hm?” Elizabeth menunggu kelanjutan dari panggilanku barusan. Dia memantulkan ujung telunjuknya ke meja. Membuat suara ketuk yang sedikit mengganggu pikiran.

“Ba-bagaimana bilangnya, ya … ka-kalau kau berteman denganku. Apakah kau mau, ya? Haha ….”

Aku yakin, itu adalah ajakan paling buruk untuk berteman. Benar-benar parah … aku sampai kesusahan dalam membangun relasi pertemanan. Meski begitu aku mengharapkan kehidupan SMA yang ideal dan cerah. Mana bisa sih … mengetahui kenyataan ini membuatku sedikit sedih.

“Teman?” Elizabeth mengulang kata teman dengan nada tanya. Seperti terkejut, tertegun, dan terbuai. Wajahnya mengekspresikan senang hingga berbinar. Itu ekspresi senang?

BRAK!

Dia menggebrak meja hingga makanannya berguncang. Wajahnya tersenyum lebar dan kelewat senang. Dia berkata dengan keras, “A-ayo berteman!”

“Ha?” Jelas saja aku bingung bukan? Ekspresi senang yang dikeluarkan, itu berlebihan. Sedikit dilebih-lebihkan atau dia memang senang!? Tapi itu kelewatan. Seisi kedai memperhatikan kita loh!

Menyadari kalau perbuatannya barusan tidak sopan. Elizabeth coba untuk menenangkan diri. Dia batuk-batuk kecil, kembali duduk dengan normal setelahnya. Wajahnya malu, tapi dia pikir harus tetap tegar. Tenangkan diri dan pikirkan soal arogansi. Maka harga dirimu akan aman. Begitulah yang dipikirkan Elizabeth.

Merasa dirinya sudah tenang, Elizabeth bicara lagi. “Yah, kalau kau sampai mengemis seperti itu. Aku dengan terpaksa akan jadi temanmu,” katanya dengan ekspresi ketus sambil melipat tangan di dada.

Sudah terlambat untuk jual mahal!

Tunggu, kalimatnya barusan. Bisa aku tarik kesimpulan kalau dia bersedia? Apakah dia benar-benar bersedia untuk jadi temanku?

Kalau iya, maka hari ini, aku mendapatkan satu teman lagi. Elizabeth yang ketus dan selalu merendahkan diriku sebelumnya. Kini dia menjadi temanku! Sebuah pencapaian besar di kehidupan masa SMA-ku yang penuh kesialan.

Jangan puas dulu. Masih ada level selanjutnya. Aku harus menuntaskan semuanya agar ini sesuai dengan perhitungan. Tahap selanjutnya, aku harus mencari topik. Jika pembicaraan ini selesai maka pertemuan juga selesai. Minimal, setelah berhasil membangun relasi dengan satu orang. Aku harus membicarakan satu topik. Ini penting baginya untuk menilai diriku. Apakah aku dinilai menyenangkan. Apakah aku dinilai membosankan. Itu semua tergantung topik pertama yang aku bicarakan.

Tapi topik apa??? Ayo pikirkan. Cuaca senja memang bagus. Tapi itu kurang pas. Jika ingin bicarakan cuaca, harusnya di awal pertemuan. Kalau sudah di sini, mungkin, aku harus menilai penampilannya. Seperti, aku baru menyadari sesuatu soal penampilannya hari ini.

Oh! Aku tahu.

“Elizabeth, ibu kandungmu itu … bukan warga pribumi, ‘kan? Pantas saja rambutmu pirang.”

Apa yang kukatakan sih!?

“Ah iya, kenapa?” tanya Elizabeth sambil menyelipkan rambut pirangnya ke belakang telinga.

Aku hanya menjawab dengan senyum yang dipaksakan, “Itu terlihat cantik.” Sesingkat itu jawabanku. Tapi suasananya berubah. Suasana anginnya menjadi dingin. Elizabeth terdiam.

Elizabeth menunduk dan menahan nafas. Jantungnya berdebar keras hingga sesak. Membuat wajahnya menjadi merah karena suasana mendebarkan itu. Sambil berkata pelan, “Bodoh.” Elizabeth mengambil tas miliknya dan lari secepat mungkin, dia keluar dari kedai. Meninggalkanku sendirian bersama semua struk bayaran yang ditagih.

Sementara aku yang tidak mengerti hanya berekspresi, “Hah?” Tidak mengejar Elizabeth karena larinya sangat cepat. Selain itu aku menyadari sesuatu. Elizabeth kabur. Lantas, siapa yang akan membayar semua makanan manis itu?

Pada akhirnya, aku jadi mentraktir Elizabeth di pertemuan kali ini.

_______________________

Elizabeth sampai ke rumah dengan tergesa-gesa. Wajahnya menunjukkan perasaan tidak nyaman sekaligus gelisah. Dia melewati pekarangan wastu, kemudian memasuki pintu utama tanpa melepas sepatu.

Lucy dan Chloe menyambut kedatangan Elizabeth dari balik pintu. Mereka sudah lengkap berseragam pelayan dengan nuansa hitam putih. Elizabeth mengabaikan mereka, langsung bergegas naik tangga dan pergi ke kamar. Menutup pintu kamarnya dengan tenaga, setelahnya, dia merebahkan dirinya di atas kasur empuk.

“Itu terlihat cantik.”

Suara dan wajah senyum itu masih terbayang. Elizabeth semakin gelisah hingga dirinya berguling-guling di atas kasur.

Bodoh bodoh bodoh bodoh bodoh!!!

Terus menghina pemilik suara itu dengan sebutan bodoh. Elizabeth berguling-guling sambil membatin kesal pada Akihiko. Tapi Elizabeth tahu. Ini sedikit berbeda dengan perasaan kesal. Rasanya memang gelisah dan tidak nyaman. Meski begitu, kalimat Akihiko di kedai, itu membuatnya senang.

Lucy dan Chloe menyusul Elizabeth hingga ke kamar. Khawatir tentang apa yang terjadi pada tuannya. Lucy bertanya, “Nona Elizabeth, apakah sesuatu terjadi?”

“Aku tidak apa-apa! Abaikan saja aku untuk saat ini!” jawab Elizabeth kesal dengan teriakan. Dia menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. Entah bersembunyi dari apa, dia hanya bingung. Bagaimana caranya menghadapi perasaan ini? Itulah yang ia permasalahkan.

Chloe nampak menyadari sesuatu. Dia menutupi bibirnya dengan tangan sambil berbisik, “Jangan-jangan.” Matanya terbuka lebar mulutnya menganga. Kalau Nona Elizabeth yang super kikuk sampai jatuh cinta, apa yang akan terjadi? Itu adalah pertanyaan yang muncul di pikiran Chloe saat ini.

Chloe kemudian berkata lagi. “Tidak mungkin, ‘kan? Maksudku, tidak mungkin ada laki-laki yang memuji rambut pirang Nona dengan senyum dipaksakan. Lalu Nona menjadi senang dan langsung pergi dengan malu-malu. Kemudian jatuh cinta padanya karena pujian singkat itu. Itu semua tidak mungkin, ‘kan?”

“Kau lebih mirip cenayang daripada pelayan!” teriak Elizabeth kesal karena semuanya telah terbaca.

“Kalau begitu Nona, apakah tebakan Chloe barusan adalah benar?” Kali ini Lucy yang bertanya. Dia memastikan kalau itu memang benar, mungkin saja ada solusi yang bisa diusulkan.

“Se-sebagian kecilnya benar sih. Ta-tapi aku tidak, jatuh cinta! Benar! Mana mungkin aku jatuh cinta dengan orang sepertinya, mustahil haha.” Elizabeth sudah tidak bisa menjawab dengan benar. Berbohong membuat jantungnya semakin berdebar. Berdebar membuat perasaannya semakin gugup. Gugup membuat perkataannya menjadi gagap. Itu semua bisa terbaca dengan mudah kalau dia sedang berbohong.

Saking jujurnya, Nona Elizabeth tidak pandai berbohong. Itulah yang dua pelayannya pikirkan. Tapi, kejujuran itulah yang membuat Elizabeth memiliki poin lebih soal daya tarik. Dia yang polos dan jujur dalam berekspresi. Sangat sulit menemukan gadis sepertinya saat ini.

Lucy kemudian tersenyum ramah sekaligus lega. Sambil mempertahankan senyum itu, dia berkata pada tuannya. “Kelihatannya hari ini, anda cukup bersenang-senang ya, Nona.”

Ketika Gadis Jatuh Cinta

Who Should I Date? Chapter 20

[Sudut Pandang Elizabeth]


Aku adalah anak yang terlahir dari kesalahan. Lahir dari hasil perselingkuhan antara ayahku dan juga ibuku. Menurut cerita ayahku, ibuku meninggal saat melahirkan aku. Dia masih terlalu muda untuk hamil dan melahirkan. Karena itu dia wafat.

Ternyata, di hari yang sama ketika ibuku wafat, istri sah ayahku juga melahirkan. Anak yang lahir dari istri sah ayahku, dia adalah Aqila. Sementara anak yang lahir dari perselingkuhan ayahku, dia adalah aku, Elizabeth Christina Maria.

__________________

Ibuku adalah tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. Dia bekerja sebagai pelayan di kediaman ayahku. Ayahku mencintainya, hingga mereka melakukan hubungan terlarang secara rahasia.

Saat ibuku mulai hamil, ayahku memindahkan ibuku agar bekerja di kediamannya yang lain. Ayah memang punya banyak wastu mewah. Agar setiap wastu terawat dengan baik, ayah mempekerjakan pelayan di setiap wastu. Itu demi investasinya juga.

Akibat tindakan itu, perselingkuhan mereka aman. Tidak ada siapapun yang tahu kecuali mereka berdua. Kehamilan ibuku terjaga rahasianya. Hingga hari baginya untuk melahirkan sudah tiba.

Siapa sangka, Tuhan membuat ayahku tersandung batu dari perbuatannya. Saat istri sahnya hendak melahirkan. Di saat yang sama, selingkuhannya juga akan melahirkan. Tentu saja dia panik dalam keadaan seperti itu.

Seorang suami harus mendampingi istrinya saat melahirkan. Tapi ayahku harus mendampingi siapa? Keduanya akan melahirkan dalam waktu yang sama. Tentu saja untuk menutupi perselingkuhannya, ayahku lebih memilih istri sahnya untuk didampingi. Sementara selingkuhannya, ia serahkan ke petugas rumah sakit.

Momen melahirkan berlalu. Aqila lahir dengan selamat termasuk ibunya. Mengetahui kondisi mereka baik-baik saja, ayahku beralih perhatian. Ayahku kini melihat kondisi selingkuhannya dan aku yang baru lahir. Aku lahir dengan sehat. Tapi ibuku, dia wafat karena terlalu muda untuk melahirkan.

Di situlah, Tuhan menagih bayaran dari apa yang telah ayahku perbuat. Ketika selingkuhannya mati, maka aku akan diurus oleh siapa? Jika aku dibawa ke dalam keluarganya, namanya yang terhormat akan jatuh serendah-rendahnya. Jika ia membuang aku sebagai anaknya, dia juga tidak tega. Ini adalah anak dari selingkuhannya yang ia cintai. Dasar, aku baru sadar kalau ayahku terlalu serakah.

Padahal, jika dia membuang aku sejak awal, hidupnya akan baik-baik saja. Keluarganya tidak akan hancur. Namanya tidak akan jatuh. Aku juga akan mati, jadi itu tidak masalah. Tapi, ayahku malah membawaku pada keluarganya.

Sudah jelas kalau istri sahnya bertanya-tanya. Anak siapa itu? Kenapa kau menggendongnya? Tidak banyak kebingungan lagi, istri sahnya, dalam keadaannya yang masih payah pasca melahirkan. Dia mencari tahu fakta tentangku di rumah sakit. Aib perselingkuhan ayahku terbongkar. Istri sahnya marah dan menuntut cerai. Mereka bercerai, keluarganya hancur, namanya terhina.

Mantan istrinya pergi dari wastu mewah bersama Aqila. Hidup berdua di tempat sederhana dengan susah payah. Meski ayahku menawarkan nafkah menjanjikan setiap bulannya, mantan istrinya itu tidak sudi menerima. Mungkin saja karena kehidupannya yang sulit dan penuh derita. Rasa benci terhadap ayahku, itu semua diturunkan pada Aqila. Karena itu Aqila sangat membenciku dan ayahku. Bahkan, alasannya masuk ke sekolah yang sama denganku. Tujuannya adalah untuk mempermalukan diriku. Bisa dibilang, Aqila juga putri kepala sekolah. Tapi Aqila tidak mau menerima sebutan itu.

Kembali ke masa lalu. Ayahku tidak sanggup merawat bayi seorang diri. Dia kesusahan dalam hari-harinya untuk merawat diriku. Karena itu dia membantu keluarga miskin. Seorang janda miskin dengan dua anak perempuan. Ayahku mengizinkan mereka tinggal di wastu mewah dengan jaminan nafkah setiap bulannya. Sebagai bayarannya, janda miskin itu harus merawatku dengan baik seperti anaknya sendiri.

Tentu saja dia menerima tawaran itu. Diberikan padanya satu wastu mewah. Termasuk nafkah yang dijanjikan setiap bulannya. Sementara ayahku tinggal di wastu lain, aku dirawat oleh janda miskin itu. Dua anak perempuan yang dibawa janda itu, mereka adalah Lusi (akhirnya menjadi Lucy) dan Michelle (akhirnya menjadi Chloe).

Sebagai bentuk terima kasih pada kebaikan ayahku. Sang ibu memerintahkan kedua anaknya agar selalu melayaniku dengan baik. Karena itu Lucy dan Chloe, mereka berperan sebagai pelayan di rumahku. Mereka yang selalu merawat dan menemaniku sejak kecil. Meski sebenarnya, aku lebih berharap kalau mereka menganggap diriku sebagai teman. Hubungan antara tuan dan pelayan, ada sekat besar di antara keduanya. Aku masih merasa kesepian.

Aku menjalani hari-hari bersama mereka sejak kecil. Bagiku, mereka adalah sosok keluarga sejati. Aku tidak pernah melihat ibuku kecuali lewat foto. Ayahku juga tinggal di tempat yang berbeda. Definisi keluarga bagiku, adalah mereka bertiga. Hanya mereka bertiga.

Aku masuk SD, Aqila juga masuk ke tempat yang sama denganku. Dia selalu berusaha bagaimanapun caranya. Yang penting, dia harus satu kelas denganku. Berhasil satu kelas denganku. Aqila selalu menghasut teman-teman agar memusuhiku. Hasutannya adalah yang terbaik. Berkat hasutan itu, aku tidak memiliki teman sampai SMA.

Saat hendak masuk SMA, aku menyadari sesuatu. Semua ini adalah akibat dari tindakan ayahku yang tidak disiplin. Ayahku tidak disiplin dalam menjaga istri sahnya. Itu merusak rumah tangganya, membunuh ibuku, dan membuat aku lahir. Itu adalah akibat dari bentuk perilaku ayahku yang tidak disiplin.

Karena itu aku ingin disiplin. Aku ingin mendisiplinkan semua orang. Asal semua orang disiplin, kesalahan ini tidak akan terjadi. Semuanya berawal dari disiplin. Jika semua orang disiplin, kehidupan akan baik-baik saja dan tidak akan ada konflik yang terjadi.

Aku akhirnya memutuskan. Aku akan jadi ketua komite kedisiplinan. Ketua komite dari SMA dengan tingkat disiplin tinggi, SMA Apollo. Untungnya sistem pemilihan tidak dinilai berdasarkan suara. Semuanya dinilai berdasarkan dedikasi dan bakat. Karena itu aku mendaftarkan diri, berusaha sekuat tenaga untuk meraih posisi itu.

Meski itu membuat diriku semakin dibenci. Aku tidak peduli. Asal aku bisa mendisiplinkan banyak orang. Mungkin saja. Tidak akan ada anak yang terlahir dari kesalahan. Tidak akan ada anak yang bernasib sama sepertiku.

Aku tidak tahu definisi keluarga sejati mulai dari ibu dan ayah yang harmonis. Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki saudara, menjaga saudara, dan konflik antar saudara. Aku tidak tahu rasanya berteman dengan lega. Karena Aqila, semua orang yang dekat denganku, mereka selalu berakhir benci denganku. Aku selalu kesepian.

Belum lagi tindakanku yang suka mendisiplinkan orang. Tidak semua orang suka dipaksa disiplin. Kebanyakan orang ingin bertindak semau mereka. Tapi, jika itu dibiarkan. Mereka akan terjerumus. Mereka akan semakin tenggelam. Karena itu meski harus tegas. Meski harus dibenci. Meski harus bersikap keras. Aku harus mendisiplinkan mereka.

Tidak ada orang yang mendukungku. Selain Lucy dan Chloe, mereka semua tidak suka denganku. Lalu, disaat aku merasa sendirian, kau mendeklarasikannya. Kau mendeklarasikan dukungan terhadapku secara frontal. Itu pertama kalinya bagiku. Pertama kalinya aku melihat orang lain mendukungku secara terang-terangan. Aku senang, aku tidak pernah senang seperti ini. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa diakui.

Hei, Akihiko. Boleh aku bertanya satu hal padamu?

.
.
.
.
.

Bolehkah aku mengawasi dirimu lebih lama lagi?

Who Should I Date? Chapter 19


Kedai santai, suasananya sangat pas untuk bicara. Aku juga tidak tahu, tentang apa yang ingin Elizabeth sampaikan. Yang pasti, ini tentang pengawasanku yang akan habis besok. Duduk di kursi empuk, tepat di samping jendela kaca. Aku dan Elizabeth duduk berhadapan. Meja kosong dan kotak tisu menengahi.

“Kau ingin pesan sesuatu? Karena aku yang mengajakmu hari ini, aku akan traktir. Silakan pesan sesuatu,” kata Elizabeth sambil menggeser buku menu ke arahku.

“Ti-tidak perlu traktir … kebetulan, aku juga lapar sih. Tapi aku akan bayar sendiri.”

Apa-apaan! Sikap ketus dan kalimatnya yang selalu kasar. Itu semua hilang ke mana!? Bicaranya yang sopan dan malu-malu seperti itu. Itu terlihat sangat canggung. Suasananya jadi berat. Bukan berarti aku suka dihina. Tapi kalau suasananya berat seperti ini, aku tidak kuat menghadapinya.

Mendengar penolakan dariku, Elizabeth bertanya lagi. “Benar nih? Tapi aku jadi tidak enak kalau kau malah bayar sendiri. Seharusnya, kau tidak perlu jajan jika tidak aku ajak ke sini, ‘kan?”

Cukup! Dirimu yang menawarkan traktiran seperti itu. Itu membuatku kehilangan sebagian harga diri loh. Eh, aku tidak tahu bagian mana dari harga diriku yang hilang sih. Hanya saja, ini tidak pas. Seharusnya aku sebagai laki-laki mentraktir perempuan. Bukan malah ditraktir oleh perempuan.

“Ja-jangan dipikirkan. Aku akan bayar sendiri. Ehm … mungkin ayam geprek saja. Aku pesan ayam geprek dan air putih.” Aku sudah menentukan pesanan.

“Eh? Air putih? Tidak mau minuman dingin?” tanya Bella sambil melihat buku menu.

“Ah … kupikir tidak sehat jika makan berat bersama minuman dingin. Lagipula, obat haus terbaik adalah air putih.” Itu hanya pengalihan. Sebenarnya, aku tidak kuat minum minuman dingin meski hanya sedikit. Minum air dingin seteguk, maka aku akan flu parah sampai demam.

” Membosankan ….” Itu adalah respon yang keluar dari mulut Elizabeth. Mendengar penjelasan barusan, apakah itu membuatnya bosan?

“Mungkin aku pesan nugget pisang dan waffle keju. Lalu minumnya … jus alpukat saja deh.” Elizabeth juga sudah menentukan pesanan. Dia melambaikan tangan, memanggil pelayan agar pesanan kami segera disiapkan.

Benar-benar … apakah sesuatu terjadi? Atau Elizabeth sedang amnesia mungkin. Seseorang memukul kepalanya? Serius! Ini bukan Elizabeth yang kukenal. Caranya bicara caranya bertingkah, semuanya berbeda!

___________________


Sambil menyantap makanan yang terhidang, aku memaksakan diri untuk bertanya. Agak aneh sih, tapi semakin aneh kalau aku hanya diam.


“E-Elizabeth, jadi … ada yang ingin kau bicarakan? Kau bilang ingin katakan sesuatu tentang pengawasanku sih. Ada apa?” tanyaku sedikit gugup. Serius, membuka topik bukanlah hal yang bisa kulakukan. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak akan ada yang bicara jika tidak dimulai.

“A-ah! Iya … te-tentang pengawasan. Aku lupa haha. Makanan ini enak banget sih!”

Terus kenapa kau sampai gagap begitu? Seperti gadis yang ingin menyatakan perasaan cintanya. Wajahmu terlihat seperti itu saat ini!

Tunggu, gadis yang ingin menyatakan perasaan cinta!? Kalau aku buat asumsi seperti itu saat ini. Semuanya akan sedikit masuk akal dan terhubung.

[AKIHIKO MODE ANALIS AKTIF]

Pertama, apakah Elizabeth sengaja menungguku di depan gerbang? Dia menyuruh dua pelayannya agar pulang duluan. Dengan begitu dia bisa punya waktu berdua denganku.

Lalu dari tindakannya. Dia sudah mencari tahu tentang jadwal klub voli. Sengaja menunggu hari di mana Bella ada jadwal pertemuan. Hari sempurna di mana aku hanya sendirian dan tidak ada Bella. Dia sudah merencanakan itu.

Selain itu sejak awal. Bagaimana dia menahan langkahku agar tidak menjauh. Wajahnya yang malu-malu dan cara bicaranya yang gugup. Apakah dia malu karena ingin menyatakan perasaannya padaku?

Kalau dipikir-pikir … kebijakannya untuk berstatus sebagai pacarku selama pengawasan. Itu juga cukup aneh. Lalu dia yang menginap di rumahku selama lima hari berturut-turut. Itu lebih tidak wajar.

Apakah memang begitu kebenarannya???

“A-anu ….” Aku memberi isyarat. Semacam perilaku kode kalau aku menunggu penjelasannya. Sementara Elizabeth hanya malu dan nampak berat untuk bicara.

Suasananya memang merujuk ke arah pernyataan!!! Aku harus menyiapkan jawaban? Tidak, jangan terlalu percaya diri dulu. Masih ada kemungkinan lain.

“Be-begini. Se-sebenarnya. Aku ha-hanya … berbohong. Soal … aku ingin membicarakan masalah pengawasan di tempat ini.”

TUH KAN SUDAH KUDUGA! Dia berbohong soal itu. Yang berarti saat ini, kita tidak akan membahas soal masalah pengawasan. Lalu apa? Jika melihat dari atmosfer dan suasana canggungnya. Ini mengarah ke pernyataan cinta!

“Ja-jadi, kau mau bahas … apa?” tanyaku dengan suara pelan. Sambil menggaruk pipi canggung, aku melihat ke luar kaca. Tidak sanggup jika kami harus saling tatap. Aku tidak siap untuk itu.

“A-aku … hanya ingin berterima kasih,” kata Elizabeth sambil memantulkan ujung telunjuknya. Dia terlihat tidak sanggup juga. Apakah dia memaksakan diri untuk melawan rasa canggung dan malu? Benar-benar mengerikan ….

Tapi, “Berterima kasih? Soal apa?” Aku malah balik bertanya. Serius, berterima kasih soal apa? Aku juga tidak tahu tentang apa yang sudah aku lakukan. Jangan-jangan, dia ingin mengucapkan terima kasih karena telah diberi tumpangan selama lima hari. Tapi dia tidak menumpang sih.

“Ka-kau bilang mendukungku, ‘kan? Me-mendengar itu, aku, sangat … senang! Karena itu terima kasih. Terima kasih karena sudah memperlihatkan dukunganmu, Akihiko.”

Dukungan?

Aku Mendukungnya!

Ah … teriakan itu ya. Aku dapat masalah berat karena teriakan itu sih. Mulai dari penilaian dewan sebagai tindakan tidak sopan. Sampai kemunculan Mirika dengan proposal rumitnya.

“Bu-bukan masalah. Habisnya aku sedikit kesal sih. Ba-bagaimana bilangnya, ya. Kau itu sangat berdedikasi dalam menjalankan tugas. Kau juga tulus menjaga kedisiplinan. Tapi meski sudah melakukan semua itu, kau malah dicap sebagai wanita kotor. Itu sangat tidak adil, hingga membuatku kesal.”

“Akihiko ….”

Elizabeth tertegun hingga matanya berbinar terang. Matanya berkaca-kaca, bergetar, hampir ingin menangis. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi apa tidak masalah? Dia berpikir kalau dirinya bercerita pada Akihiko, maka penilaian Akihiko akan berubah.

Dia melihat kilasan masa lalunya. Masa lalu yang sepi dan suram. Masa lalu yang gelap dan hancur. Masa lalu yang merusak dan membuang. Dia ingin menceritakan semua itu. Dia ingin meluapkan semua itu.

Elizabeth membatin, dalam hatinya yang kecil dan keras. “Apakah aku boleh menceritakan ini?” pikirnya. Selain pada Lucy dan Chloe, apakah tidak apa-apa? Kalau membicarakan ini.


Meski begitu, perasaan Elizabeth sudah tidak bisa dipendam. Dia ingin meluapkannya. Dia ingin menceritakannya. Membuat dia membuka mulutnya dan bersuara.

“Aku adalah anak yang lahir dari hubungan terlarang. Aku adalah anak haram. Aku adalah kesalahan. Aku adalah perusak. Aku adalah gadis kotor. Meski begitu, gadis kotor seperti diriku ini. Sangat memuja kedisiplinan,” kata Elizabeth dihias senyum kecil bermandikan cahaya. Pertama kalinya, setelah diawasi oleh dirinya selama lima hari. Ini pertama kalinya dia tersenyum untukku.

MASA SMA DAN KEDISIPLINAN

Who Should I Date? Chapter 18


Negosiasi ini berujung pada hal tidak diduga.


“Sudah diputuskan! Akihiko Hayate. Jika kau menjadi pacarku saat ini dan seterusnya. Aku akan membantumu menghadapi lima pilar!” katanya dengan senyum yakin penuh semangat.

Ini lagi? Hela nafas … aku coba untuk menenangkan diri. Kenapa ini terjadi lagi? Bahkan, ini adalah yang ketiga kalinya sejak seorang gadis mendeklarasikan dirinya sebagai pacarku.

Pertama Bella, lalu Elizabeth dengan dalih pengawasan, sekarang Mirika dengan dalih kontrak. Singkatnya, jika aku menyetujui kontrak kerja dengan Mirika. Maka aku akan menjadi pacarnya.

Isi kontraknya adalah, Mirika akan membantuku menghadapi lima pilar, sehingga aku bisa melepas ban lengan ini. Apa yang terjadi jika ban lengan ini lepas? Kalau itu terjadi. Maka aku bisa bebas. Aku yang memuja kehidupan SMA, bisa menikmati kehidupan SMA ini tanpa pantangan.

Selain itu, aku memiliki hutang budi karena gadis ini telah menyelematkanku di aula. Andai saja dia tidak membantuku, aku akan ditimpa masalah yang lebih besar. Semakin jauh dari kehidupan ideal masa SMA. Itu adalah keuntungan yang aku dapatkan dari kontrak ini.

Sekarang mengenai bayarannya, ada dua poin yang diajukan. Untuk membayar hutang budi, aku harus menjadi kesatria miliknya tahun depan. Hanya saja ini tidak pasti terjadi. Kalau Mirika tidak terpilih sebagai pilar, maka kewajiban bagiku untuk menjadi kesatria, itu bisa dilupakan.

Karena bayaran yang tidak pasti seperti itu, Mirika menuntut bayaran kedua. Bayaran itu adalah aku harus menjadi pacarnya saat ini dan seterusnya. Itu adalah bayaran yang harus aku tunaikan jika ingin dia membantuku.

Tapi pacaran? Aku ini sudah punya Bella loh. Bahkan sampai besok, Elizabeth masih berstatus sebagai pacarku. Sekarang dia mengajukan proposal kontrak yang mana isinya. Dia akan membantuku apabila aku menjadi pacarnya.

Meski aku butuh bantuannya untuk menghadapi pilar. Kalau aku harus membayarnya dengan menjadi pacar. Apa yang akan Bella katakan??? Jika itu terjadi maka penilaian Elizabeth soal diriku yang buaya. Itu akan jadi kebenaran.

Jadi kesimpulannya, bagaimana???

KRING!!!!

Mirika berdiri untuk pergi. Dia menepuk-nepuk roknya karena ada sedikit debu yang menempel. Yah, dia agak aneh sih. Duduk di tanah meski disediakan tempat duduk. Ini definisi menyatu dengan alam?

“Akihiko lama nih … tapi tidak masalah. Pikirkan itu sampai tiga hari lagi. Aku akan kembali untuk kelanjutan kontrak ini. Sampai nanti ….”

Mirika pamit. Dia pergi dan kembali ke kelasnya. Ini sudah bel masuk, jam istirahat berakhir. Aku juga harus kembali. Sekarang, apa yang sebaiknya aku lakukan???

_________________

“Akihiko, aku ada pertemuan di klub voli sore ini. Kau bisa pulang sendiri? Perlu aku antar?” tanya Bella khawatir. Dia mendatangi tempat dudukku saat aku sudah bersiap untuk pulang.

Sejak kapan kau bersikap sebagai ibuku? Lagian, aku bukan anak kecil yang butuh diantar!

“A-aku bisa pulang sendiri. Tidak perlu khawatir.” Aku menjawab dengan singkat, langsung bergegas pergi meninggalkannya

Tetap saja! Diperhatikan sampai separah itu, parahnya lagi di depan teman-teman sekelas. Itu membuatku malu tahu. Memangnya Bella tidak merasa malu???

Aku sudah keluar dari pintu kelas. Kini aku memasuki lorong. Lorong panjang dengan jajaran pintu setiap kelas. Banyak siswa lain juga keluar dengan niat untuk pulang. Eh, ada beberapa yang mau hadir ke klub mungkin?

Apalah aku yang dilarang masuk ke klub atau ekstrakurikuler karena ban lengan ini. Sedang memikirkan hal-hal seperti itu, suasana hatiku menjadi buruk.

Jika kau menjadi pacarku saat ini dan seterusnya. Aku akan membantumu menghadapi lima pilar!

Kalimat itu lagi. Aku tahu aku menginginkannya. Aku merasa bantuan darinya, benar-benar aku butuhkan saat ini. Dia datang dan menawarkan bantuan seperti itu padaku. Andai saja bayarannya bukan menjadi pacar. Andai saja aku tidak berpacaran dengan Bella.

Hah?

Tidak, aku adalah orang yang buruk kalau berpikir seperti itu. Aku harus tenangkan diri saja untuk saat ini. Tentang bagaimana aku menggapai kehidupan SMA yang aku idam-idamkan. Tentang bagaimana aku mempertahankan Bella sebagai pacarku. Tentang bagaimana aku menghadapi lima pilar. Tentang bagaimana aku menanggapi Mirika. Setidaknya untuk sekarang, aku sudah tidak terlibat dengan Elizabeth.

Bagus, satu masalah pergi. Tiga masalah datang sekaligus. Kenapa aku yang ingin hidup di SMA secara baik-baik malah ditimpa masalah seperti ini??? Tidak adil!

“Eh, Akihiko?” Suara itu terdengar, tepat ketika aku keluar dari gerbang. Bermandikan cahaya senja yang oranye, gadis berambut pirang itu menyapaku.

“Elizabeth? Ka-kau, belum pulang?” tanyaku gugup karena disapa tiba-tiba.

“Tentu saja aku sedang ingin pulang. Kau sendiri, tidak pulang bersama Bella? Yah, sebenarnya ini masih hari keenam sih. Tapi karena suasana hatiku sedang baik. Kau tidak perlu diawasi untuk malam ini,” jawab Elizabeth sedikit ketus.

“Bella sedang ada pertemuan di klub voli … makanya aku pulang duluan. Oh iya, Lucy dan Chloe? Mereka tidak bersamamu?”

Wajar saja aku bertanya. Melihat dirinya yang setidaknya selalu ditemani oleh salah satu pengawal. Ketika dia jalan sendirian seperti itu, ada apa? Aku yakin orang lain juga berpikir sama.

“A-ah … itu … mereka sedang aku suruh belanja. Jadi mereka pergi duluan bersama supir. A-aku memang minta diberi kesempatan sih. Kesempatan untuk pulang sendiri seperti ini. Kalau tidak pernah seperti ini, aku tidak akan mandiri bukan? Karenanya aku minta kesempatan, untuk pulang sendiri.”

Cara bicaramu yang gugup seperti itu. Membuatmu terlihat seperti sedang berbohong loh. Yah, aku tidak peduli. Kalau memang sesuai dengan perkataannya, maka aku tidak ada urusan dengan Elizabeth.

“Ka-kalau begitu, aku duluan.” Aku langsung mengakhiri percakapan. Mengambil langkah untuk pulang. Tapi tidak disangka, Elizabeth memegang tas di punggungku. Gerakannya seperti menahan, khawatir aku melangkah lebih jauh. Ditahan seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi?

“A-Akihiko. Ka-kau, sedang buru-buru?” tanya Elizabeth malu hingga wajahnya sedikit merah. Dia menyelipkan rambut pirangnya ke belakang telinga. Kemudian memaksakan diri untuk menatapku. Ditatap seperti itu membuatku malu. Aku hanya membuang pandangan, lalu menggaruk hidung karena canggung.

Serius, momen canggung macam apa ini!? Terlebih lagi, gadis ini maunya apa sih??? Padahal dia bilang, malam ini tidak akan mengawasi aku seperti biasa. Kalau begini sih sama saja ….

“Buru-buru? Ti-tidak juga sih. Aku tidak punya hal khusus atau jadwal padat yang menunggu. Apalagi, aku tidak ikut klub manapun saat ini.”

Dari kalimatku barusan. Apakah aku terlihat seperti orang yang mengasihani dirinya sendiri? Pasti! Saking sialnya, aku sampai kasihan dengan diriku sendiri. Tapi ya, memang seperti itu kenyataannya. Aku masih harus berusaha agar tidak berakhir menyedihkan seperti ini.

“Ka-kalau begitu … mau makan sesuatu? Ayo ke kedai. Ada satu hal yang harus aku bicarakan empat mata, denganmu.” Elizabeth melepaskan tangannya yang saat ini sedang menggenggam tas milikku. Dia pikir aku sudah mendengarkan permintaannya. Jadi saat ini, Elizabeth hanya berharap agar aku bersedia ikut dengannya.

“Apakah ini … tentang masalah pengawasan?” tanyaku singkat.

“A-ah! Iya, ini … tentang pengawasan. Haha.” Jawaban Elizabeth diakhiri dengan tawa yang tidak dibutuhkan. 

Kalau hanya itu, kenapa kau sangat gugup sejak tadi!? Yah, kalau ini terkait masalah pengawasan ya mau bagaimana lagi. Tentu saja aku harus ikut bukan. “Baiklah, ayo.” Aku menyanggupi permintaannya.

Seorang Gadis Bernama Elizabeth

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai