Who Should I Date? Chapter 7


Gadis berambut pirang dan panjang, dengan lagaknya seperti tuan putri. Dia duduk di kursi empuk yang sepertinya berperan sebagai pusat ruangan. Gadis itu menyandarkan dagunya di punggung tangan, kemudian berkata dengan tegas.

“Akihiko Hayate. Sebagai tuan putri, aku akan menjelaskan hukuman untukmu. Pertama, kau harus ditangguhkan dengan pacarmu selama satu minggu. Kemudian selama kurun waktu itu, aku akan mengawasi kalian berdua. Tentu saja, statusku selama mengawasi kalian. Aku akan berstatus sebagai pacarnya Akihiko.”

Mendengar perkataannya, membuat Bella meluapkan emosi secara spontan. Seperti, tidak perlu berpikir dulu untuk melupakan amarah di ruangan ini. Dia bisa marah karena ini memang tidak bisa diterima. Aku juga setuju dengan pemikiran Bella yang seperti itu.

“Ha! Aku ini pacarnya loh! Kenapa kau bisa seenaknya begini? Memangnya kami melakukan apa!?” Bella menunjukkan protes yang tegas ya … aku senang sih. Tapi, ini akan semakin buruk jika kita terbawa emosi. Aku menepuk bahunya pelan, memberi isyarat mata agar dia tetap tenang. Bella menurut dan kembali duduk. Meski begitu, ia masih menyimpan kesal dengan melipat kedua tangannya di dada. Pipinya menggembung, itu menggemaskan. Tapi bukan saatnya untuk terpesona. Aku bisa melihat wajah cantiknya nanti dalam berbagai ekspresi. Untuk sekarang, yang penting masalah ini selesai.

Lagian, Apa-apaan, tindakannya sedikit tidak jelas, menurutku. Apakah masalah tadi separah itu? Juga, dia ini siapa? Pengawas kedisiplinan? Kalau iya, ini sedikit masuk akal, meski dia berlebihan. Lalu akhir kalimatnya … apakah status pacar benar-benar dibutuhkan? Fungsinya apa? Dalih pengawasan dengan status pengawas sebagai pacar.

Ini juga menimbulkan pertanyaan bagiku. Kenapa sidangnya di ruang kepala sekolah? Seharusnya, jika dia memang pengawas kedisiplinan, ruangannya pasti bukan di sini. Terus kepala sekolah juga tidak ada! Kursi yang gadis pirang itu duduki, itu kursi kepala sekolah, ‘kan? Tindakannya lebih berani dari yang kuduga.

“A-anu … ka-karena kami siswa kelas satu.  Ka-kami kurang mengerti situasinya. Ini juga hari kedua kami di sekolah. Ba-bahkan, kami juga belum mengenal siapa dirimu.”

Matanya melirik tajam. Seperti, dia mendapati kata-kata yang kurang berkenan dari kalimatku barusan. Gawat, apakah aku salah bicara? Aku sudah menelaah kalimat barusan. Tapi sepertinya, itu cukup sopan. Hanya sedikit kikuk karena aku gugup. Gadis berambut pirang, dia memberikan respon ketus dan dingin.

“Dirimu? Yah, melihat tindakan kalian yang tidak sopan. Sepertinya kalian memang tidak tahu apa-apa. Sampai memanggilku tanpa sebutan hormat, kupikir kalian sudah tidak berakal. Lucy, tolong jelaskan pada mereka.”

Asisten yang ia panggil Lucy membungkukkan badan. Lagaknya seperti seorang pelayan. Tapi mengenakan seragam SMA putih abu-abu. Gadis yang dipanggil Lucy, dia memberikan hormat penuh dan kesediaan dirinya untuk menjalani perintah tuan putri. Yaitu, perintah untuk menjelaskan situasi dan identitas tuan putri. Lucy langsung memulai penjelasannya untuk kami.

“Beliau adalah Tuan Putri Elizabeth. Ketua Komite kedisiplinan. Sekaligus, beliau adalah putri kepala sekolah SMA ini, SMA Apollo. Meski beliau adalah ketua komite kedisiplinan, Nona Elizabeth tidak punya hak untuk menilai tingkat kedisiplinan seorang siswa. Beliau hanya memiliki wewenang untuk menahan siswa mencurigakan, membiarkan pilar menilainya, lalu menentukan hukuman yang pas untuk tahanan.”

Ada kejanggalan dari penjelasan itu. Aku harus segera memastikannya.

“Be-berarti. Ini tidak sah, ‘kan? Habisnya, orang yang kalian sebut sebagai pilar, mereka belum menilai kami. Lagian siapa itu pilar?” tanyaku sedikit kikuk pada mereka. Sebenarnya ini berat. Tapi jika aku tidak bicara, masalah ini akan semakin besar. Lalu karena gadis ini adalah komite kedisiplinan, pasti bisa mempengaruhi reputasi siswa terutama diriku! Bayangkan, hidup tiga tahun di SMA sebagai siswa dengan riwayat masalah. Kemungkinan mendapatkan teman, tidak akan ada. Itu pokoknya jangan sampai terjadi.

Asisten yang mendapat titah untuk bicara, dia masih Lucy sejak tadi. Gadis bersuara lembut itu menjawab, “Benar! Ini tindakan sepihak. Saya tidak bisa menerimanya.”

Itu adalah jawaban yang aneh dan membuat pembicaraan semakin runyam. Maksudku, dia ini berpihak pada Elizabeth atau siapa? Dari kalimat barusan, dia seperti menentang tindakan tuannya. Membuat Elizabeth mempertanyakan kesetiaan Lucy saat ini juga.

“Tunggu! Memangnya kau di pihak siapa!?” tanya Elizabeth lantang dan ketus. Jika Lucy memang asistennya, seharusnya, dia mendukung Elizabeth baik itu benar maupun salah.

“Tentu saja, saya di pihak Nona Elizabeth,” jawab Lucy sopan sembari membungkukkan  badan. Dia benar-benar memberikan hormat pada Elizabeth. Entah bagaimana hubungan mereka, ini membuatku merinding.

“Tapi, perkataan barusan tidak mencerminkan dirimu yang berpihak padaku.” Elizabeth membalasnya dingin. Dia sama sekali tidak melihat wajah Lucy saat bicara dengannya. Seperti, membuang muka saat bicara dengan lawan bicaranya.

“Tidak, saya sadar kalau tindakan Nona Elizabeth salah. Karena itu saya ingin mengoreksinya. Sebagai pelayan, saya tidak ingin tuan saya mengambil jalan yang salah,” jelas Lucy cukup panjang dan sopan. Dia meletakkan tangan kanannya di dada, sebagai bentuk perkataannya yang sepenuh hati dan jujur.

Pembicaraan ini jadi berat … lagian dia benar-benar pelayan ternyata! Kupikir, dia hanya bawahan gadis berandalan di sekolah ini. Eh, Elizabeth tidak terlihat seperti berandalan sih. Malah, dia ini ketua komite kedisiplinan. Statusnya tinggi dalam lapisan kasta di sekolah. Apalagi, dia ini putri kepala sekolah. Sama seperti Bella yang merupakan putri kepala kontrakan. Aku tidak bisa macam-macam dengan mereka.

“Lupakan saja! Masalah kesetiaan, bisa aku tanyakan nanti. Untuk sekarang, kita harus fokus pada hukuman dua orang ini.” Elizabeth mengubah topiknya langsung. Sambil mengernyitkan alisnya karena menahan kesal, dia melihat kami yang duduk di kursi ruangan dalam keadaan tegang. Tapi, topik itu ditentang secara langsung oleh Bella.

“Hukuman? Tapi, orang yang kalian sebut sebagai pilar belum menilai kami! Seharusnya masih terlalu cepat untuk menentukan hukuman,” protesnya diselimuti emosi sampai terbawa suasana. Posisi duduknya berubah menjadi berdiri karena terbawa kesal.

Dalam keadaan panas dan tidak bagus seperti ini, apa yang harus kulakukan? Aku bisa melihat jiwa otoriter dari gadis bernama Elizabeth itu. Juga, Bella sudah tidak bisa menahan emosi. Memangnya, kalimatku memiliki bobot untuk mengubah suasana? Kurasa tidak.

BRAK!

Pintu ruangan dibuka dari luar. Sepertinya, tenaga keras telah digunakan untuk membuka pintu itu. Sampai menggebrak dan menimbulkan suara keras. Orang yang datang, dia pasti sedang emosi.

“Pagi-pagi begini, apa yang sedang kalian ributkan sih? Aku bertanya padamu loh, Elizabeth.” Sosoknya diperlihatkan bersandar pada pintu yang masih terbuka. Tangannya terlipat di dada, seperti refleks yang alami, menjelaskan kalau dia tidak suka dengan keadaan ini.

Ekspresinya dingin, itu mengintimidasi. Kalau digambarkan, dia adalah gadis dengan seragam putih abu-abu, sama seperti kami. Menggunakan kacamata untuk penderita rabun jauh. Rambutnya hitam mulus, kemudian diikat dengan gaya kuncir ekor kuda. Terlepas dari semua itu, ada satu aksesoris yang sepertinya adalah identitas unik. Itu adalah ban lengan yang ia kenakan. Ban lengan berwarna hitam, ia kenakan di lengan kanan, kemudian bertuliskan, pilar matematika.

Tunggu, dia ini, seorang pilar? Pilar yang memiliki wewenang untuk menilai tingkat kedisiplinan siswa? Tampaknya, ini lebih seram dan unik dari yang aku pikirkan. Sulit untuk mengerti bagaimana detilnya.

Elizabeth menanggapi pertanyaannya. Pertanyaan yang menanyakan kenapa ribut sekali? Padahal masih pagi. Alih-alih menjawab dengan alasan, Elizabeth malah menanggapinya dengan tidak ramah.

“Aku sepertinya tidak ingat. Kapan aku pernah mengundang dirimu ke ruangan saklar eh, maksudku sakral seperti ini, Baragasaki?”

Tadi, dia itu salah kata, ‘kan? He … wibawanya langsung jomplang drastis tuh. Wajahnya juga merah, dia pasti sedang malu bukan main. Mendengar tanggapan dingin dari Elizabeth, gadis yang dipanggil Baragasaki, ia merespon.

“Ja-jangan panggil aku dengan sebutan Italia seperti itu! Su-sudah kubilang, ‘kan! Me-meski nama asliku adalah i-itu. Aku minta kalian untuk memanggilku Saki!” Gadis pilar yang dipanggil Baragasaki, dia nampak malu hingga wajahnya merah. Ekspresi dingin dan mengintimidasi seperti tadi, itu pergi kemana?

Masalah ini akan semakin rumit sepertinya. Jika orang yang disebut pilar sudah datang. Maka dia akan menilai kami. Bagus jika dia menilai kami tidak bersalah. Tapi jika dia, sampai menilai bahwa kami bersalah. Aku akan bernasib dengan hukuman. Selain itu, aku akan ditangguhkan dengan Bella selama satu minggu. Kemudian diawasi oleh gadis bernama Elizabeth itu!!! Parahnya lagi, status Elizabeth selama mengawasi diriku, dia akan berstatus sebagai pacarku.

Apakah ini selalu dialami oleh siswa SMA?

Baca Chapter Lainnya di bawah sini!

Who Should I Date? Chapter 6

Chapter 6


Setelah mendengar ceritanya kemarin, kupikir … Bella itu hampir sama denganku, ya? Karena aturan yang orang tuanya buat, dia jadi bermasalah dalam pertemanan. Tapi ya, setidaknya, dia masih punya teman di sekolah. Tidak sepertiku yang benar-benar sendirian dari SD dan SMP. Bahkan kehidupanku sekarang di SMA, masih belum sesuai harapan. Kupikir bisa punya teman dengan normal, siapa sangka malah jadi punya pacar.

Hela nafas, meratapi nasibku yang sepertinya berat dan panjang. Lagi, aku punya gambaran untuk keadaan saat ini. Tidak baik, apa yang menggambarkan diriku sekarang. Itu adalah tidak baik. Kalau dijadikan satu kata, memalukan. Begini kurang lebih. Saat ini, aku berangkat sekolah bersama. Tentu saja dengan Bella. Dia sudah menunggu di depan kontrakan pagi-pagi sekali. Karena alasannya yang mengatakan kalau aku adalah teman sekelas, orang tua Bella mengizinkannya, untuk bergaul denganku.

Kembali ke topik. Bella ini benar-benar menempel! Dia sangat lengket denganku sejak pagi. Bahkan bahu kami, sampai rapat saat ini. Ekspresi senyum lepas seperti itu, aku iri … andai aku bisa senyum lepas seperti itu juga. Bukan masalah aku keberatan atau apa. Tapi ini jadi pusat pehatian loh. Orang-orang melihat kita dengan berbagai macam tatapan dan ekspresi. Apakah Bella ini masih punya malu? Kupikir tidak sih. Dia berani masuk ke tempat tinggal orang lain tanpa izin. Sampai membaca novel milik tuan rumah itu pula. Yah, meski begini, aku cukup mengerti. Tentang dirinya yang kesepian dan ingin mengenalku sejak dulu.

Aku bersama Bella, kini melewati gerbang sekolah. Beberapa daun yang gugur, itu memenuhi jalan hingga nampak kotor. Ada petugas yang membersihkan daun kering itu dengan sapu lidi. Ini memang suara yang khas. Suara orang menyapu daun kering di pagi hari. Itu adalah suara yang menenangkan.

Langkah kami terhenti. Bukan tanpa alasan, tapi ada beberapa siswi yang menghadang. Dari rasa angin dan suasananya yang berat. Aku bisa menilai, ini akan jadi konflik. Siswi dengan rambut pirang yang lurus dan panjang, dia nampak berbahaya. Ekspresinya seram, tapi itu kelihatan tegas. Ada dua siswi yang mengawal dirinya di belakang. Seperti asisten, mereka mengikuti langkah gadis berambut pirang itu sejak tadi. Sorot mata tajam itu, tidak salah lagi untukku. Aku dilihat, dengan tatapan mengintimidasi. Aku tidak kuat, lebih baik alihkan pandangan. Kemudian, gadis berambut pirang berkata.

“Aku tidak bisa membiarkannya. Perbuatan tidak senonoh kalian, aku tidak bisa membiarkannya!” teriaknya lantang hingga menarik perhatian orang-orang. Siswa-siswi yang lalu-lalang di pagi hari, mereka berhenti. Seperti menonton peristiwa ini dari tempat mereka masing-masing. Suasana mendadak gaduh dipenuhi bisik-bisik kecil.

Ini adalah kehidupan masa SMA. Hari kedua bagiku yang beru menjalaninya sejak kemarin. Hari-hari yang kupikir, bisa mengalir dengan tenang dan sesuai rencana. Tapi, kenapa aku bisa berakhir seperti ini?

_______________

Gadis cantik serba putih, dia duduk di kelas dan mendengar banyak hal pagi itu. Warna putih mewakili penampilannya. Mulai dari rambutnya yang dikepang samping. Rambut itu panjang, bahkan kepangan rambutnya sampai menyentuh perut saking panjangnya. Kulitnya putih bersih, kaos kaki putih, dan sepatu putih. Juga, karena ini hari Selasa. Dia mengenakan seragam putih abu-abu. Semakin mendominasi penampilannya yang serba putih itu.

Gadis itu tidak membuka matanya. Dia membawa tongkat tunanetra yang ia pegang dengan kedua tangannya. Ya, dia adalah gadis albino yang buta. Dia tidak bisa melihat. Meski penderita albino disarankan untuk tidak ke sekolah. Dia tetap bertekad untuk sekolah. Datang sekolah saat matahari belum terbit sepenuhnya. Kemudian pulang, menunggu matahari tenggelam sepenuhnya. Karena, sinar matahari adalah musuh alami bagi penderita albino. Itu adalah caranya, bagi gadis penderita albino agar tetap bisa bersekolah.

Namun, meski dia penderita albino dan seorang tunanetra. Orang-orang nampak hormat padanya. Dia seperti dihormati akan sesuatu. Ban lengan yang ia kenakan, itu seperti harga dirinya. Ia kenakan dengan bangga dan perasaan senang. Pilar biologi, itulah yang tertulis di ban lengannya.

“Nisa, tolong bukakan jendelanya,” perintah gadis serba putih itu pada wanita yang duduk di depannya. Wanita yang dipanggil Nisa bergegas membukakan jendela untuknya sambil menjawab, “segera saya lakukan, Nona Nasya.”

Jendela terbuka, angin pagi yang sejuk dibiarkan masuk ke dalam kelas. Membuat Nisa merasa sejuk hingga mengekspresikannya dengan berkata, “udara di kelas memang cukup panas sih ….”

Tapi, gadis serba putih yang dipanggil Nasya, dia merespon kalimat itu. Dia berkata dengan mempertahankan posisi matanya yang terpejam. Membalas ekspresi Nisa dengan kalimat.

“Aku tidak peduli dengan udara. Aku hanya peduli dengan suara. Sepertinya, tuan putri kita berulah lagi pagi ini.”

“He? Suara apa?” Nisa coba untuk menajamkan pendengarannya. Dia ingin mendengar apa yang sedang Nasya dengar. Tapi dia tidak mendengar apapun. Mungkin, karena Nasya adalah tunanetra. Itu membuat indranya yang lain bekerja lebih. Lalu hal itu, terjadi pada pendengarannya. Nasya bisa mendengar lebih baik daripada orang normal. Itu adalah bayaran atas penglihatannya yang telah diambil Tuhan.

_______________

“Aku ulangi. Hentikan perbuatan tidak senonoh kalian di lingkungan sekolah!” Kalimat tegas itu terulang untukku. Sejak tadi, aku juga mendengar bisik-bisik. Tidak jelas sih, karena ini di ruangan terbuka. Aku tidak bisa mendengar bisik-bisik mereka dengan jelas. Tapi, aku bisa dengar sesuatu. Kata tuan putri. Sejak tadi, aku mendengar kata tuan putri di awal kalimat mereka yang berbisik.

“Ti-tidak senonoh? A-ah … aku paham, maaf. Aku tidak akan ulangi ini lagi.”

Aku sadar. Itu adalah peringatannya untukku dan Bella yang terlalu dekat. Mungkin sekolah ini melarang tindakan seperti tadi. Sudah kuduga akan jadi masalah … kuharap ini tidak diperpanjang.

Sambil mengucapkan kalimat minta maaf, aku menjauhkan bahu dari Bella. Membuat jarak sekitar dua jengkal, kupikir itu sudah jarak standar jika pergi bersama saat berangkat sekolah. Bella juga mengerti dengan situasinya. Dia tidak akan berbuat bodoh di situasi ini. Dia memaklumi diriku yang membuat jarak dengannya. Tapi, ini tidak sampai pada peringatan.

“Ikuti aku,” kata gadis berambut pirang yang disebut-sebut sebagai tuan putri sejak tadi. Dia berbalik arah, berjalan lebih dulu mendahului kami. Sementara dua siswi yang berstatus sebagai asistennya. Mereka menuntun kami agar berjalan mengikuti gadis itu.

Entah kemana, tapi ini. Suasana ini, seperti suasana ketika aku sedang diarak, ‘kan!!! Sepanjang perjalanan, semua orang memperhatikan kami tuh! Entah apa yang mereka pikirkan saat melihat kami. Tapi dari pandangan mereka, ini bukan hal baik. Aku juga merasa begitu. Di hari kedua aku sekolah. Aku sudah diterpa masalah seberat ini? Inilah akibatnya jika tidak memperhatikan masalah kecil.

Ruang kepala sekolah, kami tiba di ruang sakral ini. Gi-gila … aku langsung dibawa ke ruang kepala sekolah. Ini akan jadi masalah besar sepertinya.

Salah satu asisten gadis berambut pirang, dia membukakan pintu. Membiarkan tuannya masuk, beserta kami, dua tahanan yang menjadi sumber masalah pagi ini. Meski aku tidak menimbulkan masalah besar sih. Pintu itu ditutup kembali. Kami berlima duduk di dalam ruang kepala sekolah. Kemudian, gadis berambut pirang. Dia duduk di kursi utama. Kursi yang berhadapan dengan meja kerja. Kursi empuk yang menjadi pusat ruangan. Sembari duduk, dia mulai membuka pembicaraan.

“Akihiko Hayate. Sebagai tuan putri, aku akan menjelaskan hukuman untukmu. Pertama, kau harus ditangguhkan dengan pacarmu selama satu minggu. Kemudian selama kurun waktu itu, aku akan mengawasi kalian berdua. Tentu saja, statusku selama mengawasi kalian. Aku akan berstatus sebagai pacarnya Akihiko.”

Ha? Aku kurang mengerti situasinya. Tapi ini, lumayan merepotkan ….

Who Should I Date? Chapter 5

Chapter 5


“Kalau tidak salah, kau pindah ke sini saat SMP, ya? Sebagai anak dari pemilik kontrakan ini. Wajar kalau aku tahu bukan? Tentang kedatangan dirimu. Ayahku juga membicarakannya berkali-kali. Ada anak laki-laki yang menyewa kontrakan. Dia anak SMP, mana mungkin punya penghasilan. Lalu bagaimana mau bayar sewa? Aku yakin, dia hanya sanggup satu bulan tinggal di sini. Itu kata ayahku.”

Bella membuka topik. Selain itu, karena sejak dulu aku sendiri. Aku tidak pernah memperhatikan sekitar. Padahal, rumah pemilik kontrakan ini sangat dekat. Tapi aku benar-benar tidak pernah melihat Bella. Mungkin karena aku tidak pernah keluar dari ruangan. Pagi aku sekolah, pulang sore langsung ke rumah. Lalu dari sore sampai pagi, aku menghabiskan waktu di dalam. Tidak pernah keluar. Mungkin karena itu, aku jadi tidak pernah melihat Bella.

“Jadi dengan kata lain, kau sudah memperhatikan aku sejak dulu? Me-meski begitu. Ka-kalau kutanya. Tentang apa yang menarik dari diriku. Apakah kau akan menjawab?”

Bella menggeleng, matanya terpejam. Dia sepertinya merasa nyaman dan akan segera memberitahukan itu. Tapi perlahan, dia akan menjelaskannya padaku secara perlahan. Dimulai dengan kalimat pembuka yang lembut.

“Sejak dulu, aku juga kesepian. Agak memalukan saat aku menceritakan ini. Tapi aku, ingin bercerita. Aku ingin mencurahkan perasaanku pada orang lain. Tapi aku tidak memiliki teman. Karena itu, aku tidak pernah mengekspresikan perasaan pada orang lain. Aku selalu memendamnya sendiri. Singkatnya sejak dulu, aku selalu ingin. Punya teman curhat untuk berbincang.”

Se-serius? Gadis cantik sepertinya tidak punya teman. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku penasaran, kalimat barusan membuatku penasaran. Tapi jika aku tanya lebih lanjut, apakah itu sopan? Maksudku, aku takut jika itu akan mengorek luka lama. Tapi katanya. Dia ingin punya teman untuk curhat. Dia selalu menginginkannya sejak dulu. Karena itu, jika aku jadi pendengar keluh kesahnya saat ini. Apakah dia akan senang? Aku harus pastikan.

“K-kalau begitu. Kau bisa menceritakannya, padaku. Kalau mau sih. Bu-bukan berarti aku ingin dengar ceritamu! Ha-hanya saja, kau butuh teman curhat, ‘kan? Karena aku sedang santai, aku akan dengarkan. Sekarang cerita, aku akan dengarkan. La-lalu … untuk selanjutnya ….” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu!!! Kalau kukatakan, niatku yang sebenarnya akan ketahuan. Tapi bagaimana? Ini kesempatan emas. Mungkin saja, ini bisa jadi titik balik dalam hidupku yang selalu sepi dan suram.

“Untuk selanjutnya?” tanya Bella atas kalimat yang belum selesai barusan. Wajar saja dia penasaran sih … kalimatnya tanggung, ‘kan! Tapi, karena sudah di titik ini, aku tidak akan mundur! Aku akan selesaikan kalimat barusan.

“Untuk selanjutnya, kau yang dengarkan ceritaku, ya?”

AKU MENGATAKANNYA. Jika setelah ini aku mati, setidaknya. Aku sudah melakukan perubahan besar dalam hidupku. Aku sudah tidak memiliki penyesalan, jika harus mati sekarang.

Tapi sebelum itu, lihat ekspresi Bella saat ini. Dia tercengang. Sudah kuduga, kalimat barusan memang tidak bisa diterima, ya? Aku terlalu banyak permintaan sebagai seorang pacar. Tapi ya, aku mengharapkannya. Bisa bercerita lepas dengan orang lain. Aku juga, selalu menginginkan itu.

Bella tercengang untuk beberapa saat. Lalu, telapak tangannya yang putih, itu menutupi bibir. Dia sedang menahan tawa agar tidak terlalu keras. Apakah perkataan barusan lucu?

Tunggu, dia tidak tertawa. Meski sedikit, aku bisa melihat air matanya membasahi pelipis mata. Getaran di punggungnya, apakah dia sedang sesak? Dia menangis? Tapi, kenapa? Selain itu, dia nampak menahannya. Dia tidak ingin air mata mengalir hingga pipinya basah.

“B-Bella, apakah kau menangis?”

Menanggapi itu, Bella hanya menggeleng. Dia mengusap pelipis matanya agar titik-titik air terhapus. Matanya memang berkaca-kaca, bersinar memantulkan cahaya lampu. Tapi, titik-titik air mata yang hampir mengalir, itu semua sudah hilang. Bella sudah menghapusnya.

“Tidak, aku tertawa,” jawab Bella sambil menghapus titik-titik air di sekitar matanya. Tidak sempat mengalir, air mata itu sudah kering. Dia menarik nafas dalam, lalu membuangnya dengan lega. Akibat nafas barusan, rasa sesak di dadanya, itu sudah menghilang. Bella merasa baikan dibanding tadi.

Jelas sekali dia menangis, ‘kan? Barusan. Mungkin dia sedang berusaha menutupinya. Aku juga tidak berhak, untuk tahu lebih lanjut. Sebaiknya lupakan saja. Setelah dirasa baik-baik saja, Bella berkata lagi.

“Sekarang dengarkan ceritaku, ya? Lain kali, aku akan mendengarkan ceritamu,” katanya dihias senyum cantik nan manis. Juga, itu tidak bagus untuk jantung. Jujur saja, melihat senyuman itu berulang kali, membuat jantungku berdegup kencang. Aku sampai khawatir, kalau jantungku berhenti mendadak.

“Ya, aku akan berusaha. Aku akan berusaha untuk jadi pendengar yang baik.” Mungkin, ini adalah pertama kalinya. Ketika aku tidak merasa berat untuk berbicara.

Lalu sekarang, Bella memulai ceritanya. Cerita panjang yang menjadi pengalaman buruk baginya. Cerita yang selalu ia pendam sejak dulu. Dengan harapan, dia bisa menceritakan ini suatu hari nanti. Siapa sangka, setelah memendam cerita ini sejak lama, dia bisa menceritakan itu pada akhirnya.

__________

[Sudut Pandang Bella]

Orang tuaku, sejak dulu mereka selalu membatasi tindakanku. Aku dilarang bergaul dengan masyarakat. Aku tidak boleh mengakrabkan diri dengan masyarakat. Lalu untuk mempertahankan aturan itu. Mereka membuat rumah di sini. Di dekat kawasan kontrakan mereka. Menjauh dari masyarakat, tinggal di daerah yang tidak terlalu banyak orang.

Kau sendiri juga bisa paham bukan? Siapa sih, yang tinggal di kontrakan satu kamar. Mahasiswa, orang merantau, atau pegawai yang jauh dari rumah. Siapapun itu, tidak mungkin ada anak-anak seumuran yang tinggal di kontrakan. Orang berkeluarga, mustahil tinggal di kontrakan satu kamar. Karena itu di kawasan ini. Di kawasan kontrakan kedua orang tuaku. Sama sekali tidak anak-anak. Tidak ada anak yang seumuran denganku. Hasilnya, aku tidak punya teman di sekitar rumah. Semua berjalan sesuai rencana mereka. Aku tidak punya teman.

Tapi ya, terlepas dari itu. Mereka mengizinkanku untuk bergaul di sekolah. Dengan syarat, aku tidak boleh membawa teman ke rumah. Itu lumayan sih. Aku jadi memiliki beberapa teman. Tapi, sekolah itu tidak berlangsung terus. Saat sore aku pulang. Lalu di rumah? Aku sendirian lagi. Aku hanya bisa berteman di sekolah. Belum lagi, menikmati hari libur sendirian. Itu parah, itu terburuk yang pernah ada.

Lulus SD, tentu saja aku dan temanku berpencar. Kami berpisah, masuk ke SMP pilihan kami masing-masing. Kemudian aku, mendapatkan teman baru di SMP. Tapi, setelah mengalami perpisahan itu, aku sadar. Teman SMP ini hanya tiga tahun. Aku akan lulus, aku akan berpisah dengan mereka suatu hari nanti. Lalu saat kembali ke rumah? Aku akan sendirian lagi.

Aku juga sempat berpikir. Jika aku sudah lulus sekolah, teman-temanku, semuanya berpisah. Tidak ada yang selalu bertemu setiap saat sampai dewasa. Sekalinya ada, hanya ketika momen reuni. Dengan kata lain teman sekolah, itu hanya sementara. Teman sebenarnya, yang bisa bersamamu sampai dewasa. Itu adalah teman dalam masyarakat. Temanmu di sekitar rumah. Teman yang selalu dekat, dan bersamamu sampai dewasa kelak. Tapi lagi-lagi, memangnya aku bisa apa? Ini adalah aturan yang orang tuaku buat. Aku tidak bisa membantah.

Lalu kau datang. Saat SMP, adalah saat ketika aku pertama kali melihatmu. Kau datang, sendirian, menyewa kontrakan pada ayahku. Kau bilang membawa semua tabungan untuk menyewa kontrakan. Untung saja itu cukup, meski hanya untuk sebulan. Kemudian kau tinggal di kontrakan ini. Ayahku memang meragukan tentang berapa lama kau sanggup tinggal di sini. Tapi untungnya, kau tidak memikirkan itu.

Saat itu juga. Pertama kalinya dalam hidupku. Aku melihat anak yang seumuran denganku. Aku ingin berteman denganmu. Aku ingin bermain bersamamu. Siapa namamu? Aku ingin berkenalan. Tapi ayah dan ibu, mereka sadar. Mereka sadar kalau aku mulai berpikir untuk berteman denganmu. Mereka juga sempat berpikir untuk mengusir dirimu. Karena itu aku diam. Aku akan menunggu saat yang tepat. Saat terbaik untuk bisa berbicara denganmu. Karena aku, tidak ingin kehilangan orang yang bisa menjadi temanku.

Saat kau pergi ke sekolah, aku mengikuti. Aku jadi tahu sekolahmu saat SMP. Kemudian aku bertanya pada guru di sana, kemana kau akan melanjutkan pendidikan? Mereka juga memberitahunya, tentang SMA tujuanmu. Karena itu aku masuk ke SMA yang sama. Siapa sangka, kita bisa sekelas. Mungkin ini takdir.

Aku ingin langsung berkenalan denganmu. Aku ingin langsung berteman denganmu. Tapi kurasa, itu kurang mengikat. Kau bisa berteman dengan siapa saja. Kau tidak harus berteman dengan satu orang. Lalu aku terpikirkan ini.

Kau hanya bisa memacari satu gadis.

Jika aku menjadi pacarmu. Aku akan menjadi milikmu. Kau juga akan menjadi milikku. Dengan kata lain, hubungan pacar itu mengikat. Aku bisa memilikimu, dan meminimalisir kemungkinan jika kau menjauh dariku. Menyadari itu, aku bertindak cepat.

Meski ini hari pertama sekolah, kau sudah cukup menarik perhatian banyak gadis. Kau cukup tampan. Jika lambat maka aku akan tertinggal. Kau akan diambil. Aku tidak mau itu. Akhirnya aku putuskan. Untuk menjadikanmu sebagai pacarku, hari ini juga. Harus hari ini. Karena aku khawatir. Jika kau akan berpacaran dengan gadis lain. Begitulah, alasannya. Kau penasaran bukan? Tentang kenapa aku bisa tertarik denganmu? Itu jawabanku.

Aku senang. Karena akhirnya, aku bisa memilikimu.

Who Should I Date? Chapter 4

Chapter 4


Aku bersama Bella duduk di ruang utama. Menggelar meja lipat, meletakkan berbagai makanan di atasnya. Ini semua adalah masakan Bella. Ya, sekarang dia adalah pacarku sih. Deklarasi perjanjian kami yang resmi berpacaran, itu baru saja terjadi. Benar-benar tadi, belum ada satu jam sejak itu.

Makanan hangat yang masih beruap, aromanya harum dan menggugah. Ini jauh lebih baik dari mie instan atau makanan kaleng. Tidak bisa dibandingkan malah. Ini benar-benar spesial. Kapan ya, terakhir kalinya ketika aku memakan masakan orang lain. Terlebih lagi, masakan yang dibuatkan khusus untukku. Aku sudah lupa. Saat di rumah, ibuku kerjanya hanya bertengkar dengan ayah. Selebihnya, dia di luar rumah. Ayah juga sama saja. Jadi ya, mungkin saja, ini pertama kalinya bagiku.

Aku terlalu lama termenung. Bella sudah menunggu dan merasa tidak enak. Dia bertanya sambil menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.

“Ada apa? Kau tidak makan? Jangan-jangan, kau tidak suka ya?” Dia nampak panik.

“Ehm, tidak. A-aku hanya memikirkan beberapa hal. Baunya sangat nikmat, bo-boleh aku makan?” Tetap saja aku merasa tidak enak untuk memakannya. Sungkan, malu, dan tidak terbiasa. Semua perasaan itu membuat mulutku terasa berat. Tidak bisa lepas ekspresi dan makan dengan santai.

“Ha? Tentu saja! Memangnya untuk siapa aku masak semua ini. Makan sampai kenyang! Kalau sisa, aku akan menyita ponselmu.”

Tidak, memangnya kau ibuku apa? Tapi ya, setidaknya, aku akan makan ini. Aromanya enak, lalu rasanya pasti ….

“E-enak. Ka-kau cukup pandai, kurasa.” Aku tidak bisa memuji dia sepenuhnya. Ini masakan yang hebat. Tidak, mungkin ini masakan standar. Tapi cita rasa seperti ini, aku baru mencobanya. Seorang anak yang biasanya hanya makan mie instan atau makanan kaleng. Terkadang aku makan nasi padang sih. Tapi kali ini, aku memakan masakan yang dibuatkan khusus untukku. Ini membuatku tersentuh.

“Apaan, kau nampak berat memujiku ya? Terserah, yang penting itu enak, ‘kan?” Makan siang enak, ditemani gadis cantik seperti dia. Aku tidak pernah membayangkannya, bisa ada di posisi seperti ini.

“Terima kasih.”

“Ha? Oh, sama-sama. Jangan sungkan seperti itu, ya? Kau pacarku sekarang. Mulai saat ini, kita harus akrab,” katanya tersenyum sambil bersandar ke meja lipat.

Itu mengandung serangan untuk jantung. Senyum manis seperti itu tidak baik untuk jantung. Kalau berdegup terlalu kencang, jantungku bisa berhenti berfungsi, ‘kan!

“A-ah, aku akan mencobanya. Agar bisa lebih akrab denganmu.” Abaikan saja untuk saat ini. Lebih baik, aku habiskan makanan enak ini dulu. Baru lanjut bicara.

“Ah aku lupa! Kau makan siang saat masih pakai seragam. Itu tidak boleh loh. Sekarang, lepas pakaiannya. Ganti dengan baju rumah.”

“Ha? Ha!!! M-maksudnya. Aku harus melepaskan pakaian ini, di depanmu, sekarang?” Mana bisa begitulah! Itu memalukan dan tidak senonoh, ‘kan!

“Memang mau di mana lagi? Kamarnya cuma satu. Lagian, tidak perlu malu begitu. Kau pakai baju dalam, ‘kan? Padahal mulai sekarang kita tinggal serumah. Tapi kenapa masih malu-malu begitu.”

Aku pakai sih, kaos hitam untuk pakaian dalam. Celana pendek juga. Tapi tetap saja aku tidak biasa! Tunggu, bukan itu masalahnya!!! Tinggal serumah??? Apa maksudnya?

“Ti-tinggal serumah? Apa maksudnya? Kau tidak serius, ‘kan? Soal ini.” Ini harus dipastikan. Aku tidak salah dengar. Dia bilang begitu. Tinggal serumah antara laki-laki dan gadis muda yang berpacaran. Ini bisa jadi masalah!!!

“Tidak, mana mungkin juga bisa begitu. Aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius dengan candaan, ya?” Meski dia bilang itu hanya candaan, perkataannya sangat serius tadi. Selain itu ekspresinya sekarang, dia seperti meledekku.

Tapi untungnya, itu hanya candaan. Kupikir dia akan benar-benar tinggal di sini, sih. Tapi itu sepertinya bagus juga. Kalau dia tinggal di sini.

“Kenapa? Wajahmu nampak kecewa.” Bella bertanya sambil mendekatkan wajahnya ke arahku. Itu tidak baik untuk jantung. Wajahmu terlalu dekat!

“Ti-tidak! Lagian, ke-kecewa karena apa? Haha. Tolong jauhkan wajahmu, itu terlalu dekat dengan wajahku.” Aku sedikit mundur dan memalingkan wajah. Terlalu dekat jika aku balas tatapannya. Entah aku masih bisa bernafas atau tidak jika melihat wajahnya sedekat ini.

“Tapi, hanya dalam jarak ini aku bisa mencium wangi pacarku,” katanya dengan nada bicara seksi. Bisakah kau berkata dengan normal? Kumohon jangan buat jantungku berhenti lebih cepat. Aku masih ingin hidup saat ini.

JELAS SEKALI DIA SEDANG MENGGODAKU!

“To-tolong jangan menggodaku. A-aku sedang ingin makan sekarang.” Aku langsung memenuhi mulutku dengan makanan. Mengabaikan godaan yang sedang Bella lancarkan, tapi perhatianku tidak bisa pindah seutuhnya. Aku masih penasaran, aku ingin melihat wajahnya dari sini. Karena itu aku sedikit melirik. Bella kembali duduk seperti biasa. Dia menjauhkan wajahnya dari wajahku, kemudian berkata.

“Ahaha maaf. Habisnya ekspresi pacarku imut sih. Aku jadi ingin melihatnya dari dekat.” Kenapa sejak tadi dia memanggilku dengan sebutan pacar? Tidak bisa panggil nama saja? Seperti biasanya, seperti panggilan normal.

“Pa-panggil Akihiko saja. Te-terlalu memalukan. Kau memanggilku dengan sebutan pacar sejak tadi.”

“Habisnya ‘kan. Kupikir, kita akan punya panggilan sayang. Sayang sekali karena tidak ada panggilan sayang.”

Tidak! Aku tidak ingin melakukan hal memalukan seperti itu. Kumohon, biarkan aku makan dengan tenang ….

___________

Suasana tenang, kali ini cukup kondusif. Aku sudah menghabiskan makanan di meja. Masakan buatan Bella, itu enak. Tapi aku terlalu malu untuk memujinya. Lalu saat ini, dia sedang membaca novel di meja belajarku. Yah, itu lebih baik daripada dia terus menggodaku. Itu novel tulisanku sih. Tidak mungkin aku beritahukan yang sebenarnya. Bayangkan saja aku beritahu, lalu dia menyebarkannya ke teman sekelas. Kabarnya akan cepat meluas. Hidup dengan popularitas dan suasana ramai, aku kurang suka.

Oh iya ngomong-ngomong, aku masih belum tahu, ‘kan? Kenapa Bella sangat ingin menjadi pacarku? Ini tidak jelas. Kami baru saja bertemu tadi pagi. Lalu siapa sangka, siangnya kami pacaran. Aku juga tidak menduga kalau dia anak pemilik kontrakan. Dia jadi bisa masuk ke tempatku dengan mudah.

“Be-Bella, mungkin terlambat menanyakan ini. Ta-tapi kenapa, kau ingin jadi pacarku? M-maksudku, ini tidak logis, ‘kan! Ini hari pertama kita bertemu. Kita juga belum sehari kenal. Ma-makanya aku penasaran.”

Sepertinya, hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupku, ya. Aku bicara pada orang lain beberapa kali. Aku juga bertanya pada orang lain beberapa kali. Sebelumnya, aku saja tidak pernah bertemu orang lain. Apalagi bicara atau bertanya.

“Aku selalu memperhatikanmu loh,” kata Bella sambil membaca. Meski dia mengatakan itu, fokus matanya menyorot novel yang tengah ia baca.

Ha? Memperhatikanku?

“Kalau tidak salah, kau pindah ke sini saat SMP, ya? Sebagai anak dari pemilik kontrakan ini. Wajar saja aku tahu bukan? Tentang kedatangan dirimu. Ayahku juga membicarakannya berkali-kali. Ada anak laki-laki yang menyewa kontrakan. Dia anak SMP, mana mungkin punya penghasilan. Lalu bagaimana mau bayar sewa? Aku yakin, dia hanya sanggup satu bulan tinggal di sini. Itu kata ayahku.”

Aku yang memperhatikan dirimu sejak dulu, lebih dari siapapun.

[SEORANG GADIS BERNAMA BELLA]

Who Should I Date? Chapter 3

Chapter 3


Hari pertama sekolah, selesai begitu saja. Dari dulu juga begitu sih … setiap hari pertama, sekolah akan selesai dengan cepat. Bahkan saat ini baru jam 10 pagi. Pulang cepat juga mau apa??? Aku tinggal di rumah sendiri. Main game atau baca buku? Sedang tidak mau. Mungkin belanja saja kah? Persediaan makanan, kalau tidak salah menipis nih. Oke, belanja saja!!!

Oiya mengenai orang tua, mereka sudah lama bercerai. Tepatnya saat aku SMP kelas satu. Masalah apa yang membuat mereka cerai, aku tidak terlalu paham. Tidak tertarik untuk mengerti juga sih. Pokoknya, saat mereka sibuk di pengadilan. Mereka juga membahas, akan ikut siapa aku? Aku anak mereka satu-satunya. Jelas sekali kalau aku diperebutkan. Lalu karena malas dengan mereka, aku mengatakan ini.

“Aku tidak mau bersama keduanya. Aku mau tinggal sendiri.”

Anak SMP yang tidak berpenghasilan, memilih hidup sendiri dan memisahkan dirinya dari orang tua. Yap, itulah aku. Untuk apa juga, ‘kan? Tinggal bersama orang tua yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga. Awalnya memang sulit sih, hanya mengandalkan tabungan. Ayahku memberi uang saku setiap bulan, tapi aku tolak. Aku tidak sudi juga, menggunakan uang dari dia. Kemudian aku menghilang. Memutuskan komunikasi dari mereka.

Sambil menjalani hari-hariku yang sulit, aku menulis novel. Ada platform menulis yang bisa aku unggah secara online. Itu cukup menghibur. Aku menulis apa yang aku pikiran, kemudian aku unggah. Siapa sangka ceritanya bisa ramai, bahkan sampai dipinang penerbit terkenal. Yah, berkat itu juga, aku jadi punya penghasilan. Meski tidak banyak sih. Sekitar sembilan juta per bulan. Tapi sebagai gantinya, aku harus menulis satu novel setiap tiga bulan. Itu adalah ketentuan penerbit.

Aku juga masih bingung, kenapa mereka selalu menunggu cerita dariku? Padahal, penerbit bisa meminang banyak cerita dari penulis lain, ‘kan? Tapi mereka malah membuat kontrak denganku. Isi kontraknya, aku harus menulis satu novel setiap tiga bulan. Meski aku bersyukur, itu tetap saja aneh. Maksudku, novel tulisanku sebagus itu? Semoga saja. Itu sumber penghasilanku satu-satunya ….

Juga, dalam dunia tulisan. Aku tidak menggunakan nama asli. Demi menghindari popularitas, aku menggunakan nama samaran. Bisa bahaya kalau orang tuaku tahu anaknya menulis novel. Bisa saja, mereka mencari ku, ‘kan! Aku tidak mau … berurusan lagi dengan mereka. Oh iya nama samarannya …. Aksen! Itu nama yang aku gunakan dalam dunia penulis. Jadi ya, nama yang tertulis di bagian penulis. Adalah nama Aksen, bukan Akihiko.

.
.
.

Lah kok monolog sendiri lagi? Ini sudah jadi kebiasaan tanpa sadar, ya? Saat melamun, aku memikirkan banyak hal. Tanpa sadar, aku bermonolog sendiri di dalam pikiran. Perasaan ini, sebenarnya aku kesepian. Tapi tenang saja! Hari ini aku sudah dapat teman pertama! Namanya Karsa. Mungkin dengan dia, rencana berteman akan lancar.

Aku sampai. Aku telah tiba di supermarket. Sekarang saatnya belanja bahan makanan. Meski dibilang bahan, mungkin aku akan beli mie instan atau makanan kaleng lagi. Aku tidak bisa memasak sih. Suatu saat kalau libur, aku akan belajar masak. Hidup sehat juga penting, ‘kan? Tidak, itu penting banget malah.

__________


Aku di antara rak tinggi yang penuh dengan barang. Ini adalah bagian dalam supermarket. Sejuk, ramai, dan musik klasik. Aku mengambil beberapa mie instan, memasukkannya ke dalam keranjang. Hanya beberapa rasa yang aku suka sih. Seperti ayam bawang, original, atau kari ayam. Berpindah, aku mengambil makanan kaleng seperti sarden, kornet, dan ayam kaleng.

Karena sudah ada di sini, sekalian belanja apa ya? Alat mandi juga masih banyak. Deterjen? Sepertinya masih ada sih … mungkin segini saja, ya? Aku rasa ini sudah cukup. Sekarang, ayo ke kasir dan pulang. Aku akan beli nasi padang untuk makan siang kali ini.

_________

Aku pulang … ke rumah, eh ini kontrakan sih. Kontrakan yang isinya, hanya terdiri dari tiga ruang. Kamar utama, kamar mandi, dan dapur. Sebagian besar aktivitas, semuanya aku lakukan di ruang utama. Membaca, menulis, belajar, main game, tidur, makan, dan lainnya, semua kulakukan di ruang utama. Tapi ya karena sendirian, aku tidak merasa kesempitan. Ini cukup luas, meski hanya ada satu kamar utama.

Kunci, aku mengambilnya di tas. Kemudian memasukkannya ke lubang kunci, eh? Pintunya tidak terkunci? Ketika aku hendak memutar kuncinya untuk membuka, itu tidak bisa. Pintu ini sudah terbuka. Ada apa? Apakah aku lupa mengunci pintu? Tidak, aku ingat pasti kalau sudah mengunci pintu ini. Kalau begitu, maling? Perampokan? Bahaya!

Aku langsung membukanya dengan keras. Tidak sadar, pintu ini menggebrak tembok hingga menimbulkan suara keras. Orang yang ada di dalamnya kaget, dia terkejut.

Perempuan, rambut hitam panjang, mengenakan seragam yang sama denganku? Cantik! Tunggu, dia ini, Bella? Jelas, aku ingat wajahnya 100%. Dia adalah Bella. Gadis ini adalah Bella. Dia duduk di meja belajar milikku. Nampak sedang membuka buku dan membacanya. Sebentar, itu novel tulisanku! Dia membacanya!!!

Lah, bukan itu masalahnya! Kenapa dia ada di dalam kontrakan ku? Kenapa dia bisa membuka pintu kontrakan ku? Kenapa dia bisa tahu kontrakan ku? Sedang apa dia di sini? Itu adalah masalah sebenarnya!

Ketika aku panik dan memikirkan banyak hal seperti ini. Bella malah menyapa dengan santai. Senyumnya cantik, tapi itu hanya senjata. Dia menjual senyumnya agar aku tidak marah. Itu manjur! Aku hampir luluh saat melihat senyuman manis itu.

“Yo, Akihiko. Numpang baca novel milikmu, ya?” katanya santai, tersenyum, kemudian membaca novel itu lagi. Sebentar, dia belum sadar kalau itu tulisanku. Untung saja aku menggunakan nama samaran.

“Se-sedang apa kau di sini? Ke-kenapa kau bisa tahu tempat tinggal ku?” Meski aku banyak pertanyaan di kepala, hanya itu yang bisa terucap. Semua akan terasa berat ketika aku harus mengucapkan sesuatu.

“Ah, aku anak pemilik kontrakan ini. Jadi aku punya kunci umumnya. Nanti lagi ya, aku sedang baca novel. Ini lagi seru-serunya.”

Memangnya dengan siapa dirimu bicara!!! Aku tuan rumah kontrakan ini loh. Dasar gadis tidak tahu diri. Tapi aku tidak menduganya sih, kalau dia anak kepala kontrakan ini. Aku jadi tidak bisa macam-macam ….

Sebentar, ini wangi. Aku mencium wangi masakan yang sangat harum. Sangat harum, berbumbu, dan menggugah selera. Terlebih lagi, wangi harum ini dari dapurku.

“Kau memasak sesuatu?” Aku bertanya padanya sambil masuk. Tidak lupa, aku membiarkan pintu kontrakan terbuka. Kalau tidak salah di Indonesia, berduaan dengan gadis di ruang tertutup. Itu bisa menimbulkan masalah. Karena itu aku membiarkan pintunya terbuka.

Nasi padang yang aku beli, aku meletakkannya di lantai begitu saja. Kemudian Bella menjawab, “Ah, isi kulkasnya hanya makanan kaleng sih. Rak makanannya, hanya ada mie instan. Jadi aku bawa bahan makanan dari rumah. Kemudian memasaknya di sini. Oiya, aku sedang masak sayur sup ayam. Hanya makanan sederhana sih, habis waktunya sedikit. Lain kali, aku akan masak yang lain.”

Tunggu, mungkinkah dia, sengaja memasak di rumahku?

“K-kau, kenapa melakukan ini?” Antara senang, aku berharap boleh mencicipi masakan itu. Tapi tidak cukup berani untuk meminta. Mudahnya, aku merasa sungkan. Aku canggung, suasana ini asing. Aku tidak terbiasa.

“Sudah kubilang, ‘kan? Aku tidak akan menyerah untuk jadi pacarmu. Bisa dibilang ini kampanye. Kalau aku jadi pacarmu. Aku akan membuatkan sarapan setiap pagi. Aku akan membuatkan bekal setiap hari. Aku juga akan menyiapkan makan malam untuk kita. Yang paling penting, kau tidak akan sendiri lagi. Aku akan hidup bersamamu. Apakah kau tidak menginginkannya? Kehidupan seperti itu.”

.
.
.

Itu menggiurkan.


Aku yang sejak lama hidup sendiri, ingin merasakan kehidupan seperti itu. Aku tidak punya ibu yang membangunkan diriku setiap pagi. Sarapan aku buat sendiri. Tidak pernah membawa bekal. Makan malam sendiri dalam sunyi. Mendengar semua kampanye barusan, itu membuatku tergiur.

Tapi, apa tidak apa? Apakah ini boleh? Aku tidak pernah berpengalaman soal pacar. Jangankan pacar. Berteman saja, aku kesulitan sampai sekarang. Tapi kalau memang seperti ini, aku ingin punya pacar. Jika itu bisa membuat hidupku terbebas dari kesepian. Aku menginginkannya.

“Tidak mau, ya? Yah, aku belum menyerah sih. Aku akan nyatakan perasaanku lagi besok. Tapi untuk sekarang, biarkan aku baca novel ini sampai tamat.” Bella mengatakan itu. Dia sama sekali tidak menyerah. Meski aku menolaknya lagi besok dan lusa. Atau bahkan seterusnya. Apakah dia akan menyerah? Kurasa tidak. Karena itu sudah aku putuskan. Demi kehidupanku yang lebih cerah selanjutnya! Aku akan ….

“Ah berisik. Iya deh, iya! Mulai sekarang kita pacaran. Jadi mulai besok, buatlah hidupku bebas dari kesepian. Jangan biarkan aku sendiri. Jangan biarkan aku kesepian. Aku menantikan kerjasama denganmu loh, Bella. Meski kau adalah pacarku sih, untuk sekarang.”

Aku Mengatakannya!!! Ini kelewatan. Aku tidak boleh begini. Tapi aku benar-benar bablas tadi. Aku tidak tahan lagi, jika harus meneruskan kehidupan yang sepi seperti ini. Kupikir, mencoba itu tidak ada salahnya, ‘kan?

Bella diam sejenak, berdiri, dia meninggalkan novelnya. Menghadap ke arahku, kemudian dia berkata dengan senyum manis. Hei, senyuman seperti itu tidak sehat loh. Maksudku, senyum manis seperti itu, tidak baik untuk jantung.

“Mulai sekarang, aku akan melayani dirimu, pacarku,” kata Bella sambil menyelipkan rambut hitamnya ke belakang telinga. Dia mempesona! Apakah dia sangat mengerti tentang bagaimana terlihat cantik? Kuharap jantungku bisa kuat, untuk melihat senyuman itu setiap hari.

“A-aku tidak butuh pelayanan! Cu-cukup temani aku setiap hari. Itu sudah cukup. Ah sudah, a-aku lapar. Kau masak sesuatu, ‘kan?” Saking malunya saat melihat pesona itu, aku membuang muka. Memalingkan pandangan ke arah tembok. Mengatur nafas agar tidak terlalu sesak karena jantung yang berdegup kencang.

“Padahal malu-malu, tapi kau cukup berani ya.” Kalimat itu ditutup tawa kecil yang menyudutkan. Bella sedang meledekku saat ini. Memalukan, tapi mau bagaimana lagi!? Aku sangat tidak sabar. Memakan masakan yang dibuat khusus untukku. Kapan terakhir kali aku merasakan itu?

Hari itu, aku punya pacar. Namanya Bella.

SEORANG GADIS BERNAMA BELLA

Who Should I Date? Chapter 2

Chapter 2

“Ha? Jadi pacarku?”

Bingung, gugup, meledak. Aku memang bermasalah sejak awal. Aku tidak bisa memperkenalkan diri dengan lancar di kelas. Kemudian aku berpura-pura sakit agar bisa berbaring di UKS. Saat di UKS, gadis cantik luar biasa datang dan menawarkan bantuan. Ketika kupikir bantuan apa yang cocok untukku. Mungkin, jika dia mau menjadi temanku. Itu akan sangat membantu. Karena sejak awal, masalah yang menggangguku, adalah masalah pertemanan. Tapi dia menolak. Dia menolak untuk menjadi temanku. Gadis ini, dia lebih rela jika dirinya menjadi pacarku.

“Ya, jadikan aku pacarmu. Dengan begitu aku, akan mengisi hari-harimu yang sepi. Aku akan membuat hari-harimu menjadi menyenangkan. Aku juga bisa membantumu dalam berbagai masalah. Karena itu, jadikan aku pacarmu.”

“Me-meski dibilang begitu … pacaran harus atas dasar suka sama suka, loh. Me-memangnya. Ka-kau, suka? Denganku.”

“Suka!”

Dia menjawabnya dengan keyakinan … raut wajahnya juga serius. Tapi, ini pertama kalinya bagi kami bertemu. Meskipun aku pernah dengar. Tentang cinta pada pandangan pertama. Ini terlalu cepat, ‘kan?

“Bagaimana? Apakah kau mau jadi pacarku?” Gadis ini masih mengusahakannya … dia tampak tidak ingin menyerah. Aku harus apa? Aku tidak mempersiapkan apapun soal ini. Aku hanya melakukan riset soal perkenalan. Tidak mencari tahu soal pernyataan cinta atau cara menolaknya. Apakah aku tolak saja? Lagipula, masalah utamaku adalah teman. Aku butuh teman. Bukan pacar. Jadi sepertinya, lebih baik jika aku tolak.

“Tidak. Lagian, aku sudah baik-baik saja. Aku akan kembali ke kelas.”

Beranjak bangun, merapikan kasur, lalu keluar dari UKS. Meninggalkan gadis bernama Bella begitu saja. Sebenarnya, aku hanya sedang lari. Kedua kalinya di hari pertama sekolah, aku lari dari masalah. Yah, mungkin perkenalannya sudah selesai. Aku harus cari kesempatan lain untuk mendapatkan teman.

Aku tiba di kelas. Langsung pergi ke bagian belakang, menuju tempat duduk yang posisinya di ujung kanan. Kursi paling belakang dan paling pojok … entah kenapa aku memilih kursi ini.

“Akihiko!” Suara teriakan memanggil. Itu adalah suara gadis. Suara merdu dan cantik yang sudah aku dengar sebelumnya. Be-Bella!?

Seisi kelas diam, padahal awalnya bising. Guru tidak ada di kelas sih. Mungkin sekarang jam bebas. Tapi, perhatian seisi kelas, sekarang ini tertuju padaku!!! Apa mau gadis itu sih!?

Aku menoleh, sebagai isyarat kalau aku menanggapi panggilannya. Tapi meski menoleh, aku tidak mengatakan apapun. Hanya melihatnya dan menunggu apa yang ia ingin ucapkan.

“Apakah kau serius tidak mau? Apakah kau tidak mau jadi pacarku!? Kenapa!” Dia mengatakan itu dengan lantang!!!

Hei! Seisi kelas dengar loh! Lihat, mereka pada saling berbisik sekarang. Untung tidak ada wali kelas atau guru. Tapi ini lebih parah!!! Seisi kelas membicarakan aku saat ini.

Eh … pernyataan cinta???

Jadi saat Bella izin menemani Akihiko, dia menembaknya … romantis sekali ….

Aaaa aku malu sendiri!!!

Terima saja, Akihiko!

Kurang lebih, itu adalah suara bisik-bisik yang aku dengar. Terlalu banyak suara gumam dan bisik, aku tidak bisa dengar semuanya. Tapi mengenai topik, sudah pasti! Mereka sedang membicarakan peristiwa ini.

Apa yang harus aku lakukan??? Aku harus apa??? Gawat, otakku benar-benar kaku. Aku tidak bisa memikirkan apapun. Tolak saja? Iya! Sudah tentu aku tolak kalau begini situasinya.

“Tidak! Padahal sudah kubilang tidak di UKS.”

Tertolak!!!

Jangan menyerah, Bella!

Akihiko keren … aku ingin menembaknya juga nanti.

Suara gumam bisik terdengar lagi.

Mendengar kalimat yang berarti penolakan. Membuat Bella semakin menjadi hingga berkata, “Tapi kenapa!? Aku serius ingin berpacaran denganmu!” Gadis itu masih mengusahakannya.

Dia tidak tahu kapan harus menyerah!!! Sekarang aku harus bagaimana? Hei, apa tidak ada guru yang akan masuk! Aku harus mengalami pergantian suasana. Satu-satunya yang bisa melakukan itu, hanyalah seorang guru. Tapi dari situasinya. Mengingat ini hari pertama sekolah. Guru tidak akan datang!!!

Abaikan saja lah … sebentar lagi juga lelah. Lebih baik aku duduk dan membaca buku. Aku duduk di kursi, mengambil novel di dalam tas, kemudian membacanya. Aku akan lupakan semua ini untuk sementara.

[Mengabaikan orang lain saat bicara adalah penyebab dia tidak punya teman sejak dulu]

Sementara Bella bergumam sendiri saat melihat tindakanku. “Aku diabaikan ….” Tapi dia tidak menyerah. Dia malah mendeklarasikan hal yang lebih berbahaya. Parahnya lagi, dengan suara lantang.

“Tidak apa! Abaikan saja aku untuk saat ini! Aku pastikan, hari ini juga, kau akan jadi pacarku!” katanya lantang, kemudian pergi dari kelas.

Mungkin dia haus, pasti saat ini ke kantin. Untung saja hari ini masih bebas sih. Sekarang, lupakan itu semua dan baca buku. Kembali segarkan pikiranmu dengan membaca buku, Akihiko. Seperti yang biasa kau lakukan.

BAGH!

Seseorang menepuk pundak. Itu seperti sapaan untuk memanggilku yang tengah membaca buku. Aku menoleh ke arahnya. Dia yang datang, saat ini langsung merangkul diriku. Seperti mengakrabkan diri denganku.

“Kau sudah dapat pacar di hari pertama sekolah tuh!!! Keren gila! Ajarkan aku juga dong, supaya bisa dikejar cewek seperti tadi,” katanya sambil merangkul diriku.

Laki-laki, kulitnya putih, wajahnya relatif tampan. Soal tinggi badan, aku masih unggul sih. Mengingat sesuatu sebentar … kemudian aku ingat. Dia adalah Akarsana. Bisa dipanggil Karsa. Aku bisa tahu karena dia sudah memperkenalkan diri sih, saat momen perkenalan. Untung saja aku perkenalan paling terakhir … aku jadi bisa menyimak perkenalan yang lain.

“E-eh … itu merepotkan sih, bagiku.” Masih terlalu canggung. Padahal ini pertama kalinya bagi kami bicara. Tapi kenapa dia bisa lepas seperti itu? Aku iri, dengan dia yang bisa mengakrabkan diri dengan cepat.

“Hei, padahal Bella cantik. Tapi kenapa kau menolak dia? Kalau aku sih … langsung aku terima! Pacar cantik begitu siapa yang enggak mau, ‘kan!” Dia mulai membicarakan banyak hal. Melepas tangannya dari posisi merangkul. Dia beranjak duduk ke kursi di depanku. Tempat duduknya memang di depanku. Dekat, mungkin ini sesuatu yang bagus.

Tunggu, sesuatu yang bagus? Ini kesempatan bagus, ‘kan? Ada orang yang menyapaku. Dia juga membuka topik pembicaraan. Momen ini, bisa jadi kesempatan bagiku untuk mendapatkan teman! Aku harus merespon pembicaraan ini. Dialog ini tidak boleh berhenti. Jika kehabisan topik, maka aku akan kalah.

“Y-yah, aku tolak dia. Ha-habisnya aneh, ‘kan? Ini hari pertama sekolah. Kami juga baru kenal. Tapi dia, langsung menyatakan rasa suka begitu saja. Ku-kuakui, dia cantik sih. Tapi ini terlalu … tergesa-gesa, mungkin?”

“Aku mengerti sih … tapi, lihat dirimu! Kau itu tampan. Badannya juga tinggi, kau makan apa setiap hari? Otot lenganmu, kelihatannya juga terlatih. Setidaknya, meski kau kurus, ini bukan tubuh yang dimiliki seorang pemalas. Kau sangat cocok dengannya! Meski aku iri, tapi ya, aku tidak akan menang jika harus bersaing denganmu.”

He … dia membandingkan dirinya sendiri denganku. Lagian, ternyata, di pandangan orang, aku ini seperti itu? Yah, aku tidak kaget sih. Kalau masalah kesehatan tubuh. Setidaknya, aku membiasakan diri untuk push up, sit up, pull up, minimal 20 kali sebelum tidur. Kebiasaan itu sudah berjalan sejak aku SMP kelas dua.

Sejak SD bahkan SMP, sudah ratusan kali aku menerima surat cinta. Tapi ya, bukan di hari pertama sekolah!!! Apaan, dia langsung menyatakan cinta di hari pertama sekolah. Apakah ada sesuatu, ya? Seperti, dia kalah dalam pertandingan. Kemudian dipaksa untuk menyatakan cinta padaku. Dengan kata lain, pura-pura? Kemungkinan itu juga bisa sih ….

“Akihiko, kenapa? Ada sesuatu?” Karsa bertanya, dia memanggil diriku yang melamun. Ah, ini kebiasaan buruk aku, ya? Aku bisa dengan mudah tenggelam dalam pikiran. Aku bisa dengan mudah melamun dan melupakan suasana sekitar. Ini kebiasaan buruk ‘kan … aku harus mengurangi kebiasaan ini.

“A-ah, tidak. A-aku hanya berpikir. Di-dia bilang, akan membuatku jadi pacarnya hari ini juga. Aku jadi sedikit panik … apa yang akan dia lakukan, ya?”

“Oh, kau memikirkan Bella!? Sudah kuduga kau pasti akan menerimanya. Gas! Sebagai teman, aku mendukungmu!” katanya sambil memberi ibu jari. Dia sangat antusias ketika membicarakan ini.

Tunggu, sebagai teman? Aku tidak salah dengar? Tidak, aku mendengarnya. Aku dengar ketika dia bilang. Sebagai teman, aku mendukungmu. Ini, serius? Boleh aku anggap teman nih? H-he ….

Ini tidak seperti yang direncanakan.
Ini, berjalan cukup lancar.

Who Should I Date? Chapter 1

Chapter 1


Aku bangun dari lamunan. Begitulah, aku sering melamun dan memikirkan banyak hal di kepala. Yang terlihat dari luar, aku adalah laki-laki pendiam dan sulit bertutur kata. Tapi di dalam kepala … bahkan aku punya lima kepribadian.

Selain itu … aku harus memulai banyak riset ya??? Yah, kalau demi kehidupan SMA yang cerah. Aku harus semangat!

Atas Nama Masa Muda yang Hanya Datang Satu Kali

________________________________


Suasana kelas, canggung, dan penuh perhatian. Aku berdiri di depan kelas, menghadap barisan meja kursi dan para siswa. Alasannya, saat ini adalah giliran bagiku untuk memperkenalkan diri. Aku tidak bisa berpikir terlalu lama. Aku tidak bisa memanggil pikiran paralel. Aku harus menghadapinya. Aku tidak punya waktu untuk berpikir.

Tapi, ini apa sih. Perkenalan diri itu bagaimana??? Sebentar. Harusnya aku punya waktu ‘kan? Walau hanya sebentar sih. Setidaknya aku punya waktu untuk melakukan demonstrasi di dalam pikiran.

Namaku Akihiko Hayate. M-mohon bantuannya ….

Lah emangnya ini Jepang? Saat ini, aku harus memperkenalkan diri dengan gaya Indonesia. Aku harus memperkenalkan diri sekarang juga. Benar-benar sekarang, sesuai riset selama ini. Selama seminggu terakhir aku telah melakukan banyak riset, eksperimen, dan evaluasi. Termasuk, aku sudah mempelajari banyak hal tentang perkenalan.

Tapi, pengucapannya lebih sulit dari yang kuduga!!! Ini gawat. Posisi check mate! Aku tidak tahu harus melangkah seperti apa. Aku tidak tahu kalimat apa yang harus diucapkan.

“Aku mengaku kalah ….”

“Eh?” Guruku yang menunggu di samping hanya bisa berekspresi bingung.

Kalimat aku kalah, itu keluar begitu saja dari mulutku. Saking alaminya, aku juga tidak sadar ketika mengucap. Membuat Pak Guru dan seisi kelas kebingungan karena kalimat tadi.

Gawat, ekspresi aku sekarang bagaimana? Wajahku pasti berantakan. Lagian, kenapa aku bisa keceplosan begitu. Lihat, pandangan mereka mengerikan. Mereka menatapku, itu mengintimidasi.

[Padahal itu hanya tatapan bingung.]

Aku harus menyelesaikannya. Bagaimanapun juga boleh. Paksakan dirimu. Ini masih level satu untuk meraih kehidupan normal masa SMA!

“A-aku … na-namaku. Akihiko Hayate. Bisa panggil Akihiko, atau Hiko. Te-terima kasih.” Aku membungkukkan badan sambil berterima kasih.

BENARKAH BEGITU??? GA-GAWAT. Aku lupa menyebutkan usia dan alamat rumah. Eh, karena mereka adalah teman sekelas. Pasti umurnya sepantaran. Mereka juga bisa mengira itu. Lupa memberitahukan umur, itu bukan masalah. Sekarang masalahnya adalah alamat. Aku lupa! Apa yang aku baca di internet. Saat perkenalan, alamat itu dibutuhkan. Itu berguna jika mereka akan kerja kelompok atau main ke rumahku.

Dengan kata lain karena aku lupa memberitahukan alamat rumah. Aku telah memblokade diri agar orang lain tidak berkunjung.

Eh, tidak juga. Kalau hanya alamat. Diberitahu menyusul juga tidak masalah, ‘kan? Maksudku, ketika dibutuhkan atau ditanya, aku pasti akan menjawabnya.

Tapi memangnya, bakal ada yang tanya??? Enggak mungkin. Aku pusing. Memikirkan banyak hal membuatku pusing dan lemas.

Guruku yang berdiri di samping terlihat khawatir. Dia melihat wajahku pucat dan lemas. Apa yang guruku pikirkan, mungkin aku tidak enak badan. Tapi aku, hanya stress karena gagal dalam perkenalan.

“A-Akihiko, kau baik? Mau Bapak antar ke UKS?”

Aku berterima kasih atas perhatian Bapak … aku tidak sakit sih. Tapi aku gugup luar biasa. Mungkin, aku bisa menenangkan diri di UKS.

“To-tolong bantuannya Pak. Saya kurang hafal denah sekolah ini.”

“Tentu, ayo ikuti Bapak.”

________


Aku akhirnya berpindah … tidak, ini sebenarnya aku lari. Aku sedang lari dari masalah. Memperkenalkan diri adalah masalah. Itu masalah besar. Lalu karena tidak mampu menghadapinya, aku lari.

Yah, tidak apa mungkin. Karena ini hari pertama, seharusnya tidak ada pelajaran. Aku bisa berbaring di kasur dan santai untuk sementara.

LAH MANA BISA BEGITU???

Daripada santai, seharusnya aku atur ulang rencana ‘kan! Aku harus atur bagaimana selanjutnya agar aku dikenal. Karena kalau begini. Kalau perkenalanku gagal. Aku bisa gagal dalam lingkungan pertemanan di kelas. Ayo berpikir, ayo berpikir, ayo berpikir!

Percuma … otakku tidak bisa memikirkan apapun soal ini. Apapun itu jika memiliki kaitan dengan sosial. Aku tidak bisa. Tubuhku mati. Aku tidak berguna. Lebih baik aku santai saja. Menenangkan diri juga perlu, ‘kan.

[Sifat mudah menyerah sudah merasuk.]

Pintu UKS terbuka, aku bisa mendengar decitan pintu itu. Suara ketika pintu kayu terbuka, unik dan membuat panik. Decitan pintu terdengar sekali lagi. Seseorang kembali menutup pintu UKS setelah membukanya. Seseorang datang. Aku bisa mendengar langkahnya meski pelan. Apakah dia guru? Mungkinkah, kebohonganku di kelas sudah terungkap???

Kalau begitu ini gawat. Aku akan langsung dicap pembohong di hari pertama. Apapun itu kumohon. Keberuntungan apapun akan aku terima. Kumohon, Tuhan. Berkati aku di hari pertama sekolah.

Seseorang yang datang menampakkan diri. Dia mengintip dari balik tirai hijau yang menutupi kasurku. Seorang perempuan. Cantik, lekuk tubuhnya bagus. Rambutnya hitam dan panjang sampai punggung. Dia juga mengenakan seragam yang sama denganku. Pasti dia siswi sekolah ini.

Tapi kenapa? Ada apa? Sampai mendatangiku ke UKS. Tidak mungkin kalau tanpa tujuan, ‘kan?

Tunggu, aku ingat. Dia adalah Bella. Aku melihat dia saat perkenalan diri di kelas. Yah, karena aku duduk di kursi paling belakang. Di ujung kanan pula. Perkenalanku paling terakhir. Tidak ada siapapun yang memperkenalkan diri setelah aku. BERARTI KITA SEKELAS? Aku sekelas dengan Bishōjo seperti dia???

[Bishōjo adalah bahasa Jepang dari gadis cantik.]

Kembali ke topik. Kenapa dia ke sini? HEI JANGAN HANYA BERPIKIR. AYO TANYAKAN LANGSUNG.

“E-eh. A-ada apa?” Aku memaksakan diri untuk bertanya, meski itu berat dan menyiksa.

“Aku diperintahkan Pak Guru untuk menemanimu. Apakah, boleh?” Gadis itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Seperti menebar pesonanya khusus untukku.

DIA SANGAT CANTIK! SUARANYA JUGA MERDU. PAK GURU ANEH, SIH. Kalau dia ingin meminta seseorang agar menemaniku, seharusnya lelaki, ‘kan??? Tapi kenapa perempuan???

Seorang laki-laki yang sedang pubertas. Satu ruangan di tempat tertutup dengan perempuan cantik. Ini sangat melatih mental! Aku harus menahan diri agar tidak tampak memalukan.

“Ada apa? Tidak boleh, ya?” Perempuan itu nampak kecewa, gawat!!! Aku tidak boleh membuat rasa simpatinya sia-sia.

“Bo-boleh. Te-terima kasih.” Aku membolehkan. Tidak ada alasan untuk menolaknya juga sih ….

Sekarang, dia duduk di kasur yang sama denganku. Kasur tempat aku berbaring. Hei, apakah tidak ada kursi atau semacamnya? Aku sangat dekat dengannya saat ini! Bicara dengan sesama jenis saja sudah gugup luar biasa. Apalagi sama lawan jenis!

“Bagaimana? Apakah kau merasa pusing? Mau aku buatkan teh?”

K-kenapa ini!? Dia sangat perhatian padaku. Terlebih lagi dia cantik. U-ukuran, da-dadanya, juga besar! Lah apa yang kupikirkan! Tidak baik untuk kesan pertama. Jangan begini, aku.

“Ti-tidak perlu kok. Aku hanya perlu istirahat saja. Berbaring sebentar juga cukup.” Aku menolaknya!!! Padahal ini kesempatan bagiku. Kesempatan bagus untuk minum teh buatan gadis cantik. Itu kesempatan langka, ‘kan?

“Oh, aku mengerti. Kalau begitu … rambutmu, mau aku usap? Kau pusing, ‘kan?”

“H-hah, u-usap, rambut?”

“Iya. Tidak mau, ya?” DIA NAMPAK KECEWA LAGI! Apakah dia sangat ingin mengusap rambutku?

Ha, sebentar. Untuk apa dia menawari itu. Meskipun dia berpikir kalau aku sedang pusing. Usap rambut, memangnya ada efek yang efisien? Tapi, aku akui itu menenangkan. Aku ingin, sangat ingin diusap-usap oleh gadis ini.

Cukup! Pikiranku yang seperti ini, terlihat seperti orang mesum, ‘kan! Aku harus memberikan citra yang baik. Ini demi kesan pertama. Demi masa SMA yang normal!

“Su-sudahlah. Tidak perlu, aku hanya perlu berbaring sebentar saja.” Aku menolak tawaran dia lagi. Tapi, sebenarnya aku mau. Hanya saja aku terlalu malu. Aku tidak cukup berani untuk menerima tawarannya. Itu memalukan.

“Hmmm … sayang sekali. Apa ada yang bisa kulakukan? Tidak bagus jika aku hanya diam di sini. Aku diperintahkan untuk menemanimu sih. Setidaknya, aku harus melakukan sesuatu untuk membantumu.”

Y-ya … meski dia bilang begitu. Aku hanya perlu bantuan jika aku memiliki masalah. Bahkan kenapa aku bisa di UKS, itu karena aku lari dari masalah. Tunggu, aku punya masalah. Aku bermasalah dalam pertemanan. Jika dia ingin membantuku. Jika dia ingin melakukan sesuatu untukku. Ha-harusnya, ini kesempatan bagus, ‘kan? Coba aku pastikan.

“E-em … na-namamu Bella, ‘kan? Ma-maukah kau, jadi temanku?” AKU MEMAKSAKAN DIRIKU AGAR BERTANYA. Aku telah melakukan langkah besar dalam hidupku. Bagaimanapun akhirnya, setidaknya, aku sudah berusaha.

“Tidak mau,” jawab Bella singkat. Ekspresinya sedikit ketus dan membuang wajah. Tapi, saat dia membuang muka. Saat dia menghadap tembok dan berekspresi ketus untukku. Dia berkata dengan keyakinan.

“Tidak mau, kalau jadi temanmu. Tapi, kalau jadi pacarmu. Aku mau.”

.
.
.

Ha? Jadi, pacarku?

Who Should I Date? Chapter 0

Prolog

Akihiko Hayate adalah namaku. Lahir di Jepang, kemudian pindah ke Indonesia saat kecil. Saat pindah ke sini, usiaku tujuh tahun. Sudah sembilan tahun sejak aku hidup di sini. Tapi, aku memiliki masalah dalam hidupku. Itu adalah masalahku dalam bergaul.

Realitasnya, manusia adalah makhluk yang butuh bantuan. Manusia adalah makhluk sosial yang harus bersosialisasi dengan orang lain. Jelas sekali kalau orang biasa sepertiku, membutuhkan bantuan juga, sama seperti mereka. Minimal, itu adalah bantuan untuk menghilangkan rasa sepi.

Aku tidak bisa menutup mata dan memasang sugesti yang mengatakan, “Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Aku tidak membutuhkan bantuan orang lain.” Itu tidak bisa. Karena itu, aku langsung mengambil langkah ketika sadar. Mulai membangun hubungan dengan orang sekitar.

Berulang kali aku sudah coba. Sejak masuk SD, kemudian masuk SMP. Atau bahkan di lingkungan rumah, aku selalu gagal dalam berteman!!! Apa masalahnya??? Apakah ada hal khusus yang membuatku gagal dalam lingkungan berteman?

Yah, kalau masalah populer, aku populer sih, di kalangan gadis. Kalau membicarakan surat cinta yang aku dapatkan. Atau gadis yang menyatakan perasaannya padaku sepulang sekolah. Aku juga sudah lupa ada berapa, itu terlalu banyak.

Tapi sumpah, serius. Aku enggak punya teman sampai sejauh ini! Bukannya ini aneh??? Lihat, enggak ada satu pun kontak di ponsel??? Ini menyedihkan. Aku kasihan sama diriku sendiri.

Ah iya, aku sedikit cerewet. Tapi ini hanya isi pikiranku. Aku bisa berbicara dengan baik, jika itu di dalam kepalaku sendiri. Ketika aku berbicara ke orang lain, itu berat. Bicara itu sulit, lebih baik berikan aku soal matematika. Kalau bandingannya harus bicara ke orang lain sih.

Kembali ke topik. Tahun ini aku akan masuk SMA. Seperti legenda yang dikatakan. Masa SMA adalah masa indah. Masa indah adalah masa SMA. Seharusnya begitu!!! Tapi kalau aku tidak punya teman. Kelas satu, dua, tiga, lulus. AAAA ITU KETERLALUAN ‘KAN!!!

Karena itu, mari kita pikirkan caranya.

“Pikiran paralel, berkumpul!”

Aku punya pikiran paralel. Merekalah yang menemani diriku di dalam pikiranku sendiri. Berkat mereka, empat pikiran paralel ku. Aku tidak merasakan kesepian saat berpikir.

Pertama, Akihiko mode serius. “Ini masalah yang serius ya. Ayo kita ke meja rapat,” katanya sambil membawa palu keputusan.

Kedua, Akihiko mode pemalu. “M-masalah, i-itu, lagi??? Masalah, pertemanan?” Saat bicara, entah kenapa, dia ini selalu meringkuk.

Ketiga, Akihiko mode semangat. “Demi masa SMA yang cerah dan indah, mari kita selesaikan kasus ini!!!” Kau terlalu bersemangat, apakah kau benar-benar bagian dari diriku?

Keempat, Akihiko mode analis. Dia adalah kepribadian pintar milikku, mungkin. “Aku punya banyak riset me!genai masalah ini. Mari kalian simak.” Dia tampak membolak-balikan berkas tuh.

Terakhir, ketua pikiran paralel. Diriku yang sebenarnya. “Bagus … terima kasih karena sudah memenuhi panggilan dariku. Kalau begitu, mari kita mulai rapatnya.”

Aku ikut duduk di meja rapat setelah empat pikiran lainnya duduk. Kemudian menampilkan masalah lewat layar, lalu menjelaskannya. Masalah yang menjadi topik pembahasan kali ini.

“Seperti yang kalian tahu. Pekan depan, tepatnya hari Senin, kita akan mulai bersekolah. Parahnya lagi, ini adalah SMA. Setelah gagal di lingkungan SD dan SMP, apakah kita ingin gagal lagi??? SMA, MASA KEHIDUPAN REMAJA YANG PALING INDAH, BERWARNA, APAKAH KALIAN INGIN MEMBUANG ITU?”

Mode analis mengangkat tangan. Dia hendak mengutarakan pendapatnya. Aku jelas diam dan memberikan kesempatan untuknya agar bicara.

“Menurutku ini akan mudah. Pertama, kita memiliki latar belakang sebagai anak kelahiran Jepang. Dengan kata lain di mata mereka, kita unik. Sayangnya, anak-anak SD dan SMP tidak menyadari itu. Karena itu kau gagal. Tapi, siswa SMA yang sudah memiliki pemikiran. Pasti bisa paham kalau kau unik.”

Bisa jelaskan maksud dari unik yang kau katakan???

Mode semangat mengangkat tangan. Dia kemudian bicara, sementara mode analis diam dan memberi kesempatan padanya.

“Tidak, menurutku bukan itu masalahnya. Pertama, ketua itu adalah penyendiri! Dia terlalu malu sampai sulit bicara pada orang lain. Karena itu dia selalu gagal. Sebenarnya, anggapan unik sebagai orang Jepang bisa disadari oleh siapapun. Termasuk anak kecil. Karena itu masalahnya adalah di lobby pertemanan. Kau harus bicara saat diajak bicara! Dengar??? Bahkan kalau bisa. Kau harus membuka topik.”

Mode semangat menunjukkan jarinya padaku. Dia nampak sangat keras dalam mengutarakan pendapatnya kali ini. Aku sebagai ketua menjawab.

“Bicara sih mudah … andai kau tahu rasa gugupnya.”

“Rasa gugup itulah yang membuatmu gagal.” Mode semangat membalas itu sambil melipat tangannya ke dada. Dia sudah selesai berpendapat, giliran mode yang lain untuk bicara.

“Untuk sekarang, sebaiknya kita tentukan langkah. Seperti, apa yang akan kita lakukan di hari pertama? Sebaiknya kita menyusun itu dari sekarang.” Mode serius mulai angkat bicara. Lalu pernyataan itu, didukung dengan kalimat dari mode pemalu.

“Me-menurutku. Normal saja. M-maksudku. Ketika orang lain bicara atau menyapa, ketua harus membalasnya dengan ramah. Kalau begitu kupikir, semua akan normal dan baik-baik saja,” kata mode pemalu.

“Kalian semua bicara enak ya … padahal aku yang mengalaminya secara langsung. Dengar, kalian hanyalah bentuk dari imajinasi milikku. Aku tidak benar-benar pintar seperti mode analis. Atau pemalu seperti mode pemalu. Aku hanya, kesulitan untuk bicara. Hanya itu.” Aku menyampaikan masalahku pada mereka. Membuat mode serius memberikan saran.

“Kalau begitu, sebaiknya kau latihan bicara saja. Seperti, lihat di internet. Contoh kalimat yang bisa membuka topik atau dialog. Kalau perlu, cari tahu bagaimana respon yang baik dari suatu ungkapan.” Saran dari mode serius.

“Aku setuju.” Ketiga mode lain menyetujui saran dari mode serius. Sehingga sampai pada kesimpulan dan aku harus mengatakan itu.

“Baiklah baik …. Kesimpulannya, aku harus latihan berbicara. Selama seminggu ini, aku harus berlatih tentang bagaimana membuat topik, atau memberikan respon. Sekian, rapat kita berakhir.”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai