Who Should I Date? Chapter 17


Aku yang berteriak saat pelantikan berlangsung. Itu dinilai dewan sebagai perbuatan tidak sopan. Jika aku tidak punya penjelasan terkait teriakan itu. Maka mungkin saja, aku akan terkena masalah.

Lalu saat aku terpojok dan kebingungan. Seorang gadis aneh menyelamatkanku. Namanya Mirika, satu angkatan denganku. Dia meminta maaf mewakili dirinya dan diriku. Mengatakan kalau dia lupa mengajariku tata krama di ruangan ini. Entah kenapa, para dewan bisa percaya dengan mudah. Tidak ada sedikitpun rasa curiga pada Mirika yang jelas-jelas sedang berbohong. Apakah jabatan berpengaruh sampai seperti itu? Tapi ya, untungnya aku selamat.

Itu hal baik dari tindakannya. Lalu buruknya, dia mengatakan kalau aku adalah kesatria miliknya. Dia juga bilang kalau aku akan mengabdi saat dia menjadi pilar tahun depan! Mengabdi … rasanya hidupku bakal terikat nih. Aku harus membicarakan ini nanti.

“Kau harus menjelaskan semuanya, nanti.” Aku memastikan lagi kalau dia, akan menjelaskan semua ini nanti. Mendengarnya, gadis bernama Mirika hanya tersenyum manis. Dia melihatku sambil mengangguk senyum. “Tentu!” jawabnya semangat.

___________________

Elizabeth juga tidak mengerti. Dia hanya diam menggaruk kepala, melihat apa yang terjadi pada Akihiko dari bawah. Tapi setidaknya, teriakan Akihiko barusan. Itu terdengar sangat tulus. Teriakan kalau Akihiko mendukungnya. Ini pertama kalinya bagi Elizabeth. Mendapatkan dukungan selain dari Lucy dan Chloe.

Aqila mendecih kesal, menutupi bibirnya dengan kipas lipat. Dia sudah tidak tertarik lagi dengan tindakan provokatif. Dari belakang, pria tampan yang badannya jangkung berbisik padanya. “Kumohon jangan cari musuh lagi, Nona. Aku yang bakal pusing kalau kau dapat banyak musuh nih.” Dia berbisik pelan seperti merengek.

Menanggapi bisikan itu, Aqila bicara dengan ketus. “Kau tidak berhak komentar, Tristan. Sebagai kesatria milikku, seharusnya kau mendukungku bukan? Jangan hentikan apa yang aku perbuat. Lain kali pasti, aku akan menguak kebusukannya.” Diakhiri mendengus, Aqila berdiri angkuh dan diam.

Tidak lagi mendengar keributan. Kini, gadis serba putih bicara. “Dewan pelantikan yang terhormat, sepertinya, pelantikan ini bisa dilanjutkan.” Suaranya lembut. Kecantikan luar biasa bisa terasa dari setiap kata yang keluar.

Dia adalah gadis serba putih yang bahkan, seluruh rambutnya juga sudah memutih. Rambutnya yang putih itu dikepang ke samping. Sangat panjang, rambut yang dikepang saja sampai sejajar dengan pinggang.

Kulitnya putih bersih, sementara matanya selalu terpejam sejak tadi. Sejak awal, sejak gadis itu memasuki aula, dia tidak pernah membuka matanya. Bahkan dia membawa tongkat tunanetra. Semua orang paham kalau dia adalah orang buta. Lalu di lengannya, terpasang ban lengan kehormatan. Sama seperti pilar lain, hanya saja dia, menyandang gelar sebagai pilar biologi.

Salah satu dewan memberi tanggapan, “Apakah sudah tidak ada yang ingin disampaikan?” Para pilar dan Elizabeth hanya diam. Mereka tidak menjawab, tanda kalau mereka sudah siap untuk dilantik.

“Sepertinya, pelantikan ini sudah bisa kita mulai.” Salah satu dewan bicara lagi. Isyarat kalau acara utama, yaitu pelantikan akan segera dimulai.

_____________________

“Jadi, aku menuntut penjelasan soal masalah tadi.” Aku menagih janjinya. Janji kalau Mirika akan menjelaskan semuanya setelah pelantikan selesai. Saat ini, hanya ada satu hal yang mengusik diriku. Itu adalah kalimat kalau aku akan mengabdi pada orang ini, sebagai kesatria.

Pelantikan sudah selesai. Sekarang adalah jam istirahat. Kami berjanjian di tempat sepi untuk bicara. Dengan ban lengan pengawasan, aku tidak bisa sembarangan mencari tempat. Anggap diriku adalah narapidana yang baru kembali dari penjara. Benar-benar dikucilkan. Yah, karena itu juga. Kehidupan SMA super indah yang aku dambakan. Itu masih harus menunggu. Entah kapan sampai ban lengan ini bisa lepas.

Mirika sekali lagi tersenyum manis. Benar-benar murah senyum. Setelahnya, dia baru menjawab, “Tentu! Tapi sebelumnya, kau sendiri sudah paham bukan? Apa jadinya kalau aku tidak menyelamatkanmu tadi. Terutama kalau mereka sampai tahu tentang ban lengan itu,” respon Mirika cukup jelas dan terarah. Dia melihat ban lengan pengawasan milikku di akhir kalimatnya.

“A-aku paham kok ….”

Itu bisa dinilai sebagai tindakan tidak sopan. Terlebih lagi, kalau mereka sampai sadar dengan ban lengan pengawasan. Aku bisa tertimpa masalah. Ya singkatnya, aku berhutang pada gadis bernama Mirika ini.

“Ta-tapi, jadi kesatria … itu cuma bercanda, ‘kan?”

“Yah, aku tidak memaksa sih. Tapi, namamu saat ini sudah dikenal sebagai kesatria pilar biologi tahun depan. Doakan saja agar aku terpilih. Selain itu, jika kau tidak muncul sebagai kesatria untukku tahun depan. Entah bagaimana pemikiran orang ya … belum lagi para dewan, sudah mencatat kalau kau adalah kesatria untukku. Pikirmu bisa kabur semudah itu?”

Ini yang terburuk … aku semakin dikekang dan diikat. Sekarang, bagaimana caranya agar aku bisa hidup damai? “Kalau begitu, aku mengundurkan diri.” Hanya itu satu-satunya cara.

“Hah! Ja-jangan buru-buru memutuskan. Saat ini, posisimu adalah orang yang berhutang loh … dengan kata lain, kau harus membayarnya. Tapi ya, aku paham kalau ini tidak setara sih. Karenanya, ayo kita bernegosiasi lagi.”

“Jadi, apa yang mau kau tawarkan? Kau bilang ini negosiasi sih.”

“Ban lengan itu,” kata Mirika sambil menunjuk ke arah lenganku. Dia melihat ban lengan yang terpasang kencang, kemudian bertuliskan dalam pengawasan. Aku hanya memasang ekspresi bertanya, membiarkan dia menjelaskannya lagi.

“Aku akan membantumu. Akan aku bantu supaya kau bisa melepas ban lengan itu. Dengan kata lain, aku akan membantumu untuk menghadapi lima pilar. Bagaimana? Bagi dirimu yang memuja kehidupan SMA, ini tawaran yang bagus bukan???”

Menghadapi lima pilar. Mengharapkan stempel dan pengakuan dari mereka kalau aku adalah siswa disiplin. Mengingat mereka saja, itu membuat perasaanku tidak enak. Terutama gadis pilar kimia. Meski aku tidak pernah mengenalnya. Entah kenapa aku, membenci dirinya.

Lalu, ada gadis serba putih yang buta. Kupikir, dia juga misterius dan seram. Bayangkan, gadis buta sepertinya bisa menyandang gelar pilar. Dia pasti memiliki kehebatan sehingga bisa sejajar dengan orang-orang hebat. Aku merasa kalau menghadapi lima pilar, akan sangat sulit dan butuh waktu. Tapi gadis ini, dia ingin membantuku. Dia sudah menyelamatkanku di aula ketika aku bertindak ceroboh. Sekarang, dia menawarkan bantuan padaku. Bantuan yang bisa membuat ban lengan ini lepas.

Kalau kupikir, keberadaan ban lengan ini telah membatasi diriku dari kebebasan. Aku tidak bisa masuk ke klub seni. Aku tidak bisa pergi ke kantin dengan tenang. Aku dinilai sebagai narapidana. Memangnya aku mau terus begini?

Okelah, aku menerima bantuan dari Mirika. Tapi tahun depan, jika dia terpilih menjadi pilar. Aku harus melayaninya sebagai kesatria. Tunggu, dia masih seorang kandidat, ‘kan? Dia belum sepenuhnya, bahkan sama sekali bukan seorang pilar. Ya, dia masih seorang kandidat. Dengan kata lain, kemungkinan aku menjadi kesatria miliknya, bukan 100%. Ada kemungkinan dia gagal. Lalu aku tidak perlu menjadi kesatria. Taruhan ini boleh juga.

Terima kasih kepada pikiran paralel karena telah melancarkan pikiranku sekarang. Jadi, apakah aku terima? Ini mungkin saja kesempatan bagus. Kesempatan untuk menggenggam kehidupan SMA yang damai. Dengan bantuannya sebagai kandidat pilar, mungkin ada kesempatan.

“Eh, sebentar.” Mirika tiba-tiba bicara. Dia seperti menyadari ada sesuatu yang salah. Telunjuknya yang lentik menyentuh dagu. Wajahnya terlihat sedang berpikir keras.

Mirika melanjutkan, “Kayaknya, aku tidak pasti jadi pilar tahun depan deh. Maksudku, aku ini masih kandidat loh. Ada kemungkinan kalau aku gagal, ‘kan!?”

Dia menyadarinya … kenapa isi pikirannya sama persis seperti yang aku pikirkan??? Ini terlalu pas bahkan sampai membuatku kesal.

“Jadi, kau merasa kalau negosiasi ini berat sebelah?” tanyaku.

“Tentu! Coba pikir. Aku sudah menyelamatkanmu di aula saat pelantikan. Lalu menawarkan bantuan untuk menghadapi lima pilar. Sementara yang aku minta, adalah agar kau menjadi kesatria untukku tahun depan. Padahal, aku belum pasti akan menjadi pilar! Aku ini masih kandidat!!!”

Hei kau tidak perlu teriak … orang-orang bisa dengar loh … yah, sepertinya, aku harus melakukan satu hal lagi untuknya. Akan aku tanyakan.

“Jadi, Aku harus melakukan apa supaya negosiasi ini seimbang?”

“Sudah diputuskan! Akihiko Hayate. Jika kau menjadi pacarku saat ini dan seterusnya. Aku akan membantumu menghadapi lima pilar!” katanya dengan senyum yakin penuh semangat.

Kamu butuh pengorbanan untuk bebas.

Who Should I Date? Chapter 16


Elizabeth mengadu tatap dengan Aqila. Mereka saling benci dan merasa kesal. Entah untuk apa dan atas dasar apa, mereka tampak seperti musuh bebuyutan.

Aqila, gadis yang menyandang gelar terhormat sebagai pilar kimia. Ciri khas yang membuat penampilannya eksentrik, adalah ikat rambut mawar dan kipas lipat. Ikat rambut mawar berwarna merah, mengikat rambutnya sehingga tidak menghalangi wajah. Sementara bagian belakang rambutnya, terurai begitu saja sampai pinggang. Lagi, dia selalu membawa kipas lipat berwarna merah. Entah untuk alasan apa, kipas itu sudah menyatu dengan karakternya. Membuat dia nampak seperti gadis yang tegas dan misterius.

Tidak, menurutku, semua gadis yang menyandang gelar pilar. Mereka semua misterius. Pilar bahasa dan pilar fisika, mereka sudah menunjukkan idealis mereka masing-masing. Meski kupikir, waktu dan suasananya sangat tidak pas sih.

Lalu sekarang, pilar kimia yaitu Aqila. Dia membuat tindakan provokatif yang mengubah suasana menjadi tegang. Terlalu kasar, sampai menyebut Elizabeth dengan umpama wanita najis. Itu membuatku sedikit kesal.

“Kenapa? Apakah kau merasa bangga hingga tidak sudi meminta maaf? Kelahiran dirimu adalah kesalahan. Hubungan orang tuamu adalah kesalahan. Bahkan, dirimu sendiri adalah kesalahan. Kau tidak layak berdiri di sini hari ini. Itu adalah kesalahan karena kau hadir di ruangan ini.”

Semua hinaan itu membuat Lucy melangkah busung dada. Dia berdiri di depan Elizabeth, menengahi tuannya dengan Aqila yang sedang bertengkar. Kemudian berkata dengan sopan sekaligus tegas. “Maaf, tapi tindakan anda tidak bisa dibiarkan,” kata Lucy tegas, dia menatap mata Aqila yang mengintimidasi.

“Oh, kau anjing yang baik. Sampai membela gadis kotor itu dengan sepenuh hati, aku merasa terharu.” Aqila tidak berhenti. Dia terus menerus melancarkan kalimat provokatif. Membuat Elizabeth kesal, tapi Chloe menjaganya agar tetap tenang. Sementara Chloe menenangkan tuannya, Lucy menengahi pertengkaran tuannya.

Aku sendiri bingung, kenapa Aqila bisa sampai seperti itu? Kenapa dia sangat membenci Elizabeth? Mana kutahu, ini baru minggu kedua aku sekolah.

Merasa waktunya semakin terbuang, Baragasaki angkat suara. “Maaf, tapi kalian bisa lanjutkan itu setelah pelantikan. Sama seperti Priscilla, aku punya pelajaran yang harus dikejar,” katanya ketus sambil melihat Aqila. Dia membenarkan kacamatanya karena mengendur. Memberikan kesan dingin sekaligus tajam.

Bagus Baragasaki! Tindakanmu sebagai pilar matematika, itu membuatku sedikit tenang. Entah untuk alasan apa, aku hanya berharap. Aku berharap agar Elizabeth bisa bebas dari situasi ini.

Sementara gadis yang dipanggil Priscilla, dia mendehem kesal. Menggembungkan pipi sehingga wajahnya terlihat imut. Setelahnya, dia bergumam pelan. “Duh, fisikanya sudah kelewat 10 menit nih ….”

Aqila tidak terima dengan peringatan itu. Dia semakin marah dan merusak suasana. “Kenapa? Memangnya kalian juga sudi? Kalau gadis kotor ini menjadi orang yang mengawasi kedisiplinan di sekolah kita!” Aqila melipat kipasnya, kemudian mengarahkan kipas itu pada Elizabeth. Fungsinya sebagai pengganti jari telunjuk, dia menunjuk Elizabeth dengan kipas.

Tidak ada yang menjawab. Tidak ada satupun orang, yang menanggapi pertanyaan Aqila barusan. Asumsi sementara, mereka kurang berkenan jika Elizabeth memegang jabatan ini. Alasannya karena Elizabeth dianggap sebagai wanita kotor. Tapi kenapa? Apa yang membuat Elizabeth dinilai seperti itu?

Elizabeth sadar. Saat ini, semua orang meragukannya sebagai ketua. Dia sudah tahu tentang itu. Dia sudah paham, jauh sejak dirinya mencalonkan diri sebagai ketua setahun lalu. Saat ini, tidak ada perasaan lain yang menghantuinya selain kecil hati. Dia takut, dia berkeringat.

“Tuh lihat. Tidak ada yang menanggapi loh … sepertinya, tidak ada satupun orang di ruangan ini, yang rela kalau dirimu menjadi ketua!”

“Aku mendukungnya!” Dari tribun atas, sudah membuang pemikiran tentang akal sehat, aku berteriak! Tidak bisa tahan, aku ganti posisi dari duduk ke berdiri. Kemudian meneriakkan dukungan hingga seisi ruangan melihatku. Termasuk para dewan.

Salah satu dewan yang rambutnya sudah memutih, dia bertanya padaku. “Saudara yang berdiri di situ. Apakah kami memberi kesempatan pada tamu untuk bicara?” katanya sambil melihat ke arahku.

“Terlebih lagi, posisi berdiri adalah permintaan izin untuk bicara. Ada yang ingin kau sampaikan?” Salah satu dewan yang lain menimpali.

Ha? Sial, aku terbawa suasana. Aku tidak seharusnya berteriak. Tapi mau bagaimana lagi, ‘kan??? Aku tidak tahan lagi sih. Selain itu, masalahnya adalah sekarang. Seisi ruangan menunggu jawaban dariku nih. Aku harus jawab apa? Meski Elizabeth sudah memperingatkan agar aku tidak cari masalah. Aku malah memperburuk keadaan.

“Saudara, apakah ada yang salah? Kami menunggu jawabanmu. Jika tidak ada jawaban. Maka perilaku barusan adalah bentuk perbuatan tidak sopan.” Menunggu jawaban terlalu lama, dewan pelantikan menegur.

Sial … bicara di depan keramaian seperti ini, memangnya aku bisa??? Lantas kenapa aku berteriak tadi??? Aku telah membuat kesalahan!!!

“Dewan pelantikan yang terhormat. Izinkan saya bicara tentang anak ini.” Seorang gadis yang duduk di sebelahku. Dia berdiri dan angkat suara dengan sopan. Gadis yang tidak lebih tinggi dariku, saat ini berdiri bersampingan denganku. Membuat perbedaan tinggi badan kami terlihat jelas. Rambutnya hitam pendek dengan gaya ikal. Membuat pesona unik dan cerah, itu terpancar dari wajahnya yang bersih.

Gadis ini, mau apa? Lebih tepatnya, siapa dia? Dia bilang ingin mengatakan sesuatu tentangku. Memangnya kami saling kenal?

“Orang itu ….” Elizabeth frustasi hingga menggaruk rambutnya karena kesal. “Padahal sudah aku peringatkan sejak tadi, masih saja berbuat onar.”

Salah satu dewan, menanggapi gadis ikal ini dengan mengatakan, “Bisa kenalkan identitas Saudari sebelum bicara?” Gadis ikal mengangguk dengan sopan, itu tanda kalau dia akan memperkenalkan dirinya secara resmi. Dia kemudian bicara perlahan.

“Nama saya adalah Mirika, siswi kelas satu dari SMA ini, SMA Apollo yang sama-sama kita sayangi. Saya mencalonkan diri sebagai kandidat pilar biologi tahun depan. Saya mohon kerja sama dari kalian.” Semua kalimat yang keluar dari mulutnya, itu dikemas dengan sopan. Seperti, dia benar-benar tahu caranya beradab di ruangan ini.

Calon pilar!? Serius, aku semakin pusing dengan semua ini. Tidak ada yang bisa aku mengerti. Aku harus menanyakan ini pada Elizabeth nanti.

Dewan pelantikan melanjutkannya dengan bertanya, “Jadi, apa yang ingin kau sampaikan terkait anak itu?” Kata ‘anak itu’ sudah jelas merujuk kepadaku. Karena pertanyaan itu, gadis bernama Mirika tersenyum kecil. Dia melirik ke arahku sekilas, memperlihatkan isyarat senyum, kemudian kembali melihat dewan dengan sopan.

“Pria di sampingku bernama Akihiko Hayate. Dia adalah kesatria yang telah mengabdikan dirinya untuk melayaniku sebagai pilar tahun depan. Aku turut bersalah karena lupa mengajarinya tata krama di ruangan ini. Jadi, atas nama marga Sinaga yang terhormat. Saya dan dirinya memohon maaf.”

Aku hanya tertegun dan membeku. Melihat dirinya yang membungkukkan badan untuk meminta maaf dan mewakili diriku. Apakah dia ada motif tersembunyi??? Kalau iya, apa nih?

Sadar kalau aku tidak ikut tunduk, Mirika menekan kepalaku agar ikut membungkuk. Akhirnya, kami berdua membungkukkan badan sebagai posisi minta maaf.

“Kau berhutang padaku nih,” bisik Mirika saat kami berdua menundukkan kepala. Karena posisi kami bersampingan, aku bisa mendengarnya.

“Te-terima kasih … tapi bagaimana aku membayar???” Aku membalas bisikan itu dengan pertanyaan mengiba. Berharap dia tidak membebani diriku dengan hutang budi yang berat.

“Tenang saja! Masalah itu, akan kita bicarakan setelah pelantikan ini selesai, ya!”

Hutang budi dibalas mati.

Who Should I Date? Chapter 15


Sementara Bella pergi ke kelas pagi ini, aku mengikuti Elizabeth ke aula. Momen itu adalah ketika kami berpisah, pergi ke tempat tujuan kami masing-masing.

Elizabeth melirik sedikit, memberi peringatan padaku yang sekiranya awam dan tidak mengerti banyak hal. “Dengar, kau cukup diam dan perhatikan lima pilar. Jangan lakukan apapun yang semakin memperburuk keadaan.”

“Se-semakin memperburuk? Apakah suasananya memang buruk sejak awal?” Aku memiringkan kepala dan bertanya. Tapi Elizabeth mengacuhkannya. Pertanyaan barusan tidak terlalu penting sampai tidak harus dijawab, ya?

Lokasi aula tepat di ujung lorong. Ada dua penjaga yang tubuhnya besar, mereka berdiri tegak di depan pintu. Tugas mereka adalah menjaga ruangan, khawatir ada orang yang tidak berkepentingan bisa masuk.

Kami sampai, sementara penjaga memastikan identitas kami dan surat perizinan. “Aku sudah tahu tentang Elizabeth dan dua kesatria miliknya. Tapi siapa kau?” Salah satu penjaga bertanya padaku.

Eh, aku tidak tahu. Aku harus jawab apa? Aku datang ke sini sebagai apa? Kalau salah jawab, ini bisa jadi masalah? Oi Elizabeth, kau bertanggung jawab dalam situasi ini, ‘kan?

“Dia adalah tamu undangan dari pihak saya, namanya Akihiko. Dia juga sudah lengkap kalau masalah perizinan bukan?” Elizabeth menanggapi penjaga selagi aku berpikir. Aku selamat … kupikir aku akan tamat.

“Ah, benar. Maafkan sikap kami yang lancang. Pelantikannya segera dimulai. Silakan masuk dan tempati tempat kalian masing-masing.” Mereka membukakan pintu aula yang besar. Membuat ruangan besar dan terang di dalamnya, itu terlihat dari luar. Sangat bercahaya dan megah, dengan banyak hadirin di dalamnya.

“Kau duduk di tribun atas. Itu adalah tempat para tamu. Ingat, jangan lakukan apapun yang menimbulkan masalah.” Pesan singkat dari Elizabeth sebelum pergi ke pusat ruangan.

Hei, memangnya aku terlihat seperti pembuat onar? Kenapa dia sampai waspada seperti itu? Tapi terlepas dari itu, ruangan ini sangat megah!

Meski ini aula, ukurannya terlalu besar. Desain ruangannya juga kelewat megah. Para tamu dipersilakan duduk di bagian tribun atas. Sementara prosesi akan berlangsung di bagian bawah. Seperti, stadion bola dalam ruangan tertutup. Hanya saja ukurannya lebih kecil. Selain itu, mengenai suasana di ruangan ini, tidak ada kata yang lebih cocok daripada mewah. Kami sebagai tamu melihat prosesi dari atas. Di pusat ruangan yang besar ini, ada karpet bundar yang berwarna merah mencolok. Di situlah orang-orang penting berdiri.

Dewan pelantikan memasuki ruangan, kemudian duduk di kursi yang telah disiapkan. Dewan pelantikan, mereka adalah para guru yang terlibat dalam pelantikan ini. Alih-alih mengenakan seragam guru, itu tidak terlihat sama sekali. Yang terlihat hanya jubah putih panjang hingga kaki. Jubah itu menutupi bagian dalam, aku tidak bisa melihat apa yang mereka pakai di balik jubah.

Ada delapan dewan yang terlibat dalam acara pelantikan kali ini. Mereka duduk berjajar dalam satu deret, menghadap para pilar dan ketua komite. Aku melihat semua prosesi itu dari tribun atas. Hebat, semuanya bisa terlihat dari atas sini. Aku tidak perlu mendongak karena ada orang lain yang menghalangi.

Para pilar hadir dengan penampilan mereka yang eksentrik. Dikawal oleh orang kepercayaan mereka yang mendapat julukan kesatria. Ternyata, orang kepercayaan Elizabeth, mereka adalah Lucy dan Chloe. Elizabeth ada di antara mereka, berdiri sejajar dengan para pilar. Menghadap ke dewan pelantikan yang duduk berderet didepannya, mereka memberi hormat.

Ini lebih rumit dari yang aku kira …

Salah satu dewan yang duduk di tengah. Dia memberi pertanyaan dengan suaranya yang serak. “Para peserta pelantikan yang terhormat. Sebelumnya saya ingin bertanya. Untuk apa kalian datang ke ruangan ini hari ini?”

Mendengarnya, salah satu pilar mengangkat tangan. Dia adalah gadis cantik yang tubuhnya tinggi. Selain itu, postur tubuhnya sempurna! Seperti postur tubuh seorang tentara atau prajurit.

Meski ia mengenakan seragam putih abu-abu, ada baret putih di atas kepalanya. Menghiasi rambutnya yang hitam terurai panjang hingga pinggang. Ada ban lengan yang berperan sebagai identitasnya selaku pilar. Dia adalah pilar bahasa.

“Biar saya jawab pertanyaan dewan barusan. Tujuan kita berkumpul di sini hari ini. Adalah untuk minum teh bersama dan mengakrabkan diri, ‘kan?” katanya tegas dan cukup percaya diri. Dari suaranya saja, aku bisa tahu. Itu adalah suara yang dipenuhi ketegasan formal dan kedisiplinan.

Para dewan terkejut. Itu bukanlah jawaban yang diinginkan. Yang tergambar dari ekspresi dewan saat ini adalah, apakah orang ini bercanda? Membuat dewan yang awalnya bertanya memberi tanggapan. “Tidak, bukan itu jawabannya.”

“Eh?” Gadis pilar bahasa itu kebingungan. Apa yang ia pikirkan sekarang, seharusnya jawaban itu sudah benar. Dia menoleh ke belakang. Melihat laki-laki gagah yang berdiri tepat di belakangnya, kemudian berkata, “Glenn, ini tidak sesuai dengan yang kau katakan.”

Laki-laki gagah yang dipanggil Glenn, dia memberi respon, “Duh Nona Inara … padahal aku hanya bercanda saja semalam. Kau tidak seharusnya menarik kesimpulan semudah itu.” Respon yang diberikan santai. Membuat gadis yang dipanggil Inara nampak kesal, kemudian kembali menghadap dewan dan bicara.

“Maaf, izinkan saya menarik kalimat saya barusan. Ini kesalahan saya karena terlalu cepat mengambil kesimpulan,” kata Inara sambil membungkukkan badan.

Serius, dia ini sedang tidak bercanda loh ….

“Tidak apa. Sekalian saja saya katakan. Hari ini, kita berkumpul di ruangan ini untuk mengadakan prosesi pelantikan. Bisa dipahami?” Kalimat dewan barusan, itu ditutup dengan pertanyaan apakah Inara sudah paham? Inara hanya mengangguk sebagai isyarat kalau dirinya sudah paham.

Setelah Inara diam, pilar yang lain angkat suara. Dia berkata dengan ketus, “Sungguh, pelantikan ini hanya membuang waktuku saja. Aku harus mengejar jam pertama loh.  Sekarang ini, kelasku akan belajar fisika. Kalian mau membuatku tertinggal sampai sejauh apa???” Dia adalah gadis dengan ban lengan fisika sebagai identitasnya.

Gadis itu memiliki rambut hitam yang dikuncir kanan kiri. Membuat penampilannya terlihat santai dan ceria, tapi sedikit seram ketika marah. Wajahnya imut, meski dia siswa SMA, tubuhnya tidak terlalu tinggi. Gadis itu adalah pilar fisika, dia baru saja protes karena waktunya banyak terbuang.

“Saya bisa selesaikan dengan cepat. Jadi tolong dengan amat sangat, jangan menyela pembicaraan.” Sekali lagi, dewan memberikan respon atas protes yang kurang berkenan. Benar sih. Protes yang diberikan barusan. Itu cukup kasar dan tidak sopan. Tidak seharusnya dia protes dan mempermasalahkan urusan pribadinya.

Setelah suasananya mulai kondusif dan tenang. Muncul suara gadis dengan tujuannya untuk provokasi.

“Aku masih tidak bisa diterima. Kenapa gadis kotor sepertinya bisa jadi ketua komite? Yah, mungkin saja, karena pengaruh ayahnya, dia bisa menempati posisi itu. Dasar sampah.” Kalimat lainnya keluar, tapi ini yang paling pedas. Itu keluar dari mulut gadis yang membawa kipas lipat. Gadis dengan aura intimidasi dan menekan sekitarnya. Dia adalah gadis yang tampak ganas, dengan ban lengan kimia di tangannya.

Elizabeth merasa tidak nyaman. Meski kalimat barusan tidak menyebut nama. Tapi jelas, pasti ditujukan bagi Elizabeth. Membuat dia memastikan, “Kalimat barusan, apakah itu untukku, Aqila?” tanya Elizabeth tegas dan kesal.

Sadar kalau target sindirannya kesal, gadis yang dipanggil Aqila tersenyum senang. Dia menutupi senyum lebar itu dengan kipas lipat yang terbuka. Kemudian mengatakan kalimat yang semakin memancing amarah.

“Kenapa? Padahal aku tidak menyebut namamu loh. Tapi syukurlah. Sepertinya, kau sudah sadar tentang seberapa kotornya dirimu itu.” Nada bicaranya benar-benar yang terburuk. Dia seperti merendahkan Elizabeth di depan banyak orang. Tidak peduli dengan apa yang ia ucapkan. Tidak peduli dengan apa yang lawan bicaranya rasakan. Dia tetap mengatakan apa yang ia pikirkan.

“Kau menyebut diriku kotor, minta maaf!” Elizabeth sudah tidak terkendali. Dia meluapkan seluruh emosinya hingga seisi ruangan menjadi tegang. Aqila hanya mengernyitkan alis dan tidak peduli. Mengabaikan amarah yang telah ia pancing sendiri. Merasa diabaikan, Elizabeth mengatakan perintahnya untuk yang kedua kali. “Minta maaf!”

“Kalau begitu, apa kau mau minta maaf karena sudah dilahirkan? Wanita najis.” Terbawa kesal, Aqila mengembalikan amarah Elizabeth dengan pertanyaan. Pertanyaan kasar yang akan lebih baik jika tetap dia pendam.

Gadis Kotor Pemuja Kedisiplinan

Who Should I Date? Chapter 14


Sebagai siswa dalam masa pengawasan. Aku dilarang melamar menjadi anggota klub atau ekstrakurikuler. Padahal, aku sudah berniat sejak lama … ingin masuk klub sastra atau seni. Selain itu sepertinya, siswa dalam masa pengawasan memiliki citra yang buruk. Seperti narapidana yang hidup di tengah masyarakat. Benar-benar dikucilkan. Tidak ada yang menerima. Popularitas buruk. Lalu parahnya, semua tindakanku dibatasi agar tidak terlampau.

Entah kenapa, aku merasa. Kalau kehidupan SMA yang aku impi-impikan … itu semua masih jauh dari genggaman. Yah, karena pengawasan cuma satu minggu. Aku tidak perlu khawatir. Aku masih bisa memperbaiki reputasi setelahnya. Lalu untuk menjaga agar reputasi tidak semakin buruk. Aku tidak boleh banyak bertindak. Habiskan waktu senggang di tempat sepi yang tidak banyak dilihat orang.

Kehidupan di sekolah terbatas. Aku tidak bisa melakukan banyak hal yang aku inginkan. Lalu saat di rumah, Elizabeth dan dua pelayannya mengawasi. Aku juga tidak bisa istirahat dengan tenang. Atau menulis novel dengan baik.

Hari-hari ini hanya berlangsung satu minggu. Tidak terasa, aku sudah tiba di hari senin. Bisa dibilang kalau aku telah melewati minggu pertama dunia SMA. Sesuai ketentuan, masa pengawasan akan habis pada hari Selasa. Dengan kata lain, besok!

Aku sedang berangkat sekolah pagi ini. Bersama Bella, Elizabeth, Lucy, dan Chloe, kami jalan beriringan. Sambil berjalan, Elizabeth mengatakan sesuatu dari depan. “Akihiko, kau harus ikut ke pelantikan hari ini.”

“Pe-pelantikan?” Aku hanya bisa memiringkan kepala, membiarkan tanda tanya melayang ke atas. Sementara kedua pelayannya diam, tidak ada perintah untuk bicara.

“Ini berhubungan dengan ban lenganmu itu sih. Besok, masa pengawasannya sudah berakhir. Meski aku benci mengakuinya. Tapi harus aku katakan. Kau bersih dari hal-hal mesum seperti majalah atau video porno. Kau juga tidak punya pacar lain di luar sana. Jadi ya, aku bisa melepas tanggung jawab mengawasi dirimu besok. Juga, statusku sebagai pacarmu akan hilang. Kau dan Bella tidak akan ditangguhkan lagi. Tapi, ban lengan itu beda urusan.”

Kali ini, Elizabeth menoleh ke arahku yang berjalan di belakangnya. Matanya tersorot pada lenganku yang mengenakan sesuatu. Aku sedikit risih, tapi aku sadar. “Ban lengan? Kenapa?” tanyaku bingung. Elizbeth mengembalikan pandangannya ke depan. Berjalan membelakagi, dia kemudian menjawab.

“Meski masa pengawasannya sudah habis. Kau belum diperkenankan untuk melepas ban lengan itu. Kalau kau tanya kenapa, karena itu di luar wewenangku sebagai ketua komite. Lalu siapa yang memiliki wewenang itu? Wewenang untuk menilai dirimu sebagai siswa disiplin dan izin untuk melepas ban lengan?”

“Ja-jangan bilang … maksudnya adalah pilar?”

“Ya. Lima pilar yang mewakili matematika, biologi, fisika, kimia, dan bahasa.”

Suasana angin berubah. Ini adalah pagi yang sejuk meskipun tidak ada angin berhembus. Tapi mendadak, setelah Elizabeth membicarakan lima pilar. Angin pagi berhembus. Membuat suasana sejuk menjadi dingin. Tentu saja, ini hanya kebetulan. Sebuah sugesti mengingatkan kalau mereka berbahaya. Kemudian, sesuatu muncul di pikiranku. Itu adalah ingatan. Ingatan tentang Baragasaki, pilar matematika yang waktu itu pernah bertemu denganku.

Masih ada empat pilar lainnya? Lantas, aku harus melakukan apa? Aku harus menanyakan ini pada Elizabeth selagi bisa. “Lalu, supaya bisa melepas ban lengan ini, aku harus melakukan apa?” Jika masa pengawasan habis, maka kesempatan untuk menanyakan masalah ini, akan sulit didapatkan. Karena itulah, aku bergegas menanyakannya.

“Mudah. Dapatkan stempel dari kelima pilar. Masing-masing pilar memiliki stempel unik untuk memberi izin. Mudahnya, jika pilar memberimu stempel, maka kau sudah diakui sebagai siswa disiplin. Jika kelima pilar sudah memberikan stempel, maka kau bebas untuk melepas ban lengan itu. Begitulah kurang lebih.” Elizabeth menjelaskan semuanya. Kurang lebih, aku mengerti secara garis besar. Tapi entah kenapa, aku merasa ini akan sulit.

“La-lalu, tujuanmu membawaku ke pelantikan, itu untuk apa?” Ini pertanyaan terakhir dariku. Menanggapinya, Elizabeth berhenti jalan. Jelas saja kalau Lucy dan Chloe ikut berhenti. Sementara aku dan Bella, hanya bingung, kenapa mereka berhenti?

Elizabeth menoleh ke arahku, matanya tersorot ke arah belakang. Kemudian berkata dengan ketus, “Sudah jelas bukan? Agar kau melihat kelima pilar secara langsung.” Dia berbalik dan melanjutkan perjalanan. Diikuti Chloe dan Lucy sebagai pelayan.

Sambil kembali berjalan, kali ini Bella bertanya, “Kenapa para pilar … hanya mewakili materi saintek? Maksudku, apakah tidak ada pilar yang mewakili soshum seperti geografi, sosiologi, dan sejenisnya.”

“Ada. Tapi karena Akihiko adalah siswa MIPA, maka yang memiliki wewenang untuk menilainya, mereka adalah pilar yang mewakili saintek. Pilar IPS punya tanggung jawab mereka sendiri. Tapi tetap saja, para pilar dan dewan kedisiplinan, mereka tergabung dalam komite kedisiplinan. Lalu aku adalah ketuanya.” Akhir dari kalimat itu, ditutup dengan semangat hingga Elizabeth merasa bangga. Dia meletakkan tangannya di pinggang, berekspresi mantap dan pose percaya diri.


Dia benar-benar bangga dengan posisinya tuh … tapi ya. Saat Elizabeth dan pelayannya tinggal di rumahku. Rumahku terasa lebih ramai. Eh, berlebihan jika aku menyebutnya rumah. Itu hanya kontrakan sih. Selain itu sepertinya, Elizabeth hanya keras padaku ketika dalam masa pengawasan. Lihat hari ini. Meski setengah-setengah dan terkesan tidak rela. Dia sudah menjadi biasa. Tidak terlalu keras dan omongannya tidak terlalu pedas. Bisa kubilang, dia ini disiplin dan keras dalam menegakkan kebenaran. Aku jadi bisa maklum. Meski aku agak kesal sih ….

“Masalah surat dispensasi dan izin, semuanya sudah Lucy urus. Kau bisa meninggalkan kelas, dan hadir ke pelantikan dengan tenang.” Elizabeth bicara lagi.

Dia ini nampaknya, sudah mengatur semuanya ya … bahkan sampai sejauh ini agar aku bisa tahu tentang pilar. Dia bukan wanita yang buruk sih. Hanya saja, dia memang terlalu keras dan galak. Berbanding terbalik dengan Bella yang baik dan lembut. Meski begitu kalau masalah kecantikan, mereka seri!

“Oh iya, aku belum tahu. Yang ikut hanya Akihiko? Apakah aku tidak ikut?” tanya Bella sambil menggaruk pipi canggung, dia nampak berharap untuk ikut. Tapi tidak bisa menanyakan itu secara langsung. Intinya, dari pertanyaan barusan, dia menyiratkan keinginannya untuk ikut.

Elizabeth menjawab sambil menghela nafas, “Kau tidak ikut. Mengurus satu orang saja sudah sulit, apalagi dua? Masalahnya, acara pelantikan bukanlah prosesi biasa. Hanya siswa berizin yang boleh datang ke aula. Ada beberapa tamu yang diperbolehkan, tapi mereka adalah tamu berpengaruh. Aku sampai susah payah agar Akihiko mendapatkan izin. Jadi maaf, kau tidak bisa ikut.”

Mendengar jawabannya, Bella nampak kecewa. Wajahnya sedikit murung, kurang nyaman untuk diperhatikan. Untuk menghibur Bella, Elizabeth melanjutkan kalimat.

“Lagipula, tanggung jawab ini, dipikul oleh Akihiko sepenuhnya, dia laki-laki sih. Anggap saja Akihiko menghamili dirimu. Maka yang tanggung jawab, adalah Akihiko, ‘kan? Kau pasti langsung paham jika diumpamakan dengan pemikiran dangkal seperti itu.”

Memangnya tidak ada perumpamaan lain??? Kenapa harus mengumpamakan aku yang menghamili Bella? Itu terlalu vulgar! Masih lebih baik jika menggunakan perumpamaan aku menafkahi Bella sebagai suaminya. Itu masih bisa diterima. Tapi ya, itu memang karakternya sih. Komite kedisiplinan memang harus memiliki arogansi dan intimidasi. Kalau tidak, dia tidak akan ditakuti dan disegani.

Jadi sekarang, kupikir, kehidupan SMA yang tenang, itu masih jauh dari genggaman. Aku harus mendapatkan stempel dari kelima pilar untuk melepas ban lengan. Ini sih parah ….

Bagian Tersulit Sudah Mengikat

_________________________

Who Should I Date? Chapter 13

Lucy menunggu sampai Elizabeth tertidur pulas. Ada beberapa hal yang mengganggu Elizabeth sehingga dia sulit untuk tertidur. Tapi dengan lembut, Lucy berhasil menenangkan tuannya. Lalu setelah tuannya tertidur, dia menunggu saat yang tepat untuk menegurku.

“Jadi sekarang, kau akan tidur begitu saja tanpa bertanggung jawab? Benar-benar sampah. Tidak ada hal baik yang bisa didapatkan dari laki-laki seperti dirimu, hmph!” Setelah semua hinaan dan kalimatnya yang pedas, itu diakhiri dengan dirinya yang mendengus.

“Masih belum ada jawaban? Benar-benar sampah.” Lucy melanjutkan hinaannya karena tidak mendengar jawaban dariku.

“Iya deh iya … kau ingin aku bilang apa???” Posisiku tetap menghadap tembok. Membelakangi mereka berempat yang tidur berjajar dengan kasur lipat di bawah.

“Bukan apa-apa. Aku hanya ingin kau meminta maaf karena sudah menjadi sampah yang menguping pembicaraan dua orang gadis.”

Kalimat sampah tidak berhenti keluar tuh … tapi ya. “Iya … aku minta maaf karena sudah menjadi sampah yang menguping pembicaraan kalian. Sudah puas?”

“Melihat sampah yang menyebut dirinya sebagai sampah. Ini benar-benar membuatku mual. Mana ada manusia rendah yang merendahkan dirinya sendiri.”

Terus aku harus bagaimana woi!? Setelah menuruti semua permintaanmu, aku masih saja dilihat bersalah. “Terserah, aku akan tidur. Se-selamat malam.”

“Kau baru bisa tidur setelah puas menguping, ya. Memang asli sampah. Tapi, malam ini, aku melihat cahaya di mata tuanku. Apapun yang telah kau perbuat pada tuanku, selama itu kebaikan baginya, aku ucapkan terima kasih atas nama tuanku.”

Aku tidak mengerti … pembicaraannya terlalu berat. Apakah pelayan selalu bersikap seperti itu? Entahlah, aku akan tidur saja untuk sekarang. Ini sudah lewat tengah malam.

___________________


“Kak Lucy Kak Lucy, tuan tempat ini sangat pemalas ya. Dia masih tidur pulas meski sekarang sudah terang.”

“Dik Chloe Dik Chloe. Sepertinya, lelaki mesum ini memang pemalas yang lebih buruk daripada sampah.”

Hah? Apa??? Mataku terasa berat. Tapi aku sudah tidak bisa memejamkan mata lagi. Sambil membuka mataku perlahan, aku mendengar suara yang tidak berhenti menghina. Suara dua gadis pelayan yang kompak dan antusias dalam menghinaku.

“Kak Lucy Kak Lucy, lihat. Dia sudah membuka matanya.”

“Dik Chloe Dik Chloe. Sepertinya, dia baru saja terbangun dari mimpi kotornya semalaman.”

Aku sudah bangun jadi tolong hentikan! Apakah tidak ada cara yang lebih bagus untuk membangunkan orang??? Bukankah sebagai pelayan, kalian seharusnya bicara dengan sopan!?

“A-aku sudah bangun … jadi tolong hentikan kalimat kalian yang menghina.”

“Maaf, tapi saya tidak akan menuruti perintah siapapun kecuali perintah Nona,” kata Lucy ketus dengan postur tegap. Postur dan posisi tubuh yang memang menggambarkan pelayan veteran.

“Saya hanya mengabdi pada Nona Elizabeth seorang.” Chloe ikut menimpali kalimat Lucy.

Jadi, sekarang jam berapa? Oh masih jam enam pagi. Aku masih punya waktu untuk bersiap. Dari dapur terdengar suara, “Akihiko … cepat mandi selagi aku siapkan sarapan. Karena kamar mandinya hanya satu, kalian harus mengantri ‘kan.” Itu adalah suara Bella.

Rasanya, aku lebih menganggap Bella sebagai ibu daripada pacar. Tingkahnya sangat keibuan dan aku suka. Selain itu, aku melihat Elizabeth yang duduk di bawah dengan mempertahankan arogansi. Dia melipat tangannya di dada, kemudian berekspresi ketus tidak suka.

“E-Elizabeth, kau mau mandi duluan?” tanyaku sopan karena tidak ingin membuat keributan di pagi hari. Lalu dengan ketus, Elizabeth menjawab, “Baiklah, aku akan mandi. Chloe! Siapkan baju seragamku dan jaga wilayah kamar mandi dari predator yang mesum itu. Lalu Lucy, rapikan bekas tidur kita.” Kalimat ketusnya ditutup perintah kepada para pelayan.

Lucy dan Chloe membungkukkan badan sebagai tanda kesediaan. Mempertahankan posisi bungkuk dan memberi hormat, mereka menjawab dengan kompak. “Akan saya laksanakan, Nona.”

Gila … mereka terlihat seperti pelayan asli. Baik itu dari tingkah lakunya, pekerjaannya, caranya bicara, sikap formalnya. Itu seperti pelayan dari kediaman wastu atau kastil. Aku jadi penasaran. Elizabeth ini dari keluarga yang seperti apa? Kudengar dia ini putri kepala sekolah, ya?

Dari dapur, Bella menampakkan diri dan terlihat kesal. Dia mengenakan baju rumah dan celemek dapur. Wajahnya yang cemberut juga sangat imut. Entah kenapa, dirinya yang mengenakan celemek terlihat sangat cantik.

“Akihiko … daripada melamun, siapkan keperluan sekolahmu sendiri! Aku tahu kau sedang menunggu karena kamar mandinya digunakan Elizabeth. Tapi itu bukan alasan untuk melamun. Waktu terus berjalan lo … setidaknya lakukan sesuatu!”

“A-ah … ba-baiklah.” Aku hanya bisa menjawab dengan kikuk. Serius, dia lebih mirip seperti ibu daripada pacar. Meski sebenarnya, ibu kandungku tidak pernah seperti ini sih. Bahkan saat masih tinggal bersama orang tua, aku bangun tidur sendiri, menyiapkan semuanya sendiri. Kalau diingat-ingat juga … aku tidak pernah melihat ibuku memakai celemek. Yang terbayang ketika mengingat ibu, hanya sosoknya dengan seragam kantor. Hanya itu.

“Masih melamun juga???” Bella menegurku sekali lagi. Kali ini, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sangat dekat, aku sampai bisa merasakan nafasnya.

“Be-Bella, wa-wajahmu … terlalu dekat, loh.” Aku memalingkan wajah. Bahkan saat rumah ini sedang ramai. Berani-beraninya Bella nekat seperti itu! Bahkan, alasan kenapa aku dalam masa pengawasan, ya karena ini!

“Ah, aku harus membalik telurnya.” Bella ingat kalau dia masih memasak. Lekas kembali ke dapur, dia melanjutkan pekerjaannya.

_______________

Jam istirahat di kelas. Tidak ada yang lebih baik daripada bersantai sambil melihat pemandangan. Untungnya, tempatku duduk tepat di samping jendela kaca. Membuatku bisa melihat ke luar, melihat lapangan dan keramaian dari atas.

Sedang asyik menikmati suasana hening, seseorang merangkul pundak. Sambil berkata dengan ramah dan akrab, “Yo Akihiko! Mau ikut ke kantin?” tanya Karsa dengan suaranya yang cepat akrab.

Hebat … dia bisa akrab dengan cepat tanpa merasa gugup atau malu. Andai aku juga bisa seperti dirinya. “A-ah … aku bawa bekal sih. Ta-tapi, mungkin … aku akan beli roti dulu untuk sekarang.” Tidak mungkin aku tolak, ‘kan! Ini kesempatan bagus untuk mempererat hubungan dengan teman pertama.

“Bagus! Ayo ke kantin.”

_________________

Aku jalan beriringan bersama Karsa. Melewati lorong yang ramai dengan siswa dari berbagai kelas. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman. Mereka menatap sesuatu dari tubuhku?

Iya. Sekilas, mereka seperti melihatku dengan tatapan tidak enak. Pandangannya mengarah ke arahku, jelas! Apakah ada yang salah? Atau mengganggu suasana mungkin.

“Oh iya Akihiko. Ban lengan itu, apa ya? Memangnya harus dipakai?” Karsa membuka pembicaraan dengan bertanya.

Ah benar! Perhatian orang-orang, pasti tertuju pada ban lengan ini! Bodohnya aku yang telat menyadari. Orang bodoh macam apa yang memamerkan dirinya sebagai narapidana bersalah? Akulah orangnya.

“A-ah … ini … selama dalam masa pengawasan. Aku tidak boleh melepasnya. Itu kata peraturan,” jawabku sedikit gugup dan malu.

“He??? Kau buat masalah apa sampai diawasi begitu?”

Tidak mungkin aku jawab ‘kan!!! Kalau aku sampai jawab, “Aku ketahuan bermesraan bersama gadis di ruang tertutup, hanya berdua.” Begitu! Pasti dia akan menganggap kalau aku ini orang mesum!

Tidak akan aku jawab. Tapi setidaknya, aku harus memberi jawaban lain. “A-aku merusak fasilitas sekolah, secara tidak sengaja. Aku ini ceroboh ya ….” Apakah dia percaya???

Hampir sampai ke kantin, langkah kami dihentikan. Seorang gadis berseragam batik, sama seperti kami, dia menghalangi jalan. Wajah dingin dan rambutnya yang hitam sampai leher.

“Chloe?” tanyaku memastikan.

Melihat diriku yang tampak kenal, Karsa juga bingung. “Eh, kau kenal dia?” tanyanya sambil menggaruk pipi canggung.

Mendengus sekilas, Chloe mengatakan sesuatu. “Orang bodoh macam apa yang mau memamerkan statusnya sebagai narapidana bersalah? Akihiko adalah orang bodoh macam itu.”

Langsung penghinaan meski ini pertemuan!!! Terlebih lagi, apakah dia cenayang? Dia seperti mengatakan hal yang sama dengan isi pikiranku!

“Aku tidak tahu kau siapa. Tapi sepertinya, kau teman lelaki menyedihkan ini, ya? Kalau begitu cepat lanjutkan perjalanan. Maaf saja, Akihiko tidak boleh melangkah lebih jauh.” Kalimat itu jelas sekali untuk Karsa.

Karsa semakin bingung dengan suasananya. Dia hanya menganga dan berekspresi bingung. Kemudian melontarkan pertanyaan, “Apa yang terjadi?”

“Maaf ya, Karsa. Aku akan menemanimu ke kantin lain kali. Untuk sekarang aku ada urusan. Kita berpisah dulu ya,” kataku sulit dan berat hati.

“Ah, begitu. Aku duluan, ya,” kata Karsa sambil melambai dan lekas pergi.

AKU MEMBUANGNYA!!! Kesempatan untuk mempererat hubungan dengan teman pertama. Aku membuangnya begitu saja! Lihat, Karsa sudah pergi. Andai saja gadis pelayan ini tidak datang.

“Jadi, ada urusan apa?” tanyaku kesal.

“Singkatnya hari ini, aku bertugas mengawasi dirimu di sekolah. Lalu melihatmu yang memamerkan ban lengan itu dengan bangga, aku tidak bisa membiarkannya. Demi nama baik Nona Elizabeth.”

___________________

Who Should I Date? Chapter 12

Aku kedatangan orang lagi. Kali ini, mereka adalah dua orang pelayan wanita. Mengenakan seragam dengan nuansa hitam putih, mereka terlihat sangat cantik!

Tapi, mereka ini siswa SMA, ‘kan? Aku ingat betul kalau mereka adalah Lucy dan Chloe. Dua pelayan yang selalu mengikuti Elizabeth di sekolah. Apakah ini artinya, mereka benar-benar seorang pelayan?

Sebagai kesan awal ketika tiba, mereka berdua saling berbisik. Chloe Mendekatkan bibirnya ke telinga Lucy. Kemudian membisikkan sesuatu.

“Kak Lucy Kak Lucy, tuan tempat ini sangat mesum, ya. Dia menatap kita dengan nafsu lelakinya sejak tadi.”

“Dik Chloe Dik Chloe. Sepertinya, tuan tempat ini baru saja melecehkan kita di pikirannya.” Lucy membalas bisikan itu dengan kalimat pedas lainnya.

Meski kalian bisik-bisik, aku bisa dengar loh … untung saja hatiku ini kuat, mental baja. Tidak bagus jika membiarkan mereka terlalu lama di luar. Aku mempersilakan mereka agar masuk. “Po-pokoknya, kalian masuk dulu.”

Sebelum masuk ke tempatku, mereka mengucapkan kalimat yang terdengar seperti doa atau ikrar. Dikepalai oleh Lucy, diikuti Chloe kemudian.

“Atas nama Nona Elizabeth, saya memasuki tempat di mana lelaki mesum tinggal. Apapun yang akan terjadi pada saya, ini adalah bakti saya pada Nona.”

“Atas nama Nona Elizabeth, saya rela mati di tempat tinggal lelaki mesum jika itu demi kehormatan tuan saya.”

Apakah kalimat itu benar-benar diperlukan!? Sepertinya, aku benar-benar tidak punya martabat hari ini. Dinilai sebagai lelaki mesum tidak beradab yang memanfaatkan kebaikan seorang gadis. Itu lebih mirip sampah? Itu adalah aku di mata mereka. Untungnya, neraka ini hanya akan berlangsung satu minggu.

Elizabeth masih duduk dan mempertahankan arogansinya. Sambil menyilang kaki dan melipat dua tangan, dia menyambut para pelayannya. “Kalian tiba juga ya. Aku sudah mual, melihat dua orang ini berbuat mesum meski ada aku di antara mereka. Tidak punya malu.”

Berani-beraninya dia bilang begitu … meski kami hanya makan bersama dan tidak melakukan apapun selain itu. Dia masih bisa bilang begitu.

Elizabeth belum selesai. Dia melanjutkan kalimatnya. “Ta-tapi ya … masakannya cukup enak. Itu layak mendapatkan rasa terima kasihku.”

Yang Elizabeth lakukan saat ini. Apakah dia sedang laporan kepada para pelayannya? Atau sekedar cerita kepada para pelayannya? Dari gelagatnya, dia seperti bercerita. Tapi, apakah hubungan antara tuan dan pelayan memang sedekat ini? Melihat dia yang bercerita kepada para pelayannya secara lepas. Itu lebih terlihat seperti dia bicara dengan temannya.

“Apakah lelaki busuk itu melakukan sesuatu pada Nona?” Lucy mulai menanyakan keselamatan tuannya. Diikuti Chloe yang juga bertanya, “Apakah Nona bisa menjaga diri selama kami tidak ada?”

Elizabeth menjawab, “A-aku baik-baik saja sih. Hanya saja. Lelaki itu lebih lihai dari yang aku kira. Aku belum menemukan barang mesum atau majalah porno miliknya.” Elizabeth mengatakan itu dengan sedikit kikuk.

Kau masih yakin kalau aku menyimpan majalah porno??? Setelah usahamu yang sia-sia saat mencarinya. Kau masih belum menyerah ya ….

Melihat tempatku yang mendadak ramai, Bella juga kebingungan. Tapi sejak awal, dia juga berniat untuk menginap. Meski Elizabeth sudah menjelaskan kalau para pelayannya akan ikut menginap. Dia tetap tidak bisa terima, kalau Elizabeth menginap di tempatku tanpa ada dirinya. Selain itu, hanya ada satu kamar utama di sini. Secara terpaksa, malam ini, kami harus tidur di ruangan yang sama.

Aku jelas tidur di kasur. Lalu mereka berempat, tidur di bawah dengan kasur lipat. Aku tidak pernah menyangka, kalau kehidupanku bisa jadi runyam seperti. Tapi, menikmati malam dalam keramaian. Kurasa itu tidak buruk.

“Hadap ke tembok! Kalau kau sampai melihat wajah tidurku makan aku akan membunuhmu.” Elizabeth mendeklarasikan peringatan dengan tegas. Sejak awal aku tidak tertarik sih. Aku langsung menuruti saja. Tidur miring menghadap ke tembok.

Meski begitu ….

Suasananya ramai! Bagaimana aku bisa tidur dengan mudah??? Keadaannya, ini terlalu mudah untuk dimengerti ‘kan!!! Dibelakang ada empat gadis yang tertidur dalam kamarku. Meski aku tidak berminat melihat mereka. Secara hasrat, aku terdorong untuk melihat!

Jantungku tidak karuan. Ini berdegup sangat kencang. Badanku terasa panas. Pikiranku tidak tenang. Bagaimana aku bisa tidur jika begini keadaannya???

Yah, nanti juga akan mengantuk sendiri. Aku akan diam saja untuk saat ini. Sambil berpura-pura tidur, aku akan diam hingga mengantuk.

________________

[Tengah Malam]

Aku belum bisa tidur!!! Setidaknya, sampai aku melihat wajah tidur mereka satu demi satu. Aku tidak bisa tidur. Meski aku sudah bertekad untuk tidak melihatnya. Aku tetap tidak bisa bohong pada diriku sendiri. Aku ingin melihatnya.

Sekarang sudah tengah malam. Mereka juga hening. Mereka sudah pulas, ‘kan?
Kalau aku melihat mereka sebentar saja, itu tidak apa-apa, ‘kan?

Oke, ayo berbalik secara halus dan ….

“Hei, Lucy, kau belum tidur?” Secara tiba-tiba aku mendengar suara Elizabeth. Aku terkejut parah!!! Untung saja aku belum berbalik. Nyatanya, dia belum tertidur.

“Saya tidak akan tidur sampai Nona tidur. Khawatir, laki-laki mesum itu akan melihat wajah tidur Nona yang imut,” jawab Lucy tegas namun pelan.

“Kau ini benar-benar ya … padahal Chloe sudah pulas sejak tadi.”

“Dia kelelahan karena banyak mengerjakan tugas rumah. Saya bisa maklumi tindakannya untuk tidur cepat malam ini.” Gelagat Lucy, dia menjawabnya seperti kepala pelayan. Seakan-akan, dia bertanggung jawab atas pekerjaan pelayan yang lain.

“Hei, kau sudah tahu? Mengenai info pelantikan,” tanya Elizabeth mengubah topik. Dia sepertinya, ingin membicarakan ini sejak lama. Ingin membagi masalahnya pada orang lain. Ingin menceritakan masalahnya pada orang lain.

“Ya, saya sudah tahu. Sebelum Nona tahu, saya sudah mencari tahu apa saja yang akan Nona hadapi. Termasuk pelantikan Nona sebagai ketua komite kedisiplinan.” Lucy memberi jawaban yang meyakinkan. Aku bisa melihat jiwanya yang benar-benar setia dan mengabdi pada Elizabeth.

Selain itu, pelantikan? Dengan kata lain saat ini. Elizabeth belum resmi menjadi ketua komite? Tapi kenapa dia bisa menghukum diriku? Aku akan mencari tahu masalah ini nanti.

Untuk sekarang, aku tertarik dengan pembicaraan mereka. Seperti, ada informasi penting yang akan aku dapatkan jika menguping. Aku merasa bersalah karena ikut mendengar curhatannya sih. Tapi, aku harus dengarkan.

“Menurutmu, apakah itu akan berjalan lancar?” Elizabeth bertanya dengan lembut dan takut. Dia benar-benar mengkhawatirkan masalah ini sepertinya. Tidak seperti dirinya yang bermulut pedas dan berdedikasi tegas.

“Saya yakin Nona akan baik-baik saja. Kalau sesuatu terjadi. Saya sebagai Kesatria Nona Elizabeth akan membela. Jangan lupa, Nona punya dua kesatria. Chloe pasti akan turun tangan jika sesuatu terjadi pada Nona.” Itu adalah jawaban yang Lucy lontarkan.

Tunggu, kesatria? Aku semakin tidak mengerti. Aku kira pada awalnya, mereka adalah bawahan Elizabeth di sekolah. Lalu ternyata, mereka adalah pelayan Elizabeth di rumahnya. Tapi sekarang, yang aku dengar, mereka adalah kesatria milik Elizabeth. Aku tidak paham. Aku tidak mengerti. Tapi jelas saja sih … bahkan belum ada satu minggu sejak aku mulai bersekolah di SMA Apollo.

“Kalau sesuatu terjadi, aku akan mengandalkan kalian, ya?” Elizabeth bertanya dengan penuh harapan.

Sementara Lucy tersenyum, diam sejenak. Dia kemudian menjawab, “Bahkan jika itu harus mengorbankan nyawa saya. Saya akan melindungi Nona, apapun yang terjadi.”

KESATRIA MILIK ELIZABETH
________________________

“Jadi, sebaiknya apa yang aku lakukan, ya? Ada laki-laki yang menguping pembicaraan dua gadis. Ini harus diberi hukuman keras, kayaknya.”

Setelah Elizabeth pulas tertidur, Lucy menembakkan pertanyaan padaku. Itu ditujukan untukku. Pasti. Tapi, dia tahu kalau aku menguping??? Bagaimana bisa!??

Untuk sekarang pura-pura tidak dengar saja.

“Kau tidak akan bisa membohongiku, itu percuma, hmph. Aku bisa melihat gerakan pinggang dan punggungmu yang bernafas normal. Singkatnya, nafas orang yang tidur dan sadar, nafas mereka berbeda.”

Who Should I Date? Chapter 11


Bella memergoki diriku. Parahnya, suasana ini sangat tidak bagus untuk dilihat. Mantap, momentum kejadiannya benar-benar buruk. Matanya yang terbuka semakin melebar karena kaget dan terkejut. Berbagai pertanyaan dan kesimpulan, semuanya telah mengepul di dalam kepalanya. Bahkan dari katanya barusan, apakah aku terlihat seperti orang masokis? Ma-mana mungkin lah ….

“Be-Bella. I-ini tidak seperti yang ka-kau pikirkan. Aku bisa jelaskan. Jadi coba tenang, dengarkan ceritaku kemudian.” Aku coba membuat kesempatan, berharap bisa meluruskan pemikirannya.

Tapi, Elizabeth malah mendengus dan berkata, “Sebelum menjelaskan sesuatu, kenapa tidak pakai baju dulu? Atau kau memang orang yang suka pamer bentuk tubuh ya? Hmph, padahal tubuhmu tidak sebagus itu.”

Perkataan itu langsung menusuk hatiku loh. Meski aku sudah kebal dengan beberapa hinaan dari tuan putri, tapi sepertinya, kalimat barusan cukup menyakitkan.

“A-ah … be-benar! Aku akan pakai baju dulu. Jadi, bisa tolong keluar sebentar? Hanya ada satu kamar di sini sih”

“Begitu? Aku kasihan pada dirimu yang tinggal di tempat sempit seperti ini.” Entah kenapa, Elizabeth selalu mengembalikan kalimatku seakan-akan aku ini buruk.

“Sebenarnya karena tinggal sendiri, aku tidak merasa kesempitan sih. Rasa kasihan itu tidak dibutuhkan.”

“Baiklah, kalau kau sampai memohon begitu, aku akan keluar. Cepat ganti baju dan jangan berkaca dalam keadaan telanjang.” Elizabeth lekas keluar dari ruangan ini.

“Ha?”

PEMIKIRAN ITU BAHKAN BELUM PERNAH MASUK KE KEPALAKU! Justru, karena kau mengatakan itu, aku jadi memikirkannya untuk pertama kali. Parah … sepertinya aku sudah dipandang sebagai laki-laki mesum olehnya.

“Ka-kalau begitu aku tutup pintunya ya … ma-maaf karena membuat kalian menunggu.”

Aku menutup pintunya dan ganti baju dengan cepat. Khawatir jika terlalu lama, Elizabeth akan berpikir yang tidak-tidak. Setelah mengenakan pakaian, aku membukakan pintu sambil menyambut. “Silakan.” Aku mempersilakan mereka agar masuk ke dalam.

“Cepatnya,” kata Elizabeth terkejut hingga diam sejenak. Wajar sih … sepertinya, hanya 30 detik waktu yang terpakai saat aku pakai baju. Tapi mau bagaimana lagi, ‘kan? Daripada aku semakin dituduh yang tidak-tidak.

“Ja-jadi … soal penjelasannya.” Aku mulai menyinggung masalah tadi. Tapi, Bella mengabaikan. Menenteng plastik putih berisi daging, dia bersenandung masuk ke dalam.

“Akihiko … aku bawa daging ayam nih. Biarkan aku memasaknya di dapurmu ya,” kata Bella sambil bersenandung ke arah dapur. Dia membawa plastik putih, yang pastinya, isinya adalah daging ayam.

“A-ah … te-tentu. Terima kasih.”

Elizabeth hanya melirik sedikit, melihat bagaimana kami bertingkah di dalam kontrakan.

Sementara Bella memasak di dapur, Elizabeth malah sibuk sendiri. Tingkahnya yang menyusuri kolong kasur, dalam lemari, bawah meja, ini seperti penggeledahan???

“A-anu … apa yang kau lakukan?” tanyaku gugup dalam posisi duduk di depan meja belajar. Entah kenapa, aku merasa risih.

“Dilihat juga tahu bukan? Aku sedang menggeledah kamarmu. Barangkali ada barang-barang mesum atau majalah porno yang terselip,” jawab Elizabeth ketus tanpa melihat ke arahku. Dia tetap fokus menggeledah laci meja meski sedang menjawab pertanyaan dariku.

“Sebaiknya hentikan saja … aku tidak pernah menyimpan barang seperti itu sih ….” Dia hanya melakukan hal yang sia-sia. Carilah sampai puas. Jika Elizabeth sampai menemukan barang yang menjadi target penggeledahan, dapat dipastikan itu bukan milikku.

“Hmph! Peringatan itu keluar karena kau panik bukan? Aku tidak akan berhenti mencari. Apalagi setelah mendengar usahamu untuk menghentikanku.”

Bagaimanapun aku bicara, semuanya akan tetap salah ya … yah, kita lihat saja. “Jangan lupa rapikan bekasnya ya. Meski kau menggeledah, aku agak keberatan jika harus merapikan kamarku yang awalnya sudah rapi.”

____________________

[Satu Jam Kemudian]

“Sepertinya, kau cukup lihai dalam menyembunyikan barang ya. Sangat berbakat, setidaknya, itu cukup untuk jadi penyelundup obat terlarang.” Elizabeth tidak menemukan apa-apa. Setelah menggeledah seisi ruangan, usahanya bisa dibilang sia-sia. Tapi, apapun hasilnya, sepertinya dia akan tetap membuatku terlihat salah.

“Aku sudah bilang sejak awal loh … benda-benda seperti itu tidak ada di tempat ini.”

“Kalau begitu, kau menyembunyikannya di tempat lain, pasti. Aku akan menginterogasi masalah itu nanti. Akan aku paksa kau bicara sampai kau berharap mati lebih baik.”

Dia tidak serius, ‘kan? Aku merinding loh … kalimat itu seram meski keluar dari mulut gadis cantik. Perumpamaan interogasi seperti apa yang dia pikirkan?

Dari dapur, Bella bicara cukup lantang. Sambil membawa mangkuk berisi makanan hangat, dia berkata, “Makanannya sudah siap ….”

Mangkuk yang berisi masakannya itu mengeluarkan aroma harum. Aroma rempah dan bumbunya sangat terasa hingga membuatku lapar.

“A-aku akan siapkan nasi dan piringnya.” Mengambil inisiatif, aku bergegas membantunya. Menyiapkan piring dan juga nasi. Menggelar meja lipat di kamar utama. Meletakkan semua makanan di atasnya.

Aku dan Bella sudah duduk lesehan di bawah. Siap untuk menyantap makanan yang tampak lezat ini. Tapi Elizabeth, dia hanya duduk di atas kasur sambil menyilang kaki. Mencoba tidak peduli, tapi dia nampak tertarik.

Aku coba untuk mengajaknya. “Ka-kau juga, ikut makan bersama kami. Lauknya ada banyak nih.”

Merespon ajakan dariku, Elizabeth mendengus, membuang wajah, kemudian berkata, “Tenang saja, aku tidak akan mengurangi jatah makan kalian. Kalian bisa makan dengan tenang tanpa khawatir aku mengganggu.”

Aku ini serius mengajakmu.

Bella juga sudah muak. Dia tidak sabar lagi dengan tingkah laku Elizabeth yang seperti itu. Dia mengambilkan nasi, lengkap beserta lauknya. Kemudian memberikan itu pada Elizabeth yang masih membuang muka.

“Ini! Aku tidak terima jika ada orang yang menolak makanan buatanku,” kata Bella cukup ketus dan kesal.

“I-itu benar … tidak enak jika kami hanya makan berdua padahal ada kau di sini.” Aku masih mencoba untuk meyakinkan Elizabeth.

“Kalau begitu, aku akan keluar selama kalian makan. Jadinya tidak ada yang mengganggu suasana lagi.” Masih mempertahankan arogansinya, Elizabeth tetap menolak. Tapi bagi Bella, kalimat barusan adalah celah.

“Bagus! Pergilah keluar selama kami makan. Selagi kau tidak ada, aku dan Akihiko jadi punya kesempatan untuk berbuat mesum nih,” kata Bella dengan nada bicara yang meledek. Meski yang kupikirkan, habislah riwayatku ….

Karena kalimat Bella barusan, Elizabeth merasa kesal hingga mendecih. Sambil menerima makanan yang Bella berikan, Elizabeth berkata dengan ketus, “Oke, aku akan makan. Setidaknya ini juga bentuk pengawasan. Khawatir kau meletakkan obat kuat atau KB pada masakan ini. Aku jadi harus ikut mencobanya.”

Masih saja berpikir begitu … aku benar-benar dinilai sebagai manusia mesum olehnya nih. Yah, tapi sisi baiknya, dia ikut makan bersama kami. Berpindah dari posisinya yang duduk di atas kasur. Menjadi duduk lesehan bersama kami di bawah. Saling berhadapan dan menyantap makanan yang sama.

“Masakanmu enak juga. Aku sampai bingung. Kenapa kau mau memasakkan makanan untuk laki-laki yang memanfaatkan dirimu ini?” Elizabeth sedang memuji? Tapi kedengarannya tidak begitu.

Sekarang, aku ini terdengar seperti laki-laki yang memanfaatkan kebaikan dari gadis cantik. Semakin buruk kesan diriku dalam pemikiran Elizabeth.

Menanggapi pujian dari Elizabeth yang setengah-setengah, Bella menjawab, “Jangan salah sangka. Aku memasak karena ingin memasak. Aku ingin menyiapkan makanan sehat untuk pacarku sendiri. Hanya sebatas itu.”

Bella … perkataan barusan membuatku terharu nih. Tapi aku, tidak bisa menyampaikan rasa terharu ini. Terlalu memalukan. Aku pendam sendiri saja.

_________________

Pintu kayu diketuk, mengeluarkan suara keras yang memanggilku dari luar. Aku bangun dari posisi duduk di meja belajar, membukakan pintu untuk orang yang mengetuknya.

Dua orang perempuan, cantik dengan seragam pelayan berwarna hitam putih. Membawa dua koper besar, masing-masing dari mereka membawa satu koper.

Kedua pelayan itu membungkukkan badan dan memberi hormat. Dalam posisinya yang masih memberi hormat, mereka berkata dengan kompak dan selaras. “Nona Elizabeth, kami datang sesuai perintah anda.”

Rumahku ramai parah nih.

Who Should I Date? Chapter 10


Ponsel berdering, membuat getaran pemanggil pada sang pemilik hingga menggeledah saku pakaiannya. Setelah tahu seseorang menghubungi dirinya lewat ponsel, dia agak ragu untuk menjawab. Tapi jika diabaikan, dia tahu bagaimana masalah akan mengikat dirinya nanti. Mendekatkan ponsel itu pada telinganya, dia mulai bicara.

“Ada apa, Ayah?” Gadis berambut pirang menanyakan maksud dari panggilan sang ayah. Tidak biasanya, dia menelepon. Jika sampai seperti ini, sesuatu sedang terjadi, pasti.

“Elizabeth, bagaimana sekolahmu?” Suara sang ayah terdengar serak karena tersampaikan melalui telepon. Tapi meski begitu, tidak bisa disangkal kalau ini adalah ayahnya yang bicara.

“Tidak perlu basa-basi. Katakan saja ada apa. Aku cukup sibuk saat ini.” Tidak mau mengakrabkan diri dengan sang ayah. Tidak mau berbicara dengan ayahnya terlalu lama. Gadis yang dipanggil Elizabeth merasa tidak nyaman dalam keadaan ini. Dia ingin segera menutup teleponnya.

“Sebaiknya kurangi sifat tidak ramah itu. Penilaian orang akan sangat buruk loh, terutama saat pelantikan nanti.” Ayahnya bicara normal. Tanpa memikirkan dan sedikitpun paham, tentang apa yang anaknya rasakan dari kalimat itu. Mendadak, Elizabeth berkeringat gelisah. Dia dilanda perasaan tidak enak dan tidak nyaman dalam dadanya.

Sang ayah mulai menjelaskan maksud dari panggilannya. Membuat Elizabeth semakin gelisah dan takut menghadapi hari-hari esok. Setidaknya sampai urusan ini selesai, Elizabeth tidak bisa tenang.

“Kalau begitu sampai nanti, aku akan telepon lagi.” Kalimat penutup dari sang ayah, tanda bahwa percakapan ini cukup.

Pembicaraan selesai, Elizabeth meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku. Kemudian berjalan keluar dari gang sepi, mendatangi dua adik kelas yang saat ini berada dalam masa pengawasannya.

“Kalian, sudah cukup istirahatnya. Ayo lanjutkan perjalanan,” kata Elizabeth tegas pada dua adik kelasnya itu.

“Meski dibilang istirahat, yang minta berhenti itu kau, ‘kan? Habisnya ada orang yang menelepon sih. Makanya kau suruh kami berhenti dan tunggu di sini.”

Itu adalah jawaban ketus yang keluar dari mulut salah satu adik kelasnya, Bella. Sementara adik kelasnya yang lain, Akihiko, dia hanya diam. Tidak menyambut kedatangan Elizabeth dengan ramah, tidak menyambut dengan ketus juga seperti yang Bella lakukan. Seperti, tidak ada bedanya apakah Elizabeth ada, atau tidak ada.

_______________________

“Kalian, sudah cukup istirahatnya. Ayo lanjutkan perjalanan.” Elizabeth kembali … dia minta kami berhenti untuk mengangkat telepon tadi. Tapi sepertinya, itu sudah selesai. Kami akan melanjutkan perjalanan. Lah perjalanan???

Oiya, sejak tadi, Elizabeth belum menjawab pertanyaan dariku. “Hei Elizabeth, ke-kenapa kau ingin ikut ke kontrakan ku?”

“Sudah jelas bukan? Untuk mengawasi kalian setidaknya sampai satu minggu ke depan. Jangan mengeluh, aku juga sudah melakukan persiapan untuk menginap.”

“He … kau sudah siap sekali ya … LAH MENGINAP??? TA-TAPI, ini bercanda, ‘kan?” Aku tidak bisa berekspresi apa-apa selain terkejut. Menginap??? Apakah dia serius soal ini?

“Tenang saja. Chloe dan Lucy akan menyusul sebagai pengawal. Tidak bagus juga jika hanya kita berdua di dalam ruangan. Kau itu laki-laki sih, sampah.”

Aku tidak yakin apakah kata sampah itu benar-benar diperlukan atau tidak. Tapi sepertinya, itu tidak dibutuhkan. Harga diriku sudah tidak ada saat ini.

_________________

“Jadi, ini benar-benar tempat tinggalnya, ya? Kupikir kau hanya membual, siapa sangka kau berkata jujur.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Elizabeth saat tiba di tempatku. Kontrakan sempit yang hanya memiliki satu kamar utama, kalimat barusan adalah gagasannya atas tempat ini.

“Hebat juga kau bisa berkata begitu, setidaknya pada tuan rumah tempat ini. Kau cukup ramah sepertinya.” Yah, entah kenapa aku merasa kesal. Mungkin rasa kesal ini alasannya. Alasan kenapa aku bisa bicara lancar dengannya.

“Aku masih bisa lebih ramah dari ini, asal kau tahu. Aku juga terkejut sekaligus penasaran. Anak SMA yang tinggal sendiri tanpa orang tua dan tanpa penghasilan. Aku bingung cara kotor apa yang kau lakukan untuk mendapatkan uang. Yah, apapun itu, sepertinya tidak akan bertahan lama. Hidup dengan uang kotor hanya akan menggerogoti daging tubuhmu sendiri.”

Jadi ini yang dimaksud bahwa dia bisa lebih ramah lagi??? Kalimat itu benar-benar menyakiti hatiku loh, tuan putri.

Lagian, kesannya, aku seperti orang yang bertahan hidup dengan cara kotor. Meski aku sangat ingin mengatakan tentang penghasilan yang aku dapat dari menulis novel. Aku tidak bisa mengatakannya. Setidaknya, penghinaan ini masih lebih baik daripada identitas diriku yang terkuak.

“Jadi tuan putri, sekarang bagaimana? Hanya ada satu kamar utama loh. Tentu saja aku tidur di kasur tunggal. Sementara kau dan para pelayan, berarti tidur di bawah.” Aku hanya akan membahas ini. Masalah posisi ketika tidur nanti malam, kurasa itu penting. Masalahnya, aku itu cowok sendiri!

“Tidak perlu khawatir. Chloe dan Lucy akan membawakan kasur lipat untukku. Kasur untuk mereka berdua juga sudah disiapkan. Siapa juga, yang mau tidur satu kasur dengan laki-laki mesum tidak senonoh sepertimu.”

Rasanya, aku sudah mulai terbiasa nih. Tidak ada satupun kalimat pedas yang keluar dari mulutmu cukup kuat untuk membuatku kesal. Sepertinya aku sudah kebal dengan ocehan gadis ini.

“Yah, terserah mau sebut aku apa. Aku akan mandi. Giliranmu tentu saja setelahku ya. Jadi, jangan mengintip.”

Elizabeth mendengus sambil membuang muka. Meski itu lelucon yang aku coba sampaikan, sepertinya, itu tidak berpengaruh apa-apa. Malah, aku menyadari sesuatu. Orang seperti diriku, mana bisa membuat lelucon!? Aku bodoh karena mencoba.

Sejak awal, memang tidak ada kesempatan. Elizabeth yang angkuh dan keras kepala. Kupikir, dia bisa menjadi temanku. Tapi ya, mengingat bagaimana hubungan dan jarak kasta melapisi kami, aku sadar itu mustahil.

_________________

Tubuhku segar, tubuhku bersih, aku baru saja selesai mandi. Keluar dari kamar mandi dengan celana pendek, tentu saja telanjang atas. Sambil menggantung handuk di belakang leher, aku berjalan ke kamar utama, santai, benar-benar tingkah laku yang seperti biasa.

Aku lupa!!! Aku lupa kalau ada Elizabeth di kamar utama. Ba-bagaimana aku bisa lupa??? Padahal aku sedang dalam masa pengawasan.

“Ma-maaf! Aku benar-benar lupa kalau kau ada di sini!” Aku membungkukkan badan, mencium lantai, menghadap Elizabeth yang duduk di kasur tunggal. Mengharapkan maaf dengan merendahkan diri.

BRAK!!!

Pintu terbuka, meski gebrakan itu tidak diperlukan sih. Bukankah suara gebrakan seperti itu bisa menarik perhatian tetangga??? Siapa sih?

“Akihi ….” Suara itu berniat memanggilku. Aku kenal, itu adalah suara Bella. Dia datang menggebrak pintu. Kemudian melihat diriku yang telanjang dada dalam keadaan sujud kepada Elizabeth. HAA??? INI SUPER BAHAYA, ‘KAN???

“Memangnya kau ada urusan di tempat ini? Bukankah kau dalam masa penangguhan?” tanya Elizabeth dingin dan mengintimidasi.

“A-Akihiko, a-apakah kau ini, selingkuh? Tidak, maksudku. Kau dalam keadaan sujud dan merendahkan diri seperti itu. Apakah kau, seorang masokis?” tanya Bella bingung, syok, dan lemas. Mengira bahwa aku memiliki kecenderungan aneh seperti penderita masokis.

Apakah keadaan ini bisa lebih buruk lagi?

Who Should I Date? Chapter 9

Kehidupan masa SMA yang sudah aku rencanakan sematang-matangnya. Kehidupan masa SMA yang sudah aku pikirkan dengan sebaik-baiknya. Kalau sudah begini? Semua riset latihan serta eksperimen, itu semua ada gunanya??? Kurasa, tidak.

Aku mendapat peringatan sebagai siswa bersalah di hari kedua sekolah. Dianggap sebagai siswa tidak senonoh dan melakukan hal mesum bersama seorang gadis. Meski aku tidak melakukan apa pun, tidak ada pembelaan yang bisa aku lakukan untuk melawan.

Sekarang, aku harus mengenakan ban lengan ini. Ban lengan dengan warna merah mencolok, kemudian ada tulisan yang terpampang jelas di permukaannya. Dalam pengawasan, itu adalah kalimat yang tertulis di ban lengan milikku. Ini memalukan ya, ‘kan???

Parahnya lagi, siswa dalam masa pengawasan memiliki banyak pantangan. Aku tidak boleh melamar masuk klub atau ekstrakurikuler sebelum bebas. Padahal, klub atau ekstrakurikuler adalah kesempatan besar untuk mendapatkan teman. Mendapatkan teman yang memiliki hobi atau minat yang sama. Aku masih belum bisa meraih itu. Selain itu, aku juga masih ditangguhkan dengan Bella. Yang paling parah, tuan putri ini akan selalu ada di sampingku sampai satu minggu ke depan!

Lihat, Elizabeth Christina Maria. Dia adalah orang yang bertugas untuk mengawasi diriku saat ini. Berjalan bersamaku juga Bella, mengambil posisi tengah agar aku dan Bella tidak terlalu dekat. Risih.

“Akihiko, aku melupakan satu hal. Serahkan ponselmu.” Sambil berjalan, Elizabeth menuturkan perintah. Dengan suara tegas dan posisinya sebagai pengawas. Jelas saja aku tidak bisa melawan bukan???

Tapi, ponsel itu benda pribadi dan penuh privasi. Apa yang dia ingin lakukan dengan ponsel milikku? Aku harus menanyakan ini. “A-apa yang kau inginkan?”

“Hanya mengecek. Barangkali ada riwayat pencarian yang tidak senonoh. Atau kau mengunjungi beberapa situs mesum di internet. Kalau kau memang tidak melakukan itu, tidak perlu takut, ‘kan?” Itu adalah jawaban Elizabeth dari pertanyaan yang aku sampaikan.

Ah begitu rupanya. Aku tidak peduli sih. Lagipula, aku tidak pernah mencari hal-hal seperti itu di ponsel maupun komputer. Tapi, identitas diriku sebagai aksen! Semuanya bisa terbongkar jika dia melihat isi ponsel ini meski sekilas!

Aku meletakkan banyak catatan, draf, dan konsep atau outline. Jika dia sampai menyadari kalau aku adalah penulis yang menggunakan nama Aksen. Kehidupanku yang tenang semakin jauh dari genggaman.

Apa yang harus aku lakukan???

PIKIRAN PARALEL! SEHARUSNYA KALIAN MEMBANTU DIRIKU DI SAAT SEPERTI INI!

Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Saat ini, yang sedang kubayangkan adalah meja rapat untuk lima orang. Semua kursi itu sudah diduduki oleh pikiran paralel milikku.

“Ah … sudah satu minggu lebih sejak ketua memanggil kita. Bagaimana, rencananya berhasil?” Akihiko mode semangat langsung menodong diriku dengan pertanyaan. Lagian, kau itu bagian dalam diriku! Masa iya kau tidak tahu kejadian sebenarnya??? Agak menyakitkan jika harus menceritakan kenyataan yang aku alami sekarang ….

Menanggapi sapaan dari mode semangat, mode penilai berkata, “Kurasa tidak berjalan lancar. Bahkan saat ini, ketua dalam masa pengawasan oleh komite kedisiplinan. Yah, sisi baiknya, dia jadi punya pacar. Aku ikut senang atas pencapaian ini.”

Kemana dirimu yang suka menilai dan meriset sesuatu? Memangnya kau penyuka sinetron atau novel romansa??? Saat ini, aku tidak butuh rasa turut sukacita. Meski aku punya dua pacar, ini semua adalah masalah loh. Ini tidak ada habisnya. Aku harus segera mengarahkan mereka pada topik utama.

“Elizabeth, dia berniat mengecek ponselku saat ini. Aku cukup berani karena tidak pernah membuka situs mesum. Tapi, aku juga cukup takut kalau dia melihat semua identitas diriku sebagai Aksen.” Aku langsung mengarahkan mereka pada permasalahan. Basa-basi hanya membuang waktu. Selain itu, Elizabeth sedang menunggu.

Mode pemalu memberikan tanggapan. Dia berkata, “Me-menurutku, sebaiknya berikan saja. Ku-kurasa, jika dia mencurigai ketua dengan hal mesum. Dia akan mengecek mesin pencari dan galeri. Itu semua tidak ada hubungannya dengan catatan atau draf. A-ah, ta-tapi, i-ini hanya pendapat saja. Ka-kalian tidak perlu memutuskannya, mungkin.”

“Tidak, pendapatmu sangat membuka pikiranku. Terima kasih, diriku yang pemalu.” Aku berterima kasih sambil mengacungkan ibu jari padanya. Membuat dia, eh diriku yang pemalu menjadi semakin malu hingga wajahnya merah.

Itu benar. Elizabeth tidak punya urusan lain jika ingin memastikan itu. Dia hanya punya alasan untuk mengecek mesin pencari dan juga galeri. Ini akan baik-baik saja.

“Baiklah, kalau begitu sudah dulu. Aku akan hubungi kalian lagi nanti. Rapat berakhir.”

_________________

“Tidak ada yang lebih menjijikkan daripada melihat orang yang melamun saat diajak bicara.” Suara yang dihias dengan penghinaan dan ketegasan. Itu adalah suaranya, suara Elizabeth.

“Me-menjijikan? Perkataan itu keterlaluan! Sebaiknya kau minta maaf pada Akihiko!” Ah, Bella, dia membela diriku ya. Aku tidak senang sih.


“Kalau begitu apa kau mau meminta maaf karena sudah menyeret pria lugu ini ke dalam  masalah?” Elizabeth membalasnya dengan kalimat intimidasi. Itu tidak bisa dilawan. Faktanya, ini memang kesalahan Bella, sebagian besar. Meski aku memang ceroboh, aku yang tidak tegas juga sebuah kesalahan. Tetap saja, jika Bella tidak berlebihan, ini tidak akan runyam.

LAH KOK MALAH BEGINI JADINYA! Oh iya, aku lupa. Saat berpikir dengan pikiran paralel, aku akan melamun. Wajar saja suasananya jadi begini.

“M-maaf, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku tadi.” Tidak ada yang lebih baik daripada minta maaf untuk sekarang. Sudah cukup dengan masalah besar yang didukung oleh masalah kecil.

“Lihat tuh sudah kuduga. Dia takut ponselnya diperiksa karena menyimpan banyak hal mesum di dalamnya. Kau yang enggan menyerahkan ponsel adalah buktinya.” Elizabeth menarik kesimpulan sepihak. Padahal, aku hanya melamun dan memanggil pikiran paralel tadi.

Lalu yang membuat ini semakin runyam, adalah kalimat Bella yang tidak disaring. “I-itu wajar, ‘kan! Laki-laki pubertas pasti akan melakukan hal yang sama!” Ya ampun, aku bingung apakah dia ini berniat membelaku atau apa?

“Tidak kok tidak, kau bisa periksa ponsel milikku. Silakan.” Aku mengambil ponsel dari saku, membukakan kunci layar, membiarkan Elizabeth mengeceknya sampai puas.

Sekitar tiga menit berhenti, Elizabeth mengembalikan ponsel milikku pada akhirnya. Sambil berkata, “Hebat juga kau dalam menyembunyikan rahasia. Tapi tidak masalah. Aku akan membongkar kedok mesum yang kau sembunyikan suatu hari nanti.”

Hei, kenapa kau sangat sulit percaya padaku??? Aku serius tidak tertarik pada hal seperti itu loh. Eh, bohong jika aku bilang tidak tertarik sih. Wa-wajar kalau aku punya ketertarikan pada hal seperti itu, ‘kan! Tapi ya, kurasa, aku sedikit malas saja. Itu tidak bermanfaat, itu juga membuang waktuku untuk menulis. Jadi, daripada melihat hal-hal mesum karena aku kesepian, lebih baik menulis bukan?

Gawat, pikiranku yang seperti ini, apakah terlihat seperti orang mesum?

Who Should I Date? Chapter 8


Biar aku jelaskan sedikit, mengenai keadaan runyam dan rumit yang aku alami sekarang. Pagi ini, aku dan Bella berangkat sekolah bersama. Entah kenapa Bella ini sangat lengket denganku. Dia jalan bersamaku hingga bahu kami saling bersentuhan. Kemudian, perlakuan kami yang seperti itu, dinilai tidak senonoh oleh Elizabeth. Elizabeth adalah ketua komite kedisiplinan di sekolah ini. Sekaligus, dia adalah putri kepala sekolah dari SMA ini. Hal itu juga menjelaskan kenapa kami bisa di ruangan kepala sekolah sekarang.

Lalu, di saat paling runyam ketika suasana memanas, seseorang datang dan memperumit masalah. Dia adalah Baragasaki. Gadis kelas dua yang menyandang gelar pilar matematika. Entah apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Tapi sepertinya, ini tidak akan baik. Yah, beginilah, kehidupan SMA yang sudah kupikirkan sematang-matangnya, malah berakhir seperti ini.

.
.
.

Baragasaki menutup pintunya kembali. Tidak bagus jika mempertontonkan kejadian di dalam pada siswa yang lalu lalang. Dia kemudian duduk di kursi tunggal. Berhadapan denganku dan juga Bella yang menahan emosi sebisa mungkin. Baragasaki melontarkan pertanyaan. Tentu saja, pertanyaan itu ia tujukan pada Elizabeth yang duduk di kursi kepala sekolah.

“Jadi, memangnya apa yang mereka lakukan? Aku bisa melihat wajah cabul dari laki-laki ini sih.”

Maaf saja tapi aku tidak cabul! Malah, Bella itu lebih tidak senonoh daripada aku loh! Lupakan, untuk sekarang, Elizabeth akan menjawab apa?

“Sebenarnya, aku menugaskan salah satu pelayan untuk mengawasi mereka kemarin. Chloe, jelaskan saja. Aku sedang malas bicara saat ini.” Itu adalah jawaban yang Elizabeth katakan.

Ini dia. Setelah Lucy yang angkat suara. Sekarang adalah kesempatan pelayannya yang lain. Dia adalah Chloe. Satu dari dua pelayan yang selalu mengikuti Elizabeth, kemanapun ia pergi. Chloe mulai menjelaskan tentang apa yang ia ketahui.

“Sesuai perintah Nona Eliza, saya mengawasi dua orang ini sejak kemarin. Nona Eliza mengatakan kalau dia melihat tindakan tidak senonoh. Kemarin pagi, Nona Eliza hendak pergi ke kamar mandi. Saat sedang berjalan, ia secara tidak sengaja melihat Akihiko masuk ke ruang UKS. Lalu saat Nona keluar dari kamar mandi dan hendak kembali, dia melihat Bella masuk ke ruang UKS juga. Karena waktunya yang hanya memiliki jeda sebentar, Nona Eliza curiga. Mana mungkin Akihiko secepat itu keluar dari UKS? Pasti, mereka berdua di ruang UKS saat ini. Itu adalah yang Nona Elizabeth pikirkan.”

“Aku mengerti keadaannya. Berarti, pasangan anak kelas satu ini, mereka melakukan tindakan mesum di UKS?” Baragasaki memastikannya dengan pertanyaan. Dia bertanya pada Chloe yang masih berdiri dan menjelaskan. Kemudian, Chloe menjawab.

“Tidak, ini belum berakhir di situ. Akihiko keluar dari UKS, Bella juga mengikutinya yang hendak pergi ke kelas. Kemudian, Nona Eliza mengikuti mereka hingga tiba di kelas. Sampai, Nona Eliza mendengar deklarasi Bella yang lantang. Bella mengatakan kalau dia akan menjadikan Akihiko sebagai pacarnya hari ini juga. Itu membuat Nona curiga dan cemas. Apa yang akan Bella berikan sehingga Akihiko menjadikan dirinya sebagai pacar? Nona khawatir kalau Bella akan menyerahkan tubuhnya. Karena gelisah memikirkan mereka, Nona Eliza memerintahkan saya agar mengawasi mereka. Ya ampun, kalian seharusnya berterima kasih atas kepedulian Nona.” Itu adalah penjelasan panjang yang Chloe jabarkan.

Tapi dari penjelasannya, sepertinya, ini belum berakhir. Hanya saja, dari semua informasi yang Chloe jabarkan, itu sudah cukup. Malah, lebih dari cukup untuk menuntut kami sebagai terdakwa. Sekarang masalahnya, kalau Chloe melanjutkan ceritanya, kami akan semakin terpojok. Meski aku tidak tahu, yang mana dari semua tindakanku yang salah? Kemarin saja, aku tidak melakukan apapun. Kalau ini adalah kesalahan yang aku perbuat secara tidak sengaja. Bagaimana caranya membuat pembelaan?

“Chloe, lanjutkan ceritanya.” Elizabeth memberi perintah karena jedanya sudah cukup lama. Tidak bagus membuang waktu, karena itu ia menyegerakan semuanya.

“Baik, Nona Eliza,” jawab Chloe lembut sambil membungkukkan tubuhnya, memberi hormat dan rasa sedia kepada tuannya. Lalu kembali menegakkan tubuhnya, Chloe melanjutkan penjelasan.

“Sesuai perintah. Saya mengikuti Bella saat perjalanan pulang. Saya lebih curiga pada Bella yang pulang dengan tergesa-gesa daripada Akihiko. Akihiko, dia malah belanja makanan tidak sehat dalam jumlah banyak. Awalnya, saya pikir, kediaman yang Bella masuki adalah tempat tinggalnya. Saya menunggu sekitar setengah jam. Tidak ada apapun yang terjadi di sana. Lalu saat saya pikir tidak ada masalah. Saya berniat kembali pada Nona. Tapi, saya melihat Akihiko datang. Dia masuk ke tempat yang sama, tempat di mana Bella sudah masuk ke sana lebih dulu.”

SUDAH KUDUGA DI SITU MASALAHNYA! Gawat! Ternyata, tuntutan Elizabeth bukan tentang kami yang berangkat sekolah bersama dengan mesra. Tapi, tuntutannya adalah tentang kami yang masuk ke kontrakan yang sama!

Tapi kalau tidak salah, aku membiarkan pintunya tetap terbuka! Mungkin ini, bisa jadi titik balik untuk melakukan pembelaan.

“Ta-tapi, kami tidak melakukan apapun di dalam! Bahkan, a-aku membiarkan pintunya tetap terbuka. Apakah kau tidak melihatnya???” Itu adalah hal terkuat yang bisa aku katakan. Entah berpengaruh atau tidak, tapi, Bella langsung menimpali pembelaan dariku.

“Itu benar! Kami tidak melakukan apapun. Aku hanya membuatkan makan siang untuknya. Se-sesekali aku menggodanya sih. Tapi, Akihiko itu sangat lugu. Wajah malunya nampak sangat imut dan lucu. M-maksudku, i-itu wajar, ‘kan??? Kalau aku ketagihan untuk menggodanya.”

Oi oi oi, apa yang sedang kau katakan? Itu seperti menggali kuburan untuk kita sendiri! Juga, aku sedikit kesal dengan pernyataan tadi. Meski sekarang bukan saat yang pas untuk marah. Tapi, kau tidak ada pembelaan lain? Itu sama sekali tidak berbobot!

Elizabeth berkata, “tuh ‘kan dengar sendiri. Dia ini sangat senang ketika menggoda pacarnya. Kurasa itu cukup menjelaskan. Yah, meski bukti terkuatnya, ada pada foto sih …
Chloe, tunjukkan pada mereka.” Kalimatnya ditutup dengan perintah.

Chloe mengambil ponsel dari sakunya. Dia tampak melakukan sesuatu dengan ponsel itu. kemudian, ia memperlihatkan layar ponselnya. Menghadapkan layar ponsel yang ia pegang pada seisi ruangan. Yang terlihat, adalah sebuah foto. Foto yang menjadi bukti konkret dan sah untuk mengajukan tuntutan.

Gambar yang diabadikan adalah momen ketika Bella mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Itu memang sangat dekat, seperti posisi orang yang hampir berciuman. Padahal aku sedang berniat untuk makan saat itu! Ini semua salah Bella!!!

“Itu hanya godaannya! Ka-kami tidak melakukan apapun.” Aku spontan melakukan penentangan. Gawat, ini semakin runyam. Posisiku di hari kedua masa SMA, semakin berbahaya.

“Ah yang benar? Apakah itu sesuai dengan yang kau lihat? Chloe.” Elizabeth memastikan kesaksian dariku pada Chloe. Wajahnya nampak tidak percaya. Bahkan, ia sama sekali tidak ingin percaya. Saat ini, Elizabeth hanya memandang kami sebagai siswa bersalah yang tertangkap basah melakukan hal mesum.

Sesuai pertanyaan tuannya, Chloe menjawab, “saya tidak tahu kejadian setelahnya. Setelah mengabadikan gambar ini, saya lekas pergi dan kembali pada Nona Eliza.”

KAU TERLALU CEPAT PERGI!!! Kenapa tidak melihat kami sedikit lebih lama!? Jika kau menyelidiki hal ini lebih lama, nasibku bisa berubah loh!

Mendengar jawaban Chloe, Elizabeth berkata, “sudah diputuskan. Meski kalian memang tidak melakukan apa-apa pada kenyataannya. Tapi kalian sudah melampaui batas. Posisi kalian yang seperti itu sangat erotis. Minimal, itu akan menimbulkan pemikiran kotor pada Akihiko. Insting laki-laki itu tidak pernah berbohong loh. Aku paham sih, setelah memacari 73 siswa laki-laki yang bermasalah seperti kalian.”

Be-benarkah??? 73 orang bermasalah telah mengalami pengawasan yang sama oleh gadis ini. Aku tidak bisa menganggapnya sepele. Selama pengawasan, kira-kira apa yang terjadi?

Baragasaki, dia ikut menimpali kesimpulan yang Eliza katakan. “Dari foto ini aku juga bisa menilai. Jika dibiarkan seperti ini, kalian akan semakin terjerumus. Parahnya, ini akan lebih mirip seperti, pergaulan bebas,” ucap Baragasaki dingin. Itu adalah bentuk penilaiannya dari sudut pandang pilar. Jika sudah begini, maka status kami sudah dipastikan.

Aku juga mengerti, soal apa yang ingin mereka sampaikan. Maksud mereka, tindakan kami yang terlalu dekat seperti kemarin, itu bisa membuat kami terjerumus. Aku mengakuinya sih. Bella itu memang cantik. Bisa dibilang, aku cukup senang berpacaran dengannya. Dia juga suka menggodaku dengan beberapa hal tidak senonoh. Aku paham resikonya. Aku adalah laki-laki remaja dalam masa pubertas. Apa yang terjadi kemarin, itu memang sebuah kesalahan. Meski aku hanya memakan masakan Bella. Meski Bella hanya membaca novel yang aku tulis. Tapi, laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan, parahnya lagi hanya berdua, itu adalah kesalahan.

Bella juga sadar, dia tidak bisa mengelak lagi. Dia tidak bisa menentang tuntutan ini. Tapi, ada satu hal yang masih mengganggu. Jika sekedar diawasi, mungkin, Bella masih terima. Sambil menahan emosi dan panas di kepalanya, Bella bertanya, “kenapa statusnya harus menjadi pacar Akihiko?”

“Itu pertanyaan mudah. Pacar adalah hubungan mengikat. Singkatnya. Kita tidak tahu Akihiko punya berapa pacar di luar sana. Tugasku sebagai pengawas, adalah memutuskan hubungan Akihiko dengan semua pacar itu. Eh bukan memutuskan sih. Jika masa pengawasan sudah selesai, Akihiko bebas menjelaskan apapun pada para pacarnya. Tentu saja, jika para pacarnya masih punya kepercayaan, Akihiko tidak akan apa-apa. Intinya, tugasku, adalah merusak seluruh hubungan Akihiko yang tidak senonoh. Aku juga akan mengawasi segala tindakan dan aktivitasnya. Ini adalah keputusan. Pacaran denganku, atau cari sekolah lain!”

MOHON MAAF! Tapi Bella adalah satu-satunya pacar yang aku punya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai